
[Headquarters Arc - #6]
...----------------...
Araya menatap sepiring nasi beserta lauk pauk yang sudah tersedia di meja di depannya. Padahal nasinya hanya sepiring, namun lauknya banyak. Lauk nabati maupun hewani semuanya ada. Yah, semua itu adalah salah satu faktor yang bisa mempengaruhi kualitas fisik dan kesehatan para anggota Elemental.
Dirinya masih belum menyentuh makanannya, berbeda dengan keempat rekan laki-lakinya yang sudah mulai melahap makanan mereka.
"Hey, ayo makan, nanti keburu dingin." setelah selesai mengunyah dan menelan makanannya, Henry berucap ketika menatap Araya yang hanya terdiam.
"Eh, iya Kak." singkat, Araya membalas. Kemudian, ia mengambil sendok dan mulai memakan seporsi nasi dan sup. Saking banyaknya pilihan lauk, ia sampai bingung harus memilih yang mana.
Araya mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Hangat, makanan ini memang belum lama dimasak oleh para anggota pasif yang bertugas mengurus bagian pangan.
"Rasanya tidak jauh berbeda dari yang di markas dulu." katanya dalam hati sambil mengunyah. Dan seterusnya, ia makan dalam diam. Selera makannya memang sedang tidak seberapa. Berbeda dengan rekan-rekannya yang terlihat bersemangat dalam urusan makan.
Tanpa Araya sadari, ada sepasang mata yang beberapa kali menatapnya tidak suka. Tidak suka karena ia duduk dikelilingi para laki-laki. Siapa lagi kalau bukan Ryusei alias Kim Dae-Vin.
"Ryusei, kau melihat apa?" tanya salah seorang rekannya yang berambut pirang. Dia bertanya setelah melihat gerak-gerik aneh rekannya itu.
"Tidak apa."
...----------------...
"Jadi, ada apa sebenarnya?" tanya Araya pada Dae-Vin yang kini telah berada tepat di depannya. Jarak antara keduanya juga tidak sampai satu meter. Beberapa kali Araya merotasi bola matanya supaya tidak terus-terusan bertatapan dengan laki-laki itu.
"Langsung saja, apa kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan Dae-Vin barusan berhasil membuat Araya mendongakkan kepalanya sambil mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Tes keempat, kamu tidak bisa berenang kan?" tanyanya sambil menempatkan telapak tangan kanannya pada dinding, tepat di sebelah wajah Araya.
"Bagaimana kamu bisa tahu? Bukankah aku tidak pernah cerita?"
__ADS_1
"Ingat misi pertama? Kamu hanyut di sungai ketika sedang menyelamatkan anak singa." Ucap Dae-Vin menjelaskan. Akhirnya, Araya ingat kejadian waktu itu. Jika pada saat itu Dae-Vin tidak datang, mungkin nyawanya sekarang hanya tinggal satu.
"Besok tes keempat, apa kamu sudah ada persiapan?" tanya Dae-Vin lagi. Rupanya ini yang ingin ia bicara.
Araya mengarahkan pandangannya ke bawah sambil menggigit bibir bawahnya. Kalau ia memberi tahu yang sebenarnya, bagaimana reaksi Dae-Vin?
"Bagaimana?"
Pertanyaannya barusan membuat Araya tersadar kalau dia sudah diam beberapa detik. Sontak, dia membuka mulutnya meskipun tidak berkata apa-apa.
Bibirnya menjadi lebih merah karena tadi dia gigit, tentu hal itu membuat pikiran nakal Dae-Vin traveling ke mana-mana. Ingin rasanya ia mengecupnya, namun ia masih sadar diri. Ini di markas, dan posisinya lebih rendah daripada Araya. Tentu ia akan kena sanksi kalau sampai berbuat kelewat batas.
"Aku.. Aku akan latihan." Kembali tertunduk, Araya menjawab dengan pelan. "Baca buku."
"Memang bisa? Berenang itu perlu praktek."
Dae-Vin, kenapa kamu tidak menunjukkan niat aslimu saja? Kamu ingin membantu Araya untuk tes keempat, kamu mulai banyak basa-basi.
"Park Hana." Dari ujung lorong, seseorang memanggil Araya dengan nada yang datar, tapi masih bisa terdengar dengan jelas. Sontak, mereka berdua mengarahkan pandangan ke arah sumber suara.
"Kamu dulu rekannya Park Hana?" Tanyanya pada Dae-Vin.
"Iya." Balasnya dengan singkat.
Setelah memastikan, Adli menatap Araya yang tengah terdiam. "Tes kedua sebentar lagi dimulai. Kita harus ke ruangan." ucapnya dengan topik berbeda, sekilas ia menarik sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman tipis.
Dae-Vin mengacuhkannya, kemudian mengalihkan pandangannya. Jelas sekali kalau dia tidak suka. Ayolah, kamu sangat lama mengambil keputusan!
