Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 47


__ADS_3

[Mars Mission Arc - #10]


...----------------...


"Araya, kamu tidak usah ikut." ucap Dae-Vin memberi tatapan serius yang sarat akan kekhawatiran.


"Hah? Kenapa?" tentu Araya bingung. Saat seperti ini, dirinya malah tidak boleh ikut. Jika salah satu anggota tidak ikut, namanya bukan tim, iya kan?


"Kamu harus pergi ke pesawat untuk memberi laporan pada markas." jawab Dae-Vin terdengar masuk akal. Araya mengangguk, dan kemudian segera berlari kembali ke pesawat. Saat itu pula, Dae-Vin menggunakan teleportasinya dan pergi ke tempat lelang yang berujung ricuh.


...----------------...


"Setelah aku menggunakan ini, kekuatanku akan terus bertambah! Mwahahahahaha!" Darkness Swordman tertawa keras sambil memegang keempat batu element.


Di dekat sana, Hanny dan Zaaryan yang sudah dalam mode armor, terkapar di lantai akibat kewalahan menghadapi makhluk kegelapan itu.


"Dae-Vin, kapan kau sampai?" tanya Zaaryan melalui alat komunikasi, tetapi tidak ada jawaban.


"Kau berpikir terlalu cepat, Darkness Swordman." suara seseorang yang yang tidak asing terdengar begitu jelas. Di belakang Darkness Swordman, ada seorang pemuda laki-laki berarmor biru hendak menebas punggung Darkness Swordman dengan pedang yang berwarna biru muda.


SRET! JEB!


Refleks Darkness Swordman terlalu baik, dia bahkan telah mengetahui keberadaan Dae-Vin sejak beberapa detik setelah kedatangannya.


Pedang Dae-Vin terlempar dan kemudian menancap tak jauh dari tempat itu.


"Hahaha! Bocah ingusan seperti kalian tidak akan bisa mengalahkanku!" ucapnya sombong sambil tertawa melihat pedang Dae-Vin yang sebegitu mudahnya dia lempar dan menancap di lantai.


"Diamlah!" mengeluarkan senjatanya yang lain, Dae-Vin kembali mengambil kuda-kuda sebagai bentuk permulaan. Kini, di tangannya ada sebuah bumerang dan kemudian dia lemparkan ke arah Darkness Swordman.


Wush! Wush! Wush! Syuuu..


Bumerang itu berputar-putar, Dae-Vin mengendalikan udara di sana supaya bisa mendukung pergerakan bumerangnya. Sedangkan musuh bebuyutannya itu hanya diam santai. Di dalam topengnya, Darkness Swordman sebenarnya memasang seringai.


CTAK! SREK!


Dalam sekejap mata, bumerang Dae-Vin seketika berbalik arah dan mengenai tepat di lengan kanannya.


Tap! Tap! Tap!


"Haha, kalian masih terlalu belia untuk mati di tanganku. Kalian masih tahap dua, meskipun seratus lawan satu tidak akan bisa mengalahkan aku. Namaku Grey, Darkness Swordman level tiga. Kalau tidak mau mati, bergabunglah di organisasi Darkness kami." jelasnya sambil mengulurkan tangannya pada Dae-Vin yang terduduk sambil memegangi lengan kanannya yang terluka akibat terlalu bumerang tadi. Saking kuat hantamannya, armornya sampai retak.

__ADS_1


"Tidak akan! Aku tidak akan mengkhianati umat manusia!" Dae-Vin berucap tegas sambil menatapnya dengan tatapan tak suka. Rahangnya mengeras, jika wajahnya tak tertutup armor, dapat terlihat kalau wajahnya jadi semakin tirus.


"Ooh baiklah. Berarti kalian bertiga sudah siap untuk mati." balas Grey dengan nada berat yang menyeramkan. Perlahan, aura hitam pekat mulai muncul pada telapak tangan kanannya.


Tangan kiri Grey dia gunakan untuk mencengkeram erat bahu kanan Dae-Vin. Tangan kanannya terangkat, menyiapkan kekuatan untuk menghabisi nyawanya.


"Haha! Semudah itu mengalahkan kalian. Dasar lemah!"


SLEB!


"Jauhkan tanganmu darinya!"


Suara itu terdengar bersamaan dengan terikatnya pergelangan tangan kanan Grey dengan tali sulur yang dipenuhi dengan duri. Dari arah belakangnya, ada Araya yang sudah lengkap dengan armornya.


"Aku datang tepat waktu ya?" di saat seperti ini, masih sempat-sempatnya Araya mengajak teman-temannya berkomunikasi. Mungkin niatnya supaya tidak terlalu syok.


"Araya, kamu harus hati-hati. Dia sangat kuat!" balas Dae-Vin sembari melangkah mundur beberapa saat guna menjaga jarak dengannya.


