Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 104


__ADS_3

[Final Arc - #6]


...----------------...


Tak jauh dari lokasi berdirinya markas organisasi Darkness, tubuh Araya berdiri mematung dengan mata tertutup. Yah, jiwanya sedang berada dalam ilusi Darkness bersama dengan Darkzero.


Hal ini sudah berlangsung kurang lebih sepuluh menit. Beberapa kali tubuhnya diserang oleh Darkness Swordman yang kebetulan lewat. Namun, serangannya sama sekali tak berpengaruh.


"Hey, kau baik-baik saja?" tanya seorang laki-laki—bukan Kim Dae-Vin—setelah melihat Araya yang dirasa sedikit abnormal.


Tubuh Araya tak merespon apapun. Laki-laki itu mencoba menyadarkannya, namun tak berhasil sama sekali.


"Park Hana? Siapa sebenarnya anak ini? Bagaimana dia bisa ada di sini? Dan … kenapa ia bisa begitu kuat?" gumamnya bertanya-tanya. Ia sudah memperhatikan ban lengan yang masih terpasang di lengan kiri Araya. Hanya tinggal namanya, sedangkan lambang elemental Asia telah dilepas sejak organisasi digabungkan.


Sebenarnya, laki-laki itu adalah Arga, ayahnya Araya. Ia sama sekali belum mengetahui kalau anak di depannya itu adalah putrinya.


"Araya!" kali ini, seorang pemuda yang datang ke tempat mereka berdua. Masih dengan armor yang dominan hitam, Dae-Vin memelankan langkah kakinya setelah melihat ada orang lain di depan Araya.


"Hey, tadi kau memanggilnya apa?" tanya Arga untuk memastikan kalau pendengarannya tidak salah setelah tersegel bertahun-tahun.


"Aku memanggilnya Araya. Dan, siapa kau?" Dae-Vin bertanya pada Arga sambil memasang tatapan tak suka di balik armor pelindungnya. Yah, dia juga belum tahu kalau laki-laki itu adalah ayah dari rekannya.


"Araya? Siapa nama lengkapnya?" tanya Arga lagi.


"Kenapa Anda begitu penasaran? Ini bukan urusan Anda." tukas Dae-Vin yang mungkin terkesan tidak sopan.


"Ini akan menjadi urusanku setelah kau memberitahuku nama lengkapnya. Kalau bisa, beritahu identitasnya juga." Arga memasang ekspresi serius. Dae-Vin menghembuskan napasnya dengan kesal.


"Namanya Araya Putri. Umurnya sudah mau empat belas tahun. Dia orang Indonesia. Dia adalah putri bungsu dari seorang anggota Elemental generasi ketujuh yang bernama Arga." Dae-Vin menjelaskan, berharap orang itu puas dan dia segera menyelesaikan urusannya.


"Araya? Benarkah dia Araya? Ya ampun, ternyata putriku sudah sebesar ini." tentu Arga sangat terkejut mendengar penuturan Dae-Vin tentang Araya. Ditatapnya wajah Araya yang dia rasa masih 'mirip' seperti terakhir kali dia melihatnya.


Tunggu, apa? Putri? Jangan-jangan dia … ayahnya? Pikir Dae-Vin mengira-ngira.


"Sebenarnya, siapa Anda?" tanya Dae-Vin akhirnya. Dia sebenarnya sudah malu karena hal ini. Dia berbicara tak sopan dan seakan-akan menganggap laki-laki di depannya itu adalah orang jahat.


"Aku ayahnya. Aku Arga."

__ADS_1


Nah, habislah aku.


Kini, rasa malu Dae-Vin telah mencapai puncak. Jika tak memakai armor, dapat terlihat wajahnya yang merah karena sangat malu. Positive thinking harus diutamakan supaya tidak berujung salah sangka.


"M—maaf. Saya benar-benar tidak tahu. Saya minta maaf." memejamkan matanya, Dae-Vin membungkukkan badannya untuk meminta maaf.


Sedangkan Arga memasang seringai tipis melihat temannya Araya yang menurutnya 'lucu'. "Iya, tak apa. Wajar saja."


...----------------...


"Eh? Kau bisa menemukanku. Hebat sekali." kata Darkzero setelah Araya berhasil menemukannya di balik pohon besar.


Awalnya, Araya tak menanggapi apapun. Ia berjalan dua langkah ke belakang seraya berkata, "Keluarkan aku dari sini." ucapnya dengan nada dan tatapan yang masih saja datar.


"Jangan mimpi! Kalau kau mau keluar dari sini, kalahkan aku dulu."


"Baiklah, aku akan mengalahkanmu." kata Araya sambil mengepalkan kedua tangannya. Perlahan-lahan, aura hitam dan putih mulai terlihat dari kedua alat transformasi yang dia kenakan.


"Tidak seru kalau kita langsung duel. Bagaimana kalau bermain game?"


