Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 103


__ADS_3

[Final Arc - #5]


...----------------...


"Araya." ucap Dae-Vin dengan suara yang agak bergetar. Pandangannya masih belum teralihkan dari punggung Araya yang kini semakin menjauh. "Araya!" panggilnya sekali lagi. Ia sangat berharap kalau Araya akan berbalik dan membalas panggilannya.


Tak berselang lama kemudian, orang yang dia panggil tadi menghentikan langkahnya. Perlahan tapi pasti, dia sedikit membalikkan badannya untuk menatap orang yang memanggilnya.


Kedua sudut bibir Dae-Vin seketika tertarik ke atas. Dia tersenyum melihat Araya yang masih mengingat namanya.


Tapi, satu hal yang terlambat ia sadari. Sekarang Araya sudah melewati gerbang pembatas dimensi. Itu artinya, mereka berdua telah dipisahkan oleh dimensi yang berbeda.


Tanpa mengucapkan satu katapun, Araya kembali berbalik dan melanjutkan perjalanannya untuk mengalahkan Darkzero. Ekspresi Dae-Vin seketika berubah ketika sadar kalau dia 'diabaikan'. Araya bahkan tidak tersenyum padanya. Tatapannya masih kosong seperti terakhir kali.


Dengan langkah biasa, kedua tangan masih Araya menyeret pedang pusaka itu. Di dalam dimensi Darkness, dirinya bahkan telah diadang oleh puluhan Darkness Swordman level lima dan empat yang terus datang bagaikan air sungai yang tidak ada habisnya.


"Araya! Tunggu!" teriaknya untuk mencegah Araya masuk lebih ke dalam. Namun, teriakannya sama sekali tidak dihiraukan olehnya. Araya masih berjalan seperti biasa, sedangkan Dae-Vin berusaha untuk mengejarnya.


Ketika ia hendak melewati gerbang, tubuhnya seketika terhempas ke tanah hingga beberapa meter. Itu karena ia ingin menerobos masuk dengan cara berlari, maka sensor di gerbang juga akan merespon dengan kekuatan yang sama.


"Udh! Kenapa aku tak bisa masuk?" gumam laki-laki itu sambil kembali berdiri. Ia kembali menatap keadaan di seberang gerbang. Araya sudah semakin jauh, kalau ia tidak segera masuk, sudah pasti ia akan kehilangan jejak Araya.


Dae-Vin kembali mencoba untuk masuk. Ia menggunakan cara yang sama—hanya saja, ia berlari lebih cepat—dan kembali menerima hempasan yang sama kuatnya.


Ia segera bangkit kembali untuk yang kedua kalinya. Kali ini, ia mencoba masuk dengan cara yang lebih pelan. Tapi lagi-lagi dia ditolak. Seakan ada dua kutub magnet yang sama saling didekatkan, maka akan tolak-menolak.


Mencoba dengan cara super pelan pun juga tidak berhasil. Ia sangat frustasi karena usahanya telah gagal untuk yang kesekian kalinya.


"SIALAAAAN! KENAPA AKU TIDAK BISA MASUK?! AKU MAU MASUK!!" teriaknya sambil memaksa untuk menerobos gerbang itu.


Beberapa kali ia menendang dinding transparan yang hanya bisa dilewati oleh orang yang punya element kegelapan. Tendangannya pun berbalik dan hampir membuatnya keseleo.


"SIAL! SIAL! SIAAAL!"


Dae-Vin masih melanjutkan tindakannya, disertai berbagai umpatan yang terucap dari mulutnya. Ini adalah kali pertama ia semarah ini selama ia hidup.

__ADS_1


"Dae-Vin, tenanglah! Pasti masih ada cara lain." Kyoya berusaha menenangkannya. Namun, Dae-Vin tak mendengarkan. Ia begitu emosi. Bahkan ia telah menghabiskan waktu lima belas menit di sana untuk berusaha masuk. Araya juga sudah tidak terlihat dari pandangannya.


Berkali-kali ia berusaha lagi. Meskipun lebih terkesan membuang-buang tenaga, ia tetap melakukannya. Bahkan ia mencoba menggunakan armor pun tetap tidak bisa melewatinya.


DEG!


Ia merasakan ada sesuatu yang mengenai tepat di kepalanya. Namun, ia juga merasakan hal yang sama pada jantungnya.


Setelah kejadian itu, kepalanya menjadi terasa sangat berat. Ia terduduk. Rasa sakitnya mungkin seperti orang yang terserang migrain. Berdenyut.


"Ini hal baik atau buruk, ya?" celetuk Dae-Vin setelah beberapa saat terdiam. Ia mengangkatnya kedua tangannya dan memperhatikannya.


Di kedua tangannya, terlihat uratnya yang kembali menghitam. Dan semakin lama, semakin banyak uratnya yang menghitam. Termasuk di leher sampai samping wajah.


