
[Araya's Origin Arc - #2]
...----------------...
Sesampainya di depan rumah..
"Sayang, terima kasih karena telah menjaga mereka, dan.. tolong kau jangan sedih kalau seumpama aku tidak kembali." Arga mengucapkan kata-kata perpisahan. Luccyana tidak bersuara sambil menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang kembali basah.
"Hey, tolong dengarkan aku," pinta Arga sambil mengangkat dagu Luccyana. Setelah itu, tampak wajah sendu Luccyana yang disembunyikannya sejak tadi.
"Kenapa.. kenapa kau berkata seperti itu?"
"Maaf, aku tidak bisa janji. Jadi.." Arga menangkupkan kedua telapak tangan di kedua pipi Luccyana, kemudian..
CUP!
Arga mengecup kening istrinya itu setelah menyeka air matanya yang terus mengalir sedari tadi.
"Hiks, tidak bisakah kau.. hiks.. tetap di sini?" tanya Luccyana disela-sela isak tangisnya.
"Maaf, aku tidak bisa. Ini sudah tugasku, aku akan berusaha kembali setelah menyelesaikan misiku." ucap Arga sambil memeluk Luccyana dengan erat dan mengelus rambutnya.
"Allucia dan Araya, nama mereka adalah gabungan dari nama kita. Bagus kan?" sambil tersenyum tipis Arga membahas singkat tentang nama dari kedua putri mereka. Luccyana hanya mengangguk pelan. Memang yang memberi ide tentang nama Allucia dan Araya dan Arga.
Beberapa detik setelahnya, Arga telah melepaskan pelukannya. Kemudian menatap Luccyana dengan tatapan yang serius.
"Sayang, aku punya satu permintaan lagi untukmu. Bolehkah?" tanya Arga sambil menggenggam kedua tangan Luccyana.
"Apa itu?"
"Tolong jangan beri tau Araya apa-apa tentangku. Allucia juga, jangan sampai memberi tau Araya."
"Tapi, kenapa?"
"Biarkan dia tau dengan sendirinya."
__ADS_1
"Kurasa.. sekarang sudah waktunya aku untuk pergi. Tolong doa kan aku ya." lanjut Arga masih menggenggam kedua tangan Luccyana.
"Pasti." kata Luccyana sambil mengangguk. Kemudian memakaikan seragam Arga dengan rapih.
"Baiklah, aku berangkat." Arga berpamitan sambil melepaskan tangan Luccyana yang dia genggam sejak tadi.
"Iya, hati-hati." balas Luccyana, sambil menahan air matanya yang mau ke luar lagi dari matanya.
Setelah itu, Arga melangkah mundur. Kemudian mulai melambaikan telapak tangannya tanda perpisahan, sambil memasang senyuman yang terindah dan belum pernah Luccyana lihat sebelumnya. Luccyana pun membalas senyuman dan lambaian tangannya. Kemudian, Arga segera melangkahkan kakinya dan pergi dari sana, semakin lama dia semakin mempercepat langkah kakinya. Dan saat dia hampir tidak terlihat lagi, sekilas seperti ada sinar-sinar berwarna putih yang memancar dari alat di pergelangan tangan Arga sebelumnya, dan seketika tubuhnya telah tertutup dengan armor pelindung.
...----------------...
Sesampainya di lokasi kejadian, Arga mendapati kedua temannya yang terlihat terpojok akibat serangan besar-besaran barusan. Yang satu memakai armor merah dan memakai ban lengan bertuliskan Rain. Dan yang satunya lagi memakai armor kuning serta ban lengan bertuliskan Fatih.
"Kalian berdua tidak apa-apa?" tanya Arga khawatir sambil mengulurkan tangannya untuk membantu temannya kembali berdiri.
"Arga, maaf telah mengacaukan liburanmu. Seharusnya aku-" ucapan Rain terpotong setelah Arga menepuk singkat pundaknya.
"Ini kan keadaan darurat, jadi tidak apa-apa. Suatu saat aku pasti diberi waktu cuti lagi kok." balas Arga tak terlalu mempermasalahkan. Setelah meng-amanahkan kedua putrinya pada Luccyana, dia jadi lebih tenang. Aslinya tidak diingatkan pun juga sudah pasti.
Dalam hati terdalamnya, dia juga merasa bersalah karena tidak bisa selalu menemani. Bahkan mengirim kabar saja jarang dia lakukan. Tentu hal itu dikarenakan peraturan organisasi yang melarang anggota untuk berhubungan dengan dunia luar.
"Iya, dan mereka jadi semakin banyak." sambung Fatih sambil kembali bersiap menghadapi ratusan makhluk berzirah hitam pekat yang bergerak mendekati mereka. Yah, mereka adalah Darkness Swordman level enam. Jika pada generasi kesembilan tidak ada yang namanya Darkness Swordman level enam, maka di generasi ini ada sampai level tujuh.
