
[After Mission Arc - #1]
...----------------...
"Oh iya, di ruangan kalian sudah ada cadangannya. Dan, kami juga memberikan kejutan untuk kalian." ucap Profesor R. Keempat anggota juniornya memasang wajah penasaran. Kira-kira, apa kejutannya?
"Eh, Araya?! Tanganmu kenapa?" ucap Kak Aria tiba-tiba setelah menyadari kalau ada yang terluka. Ia segera mendekat dan segera mengecek tangan kiri Araya yang terbalut perban.
"Tadi.. Ada Darkness Swordman," balas Araya dengan nada pelan yang mampu mengejutkan para seniornya.
"Apa?! Darkness Swordman? Apa kalian tadi diserang? Apa ada yang terluka lagi? Apa dia sudah dikalahkan?" tanya Kak Aria berturut-turut, wajahnya cemas. Tapi bukan cuma dia yang seperti itu, yang lainnya (selain anggota generasi ke sembilan) pun terkejut mendengarnya.
"Kami semua baik-baik saja. Dia juga sudah dikalahkan." ucap Hanny yang dibalas helaan napas lega.
"Syukurlah. Dan.. siapa yang memberimu pertolongan pertama, Araya?"
"Kak Henry."
"Oh, orang itu."
"Ada apa Kak Aria? Apa ada yang salah?"
"Ah tidak kok." balasnya sambil memasang senyuman seperti biasanya.
"Ah iya Profesor, alat pengendali teleportasi milikku sepertinya rusak. Tadi terkena air dan tergores bebatuan." ucap Araya sambil menunjukkan alat pengendali teleportasi miliknya yang kacanya terlihat agak retak.
"Benarkah? Sini, biar kulihat." balas Profesor F. Kemudian, Araya pun melepas alat pengendali teleportasi miliknya, lalu memberikannya pada Profesor untuk diperiksa.
"Hmm iya ini memang sedikit rusak. Akan aku perbaiki, sekalian nanti di-upgrade menggunakan barang yang kalian kumpulkan tadi." ujar Profesor F setelah mengamati alat yang bentuknya seperti jam tangan, namun ukurannya lebih panjang.
"Apakah bisa? Kukira barang itu hanya properti untuk ujian peresmian."
"Ahaha tidak, Araya. Sebenarnya keempat benda tadi adalah inti element. Nanti akan di proses terlebih dahulu dan dipasang untuk meng-upgrade alat pengendali elemen milik kalian semua supaya bisa sampai ke tahapan kedua." balas Profesor F sambil menatap keempat anggota Elemental Asia generasi ke sembilan, secara bergantian.
Beberapa dari mereka menganggukkan kepalanya tanda sudah mengerti.
"Kalian semua pasti lapar kan? Kalau begitu, ayo kita makan." ajak Kak Ariya tersenyum lebar sambil menghadap ke pintu keluar yang sudah terbuka.
"Hanya mereka yang kau ajak? Kami tidak?" tanya Kapten Akira, Kak Aria langsung menoleh.
"Aku mengajak semuanya yang mau makan, kalau tidak ingin makan ya tidak usah." balasnya seenaknya.
Dan pada akhirnya, mereka semua pergi ke kantin untuk.. makan pastinya. Meskipun sekarang sudah lewat waktu makan siang, tapi tak apa. Apakah orang lapar tidak boleh makan? Tidak boleh jika itu memang sedang menjalankan kewajiban.
...----------------...
Satu jam kemudian, masing-masing anggota generasi kesembilan kembali ke ruangan mereka. Begitupun dengan Araya.
Di ruangannya, dia duduk di kursi belajarnya, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, kemudian memejamkan matanya sebentar.
"Selesai makan jangan langsung tidur!" ucap Araya dalam hati, kemudian dia langsung membuka matanya.
Sekarang baru jam tiga sore, bisa dibilang mereka menyelesaikan misinya dengan sangat baik, meskipun ada Darkness Swordman yang sempat mengacau. Tapi, mereka bisa selesai tepat waktu.
