
[Darkness Invasion Arc - #4]
...----------------...
"Wah, ternyata ada mata-mata di sini."
Hyun-Jae seketika tersentak setelah suara itu tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya. Ia terdiam untuk bisa merasakan gerak-geriknya.
"Kenapa tidak lanjutkan kegiatanmu, hmm?"
Hyun-Jae berbalik, lalu menyimpan teropongnya kembali dalam alat transformasi yang ia pakai kembali setelah sekian lama. "Bukan urusanmu." balasnya dengan nada dingin. Begitupun dengan tatapannya yang menusuk.
"Hey, jangan marah dulu. Aku ingin membocorkan informasi padamu." Darkness Swordman itu merilekskan bahunya, kemudian berjalan mendekat.
Sedangkan laki-laki berusia kepala dua itu memasang sikap waspada. Siapa tau, makhluk di depannya itu akan menyerang tiba-tiba dengan memanfaatkan kelengahannya.
"Tenanglah. Aku ini baik kok. Aku tidak akan menyakitimu."
"Aku tidak bertanya." balas Hyun-Jae dengan ketus. Ia bertekad tidak akan memberinya kesempatan untuk menyerang lebih dulu.
"Hey, kamu jangan berburuk sangka du- AWAS!" Darkness Swordman itu seketika mendorong mundur Hyun-Jae, membuat jarak di antara mereka semakin jauh.
Hampir saja, jika dia tidak mendorongnya mundur, maka nasib Hyun-Jae pasti akan berbeda. Telat sepersekian detik saja, pasti kepalanya akan tertabrak sebuah benda seperti roket yang bergerak secara horizontal dengan kecepatan tinggi.
"Kau baik-baik saja 'kan? Aku tidak telat 'kan?" berjalan maju beberapa langkah, makhluk berzirah serba hitam itu bertanya dengan khawatir.
"Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih. Tapi, aku tidak akan lengah." Hyun-Jae menghembuskan napas lega.
"Aku bilang kamu jangan salah sangka dulu. Hey, dengarkan. Aku punya bocoran informasi yang mungkin akan sangat penting bagi pihak kalian. Dan asal kau tahu, aku ini sebenarnya baik." makhluk itu memegang pundak kiri Hyun-Jae, dan berbisik tepat di sebelahnya.
Hyun-Jae terdiam. Ia tetap berjaga-jaga jika saja dia akan berubah pikiran dan kembali menjadi jahat seperti Darkness Swordman pada umumnya.
"Sebelumnya, ayo kita berkenalan. Aku Leo. Namamu siapa?"
"Lee Hyun-Jae."
__ADS_1
"Baiklah, Lee Hyun-Jae. Begini, sebenarnya salah satu juniormu itu, ehm … siapa namanya ya? Ara … Araya. Iya, Araya. Dia masuk ke daftar blacklist Darkzero." nada bicara Leo berubah menjadi serius.
Hyun-Jae mengernyit mendengar penuturannya. "Apa maksudmu? Blacklist Darkzero?"
"Iya. Siapapun yang masuk ke daftar itu, Darkzero pasti akan membunuhnya saat dia masuk ke dimensi Darkness. Seperti yang terjadi pada seniormu, Arga."
Hyun-Jae tidak langsung percaya. Itu karena pemikirannya telah ter-kontravensi dengan sifat Darkness Swordman yang mayoritas jahat. "Jangan bercanda kau!"
"Kau pikir aku bercanda? Apa sekarang aku tidak cukup serius?" Leo sedikit mendorong bahu Hyun-Jae yang tadi dipegangnya. "Baiklah, kalau kamu masih tidak percaya. Akan aku buktikan kalau aku sebenarnya juga manusia seperti kalian." ekspresi Leo berubah. Yang tadinya serius, sekarang sedikit murung karena dirinya tidak dipercayai.
Yah, Leo sebenarnya adalah manusia juga. Hanya, dia tertangkap dan dipaksa menjadi Darkness Swordman oleh Darkzero. Namun, karena sifatnya yang optimis dan keyakinannya tidak mudah goyah, ia pun menjadi Darkness Swordman lain dari yang lain.
...----------------...
"Kyoya, deteksi keberadaan musuh di sekitar sini." ujar Dae-Vin pada sistemnya.
"Siap!"
Saat ini, dirinya berada sendirian di dekat perbatasan. Lokasinya saat ini juga tidak jauh dari wilayah pelabuhan. Semua kegiatan di berbagai sektor berhenti dikarenakan krisis ini. Jadi, semua tempat pasti sepi.
Syukurlah. Itu berarti Darkness Swordman belum sampai di kawasan ini, batin laki-laki itu sedikit lega.
"Oh iya, Dae-Vin, aku ingin bertanya." celetuk Kyoya tiba-tiba setelah beberapa detik sunyi menemani.
"Apa?" tanpa curiga, Dae-Vin mempersilahkan Kyoya untuk bertanya.
"Bagaimana perasaanmu setelah kejadian setengah jam yang lalu?"