"Oke, aku akan hati-hati."


"Kamu sudah membuat laporan ke markas?"


"Beres!"


"Ah! Kau telah menyakiti teman-temanku! Aku tak akan membiarkanmu!"


Araya memperkuat tekniknya dengan cara mengikat pergelangan tangan kiri Grey menggunakan tali yang sama. Dia berusaha membawanya sedikit menjauh.


"Cih! Bocah sepertimu bisa apa?" Grey berdecih, nada sombongnya mulai terdengar lagi.


"Hah?!" menyadari akan serangan balasan, Araya tak sempat memutuskan tali itu, apalagi menghindar sudah tak ada waktu.


"Hahaha! Seperti mainan anak kecil!" dia kembali tertawa keras sambil dengan mudahnya memainkan tali sulur itu layaknya cambuk mainan. Alhasil Araya juga ikut terpontang-panting. Beberapa kali tubuhnya membentur dinding ruangan itu.


"Araya! Lepaskan sulurnya!" kata Hanny sambil berusaha berdiri. Namun seluruh tubuhnya seperti menolak seakan gravitasi di sana sangat besar. Di bawahnya seperti ada magnet kuat yang menarik armornya hingga menempel di lantai.


"Tidak bisa! Akh!" Araya kembali merasakan tubuhnya terbentur dinding itu. Tapi dia merasa kalau armornya masih kuat, padahal bagian belakangnya sudah mulai retak-retak.


"Aku akan memotongnya saja," memegang pergelangan tangan kirinya, tangan kanannya bersiap untuk memotong sulur yang tersambung dengan alat transformasi miliknya sendiri.


KREK!

__ADS_1


"Berhasil! Aakh!" tali berhasil terpotong, tapi tubuh Araya terhempas dan membentur keras layar super lebar yang tadi digunakan dalam acara lelang.


Layar itu pecah bahkan sampai bolong dan Araya terhempas menembus layar itu.


"Apa lagi sekarang?!" menatap tempat mendaratnya, Araya tak tau harus berbuat apa lagi. Peluang untuk selamat tidak besar dan persentasenya di bawah satu persen.


Singkatnya, dirinya hanya berjarak satu meter dari lava berwarna merah menyala yang ada di bawahnya.


Araya menutup matanya, bersiap kalau nyawanya akan dicabut saat itu juga. Tapi, hal tak terduga pun terjadi. Tubuhnya kembali melayang di udara, kemudian..


BUAKH!


Arah gerakannya jadi membentuk sudut sembilan puluh derajat. Tubuhnya kembali terhempas dan membentur dinding untuk yang kesekian kalinya.


Ketika sudah menyentuh lantai, Araya baru menyadari kalau seluruh armornya telah terselubungi dengan aura hitam dari Darkness Swordman Grey.


"Hey nak, serahkan kekuatan element-mu dan aku akan membebaskan kalian semua." ucapnya dengan nada biasa sambil menggunakan kekuatannya untuk memaksa tubuh Araya supaya bisa berdiri.


"Menyerahkan kekuatan element pada musuh? Maaf, Anda terlalu cepat seribu tahun." jawab Araya terdengar santai seakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya


"Ooh tidak mau ya? Baiklah, pilihan kedua. Kau pilih menyerahkan kekuatan element-mu dan pulang hidup-hidup, atau mati saat ini juga?"


"Mati!" meskipun suaranya tercekat, Araya berusaha menjawab. "Lebih baik mati daripada hidup di bawah kekuasaanmu!"


"Haah, dasar anak yang keras kepala. Baiklah kalau itu pilihanmu. Jangan salahkan aku kalau aku membunuhmu ya," ujarnya setelah menghela napasnya.


"HRAAAAA!" untuk terakhir kalinya Grey menyerang Araya. Kembali menghempaskan tubuh Araya, tapi kali ini berbeda. Kekuatannya meningkat. Selain itu juga, Grey menggunakan kekuatan kendali jarak jauh untuk membalik pedang Dae-Vin tadi. Yang tadinya menancap, kini sudah berbalik posisi, gagangnya menempel di lantai dan ujungnya berada di atas.


JLEB! BRUK!


"Ugh.." Araya tak bisa lagi berkata-kata. Ini rasa sakit yang paling sakit selama hidupnya yang pernah dia rasakan.


Pedang Dae-Vin telah menusuk tubuhnya sampai tembus. Tubuhnya telah ambruk, masih dengan pedang yang tertancap di tubuhnya.


"ARAYA!"


To be continued..


...----------------...


Menurut kalian, apakah Araya bisa selamat? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Jangan sampai ketinggalan part selanjutnya.

__ADS_1


Like kalau kalian suka, komen, dan favorit biar nggak ketinggalan kelanjutannya. Terima kasih!


__ADS_2