
[Spin Off Arc - #1]
...----------------...
"Araya, ingat, kita masih belum impas." Dae-Vin menatap Araya dalam.
Araya sama sekali tidak ingat. Dengan santainya dia bertanya, "Soal apa?"
"Itu lho, masa kamu tidak ingat? Aku selalu kepikiran hal itu." memalingkan wajahnya sedikit, Dae-Vin bergumam, tapi masih bisa didengar Araya.
"Aku tidak ingat." balas Araya dengan polosnya. Dia jujur, karena saat itu, tidak ada hal-hal aneh yang terlintas di pikirannya.
"Hah, baiklah. Kurasa aku tak perlu memberitahu kamu. Setelah kutunjukkan, kau pasti ingat." laki-laki itu kembali menatapnya. Araya sedikit heran. Tanpa berpikir ada yang aneh, dia diam saja seperti anak yang polos.
Tatapan matanya tak teralihkan darinya. Jantung Dae-Vin berdegup kencang. Berbeda dengan Araya yang tak merasakan apa-apa. Tunggu, apakah dia telah kehilangan rasa padanya?
Satu sentimeter per detik, wajahnya semakin mendekat. Araya masih diam karena tak menyadarinya. Hingga tiba-tiba, sesuatu tak terduga pun terjadi.
"Heh, putriku sudah bangun rupanya." seseorang tiba-tiba sudah berada di sana sambil menarik paksa bahu kanan Dae-Vin supaya dia sedikit menjauh dari Araya.
"Anda siapa?"
"Aku ayahmu. Kamu belum ingat aku, ya? Ahahaha, wajar kok. Aku tahu perasaanmu." kata Arga, dia bersemangat karena dia telah bertemu Araya dalam keadaan 'sadar'.
"Ayah?"
"Iya, aku ayahmu. Kau terkejut ya? Padahal kamu sendiri yang menyelamatkan kami." Arga mengacak singkat rambut Araya. Setelah sekian lama, akhirnya Araya bisa kembali bertemu ayahnya.
Biarlah mereka reuni dulu, pikir Dae-Vin ketika ia menyadari kalau dirinya dikacangi. Yah, dia maklum saja. Dalam hati sebenarnya dia sebal, karena masih belum impas apa yang tadi dia maksud.
Dalam diam, dia hanya menyimak pembicaraan ayah dan anak itu. Andaikan ayahku seperti itu, pikirnya. Ayahnya memang berbeda dengan Arga. Dia orang yang keras dan sangat disiplin, jujur itu membuat Dae-Vin merasa tidak nyaman. Tapi, dia tetap menyayanginya dan ingin membuatnya bangga.
"Ayah, aku harus mengembalikan Zack pada Kak Steve." sambil memegang Zack dengan kedua tangannya, Araya menunduk. "Aku sudah berjanji pada Kak Steve."
Ucapan Araya barusan berhasil membuat kedua laki-laki itu merasa trenyuh. Meskipun orangnya sudah tiada, tapi Araya masih ingat tentang janjinya. Dan sepertinya, Araya masih belum tahu hal ini.
"Sayang, kamu sudah bisa berjalan?" Arga bertanya. Kata pertama dalam kalimatnya itu berhasil membuat seseorang di situ merasa agak tak nyaman.
Orang itu mencoba berpikir positif. Itu adalah hal yang wajar, batin Dae-Vin sambil menatap ke arah yang lain.
"Aku tidak tahu, Ayah. Kupikir bisa kalau perbannya dilepas."
__ADS_1
...----------------...
Siang harinya, Araya ditemani Dae-Vin pergi mengunjungi suatu tempat. Lebih tepatnya, mereka mengunjungi sebuah ruangan yang sebelumnya belum ada.
Ayahnya bilang dia masih ada urusan yang harus diselesaikan, maka ia meminta tolong Dae-Vin untuk menemaninya pergi ke tempat ini.
Hanya sekedar memberi tahu, Araya siuman itu saat jam tiga pagi. Makanya Dae-Vin sampai ketiduran menunggunya. Setiap malam dia menemaninya. Bahkan sering ada yang menegur untuk tidak terus-terusan begadang.
"Sebenarnya, beberapa teman-teman kita yang tewas akibat peristiwa itu." Dae-Vin memulai pembicaraan. Pandangannya tertuju pada salah satu meja yang di atasnya terdapat kotak kaca. Di dalam kotak itu, terdapat nama seseorang.
"Kak Steve?" gumam Araya tak percaya. Tatapannya masih belum teralihkan dari nama itu.
"Itu, termasuk dia."
Araya membuka kotak kaca itu. Kemudian, diletakkannya Zack di dalam situ.
"Terima kasih, Kak. Aku sudah selesai menggunakannya. Zack sangat membantuku. Maaf, aku membuatnya eror. Terima kasih juga, Zack. Sampai jumpa. Beristirahatlah dengan damai, Kak."
Araya kembali menutup kotak kaca itu. Sekilas ia menatap Dae-Vin. Laki-laki itu mengedikkan dagunya, seperti akan menunjukkan sesuatu bagian lain dari ruangan itu.
