
[Final Arc - #11]
...----------------...
BUAKH!
Tubuh Araya terlempar hingga beberapa meter akibat terkena serangan Darkzero. Jika tidak menabrak dinding bangunan di dekat sana, dapat dipastikan kalau dia masih akan terus terseret.
Efek serangannya cukup dahsyat, bahkan sampai membuat dinding bangunan itu runtuh saking kuatnya. Namun, armor yang melindungi Araya sama sekali tak ada kerusakan—tidak retak.
Tapi ….
KLAP! KLAP! KLAP!
Seketika armornya berubah warna. Element-nya pun juga berubah tanpa ia suruh untuk berubah. Dan sekarang, armornya berwarna hijau, yang menandakan kalau element alam yang dia gunakan.
"Maaf Araya. Entah mengapa, kekuatan element Rigel-nya hilang sendiri. Sepertinya untuk sementara tak bisa digunakan untuk menghemat energimu." Shiroi berucap. Araya berpikir—mencari alternatif lain untuk menyerang Darkzero dengan element alam yang kekuatannya berbeda jauh dengan element Rigel.
"Iya, dia benar. Kalau dipaksakan, akan berdampak buruk padamu." Zack menimpali. Setelah element-nya ditukar, ternyata mereka kembali seperti semula.
"Baiklah. Terima kasih penjelasannya. Aku akan berusaha sebisaku." Araya menatap ke depan setelah kembali berdiri. Mengarahkan kedua tangannya ke depan untuk mempersiapkan serangan.
Setelah itu, Araya mulai menggunakan imajinasinya untuk bisa mengendalikannya. Kenapa imajinasi? Element alam adalah element yang 'lebih mudah' digunakan daripada element lainnya. Cukup menggunakan imajinasi sekreatif mungkin untuk bisa memakainya dengan efisien.
"Araya, kata Pak Arga, kelemahan Darkzero adalah dia tak bisa menyerang dengan baik objek yang tak menyentuh tanah. Sebagian besar serangannya meleset kalau targetnya itu terbang." kata Shiroi lagi, membuat otak Araya kembali berpikir.
"Dari mana kau tahu?"
"Sistemnya Pak Arga yang memberi tahuku."
Akhirnya Araya mengerti. Ia pun menguatkan tekadnya untuk bisa mengalahkan Darkzero—setidaknya membuatnya lemah. Rasa ragunya mulai berkurang.
Ia melompat setinggi yang dia bisa, dan saat itu pula, terdapat sayap di punggungnya. Araya menggunakan kedua sayap itu untuk berpindah tempat—saat ini dia sudah berada di atap sebuah bangunan.
Sementara Darkzero menatapnya tak suka, ia benar-benar geram. Dia pun melepaskan sanderanya supaya tidak menghambat serangannya.
__ADS_1
"Araya, bergeraklah secara acak dan secepat mungkin, supaya dia kesulitan menetapkan arah target." kata Arga melalui alat komunikasi. Araya tak menjawab apapun, dia malah langsung melakukan apa yang Arga instruksikan.
"Pak, selagi Araya mempersulitnya, seharusnya kita melakukan sesuatu." bisik Henry yang sekilas mengalihkan atensi Arga.
"Yah, kau benar."
****
Tiga puluh menit berlalu. Empat anggota itu memisahkan diri menjadi dua kelompok untuk bisa menyerang lebih efektif.
Saat Araya mencoba mempersulit Darkzero, Arga menyerangnya dari arah belakangnya. Namun, makhluk itu mempunyai refleks yang sangat bagus sehingga serangan Arga beberapa kali meleset.
Sedangkan Henry, ia bersama Axel guna mencegah Darkness Swordman itu merecoki pertarungan sebelah.
Sepertinya aku sudah cukup membuatnya kelelahan. Kurasa sudah saatnya melakukan teknik akhir.
Araya melakukan ancang-ancang untuk menyerang. Gerakannya yang disadari oleh Arga mampu menyadarkannya untuk segera menghindar.
"Final Attack. Rigel of Nature."
Setelah Araya mengucapkan nama tekniknya, warna armornya kembali berubah. Kali ini, armornya menjadi warna hitam dengan beberapa corak berwarna hijau terang.
Bahkan setelah Araya mengucapkan nama tekniknya, atmosfer terasa bergetar hebat disertai dengan suara gemuruh. Suhu udara naik secara signifikan. Jika saja di sana ada banyak manusia, sudah pasti dia langsung diberhentikan dari organisasi karena membahayakan banyak orang.
