Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 92


__ADS_3

[Darkness Invasion Arc - #3]


...----------------...


"PARK HANA! MINGGIR!" Hanny berteriak keras saat Darkness Swordman itu sedang ancang-ancang untuk menghabisi Araya.


Dengan cepat, Araya kembali berdiri dan memasang kuda-kuda. "Sunny, bukankah kamu masih belum pulih? Biar aku yang akan menghadapinya." ujar Araya melalui alat komunikasi. Ia baru saja berubah ke mode armor.


"Tapi, aku tidak bisa membiarkanmu melawannya sendiri … kita kalahkan dia bersama-sama!"


"Umm, baiklah."


"Oh, dua lawan satu ya? Oke, aku terima." Darkness Swordman berucap santai. Kemudian, ia diam di tempat tanpa melakukan apapun.


Araya dan Hanny menatapnya dengan waspada.


Kenapa ia tidak menyerang, pikirnya.


"Kenapa kalian berdua diam saja? Ayolah, aku memberi kesempatan pada kalian. Jangan disia-siakan." makhluk itu menghentak-hentak pelan tanah yang dia pijak dengan kaki kanannya.


Menyerang duluan? Pasti dia ingin mengetahui seberapa kuat kami berdua, kemudian mencari kelemahan kami, kata Araya dalam hati. Pandangannya tidak teralihkan dari makhluk yang berdiri tepat di antara dirinya dan Hanny.


"Kalau sampai dalam sepuluh detik kalian tak menyerang, maka kesempatan kalian hilang. Kuhitung dari sekarang." Darkness Swordman berucap. Perkataannya barusan membuat Araya bimbang. Apakah ia harus menyerang sekarang, atau nanti?


"Sepuluh!"


Kalau ia menyerang sekarang, maka Darkness Swordman langsung dapat menganalisis jenis serangannya.


"Sembilan!"


Kalau kemampuan serangannya bisa dianalisis, pasti kelemahannya dapat dia ketahui juga.


"Delapan!"


"Park Hana, apa kita akan menyerang sekarang?" pertanyaan Hanny barusan membuat Araya tersadar dari lamunan. Bukan melamun, berpikir lebih tepatnya.


"Eh? Ehm, baiklah! Kita serang sekarang!" Araya memutuskan setelah mempertimbangkan kemungkinan dan juga risiko yang akan mereka dapatkan. "Shiroi, armor tahap ketiga!"


"Baik!"

__ADS_1


Sebaiknya, aku jangan langsung menunjukkan seluruh kemampuanku, lagi-lagi Araya berpikir untuk mempertimbangkan.


"Nah, begitu. Kalau ada kesempatan, jangan disia-siakan, ya." makhluk itu mulai memasang kuda-kuda.


Araya tidak menjawab. Dia berpikir harus mulai menyerang dari mananya lebih dahulu, supaya peluang kemenangan mereka lebih besar.


Ah iya! Aku lupa kalau energiku belum diisi ulang. Bodohnya aku! Araya merutuki kecerobohannya. Seharusnya, ia tadi tidak langsung pergi begitu saja. Energinya berkurang banyak setelah melakukan teleportasi sejauh ribuan kilometer.


"Shiroi, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu harus berbuat apa … aku ceroboh. Seharusnya aku mengisi ulang energi dulu sebelum pergi ke sini." Araya tidak bisa berbuat banyak. Kalau dia tiba-tiba meninggalkan tempat itu, nanti dirinya akan dibilang pengecut. Namun, akan sangat sulit baginya untuk menghadapi Darkness Swordman level tiga dengan sedikit tenaga.


"Kok diam? Otaknya sedang lemot ya?" Darkness Swordman itu berucap, tentu hanya untuk memprovokasi Araya supaya cepat menyerangnya.


"Tidak lemot. Aku hanya sedikit mengantuk." jawab Araya jujur. Sudah lebih dari tiga puluh jam ia tidak tidur karena menjalankan misi. Tentu kalian pasti tahu bagaimana rasanya.


"Mengantuk? Wah, itu bagus. Baiklah. Aku akan membuatmu tidur. Tidur untuk selamanya!"


Sebut saja, Darkness Swordman itu bernama Zeta. Dia sudah tidak tahan untuk menyerang saat merasa mengetahui kelengahan Araya. Aura kegelapan menguar dari tanah yang sedari tadi dipijaknya.


Entah apa lagi yang dia pikirkan, bukannya menghindar, Araya malah diam karena tubuhnya terlalu lelah untuk kembali bergerak cepat.


Sedangkan Hanny, ia sudah melompat naik ke atas dahan pohon yang berada tidak jauh dari sana. Kemudian, ia segera menjemput Araya dengan teleportasinya, supaya rekannya itu bisa langsung berada di situ juga.