"Araya, sebenarnya …." Dae-Vin menggantungkan kalimatnya. Tangannya menggandeng Araya supaya berjalan di sebelahnya. Langkah mereka terhenti di depan satu kotak kaca lagi.
"H—hah?"
...----------------...
Singkat cerita, mereka berdua sekarang berjalan di lorong markas pusat. Beberapa saat lalu, mereka dipanggil supaya datang ke aula. Araya sudah bisa berjalan sendiri, karena sebagian perban sudah dilepas. Tulangnya yang sebelumnya patah juga sudah membaik. Selama dia koma, tubuhnya tak beristirahat untuk pemulihan.
Araya menghela napas, dia benar-benar tak menyangka. Persahabatannya dengan Hanny akan berakhir secepat ini. Tapi, jikalau ada dendam, ia tak bisa membalaskannya karena dia sudah mengalahkan Darkzero sebelum dia mengetahui hal ini.
"Jangan sedih, Araya. Dia tidak akan tenang kalau kau terus-terusan sedih." celetuk Dae-Vin setelah ia melihat Araya mengusap wajahnya.
Araya hanya mengangguk. Tatapannya sayu. Beberapa saat kemudian, langkah mereka terhenti tepat di depan ruangan yang sudah pasti adalah ruang aula.
Setelah pintu terbuka otomatis, dia dikejutkan konfeti yang berhamburan di udara, disertai dengan suara letusan balon yang tak terlalu keras.
"Selamat ulang tahun, Araya!" seru semua orang yang ada di sana. Karena masih terkejut, ia masih belum merespon.
"A-aku? Ulang tahun?" Araya menunjuk dirinya sendiri. Setelah sekian lama hanya fokus pada misi, dia sampai lupa hari ulang tahunnya sendiri.
"Iya. Meskipun sudah lewat beberapa hari, tapi, ayo kita rayakan hari ini!" Henry berjalan mendekati Araya, dan memakaikan topi ulang tahun padanya.
__ADS_1
"Selamat hari jadi." kata Zaaryan sambil tersenyum menyalami Araya.
"I-iya terima kasih."
"Happy birthday, Araya!" Xela berjalan ke arahnya sambil membawa piring saji yang di atasnya terdapat kue tart rasa cokelat. Di atas kue itu, terdapat lilin yang menyala berbentuk angka empat belas.
"Apa harapanmu, Araya?" Jeasson bertanya, ia ikut nimbrung bersama rekan-rekannya itu.
"Harapanku?"
Semua orang mengangguk.
"Harapanku, semoga setelah ini, semua orang bisa hidup dengan bahagia."
"TIUP LILINNYA!" dua orang laki-laki yang baru saja datang tiba-tiba mengejutkan mereka dengan teriakan itu. Yah, mereka adalah Axel dan ayahnya sendiri.
Araya tersenyum dan mengangguk, kemudian segera meniup lilin itu. Setelah lilinnya padam, semua orang bertepuk tangan. Pesta kecil-kecilan pun berlanjut. Meskipun bisa dibilang sederhana, namun begitu meriah karena semua orang ikut berbahagia.
Di pojokan, Araya hanya diam sambil memakan kue yang dibuat khusus untuknya. Lebih tepatnya, Xela, Lina, dan Ivany yang membuatnya. Sedangkan anggota lain sibuk mendekorasi dan menyiapkan ruangan ini. Ia dipaksa makan separuhnya, sedangkan separuhnya lagi, untuk teman-temannya yang lain.
"Mereka tahu, kau pasti lapar setelah tidur dua bulan lebih." Dae-Vin duduk di sebelahnya. Ia juga bersenang-senang dengan teman-temannya.
Araya hanya mengangguk pelan. Ia sudah kekenyangan menghabiskan setengah kue bagiannya. Meskipun ia suka rasa cokelat, tapi tetap saja. Kalau kenyang tak bisa dipaksa, atau nanti bisa keluar dengan paksa pula.
"Hey, lihat sini." kata Dae-Vin lagi. Araya segera menoleh karena Dae-Vin memanggilnya.
"Kamu belepotan." jujur, Dae-Vin malu melakukan ini, tapi dia ingin. Diambilnya selembar tisu, yang kemudian dia gunakan untuk membersihkan bekas krim di pipi Araya.
"Khem! Ingat, sekarang Araya masih milikku."
Dae-Vin panik, dia segera kembali ke posisi semula. "Maaf, Pak."
Yah, yang barusan bersuara adalah Arga. Dia kebetulan melihat gerak-gerik Dae-Vin di dekat Araya. Sebenarnya dia tahu kalau Dae-Vin menyukai putrinya. Dia masih kecil, masih harus dijaga, begitulah cara pikirnya.
...****************...
Hmm di awal-awal ada yang mengharapkan, 'kah? 😏
Oke, sampai sini dulu bagian spin off-nya.
Like kalau kalian suka ya :)
__ADS_1