Araya menatap tangan kirinya yang terbalut perban. Mencoba untuk mengingat-ingat kejadian beberapa saat yang lalu, saat dia belum kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
"Kenapa aku yang harus terluka? Tapi.. Tidak apa-apa, setidaknya teman-temanku yang lain baik-baik saja." pikir Araya masih menatap tangan kirinya.
"Kenapa Kak Henry- Tidak, dia bukan Kak Henry. Henry hanya nama username. Kenapa dia tadi bersikap seperti itu ya?" batin Araya, dia teringat saat mereka memasuki portal dan Henry tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arahnya.
"Apakah dia juga menyukaiku? Ah tidak, apa yang aku pikirkan? Meskipun jika dia juga menyukaiku, orang yang akan menemaniku di masa depan adalah Kim Dae-Vin. Sudahlah Araya, jangan pikirkan itu. Kau masih terlalu kecil. Sebaiknya kau mandi kemudian mengganti perbanmu." Araya berkata dalam hati ambil menggelengkan kepalanya, ia berusaha menghilangkan pikiran anehnya terhadap kedua laki-laki itu.
Setelah itu, Araya beranjak dari duduknya. Dia berjalan ke arah lemari pakaiannya untuk mencari baju yang akan dia gunakan nanti. Tapi sebelum itu, dia melihat sesuatu bergerak di atas lemarinya.
"Apa itu?" kata Araya sambil mendongakkan kepalanya. Tidak lama kemudian, Araya merasakan ada sesuatu di belakangnya. Araya pun berbalik.
[Memindai..]
[Informasi berhasil diterima]
Benda itu berbicara! Benda yang bentuknya seperti drone dan bisa terbang. Drone yang berwarna putih dan mempunyai wajah dalam bentuk digital.
"Si.. Siapa kau?" tanya Araya sambil mundur beberapa langkah.
[Aku adalah drone managermu, Araya Putri, anggota Elemental Asia generasi ke sembilan. Tolong beri aku nama]
"Hmm nama? Apa yang cocok ya?" kata Araya sambil berpikir. Tapi, diluar dugaannya, dia malah terpikirkan nama 'Kim Ar-Vin'.
"Tidak-tidak! Kenapa aku malah terpikirkan nama itu? Jangan dipakai."
"Ah, bagaimana kalau namamu.. Shiroi? Namamu Shiroi." kata Araya. Shiroi yang dalam bahasa Jepang artinya putih. Sebelumnya, dia sangat menyukai film anime, jadi sedikit banyak dia tau bahasa Jepang.
[Shiroi. Terkonfirmasi.]
"Baiklah Shiroi, aku akan pergi mandi." ucap Araya sambil mengambil handuk bersih dan juga satu setel pakaian.
"Oh iya, Shiroi. Kau tidak perlu memanggilku seperti itu. Panggil saja aku Araya."
[Baiklah, Araya]
"Shiroi, bisakah kau lebih ber-ekspresi? Supaya aku punya teman mengobrol di sini."
[Permintaan diterima. Mengaktifkan mode ekspresi.. Sukses.]
...----------------...
Beberapa saat kemudian, setelah Araya selesai mandi, dia duduk di atas tempat tidurnya. Di sampingnya, ada sekotak P3K, dia ingin membersihkan lukanya dan mengganti perban.
"Araya, apa kau bisa melakukannya sendiri?" tanya Shiroi sambil terbang ke depan Araya. Araya menatapnya.
"Tentu saja, tapi sedikit sulit karena hanya menggunakan satu tangan." jawab Araya, kemudian mencari cairan antiseptik di dalam kotak tersebut.
Tidak lama kemudian, pintu kamar Araya terbuka.
"Araya, apa kau mau kubantu?" tanya Kak Aria setelah pintu kamar Araya terbuka.
"Emm, boleh." balas Araya ragu. Dia terkadang tidak berani kalau meminta tolong secara langsung, tapi kalau ada yang menawarkan bantuan, dia baru menerima, kalau dia mau.
Setelah itu, Aria pun masuk dan duduk di samping Araya.
"Manager-mu kau beri nama apa?" tanya Kak Aria setelah melihat Shiroi yang sedari tadi berada di dekatnya dan Araya.