Araya sama sekali tak mengindahkan peringatan dari Arga. Terjadi lagi. Memang dia tidak bisa merasakan perasaannya sendiri jika sedang menggunakan element Rigel.
Campuran dua element yang dicampur kembali itu memberikan dampak pada fisik Araya. Jika sebelumnya matanya berwarna merah, sekarang jadi berwarna hijau—seperti warna mata kucing pada umumnya.
Bukan hanya itu, sistemnya juga terkena dampaknya. Energi mereka berdua menurun drastis. Terutama Shiroi, sebab Araya menggunakan dua element sekaligus, yang otomatis berdampak buruk pada alat transformasinya.
Dimulailah serangan balasan dari Araya. Dia mengarahkan tangan kanannya ke arah Darkzero—mengisyaratkan supaya 'bawahan'-nya menyerang makhluk itu.
GROAARRH!
Muncul dua ekor naga berwarna hijau gelap yang hendak menyerang Darkzero. Naga yang panjangnya sekitar dua puluh meter, besar tubuhnya hampir sama seperti ukuran batang pohon beringin berusia seabad. Seluruh tubuhnya bukan dilapisi sisik, melainkan duri-duri yang tajamnya menyaingi bilah pedang. Naga itu bisa terbang meski tidak memiliki sayap.
__ADS_1
Araya melemparkan pandangan pada senior-seniornya yang berada di sana. Ia segera memberikan sinyal supaya mereka pergi menjauh dari tempat itu. Namun, mereka tak melakukannya. Sampai beberapa detik kemudian, Araya terpaksa menggunakan teleportasi untuk mengamankan mereka bertiga. Memindahkan mereka ke tempat yang jauh, bahkan sudah berada di luar dimensi Darkness.
"Hah? Kenapa bisa ada di sini?" kata Henry sembari melihat-lihat sekitarnya. Ia benar-benar tak menduga kalau Araya akan melakukan teleportasi terhadap mereka secara paksa.
"Hey, putrimu itu benar-benar sudah nekat!" kata Axel pada Arga. "Aku kan baru saja akan melawan Darkness Swordman sialan itu!"
"Aku … juga tidak menduga kalau dia akan nekat melakukannya. Semoga dia baik-baik saja." ucap Arga terdengar pasrah.
"Kau ini kan ayahnya. Kenapa malah membiarkannya? Kalau dia sampai kenapa-kenapa bagaimana?" Axel berucap penuh penekanan.
"Aku rasa dia memang sudah kenapa-kenapa. Tapi, aku percaya dengannya kalau dia masih baik-baik saja. Kita belum tahu seberapa kuat element Rigel itu. Jadi, tetaplah berpikir positif."
...----------------...
Araya masih sibuk mengendalikan kedua naga miliknya untuk menyibukkan kedua Darkness Swordman—meskipun ia hanya perlu menggerakkan dua tangannya.
"Hehehe, mencoba mengalihkan perhatian kami, ya?" celetuk Darkzero sambil sekilas melempar pandangan pada Araya.
KLAP!
Dalam sekejap mata, naga yang dikendalikan oleh Araya tadi seketika melebur dan menyatu dengan udara. Bisa dibilang, Araya sekarang hampir mencapai batasnya. Akan sulit dia melakukan serangan yang lebih kuat lagi. Tapi hal itu masih mempunyai peluang untuk bisa dilakukannya.
Araya berdiri di salah satu atap bangunan. Sayapnya telah menghilang seiring dengan berkurangnya energi. Dengan cepat, ia mencoba berpikir bagaimana caranya menghabisi dua Darkness Swordman itu dengan menggunakan energi yang tidaklah banyak.
DUARRR!
Suara ledakan besar berhasil mengalihkan atensi mereka bertiga. Seketika pandangan mereka tertuju ke arah sumber suara, yakni markas besar organisasi Darkness. Kepulan asap hitam yang tebal terlihat di langit sekitaran sana.
"Apa?! Siapa yang berani-beraninya meledakkan istanaku?!" teriak Darkzero geram. Ia segera menghubungi beberapa rekannya yang bertugas menjaga markas.
"Beri tahu aku, siapa yang meledakkan markas kita?!" tanya Darkzero to the point. Di depannya, terdapat layar ilusi yang mampu menampilkan keadaan di markas.
"M-maaf Tuan Darkzero. Saya dapat dari laporan, kalau markas ini kedatangan penyusup. Saya tidak tahu apa yang dia cari, tapi dia sepertinya tadi mencari seseorang di sekitar ruang eksekusi."
To be continued …
__ADS_1
Siapa yang meledakkan markas mereka?
Terima kasih buat kalian yang sudah membaca :)