"Oh ketambahan satu anggota rupanya.." di bawah langit gelap itu, terdengar suara berat nan mengerikan. Mereka bertiga memasang sikap waspada, bersiap menyerang balik jika ada serangan dadakan.
"Pulanglah dan bersembunyi di markas bawah tanah kalian! Kalian tidak akan bisa bertahan lama kalau tetap di sini." suara itu terdengar lagi, tapi kali ini disertai kilatan cahaya petir dan juga portal antar dimensi yang terbuka semakin lebar.
Tap! Tap! Tap! Tap!
Pemimpin dari Darkness Swordman telah muncul. Dia adalah Darkness Swordman yang paling kuat, level satu. Mereka bertiga mengepalkan tangannya erat. Memasang kuda-kuda sekuat mungkin untuk menghadapi serangannya serta menyerang balik.
"Serahkan batu element kalian kalau kalian ingin kembali dengan selamat." ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya. Dia mengancam dengan memberikan pilihan. Bagi sebagian besar orang, mereka pasti akan memilih untuk memberikan element mereka dan kemudian pulang dengan tangan kosong.
"TIDAK AKAN! Kami lebih baik mati daripada hidup di bawah kekuasaanmu!" ucap Arga, Rain, dan Fatih dengan kompak dan lantang. Kalimat itu selalu mereka ucapkan bersamaan. Mungkin itu password, bukan, tapi ciri khas mereka yang membedakan mereka dengan generasi yang lain.
__ADS_1
"Berhentilah membual. Meskipun kalian tidak akan menyerahkan kekuatan element kalian, dunia ini tetap akan dikuasai kegelapan! Hahahahahahaha!" suara tawanya yang menggelar menandakan perang telah dimulai. Banyak Darkness Swordman berbagai level ke luar dari portal dan ikut menyerang. Dan dia pun menghilang.
"Gunakan mode Alpha!"
"Ya!"
Setelah mendengar aba-aba dari Arga, Rain dan Fatih langsung mengubah mode armor mereka, yang tadinya dalam mode armor tahap ketiga, kini menjadi armor mode Alpha. Lebih kuat, dan daya hancur serangannya lebih dahsyat.
"Kalian tolong berjaga supaya mereka tidak masuk ke kawasan penduduk! Aku akan menghadapi Blackzero." ucap Arga sambil dengan cepat menyusun rencana. Kedua rekannya langsung mengangguk, kemudian mereka berpencar menjadi dua tim. Arga berlari ke arah selatan, sedangkan yang lain mengatur dan mengamankan daerah pembatas di utara.
Drap! Drap! Drap! Drap!
Suara langkah kakinya terdengar jelas saat menyentuh tanah yang tandus itu. Seluruh wilayah ini telah didominasi oleh warna hitam, yang artinya kegelapan telah menguasai area ini.
Sambil terus berlari, Arga melemparkan pandangan ke sekelilingnya. Mencari target yang sudah puluhan tahun menjadi musuh dari organisasi Elemental di dunia.
"Woy Arga!" panggil seseorang yang mengenakan armor merah terang. Sontak, Arga menolehkan kepalanya mencari sumber suara.
"Fabio? Kau juga di sini?"
Orang bernama 'Fabio' itu berlari di sebelahnya. Dia adalah anggota Elemental Eropa generasi keenam.
"Yah, semuanya ada di sini. Semua anggota aktif organisasi Elemental dunia. Kita tidak akan bertarung sendiri-sendiri." balasnya.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di depan sebuah portal raksasa yang menjadi batas antar dimensi. Terlihat dari dimensi lain langitnya sudah gelap. Bukan malam, tapi memang di sana adalah tempat asal para Darkness Swordman.
"Peter! Jack! Di belakang kalian!" ucap Fabio dengan lantang pada dua orang pemuda berarmor silver dan kuning yang masih berjibaku dengan puluhan Darkness Swordman yang menjaga gerbang markas organisasi Darkness.
Dor! Dor! Dor! Tcing! Tcing!
Suara tembakan dan juga bilah pedang yang diadu sudah tidak asing lagi di tempat ini sejak beberapa jam yang lalu. Sudah banyak Darkness Swordman yang kalah akibat dari kejadian ini. Tapi, tetap saja, jumlah mereka tak dapat dipastikan.
Sedangkan dari pihak Elemental dunia, hanya ada perwakilan tiga orang dari masing-masing benua. Sangat tidak seimbang.
To be continued..
__ADS_1
...----------------...
Nggak nyangka nih, udah chapter 50 aja. Jumlah kata juga sudah di atas 60K. Terima kasih buat kalian yang selama ini sudah dukung^^