"Tidak apa. Aku hanya-"


"Araya, nama itu lebih mudah disebutkan daripada nama samaranmu. Kamu tunggulah di sini untuk memulihkan tenaga, biar aku yang turun." cetus Hanny dengan nada seriusnya. Ini pertama kali bagi Araya mengetahui kalau Hanny bisa seserius itu.


"Tapi … tunggu!" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Hanny sudah lebih dulu melompat turun dari pohon itu.


"Argh! Apa yang harus aku lakukan?!" Araya menggeleng sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Perasaannya dipenuhi rasa cemas. Jika ia turun, maka dia pasti akan menambah beban Hanny untuk melindunginya juga saat Araya lengah.


...----------------...


"Hah … di mana anak itu?" mengedarkan pandangan ke sekeliling yang dipenuhi debu dan asap, Kapten Akira sudah mencari keberadaan Araya sedari tadi. Bahkan sinyalnya saja tidak diketahui keberadaannya. Kapten Akira rela kembali menggunakan armor yang sudah lama sekali tidak ia gunakan.


"Apa kalian menemukannya?" Kapten bertanya menggunakan alat komunikasi. Mencoba menghubungi anggota-anggota lain kalau ada kabar terbaru tentang orang yang dicari.


"Tidak, aku tidak menemukannya." balas Henry yang saat ini berada di lokasi yang terbilang jauh dari lokasinya.


"Tidak ada juga. Aku juga tidak melihat satupun anggota tersier di sekitaran sini." Steve menyahut. Saat ini, Steve berada di tempat yang sepertinya habis terjadi ledakan hebat. Asap dan debu tebal menghalangi jarak pandang. Permukaan tanah juga acak-acakan dan berwarna kehitaman.

__ADS_1


Kapten Akira hanya bisa menghela napas. Tentu ia cemas dengan juniornya itu. Toh Araya belum berpengalaman dalam hal ini.


"Hyun-Jae, bagaimana keadaan di dekat gerbang dimensi?" kali ini, dia bertanya pada Hyun-Jae yang sekarang bertugas di dekat lokasi gerbang antar dimensi—pembatas antara dimensi manusia dengan dimensi Darkness.


"Gerbang dimensi semakin melebar. Perkiraanku, gerbangnya akan sepenuhnya terbuka dalam lima belas menit."


Lima belas menit? Jangan-jangan Araya sudah masuk ke sana. Kalau sinyalnya tak bisa dilacak, kemungkinan besar ia sudah di sana, pikir Kapten Akira. Ia benar-benar tak habis pikir dengan Araya yang bertindak gegabah dan pergi tanpa menyiapkan rencana.


Setelah pertempuran ini berakhir, ingin rasanya ia habis-habisan menceramahi Araya supaya tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Tapi, sepertinya hal itu sulit dilakukan.


Mengingat bahwa pertempuran baru dimulai empat jam yang lalu, dan akan berlangsung hingga puluhan jam—mungkin. Lagipula, belum tentu mereka semua akan kembali ke markas dengan selamat.


"Kapten, aku menemukan Araya!" pesan suara singkat dari Dae-Vin sejenak bisa menghilangkan perasaan cemas Kapten Akira. Meskipun belum pasti, ia merasa sedikit lega.


"Benarkah? Ada di mana dia, Dae-Vin? Apakah dia sendirian? Apa dia baik-baik saja?" tanya Kapten dengan berturut-turut.


Sedangkan di seberang sana, Dae-Vin menarik napas dan bersiap menjelaskan. "Aku berhasil mendeteksi sinyalnya. Jaraknya sekitar seratus meter dari tempatku sekarang. Dia bersama Hanny. Aku akan segera ke sana."


"Tunggu, jangan!"


Dae-Vin seketika menghentikan langkahnya setelah tiba-tiba Kapten mencegahnya.


"Kamu tidak perlu ke sana. Biar aku yang ke sana. Kamu pergi ke utara dan bantu teman-temanmu mencegah Darkness Swordman masuk ke area permukiman."


"Baiklah, Kapten!"


...----------------...


Hyun-Jae masih stand by dengan teropong yang dia gunakan untuk melihat benda yang jauh. Lebih tepatnya, benda itu dia gunakan untuk melihat perkembangan gerbang dimensi yang semakin melebar.


"Hah … kapan krisis ini akan berakhir? Kapan kita bisa hidup dengan damai?" ucapnya lirih tanpa mengalihkan pandangan dari objek yang dia amati sedari tadi.


Sejurus kemudian, sepintas ia melihat sekelebat bayangan berwarna hitam yang bergerak sangat cepat di dalam dimensi Darkness.


Apa itu tadi? Aku punya firasat buruk, kata Lee Hyun-Jae dalam hati. Ia menurunkan teropongnya. Mencoba berpikir positif dan berdoa supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih parah.


**To be continued …


Udah sampai ******* nih man-teman. Mungkin novel ini bakalan tamat di chapter 100+. Terima kasih buat kalian yang udah setia baca dari awal**.

__ADS_1


__ADS_2