Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 6


__ADS_3

[Test Arc - #3]


...----------------...


"Tes bakat akan segera dimulai. Kalian siap?" tanya Kak Lee Hyun-Jae sebelum memulai tes ketiga dalam hari ini.


"Siap!"


"Baiklah, silahkan langsung dikerjakan seratus soal di tab kalian. Waktunya tiga jam." ucap Kak Hyun-Jae lagi. Setelah itu, keempat anggota juniornya segera mengerjakan tes.


Seratus soal itu terdiri dari 35 soal pelajaran matematika, 40 soal tentang sains, dan 25 soal adalah sisanya yang mencakup pelajaran geografi, sejarah, ekonomi, dan bahasa Inggris yang merupakan mata pelajaran pokok di sekolah. Kategori soal-soalnya tergantung pada kelas masing-masing. Tapi di antara mereka berempat, hanya Araya yang masih SMP, belum mau lulus pula. Zaaryan, Dae-Vin dan Hanny sudah SMA kelas 10.


...----------------...


Sekarang sudah jam lima sore, mereka baru saja selesai mengerjakan tes bakat yang seperti ujian sekolah yang tertulis. Benar-benar menguras energi untuk berpikir.


"Semua sudah selesai, hasilnya sudah ditentukan. Dan hasilnya adalah …." ucap Kak Hyun-Jae sambil melihat tab-nya, kemudian muncul hasil tes di layar utama.


Hasil tes bakat :


Kim Dae-Vin


Matematika : 32/35


Sains : 35/40


Lainnya : 24/25


Nilai \= 91


Araya Putri


Matematika : 29/35


Sains : 30/40


Lainnya : 23/25


Nilai \= 82


Hanny Aretha


Matematika : 31/35


Sains : 31/40


Lainnya : 20/25


Nilai \= 82


Zaaryan


Matematika : 28/35


Sains : 28/40


Lainnya : 25/25


Nilai \= 81


Keterangan ;

__ADS_1


- Rata-rata matematika : benar 30


- Rata-rata sains : benar 31


- Rata-rata lainnya : benar 23


- Rata-rata keseluruhan nilai : 84


"Baiklah, sudah lihat hasilnya? Kalian bisa ambil kesimpulan sendiri. Pada mata pelajaran yang kalian hampir benar semua, itulah bakat kalian. Nilai rata-ratanya adalah 84. Cukup bagus, karena nilai rata-rata minimalnya adalah 80, maka kalian semua berhasil dalam tes ini. Kita akhiri tes hari ini, selamat beristirahat." ucap Kak Hyun-Jae menutup pertemuan sore itu dan kemudian pergi keluar dari ruangan belajar.


"Araya, bagaimana nilai kita bisa sama ya?" tanya Hanny sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Entahlah. Padahal 'kan kita berbeda jenjang." balas Araya, "menurutmu, bagian mana yang paling sulit?" lanjut Araya bertanya.


"Bagian yang tentang geografi dan sejarah. Aku tidak terlalu suka tentang kedua mapel itu." jawab Hanny disertai gelengan kepala pelan, "kau sendiri?"


"Matematika yang tentang gradien—kemiringan—garis. Padahal di semester pertama sudah dipelajari. Dan juga bahasa Inggris, aku tidak hafal banyak kosakatanya. Apalagi jika ada tentang Verb 1, Verb 2, terus tenses juga." kata Araya sambil sekilas mengingat beberapa rumus yang digunakan dalam tenses bahasa Inggris. Subjek, ditambah to be—kata kerja bantu—dan kemudian ditambahkan dengan verb yang penggunaannya tergantung jenis tenses.


"Oh iya, Zaaryan!" panggil Hanny pada Zaaryan yang hendak keluar dari ruangan. Seketika, dia berhenti melangkah dan berbalik.


"Apa?" ucapnya singkat.


"Bagaimana kau bisa benar semua selain matematika dan sains?" tanya Hanny dengan penasaran. Nilai Zaaryan dalam kategori lainnya itu bahkan mengalahkan nilai Kim Dae-Vin.


"Oh itu … aku menyukai pelajaran itu. Terutama bahasa Inggris dan geografi. Karena aku ingin bisa jalan-jalan ke luar negeri, maka harus bisa berbahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan orang asing." ucap Zaaryan yang ditanggapi anggukan pelan oleh Hanny setelah mendengar jawaban dari Zaaryan. Jawabannya cukup masuk akal.


"Bagaimana denganmu, Dae-Vin?" kali ini, Hanny bertanya pada Dae-Vin.


"Aku menyukai semuanya." jawabnya dengan nada datar dan ekspresi yang datar pula. Dia beranjak dari duduknya dan hendak keluar ruangan.


"Apa? Yang benar saja? Kau ingin jadi orang yang multitalenta?"


"Dia tidak ingin dikalahkan mungkin," Zaaryan menyahut.


"Iya, itu sudah pasti. Semua orang 'kan pasti ingin menang. Tapi maksudku, bagaimana dia bisa menyukai semua mata pelajaran? Padahal 'kan, kalau ada yang disuka pasti ada yang dibenci." Hanny mengira-ngira sambil menyangga dagunya dengan tangan kanannya. Kemudian ….


"Hey, kalian masih akan di sini? Ini sudah mau malam. Kalian belum mau kembali ke ruangan?" tanya Araya di sela-sela pembicaraan.


"Iya, ini aku mau ke ruangan. Baiklah, aku duluan." ucap Zaaryan kemudian pergi meninggalkan Araya dan Hanny berdua di sana.


