
[Vacation Arc - #7]
...----------------...
"Araya, aku benar-benar kecewa padamu." ucap seseorang yang berdiri membelakangi Araya. Seorang laki-laki dengan suara bariton, ia juga mengenakan armor yang tampilannya tak jauh berbeda dari yang Araya pakai.
"Si-siapa Anda?" tanya Araya pada laki-laki itu. Dari suaranya memang terdengar tidak terlalu asing. Namun Araya pernah mendengarnya. Suara laki-laki itu adalah suara yang dia dengar sewaktu ia koma selama delapan hari.
"Dasar anak tak tahu diri. Bahkan dengan ayahmu saja kau tidak kenal." sekilas membalikkan dirinya laki-laki itu melipat tangannya di depan dada.
Perlahan namun pasti, armornya menghilang dan menampilkan wujud seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahun. Wajahnya begitu asing bagi Araya. Dia sama sekali belum pernah melihatnya.
"Kenapa, terkejut ya?" memasang wajah datar pria itu berjalan mendekati Araya. Sedangkan Araya hanya diam mematung, dia masih belum benar-benar percaya kalau pria itu adalah ayahnya.
"Dengar ya, sebelumnya aku berpikir kalau kamu itu anak yang hebat. Anak yang kelak bisa mengalahkan Darkzero, tapi rupanya dengan Darkillusion saja kau tidak bisa menang." ucapnya lagi ketika Araya terdiam.
"Apa.. apakah Anda benar-benar ayahku?" menundukkan kepalanya Araya bertanya dengan ragu.
"Kamu meragukannya ya? Lihatlah kamu punya tiga nyawa sepertiku. Kamu mewarisi gen-ku, jadi sudah pasti kalau kamu adalah putriku."
Araya mengangkat pandangannya, memberanikan diri menatap orang yang berdiri di depannya itu.
"Araya," kini suara seorang perempuan yang terdengar dari arah belakang. Sontak, Araya pun membalikkan badannya dan menatap wanita itu.
"Ibu?" tanyanya sambil menarik sudut bibirnya ke atas. Namun, bukannya balas tersenyum, ibunya malah memasang wajah datarnya.
"Untuk apa kamu datang, Araya? Masih belum puas dengan kelakuan burukmu?" tanyanya dengan nada kecewa.
Araya mengernyit heran, kelakuan buruk apa yang ibunya maksud? "M-maksud ibu apa?"
"Lihatlah ke sana," kata ibunya sambil menunjuk ke arah kanan mereka. Di sana, terdapat sebuah papan tulis putih yang menampilkan hasil ulangan. Tunggu, itu terlihat tidak asing. Dia sering melihatnya ketika masih sekolah.
"Kamu pasti bermain sosmed terus sampai lupa belajar, iya kan? Kamu peringkat terbawah." sahut ayahnya ketika ia ikut melihat papan tulis tersebut.
Di situ, tertera nama Araya ada di urutan terbawah. Bagaimana mungkin? Padahal ia selalu mendapat peringkat satu, bahkan sejak masih sekolah dasar.
"Apa..?" ucap Araya lirih. Sejelek apapun nilai yang pernah Araya dapatkan, setidaknya masih masuk top sepuluh itu masih bagus. Tapi ini, nilainya nol di semua mata pelajaran.
"Ayah benar-benar kecewa denganmu. Dan lihat ke sana." kali ini, ayahnya menepuk pundaknya, kemudian menunjuk ke arah kiri. Di sana, terlihat tiga orang dalam keadaan mengenaskan. Ketiga orang itu adalah.. Rekan-rekannya.
__ADS_1
"Masih sempat-sempatnya kamu memikirkan dirimu waktu teman-temanmu kritis." kata ibunya sambil mengusap wajahnya.
Araya membelalakkan matanya ketika melihat pemandangan mengerikan itu. Di sana, terlihat Dae-Vin dalam mode armor tahap kedua, dengan sebilah pedang yang menembus dadanya dan tepat mengenai jantungnya. Dirinya bersimbah darah dan tak sadarkan diri.
Di sebelahnya, ada Zaaryan terlihat lebih mengerikan. Lehernya nyaris terputus. Dan di sana juga, terlihat Hanny yang kehilangan kedua tangannya. Benar-benar pemandangan yang sangat mengerikan.
"Teman-teman.." Araya kembali berucap lirih, dia tak percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya.
"Lihatlah, akibat kelalaian kamu, mereka jadi korbannya." kata ayahnya sambil mengangkat tangan kiri Araya yang terpasang alat transformasi. "Dan apa ini? Dari kekuatannya, ini lemah sekali. Kamu kurang latihan, jadi element-nya tak berkembang."
"Kamu dengar kata ayahmu? Kamu harus berlatih dengan keras supaya hal seperti ini tak terulang lagi. Jangan berhenti berlatih!" ibunya membalas.
"Tidak!" memejamkan matanya, Araya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Apa? Kamu mau melawan ya?" dengan nada marah, ayahnya berucap. Araya masih diam sambil memejamkan matanya.
