Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 45


__ADS_3

[Mars Mission Arc - #8]


...----------------...


"Bagaimana menurut kalian?" tanya Hanny pada Araya dan Dae-Vin yang masih berada di ruangan kabin. Sedangkan Hanny dan Zaaryan sedang bersiap untuk pergi ke acara lelang element.


"Woah.. Bagus, Hanny." Araya sedikit terbelalak, melihat Hanny yang mengenakan gaun selutut berwarna kuning. Yah, ini adalah rencana mereka supaya tidak dicurigai kalau mereka adalah anggota Elemental Asia generasi kesembilan.


"Terima kasih Araya. Dae-Vin, kenapa kau diam saja? Beri pendapat dong!" Hanny seketika mengubah ekspresinya. Yang tadinya senang, sekarang agak kesal.


"Bagus kok," balas Dae-Vin acuh. Dia memang tak terlalu tertarik dengan fashion. Semua yang dia gunakan cenderung masih mencakup kata sederhana.


"Huh, kau seperti tidak ikhlas mengatakannya." melipat tangannya, Hanny mencebikkan bibirnya. Tidak lama kemudian..


"Akhirnya pangerannya datang, hehehe.." ucap Araya setelah terlihat Zaaryan yang baru saja memasuki ruangan itu. Penampilannya jelas berbeda. Kali ini, dia mengenakan setelah jas berwarna hitam dan dasi kupu-kupu berwarna merah.


"Kamu bisa saja, Araya.." membalas senyuman Araya, Zaaryan berucap. Sedangkan Dae-Vin memalingkan wajahnya.


"Hah.. Pangeran katanya.." batin Dae-Vin sambil menatap hamparan tanah planet mars melalui jendela pesawat.


Jujur, dalam hati terdalamnya, dia cemburu. Sudah sejak lama dia menyimpan dan memendam rasa cemburunya itu dalam-dalam. Toh mereka dilarang terlibat romantisme lagi seperti saat itu, atau nanti mereka akan dibawa ke markas pusat dan mendapatkan hukuman juga.


Tetapi, baginya Hanny begitu peka. Maksudnya, dia menyadari perasaan Dae-Vin pada Araya. Misi kali ini, Hanny sengaja harus pergi dengan Zaaryan untuk sedikit memberi kode pada Dae-Vin supaya dia mempunyai ruang dengan Araya. Yah meskipun masih dalam misi, dan tidak seberapa hasil dari usaha Hanny dan Zaaryan untuk kedua teman mereka itu.


...----------------...


Singkat cerita, kini Hanny dan Zaaryan sudah berada di tempat yang akan digunakan untuk acara lelang element. Luas sekali. Mereka berdua juga mengenakan topeng supaya identitas mereka tidak dicurigai.


Di sana sangat ramai. Mereka berdua telah mendaftar, dan kemudian duduk di bangku mewah yang telah disediakan.


"Selamat malam Tuan-tuan dan Nona-nona sekalian! Selamat datang, di acara lelang element terbesar di dimensi ini." ucap seseorang berpakaian serba hitam yang merupakan si pembawa acara.


"Terbesar satu dimensi? Aku tidak yakin kalau kita bisa mendapatkannya, Hanny." bisik Zaaryan pada Hanny yang terdiam memerhatikan.


"Psst! Diamlah!" balas Hanny sambil menempelkan telunjuk kanannya di bibirnya.


Zaaryan terdiam, telapak tangannya sudah dingin sekali. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dia takut kalau sampai kalah nantinya, mengingat bahwa ini bukanlah lelang terbesar di tingkat provinsi, melainkan terbesar satu dimensi.


"Saya tau Anda semua telah jauh-jauh datang ke sini untuk mengikuti acara ini. Maka dari itu, tanpa berlama-lama lagi, mari kita mulai acaranya!" ucap si pembawa acara dengan nada yang bersemangat dan antusias.


PROK! PROK! PROK! PROK!


Suara tepuk tangan yang meriah dari para penonton maupun orang-orang yang telah mendaftar lelang.


"Baiklah, Anda semua bisa lihat ke sini. Di dalam kotak ini, adalah satu set batu element untuk ke tahap tiga." sambil menarik kain hitam yang menutupi sebuah kotak kubus, pria itu kembali berucap.

__ADS_1


Kotak kubus yang terbuat dari kaca, menampilkan empat batu yang warnanya berbeda-beda. Merah hati, oranye, biru agak putih, dan pink muda.


"Itu batu element-nya. Kita harus berhasil mendapatkannya." kata Hanny dalam hati, tangannya memegang erat papan kecil berbentuk tangan yang jari telunjuknya teracung.