"Itu kan … kamu kambuh lagi! Seharusnya kamu sudah sembuh, tapi kamu akan jadi Half Darkness Swordman lagi!" ujar Kyoya terdengar panik. Meskipun hanya sebuah sistem, ia merasa bahwa tak lama lagi Dae-Vin akan melakukan hal-hal berbahaya yang tidak akan dilakukan orang waras.


"Hahahahahaha!" sembari menatap gerbang, Dae-Vin tertawa keras. Tawanya benar-benar seperti Darkness Swordman. Hanya saja, dia masih berwujud manusia.


"Hahahaha! Kegelapan memang seharusnya dikalahkan oleh kegelapan. Darkzero! Tunggulah! Aku akan ke sana!" Dae-Vin mengangkat tangan kirinya, dan seketika alat transformasi yang ada di pergelangan tangan kirinya berubah menjadi warna hitam.


Di saat itu pula, tubuhnya tertutup armor berwarna hitam. Dan beberapa bagiannya masih ada yang berwarna biru—bagian itu menunjukkan identitas dirinya yang sebenarnya.


Entah ini ledakan ke berapa, tapi ledakan kembali terjadi. Masih di tempat yang sama, Dae-Vin dengan element kegelapannya, berhasil menghancurkan sistem sensor pada gerbang pembatas dimensi yang bisa membatasi orang yang boleh masuk.


"Semoga kamu bisa mengendalikan dirimu, Kim Dae-Vin." kata Kyoya dengan sangat pelan. Ia benar-benar khawatir kalau sampai Dae-Vin kehilangan kendali dan berakhir menjadi Darkness Swordman sungguhan.


...----------------...


"Wah wah. Tak kusangka, ada orang yang berani menyusup ke sini." kata Darkzero saat menangkap basah Araya yang berjalan di lorong bawah tanah markas organisasi Darkness.


Araya menanggapi dengan diam. Pedang pusaka yang dia bawa masih belum ia gunakan sama sekali.


"Kenapa? Anggota tubuhmu ada yang tertinggal ya?" tanyanya lagi. Araya masih diam tidak menanggapi. Menyadari hal itu, Darkzero membentaknya. "Hey! Jangan jadi orang bisu!"


Di lorong ini, memang ada ruangan yang tadi ia dan Steve tempati. Ada ruang eksekusi, ruang bawah tanah, dan juga … ruang segel. Orang yang disegel akan dikunci di salah satu ruangan.

__ADS_1


Dan di samping kanan dan kiri Araya itu, adalah ruangan tempat orang yang disegel. Araya tahu itu. Namun, ia belum mengetahui siapa yang ada di dalam sana.


"Elemental Darkness. Pemecah Segel." datar dan pelan, Araya berucap sambil menggenggam erat kedua gagang pedang pusaka yang ia bawa.


Seketika 'batu' yang ada di balik jeruji ruangan segel, terpecah dan menampilkan wujud manusia. Keduanya laki-laki. Mereka berada dalam ruangan yang berbeda.


"Eh? Apa yang terjadi?" tanya salah satu orang yang baru saja terbebas dari segel. Ia menatap sekeliling dan atensinya tertuju pada seorang anak berusia hampir empat belas tahun dan makhluk kegelapan.


"Park Hana? Apa yang dia lakukan di sini?" seorang laki-laki albino mengernyit setelah membaca tulisan di ban lengan Araya.


"Darkness Illusion."


KLAP!


Seketika Araya dan Darkzero menghilang dari pandangan mereka berdua. Kedua laki-laki itu saling tatap dengan tatapan bingung.


"Siapa kau?" tanya mereka hampir bersamaan.


...----------------...


"Hati-hati, Araya! Kita terjebak dalam ilusinya." Shiroi memperingatkan. Ini bukan kali pertamanya Araya terjebak dalam ilusi Darkness. Ia sudah sedikit mengerti bagaimana cara kerjanya.


"Ilusi Darkness? Apa sebelumnya, kalian pernah terjebak di dalamnya?" tanya Zack setelah Shiroi mengatakan tentang ilusi kegelapan.


"Iya, kami pernah. Apa kalian dulu belum pernah?"


"Belum pernah. Ini pertama kalinya aku masuk ke ilusi Darkness."


Kedua sistem itu malah bincang sendiri. Sedangkan orang yang seharusnya mereka bantu masih diam sambil merasakan keadaan sekitarnya.


"Dia ada di sana." kata Araya tiba-tiba, setelah sejak tadi ia tak bicara. Pandangannya tertuju pada sebuah pohon berwarna hitam putih yang ada di samping kirinya.


Dunia ilusi, hanya jiwamu yang dapat terjebak di sana. Sedangkan Araya tadi, raganya sempat diteleportasikan oleh Darkzero supaya berpindah.


Di dunia ini, semuanya serba hitam putih seperti di dalam komik.

__ADS_1


**To be continued …


Terima kasih yang sudah membaca sampai part ini** :)


__ADS_2