Araya langsung menarik kembali tangannya. "Game apa?" tujuan Araya saat ini hanya untuk bisa keluar dari dimensi ilusi. Setelah itu, barulah ia punya tujuan baru.


"Wah, kau berminat rupanya. Baiklah, judul game-nya adalah 'Ambil Jiwa'. Menarik 'kan?" Darkzero berucap sembari memainkan jemarinya.


"Peraturannya cukup mudah. Akan ada dua tim. Masing-masing tim ada tujuh orang."


"Kalau tujuh orang, siapa anggota timku?" Araya menyela Darkzero sebelum ia kembali berucap.


"Oh iya." Darkzero mengubah posisi berdirinya. Dan …


CTAK!


"Eh, bukankah itu Park Hana?"


Suara itu, seketika membuat Araya berbalik ke belakang, menatap orang-orang itu dengan tatapan tak percaya.


"Kalian? Bagaimana—Darkzero." Araya menggigit bibir bawahnya, menatap Darkzero dengan tatapan kebencian.

__ADS_1


Seharusnya ini tak melibatkan mereka, pikirnya ketika menatap Darkzero yang menampilkan ekspresi menyebalkan lewat gerak-gerik tubuhnya.


Di belakangnya, ada enam orang rekannya dari berbagai regu. Ada Hanny, Ivany, Jeasson, Gifa, Brian, terakhir ada Kenneth. Mereka semua ada di sana sepersekian detik setelah Darkzero menjentikkan jarinya.


"Yah, aku akan mulai menjelaskan aturannya. Kalian harus bekerja sama melindungi jiwa kalian, jangan sampai pihak lawan mengambilnya. Yang jiwanya terambil, maka akan langsung dikeluarkan dari dimensi ini. Regu dengan sisa anggota terbanyak adalah pemenangnya." Darkzero menjelaskan.


Permainan ini sangat beresiko. Yang jiwanya terambil akan kalah dan langsung keluar dari ilusi dan dimensi Darkness. Namun, apakah mereka masih hidup jika dalam permainan jiwanya berhasil terambil dan keluar dari dimensi? Itulah pertanyaan yang belum terjawab.


Yang kalah akan keluar dari sini? Apakah aku harus kalah untuk bisa keluar? Tidak, belum tentu yang dikeluarkan akan tetap hidup. Darkzero itu kejam, pikir Araya. Ia tak ingin ada korban lagi dalam tragedi ini. Sudah cukup ia melihat seorang temannya—yang terbilang sangat berharga—tersiksa karena ulah Darkzero.


"Permainan akan dimulai sepuluh menit lagi. Silakan kalian berunding dulu, sementara aku akan memanggil regu-ku." Darkzero menghilang dari tempat itu. Ia pasti akan kembali dalam beberapa menit lagi.


Di tempat itu, tinggal mereka bertujuh. Araya berbalik dan menatap teman-temannya.


"Park Hana, kau baik-baik saja?" tanya Hanny dengan ekspresi khawatir. Sudah agak lama Hanny belum bertemu dengannya lagi semenjak Araya menghilang tiba-tiba.


Araya mengangguk, "Iya, bagaimana dengan kalian?"


Mereka semua sedang dalam mode manusia. Terlihat jelas ekspresi masing-masing dari mereka. Ada yang takut, ada yang bingung, dan ada pula yang terlihat putus asa.


"Kami baik-baik saja." Jeasson berucap setelah melihat teman-teman yang masih sehat tanpa ada yang luka—meski mereka cukup lelah setelah melawan Darkness Swordman tadi.


"Maaf, seharusnya aku tidak melibatkan kalian." nada bicara Araya terdengar menyesal. Ia menganggap kalau dirinya ceroboh dan langsung menerima ajakan game dari Darkzero yang sudah diketahui adalah makhluk jahat.


"Tenanglah Park Hana, jangan terlalu mempermasalahkannya." kata Ivany sambil menepuk pundak Araya, berusaha membuatnya lebih baik meskipun dia sendiri tidak merasa baik.


"Iya, kami akan berusaha keras membantumu." Brian menyahut. Dia tersenyum. Sebenarnya itu hanyalah topeng untuk menutupi perasaannya yang cemas bukan main. Dia memang punya riwayat sindrom kecemasan.


"Tapi … aku takut kalau kalian—" Araya tertunduk, tak berani menatap rekan-rekannya. Dirinya telah dipenuhi perasaan bersalah.


"Jangan khawatir. Kalau ada yang kalah, berjanjilah yang masih hidup harus bertahan. Jangan mau kalah!" Hanny menyemangatinya. Ia merasa kalau dia akan menjadi anggota yang pertama kali kalah.


**To be continued …


Menurut kalian, siapa yang nanti kalah duluan?


Terima kasih sudah membaca** ^-^

__ADS_1


__ADS_2