Dia bertekad akan mendapatkannya, untuk kebaikan semua orang juga. Jika berhasil, batu element itu akan diproses dan digunakan untuk bisa ke tahap tiga, yang otomatis akan membuat mereka berempat jadi lebih kuat.


"Harga awalnya adalah lima juta. Ada yang mau menawar?" menggunakan pengeras suara, pria itu berucap lagi. Seketika belasan calon pembeli mengangkat papan yang sama seperti yang dipegang Hanny.


"Kita kurang gercep." Hanny kembali membatin, setelah menyadari bahwa dirinya cukup terlambat dalam mengangkat papan itu.


"Baiklah, Tuan yang di sana?" mengarahkan pandangan dan telapak tangannya di arah seseorang yang duduk di barisan paling depan.


"Sepuluh juta!" serunya.


"Baiklah sepuluh juta. Ada lagi?"


"Dua puluh juta!" seru seseorang wanita bergaun ungu yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Wah, dua puluh juta. Ada lagi?"


"Lima puluh juta!" seru seseorang dari barisan paling belakang.


"Baiklah, lima puluh juta. Tambah lagi?"


"Kita selalu terlambat.." kata Hanny agak kecewa, pasalnya sedari tadi dirinya sama sekali belum dipersilahkan dan belum diberi kesempatan untuk berbicara.


"Jangan khawatir, Hanny. Kita masih punya kesempatan." ucap Zaaryan menyemangati. Hanny tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Seratus lima puluh juta. Ada yang mau menawar lagi?"


Hanny seketika berdiri tanpa menurunkan papan yang sedari tadi dia angkat dengan tangan kanannya.


"Ehm, silahkan nona yang memakai gaun kuning." ucap si pembawa acara sambil menatap Hanny dan mempersilahkan dirinya untuk bicara.


"Dua miliar." jawab Hanny santai. Seketika di papan pencatat digital itu telah menampilkan angka dua dengan sembilan angka nol yang mengikutinya.


"Apa? Dua miliar? Apa dia bercanda?"


"Gadis kecil sepertinya bisa mempunyai uang dua miliar?"


"Palingan hanya main-main saja. Atau mungkin uang orang tuanya."


Begitulah bisik-bisik para saingan mereka yang berhasil tertangkap pendengaran Hanny dan Zaaryan. Dia hanya menghela nafas pelan.


"Hanny, apakah dua miliar itu tidak terlalu cepat?" tanya Zaaryan pada Hanny supaya dia mempertimbangkan keputusannya lagi.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Zaaryan. Dua miliar bahkan belum bisa menghabiskan isi satu kartu hitam VVIP ini." melirik Zaaryan sekilas, Hanny tersenyum tipis. Mereka memang membawa empat kartu sekaligus. Yang berarti nominalnya sangatlah banyak.


"Dua miliar. Apakah lelang ini akan segera berakhir? Adakah yang ingin menawar?"


"Lima miliar." dengan angkuhnya, seseorang berpakaian serba hitam yang tadi kembali bersuara.


"Dia pasti Darkness Swordman yang menyamar." Hanny mengarahkan pandangannya ke arah orang itu.


Ketika angka dua dalam papan pancatat digital itu berubah menjadi angka lima, Hanny kembali mengangkat papannya.


"Sepuluh miliar!" seru Hanny lagi. Pada papan pencatat kini sudah ada angka satu yang diikuti sepuluh angka nol.


"Lima belas miliar."


"Dua puluh miliar!"


"Tiga puluh miliar."


"Tiga puluh lima miliar."


Kedua orang itulah yang mendominasi acara lelang element tersebut. Hanny dan Darkness Swordman. Dia yakin kalau sampai dia kalah lelang dengan Darkness Swordman, maka kedamaian dunia bisa terancam. Kini, yang paling ditakutkan pun tiba.


"Empat puluh miliar." ucap Darkness Swordman.


"Baiklah, aku pasti menang. Lihatlah, mereka gugup, tandanya mereka akan kalah denganku. Biarkan aku menghabiskan semua uangku untuk ini." ucapnya dalam hati.


Hanny sedikit menganga. Empat puluh miliar adalah batasnya juga. Dia memaksa otaknya untuk berpikir keras.


"Woah.. Empat puluh miliar. Ada lagi?" tanya sang pembawa acara. Hanny menyikut lengan kanan Zaaryan.


"Zaaryan, kamu membawa uang pribadimu?" bisik Hanny pada Zaaryan.


"I-iya."


"Berapa?"


"Seratus rib-"


Belum sempat Zaaryan menyelesaikan kata-katanya, Hanny sudah kembali berucap, "empat puluh miliar dua ratus ribu!"


To be continued..


...----------------...


Menurut kalian, apakah Hanny dan Zaaryan akan memenangkan lelangnya? Silahkan ketik pendapat kalian di kolom komentar ya! Jangan lupa like, terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2