"Ayo Araya. Aku akan menggandengmu supaya kau tidak tersesat ke ruangan Dae-Vin lagi. Hihi …." ujar Hanny yang diakhiri dengan tertawa kecil.


"Hanny, tolong jangan ungkit hal itu lagi." ucap Araya sambil memasang wajah memelas supaya Hanny tidak mengingatkannya akan kejadian memalukan yang menimpanya beberapa saat lalu.


...----------------...


Jam dua belas malam, di ruangan Dae-Vin yang gelap, namun tidak gelap gulita. Dia sedang berkunjung ke alam mimpinya.


Alam bawah sadar Dae-Vin ….


"Chagia! Aku pulang!" ucap Dae-Vin sambil membuka pintu rumahnya. 'Chagia' dalam bahasa Korea yang artinya 'sayang'.


Tunggu, untuk siapa panggilan spesial itu?


"Selamat datang," jawab seorang perempuan yang berusia sekitar dua puluh tiga tahun yang sedang menunggunya sambil duduk di sofa ruang tamu. Di alam mimpinya, Dae-Vin sudah berusia dua puluh enam tahun. Mungkin dia Kim Dae-Vin di sepuluh tahun yang akan datang.


"Hmm, kau terlambat lima belas menit." ucap perempuan itu sambil melipat lengannya di depan dada.


"Maaf, dalam perjalanan tadi aku terjebak macet. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk, sekarang kan musim liburan." ucap Dae-Vin meminta maaf. Dae-Vin di masa depan, dia berprofesi sebagai pilot. Jadi, dia sering pulang pergi ke berbagai negeri.


"Hmm, baiklah. Yang penting kau sudah sampai rumah. Makan malam sudah siap, ayo kita makan." ajak perempuan itu sambil menggandeng tangan kanan Dae-Vin menuju dapur.

__ADS_1


...........


Beberapa saat kemudian, setelah makan malam, Dae-Vin memutuskan untuk mandi, karena dia habis dari perjalanan jauh. Sekalian untuk menyegarkan diri. Saat dia sedang mandi, perempuan itu sedang mencuci piring kotor yang tadi mereka gunakan.


Sepuluh menit kemudian, Dae-Vin sudah selesai mandi. Dia mengenakan celana training panjang dan juga t-shirt pendek berwarna biru dan abu-abu. Dia berjalan mendekati perempuan itu, kemudian memeluknya dari arah belakang.


"Hey, aku sedang mencuci piring. Tolong jangan menggangguku dulu. Atau wajahmu mau kuolesi busa." ujarnya sambil memperlihatkan telapak tangannya yang habis tercelup busa sabun pencuci piring.


"Ayolah … sebentar saja. Sudah lebih dari dua bulan aku tidak melakukan ini. Masa sebentar saja tidak boleh." nada bicara Dae-Vin telah berubah. Sifatnya menjadi sedikit manja seperti anak kecil.


"Hmm bukannya aku tidak memperbolehkan, tapi kalau kau terus seperti itu, ini jadi lama selesainya." balas perempuan itu, dia menunda kegiatannya sebentar karena diganggu oleh Dae-Vin.


"Ngomong-ngomong, kau wangi sekali. Kau membeli sabun baru?" tanya perempuan itu sambil sedikit menolehkan kepalanya ke kiri supaya dapat melihat Dae-Vin.


"Iya, wanginya enak kan? Wangi jeruk lemon." jawab Dae-Vin.


"Iya, aku suka." balas perempuan itu sambil tersenyum.


...........


Setelah selesai mencuci piring, perempuan itu menemui Dae-Vin yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi.


"Sudah selesai?" tanya Dae-Vin sambil menekan tombol off pada remote televisi.


"Sudah."


"Jadi, kau mau …?" tanya Dae-Vin sambil berbisik, dia juga menggantungkan kalimatnya. Berharap supaya lawan bicaranya itu mengerti maksud perkataannya.


"Tidak mau."


"Kenapa?"


"Pokoknya aku belum mau. Lagipula kau kan baru pulang tadi, pasti lelah kan?"


"Tidak, jika aku bersamamu, aku tidak merasa lelah."


*Skip


Setelah itu, terjadi hal yang tak terduga. Karena hal tersebut, mereka berdua terdiam selama beberapa saat.


"Dae-Vin modus!" ucap perempuan itu sambil menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya. Dae-Vin hanya tertawa kecil.


"Modus? Bukankan modus itu adalah data yang paling sering muncul?" Dae-Vin sengaja mengalihkan topik. Perempuan itu semakin dibuat kesal.


"Jangan mengalihkan topik! Modus yang kumaksud itu 'modal dusta'. Hiii!" perempuan itu mengungkapkan rasa gemasnya dengan cara mencubit kedua pipi Dae-Vin.


"Ehh, Chagia! Sakiit!"


...----------------...


Dae-Vin seketika terbangun setelah dalam mimpinya, dia dicubit oleh seseorang. Dia mengusap pipi kanannya.


"Aku … bermimpi apa? Siapa perempuan itu ya? Dan, kenapa aku bermimpi sudah dewasa?" tanya Dae-Vin pada dirinya sendiri. Dia masih belum terlalu mengerti. Dia tidak mengenali perempuan itu, sebab wajah orang asing dalam mimpi itu cukup sulit di ingat. Yang dia ingat dari perempuan itu hanyalah … dia mempunyai lesung pipi.


To be continued..


...----------------...


Author note :


Terima kasih sudah membaca novel ketigaku ini. Jangan lupa like, komen, favorit ya. Pantau terus kisahnya. See you..

__ADS_1


__ADS_2