__ADS_1
"Namanya Shiroi."
"Shiroi? Nama yang bagus. Kenapa kau memberinya nama itu?"
"Shiroi dalam bahasa Jepang artinya putih, dia warnanya putih, jadi kuberi nama itu."
"Ah, jadi begitu. Ini sudah kau bersihkan lukamu?" tanya Aria setelah melihat tangan kiri Araya yang perbannya telah di lepas.
"Belum, aku baru melepas perbannya saja." jawab Araya sambil menggeleng pelan.
"Baiklah, pertama-tama, kita bersihkan dulu. Tahan ya, mungkin ini akan sedikit perih." kata Aria sambil menyiapkan cairan antiseptik dari dalam botol kecil, kemudian dia gunakan untuk membasahi kain kasa steril. Setelah itu, dia mulai menggunakannya untuk membersihkan lukanya Araya.
Saat itu, Araya terlihat menggigit bibir bagian bawahnya, menahan perih. Tangan kanannya juga *******-***** selimutnya.
"Perih ya? Tahan sebentar lagi." ucap Kak Aria sambil menghentikan aktivitasnya sebentar.
"Kalau sama Henry, perih juga tidak?" tanya Kak Aria lagi. Dia bertanya meskipun dia sudah tau jawabannya.
"Tidak sama sekali. Karena tadi aku sempat tidak sadarkan diri juga. Jadi tidak terasa." Araya menjawab.
"Kau mau kubuat pingsan lagi?"
"Tidak usah.. Tidak usah." ucap Araya sambil menggeleng cepat.
"Oh iya Araya, apa kau tau, kalau Darkness Swordman bukan hanya yang seperti itu?" tanya Aria lagi. Dia kembali memulai aktifitasnya.
"Hah? Apa maksudmu, kak?" tanya Araya tidak mengerti.
"Jadi begini. Darkness Swordman dikelompokkan menjadi lima kasta. Ada level satu, dua, tiga, empat, dan lima. Semakin kecil levelnya, dia semakin kuat, berada di kasta tertinggi. Dan semakin kecil pula, jumlahnya semakin sedikit. Setahuku, Darkness Swordman level satu itu hanya ada sepuluh. Dan yang level lima itu ada lima ribu lebih, kasta terendah." Kak Aria menjelaskan.
"Apa? Selisihnya banyak sekali?" Araya membelalakkan matanya setelah mendengarkan penjelasan dari Aria.
"Ya, dan yang kalian hadapi tadi hanya yang level lima. Bagi kalian, jangan sesekali melawannya jika hanya satu lawan satu. Dan jangan mencoba melawannya juga jika kalian berempat bertemu dengan satu Darkness Swordman level empat. Bisa berbahaya nanti." Kak Aria kembali menjelaskan.
"Jadi, apa yang harus kami lakukan jika bertemu dengan mereka, Kak? Apakah harus menyerah begitu saja?"
"Tidak, kalian bisa menggunakan fitur darurat jika hal itu sampai terjadi. Tapi kuharap, hal itu tidak terjadi."
...----------------...
Di ruangan Kim Dae-Vin, dia sedang berbaring di atas tempat tidurnya, rebahan untuk melepas penat.
"Kim Dae-Vin, kau tidak mau mandi dulu?" tanya managernya. Dia juga sebuah drone, hanya saja berwarna biru. Dia memberinya nama 'Kyoya'. Entah apa artinya dan darimana ia mendapatkan inspirasi nama itu.
"Nanti saja, aku masih sangat lelah. Kau mana merasakannya? Lagipula sekarang kan baru jam tiga sore." ucap Dae-Vin beralasan, kemudian berbalik menghadap ke dinding sambil memeluk gulingnya.
"Melelahkan sekali.. Tapi tidak mengecewakan." kata Kim Dae-Vin dalam hati.
Lima belas menit berlalu, Dae-Vin masih berada di situ. Matanya menjadi sangat berat, hingga pada akhirnya, dia pun tertidur.
To be continued..
...----------------...
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Semoga bisa menghibur.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit ya! Semoga betah. Salam dari Author.