"Ini tidak benar. Ini hanya palsu!" menggeleng cepat, Araya melangkahkan kakinya ke arah teman-temannya. Sesampainya di sana, ia langsung memanggil nama mereka.
"Teman-teman! Teman-teman, bangunlah! Dae-Vin, Hanny, Zaaryan! Bangun!" menahan air matanya, Araya berusaha untuk berkomunikasi dengan rekan-rekannya. Meskipun dapat dipastikan kalau mereka sudah tak bernyawa.
"Kamu jahat, Araya." samar-samar, terdengar suara Hanny. Araya segera menghentikan tindakannya dan menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Kamu pengkhianat."
Deg! Kata-kata dari ketiga temannya itu membuat perasaannya terluka dan tergores. Baru pertama kali ini mereka mengatakan hal tak mengenakkan seperti itu. Setetes air mata jatuh membasahi pipi Araya.
"Hiks.. Maaf teman-teman. Ini semua salahku. Hiks.. Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Hiks.. Lakukan apapun untuk membalas perbuatanku." mengusap air matanya, Araya berucap sambil menatap mereka dengan tatapan nanar dan suara parau.
"Kalau begitu, kamu juga harus bernasib sama seperti kami." lagi-lagi, ucapan Dae-Vin membuat perasaannya terasa aneh. Kemudian, Dae-Vin bangkit dan mencabut pedang yang tadi menembus dadanya. Darah yang mengucur jadi semakin banyak.
Setelah itu, Dae-Vin mengangkat pedangnya. Mengangkatnya tinggi sampai di atas kepala Araya.
"Tunggu, biar aku saja." ucap Araya sebelum Dae-Vin benar-benar membuat nyawanya melayang. Setelah itu, Dae-Vin mengulurkan pedangnya. Dengan tangan bergetar, Araya menerima pedang tersebut, kemudian mendekatkan bilah pedangnya pada lehernya.
"Jika kepalaku terpenggal, maka nyawaku akan langsung hilang. Aku akan langsung mati." kata Araya dalam hati, ketika bilah pedang itu sudah berjarak satu inchi dengan lehernya.
SLEB!
...----------------...
__ADS_1
"Hah.. Hah.. Hah.." Araya seketika membuka matanya. Napasnya tidak karuan. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Tubuhnya tergeletak di atas pasir putih. Ia juga masih mengenakan armor tahap ketiga.
"Hanya mimpi? Syukurlah.." gumam Araya, tadi itu benar-benar mimpi buruk. Mimpi terburuk sepanjang hidupnya.
"Iya, hanya mimpi. Tapi, ada hal buruk yang benar-benar terjadi padamu, Araya." ucap Shiroi pelan. Araya mendudukkan dirinya, kemudian menatap alat transformasi yang masih menempel padanya.
"Apa itu? Jangan bilang mimpiku itu memang nyata." dengan perasaan yang kembali aneh, Araya bertanya. Dia berharap kalau mimpinya barusan tidak akan pernah terjadi pada mereka.
"Batu element utama milikmu.. Telah berhasil diambil oleh Darkillusion."
"APA?!" begitu terkejut Araya mendengar ucapan Shiroi. "Bagaimana bisa? Kapan dia mengambilnya? Lalu, di mana teman-temanku sekarang?" tanya Araya berturut-turut. Pikirannya benar-benar kalut. Bagaimana mungkin, batu element utamanya bisa direbut begitu saja oleh Darkillusion.
"Tenangkan dirimu, Araya. Dia mengambil batu element-nya saat kamu bermimpi tadi. Semua yang kamu mimpikan tadi hanyalah ilusi yang dibuat oleh Darkillusion. Kalau teman-temanmu, mereka tak jauh dari sini." ucap Shiroi, seketika Araya berdiri dan menatap sekelilingnya.
Berjarak sekitar lima puluh meter dari tempatnya berdiri, Araya melihat tiga orang yang berjalan ke arahnya. Mereka adalah rekan-rekannya. Dengan segera, Araya berlari menghampiri mereka.
"Teman-teman!" teriaknya dari kejauhan.
"Araya-"
BRUK!
Mereka bertiga sampai terhempas karena dipeluk oleh Araya. Sedangkan Araya yang masih dalam mode armor tahap ketiga, ia menangis sekaligus bersyukur karena masih bisa melihat teman-temannya lagi.
"Hiks.. Dae-Vin.. Hanny, Zaaryan.. Hiks.." kata Araya disela-sela isakan tangisnya.
"Araya? Kenapa kamu menangis?" tanya Dae-Vin sembari mengusap punggung Araya.
"Hiks.. Syukurlah kalian bertiga masih hidup. Hiks.. Aku sangat takut.."
"Sebenarnya, ada apa Araya? Kenapa kamu menangis? Apa kamu mimpi buruk?" Hanny bertanya ketika Araya menonaktifkan mode armornya.
Araya mengangguk, "iya, mimpi burukku yang dibuat oleh Darkillusion. Dia juga, berhasil merebut batu element utamaku."
"APA?!"
**To be continued..
Gimana nih, kok batu element utama punya Araya berhasil dicuri? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Jangan lupa like dan komen ya, biar aku makin semangat** ^^
__ADS_1