"Kenapa kau bertanya hal sudah jelas? Tentu saja aku … senang. Aku sudah menantikannya, bahkan sejak lama." balas Dae-Vin dengan jujur. Karena di sini ia hanya bicara dengan sistemnya, tentu ia tidak ingin berbohong tentangnya.
"Jadi, maksudmu kamu bersyukur tadi menjadi half Darkness Swordman? Kamu senang jadi Darkness Swordman?" Kyoya bertanya berturut-turut.
"Hmm," Dae-Vin bergumam, "tidak begitu juga sih. Aku lebih suka menjadi manusia. Kalau dia tidak berpikir cepat, mungkin sekarang aku sudah benar-benar jadi makhluk armor hitam itu. Dan juga, kalau aku jadi Darkness Swordman, dia pasti akan membunuhku."
Berjalan di antara jejeran peti kemas yang sudah berhari-hari tidak digunakan, mereka berdua saling berbincang sambil sesekali mengamati sekitar. Dae-Vin memandang lautan luas di depannya. Gelombangnya lumayan besar. Angin juga berhembus kencang disertai dengan udara panas meskipun cuaca mendung.
__ADS_1
"Kalau Darkness Swordman benar-benar bisa menguasai dunia ini, menurutmu, apa yang akan terjadi?" tanya Dae-Vin dengan topik berbeda. Ia juga mencoba mengalihkan topik dari pembicaraan yang tadi.
"Aku tidak bisa membayangkan. Mungkin saja, dimensi ini akan kacau. Kita mungkin tidak akan bisa melihat cahaya matahari lagi karena langit akan menjadi gelap karena ditutup oleh sihir Darkzero."
Dae-Vin terdiam. Ia tidak mendengarkan jawaban dari Kyoya barusan. Matanya menyipit menatap sesuatu yang bergerak di permukaan laut.
"Kyoya, bisa kau deteksi lagi, apakah ada musuh dalam radius satu setengah kilometer dari sini?" ia kembali memerintahkan sistemnya mendeteksi untuk yang kedua kalinya. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi tidak lama lagi.
"Dae-Vin, aku mendeteksi ada Darkness Robot tak jauh dari sini."
"Darkness Robot? Apa itu?"
"Darkness Robot adalah upgrade senjata terbaru dari Darkness Swordman. Darkness Robot ini biasanya digunakan oleh Darkness level lima dan empat karena mereka tidak cukup kuat. Kecuali Darkzero. Meskipun level satu, dia punya seratus Darkness Robot yang mengawalnya. Setahuku begitu."
"Aku tidak tahu harus berkata apa." Dae-Vin terbengong tanpa mengalihkan pandangannya dari Darkness Robot yang bergerak ke arahnya. "Mereka rela menghabiskan SDA hanya untuk berbuat kekacauan."
"Benar. SDA di sana bahkan sudah tinggal satu persen dari luas total dimensi Darkness. Mereka mengeksploitasi besar-besaran berbagai sumber daya. Makanya, dimensi Darkness itu tanahnya sangat tidak subur, bahkan lebih gersang daripada padang pasir."
"Hoi yang di sana!"
Dae-Vin seketika berbalik setelah merasa dirinya dipanggil. Dari kejauhan, terlihat seseorang yang menggunakan armor biru—seperti dirinya—berlari ke arahnya. Dia adalah Lucas. Entah bagaimana, ia bisa ada di sini juga.
"Kenapa?"
"Masih bertanya 'kenapa'? Sudah jelas akan ada musuh kuat tak lama lagi. Aku tidak akan membiarkanmu mati di saat pertempuran baru mulai." ujar Lucas cepat. Entah sejak kapan, dia bisa berucap dengan cepat kayaknya sedang bernyanyi lagu rap. Biasanya dia bersiap dingin saat misi bersama rekan-rekan anggota primer.
"Bukankah kamu tidak berjaga di kawasan ini?"
"Sekarang itu tidak penting! Posisiku sudah digantikan oleh Adli dan Jeasson. Mereka … " Lucas tak melanjutkan kalimatnya. Pandangannya terpaku pada benda yang tiba-tiba muncul di dekat alat crane pengangkat peti kemas.
Dia adalah Darkness Robot. Yang mereka lihat saat ini adalah Darkness Robot khusus untuk digunakan di air. Bentuknya panjang dan beruas-ruas seperti tulang belakang. Panjang tubuhnya sekitar lima belas meter, dengan ujung depan yang bercabang seperti capit.
"Ehm, kita berbincang lagi nanti. Sekarang kita punya musuh untuk dihadapi." nada bicara Lucas seketika berubah. Ia bersiap mengubah armornya dalam moda keempat. Element Amerika generasi kesembilan memang sudah bisa membuka evolusi tahap keempat, yang mana mereka masih belum mencapai tahap puncak.
**To be continued …
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka bisa mengalahkan Darkness Robot itu? Nantikan di chapter berikutnya** ^^