"Baiklah, Ryusei. Aku pergi dulu, sampai bertemu lagi." Sekilas Araya melambaikan tangan kirinya. Dae-Vin hanya menatapnya datar tanpa membalas apapun. Akan tetapi, dalam hati sebenarnya ia berteriak-teriak menyemangati. Berharap supaya tidak ada hal buruk yang terjadi ketika tes kedua nanti.
"Andaikan aku bisa satu regu dengan Araya." Gumamnya pelan nyaris tanpa suara. Pandangannya masih terarah pada gadis yang beranjak usia empat belas tahun itu.
Mereka yang berjalan bersebelahan terlihat semakin menjauh, dan kemudian menghilang ketika melewati lorong yang berbeda. Dae-Vin menghela nafas panjang sambil merutuki dirinya sendiri yang kemampuannya masih berada di bawah gadis itu.
__ADS_1
Jika itu benar-benar terjadi, maka dia pasti akan lebih sering bersamanya. Dia juga yang akan berjalan di sampingnya saat ini.
...----------------...
"Uhuk! Uhuk!" Menutup mulutnya dengan telapak tangan, Hanny merasa makanan yang belum lama masuk ke dalam lambungnya akan kembali ke luar. Wajahnya agak pucat, sebagian teman-temannya khawatir dengan keadaannya yang tidak biasa.
"Aku.. Aku tidak-" belum pernah ia menyelesaikan kalimatnya, kerongkongannya terasa terbakar karena makanan tadi berhasil naik. Sambil menutup rapat mulutnya, Hanny berlari ke kamar mandi yang berjarak beberapa meter dari ruangan khusus anggota tersier.
Sepuluh menit berlalu. Pintu ruangan telah kembali terbuka dan menampilkan seorang gadis berusia lima belas tahun dengan wajahnya yang pucat. Matanya berair.
Dengan langkah yang lemah, Hanny mendudukkan dirinya di kursinya yang bersebelahan dengan Zaaryan. Teman-teman masih menatapnya khawatir.
"Apa yang kamu rasakan Hanny? Apa perutmu sakit? Badanmu panas?" Tanya seorang perempuan dengan ban lengan bertuliskan 'Lina'. Masih ingat dengan Lina? Anggota Elemental Eropa yang sebelumnya juga satu tim dengan Henry. Dia juga menjadi regu tersier setelah organisasi digabungkan.
"Aku tidak apa-apa Kak, hanya lemas." Mengangguk pelan, Hanny menjawab. Yah, meskipun perutnya terasa seperti ditusuk-tusuk dan tubuhnya tidak berenergi, dia memperkirakan bahwa dia akan absen dalam tes kedua yang akan dimulai tidak lama lagi. Tapi mereka sedikit beruntung, regu tersier adalah regu yang selalu terakhir dalam tes. Berkebalikan dengan regu primer yang selalu diutamakan.
"Mau minum teh hangat? Kucarikan obat di ruang kesehatan ya?" Kali ini, Ivany yang angkat bicara. Dia adalah anggota regu tersier yang berasal dari benua Australia.
Hanny tak sempat mengangguk ataupun menggeleng, Ivany sudah langsung melenggang pergi dari ruangan itu. Hanny terdiam saat pandangannya menatap pintu yang kembali tertutup.
Setelah itu, Hanny memandang sekelilingnya. Ia baru menyadari kalau ada dua kursi yang kosong. Satu kursi adalah tempatnya Ivany tadi, dan yang satunya..
"Teman-teman! Aku punya dua kabar!" ucap seorang laki-laki yang baru memasuki ruangan itu. Napasnya memburu seperti habis dikejar monster.
Keenam rekan-rekannya menatapnya dengan tatapan bertanya. Laki-laki itu bernama Jeasson. Masih ingat? Dia juga rekannya Henry dari Eropa. Di sini, dia adalah pemimpin regu tersier.
"Ada apa?" Tanya salah satu anggota yang terlihat sepantaran dengan Hanny. Dia bernama Brian. Dia menatap Jeasson dengan tatapan penasaran.
"Hah.. Hah.. Ada dua kabar. Kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, ujian kita semua ditunda beberapa hari dan terancam dibatalkan. Kabar buruknya, hah.. Darkness Swordman mulai menginvasi dunia!" Disela-sela napasnya yang terengah-engah, Jeasson berusaha menjelaskan. Sontak, semua anggota di sana menatapnya dengan tatapan terkejut setelah mendengar kata 'menginvasi'.
Sejenak Hanny melupakan rasa sakitnya, tangannya terkepal mendengar apa yang ketuanya bilang. Napasnya memburu, dia sekarang benar-benar melupakan rasa perih melilit yang sebelumnya terasa di perutnya.
"Darkness Swordman.. Mulai menginvasi dunia..?" gumamnya sembari menatap ke bawah, tak menghiraukan rekan-rekannya yang bertanya satu sama lain guna memastikan kabar tersebut.
__ADS_1
**To be continued..
Jangan lupa like dan komentarnya ya man-teman** ^^