
[Final Arc - #7]
...----------------...
PROK!
PROK!
"Ya! Sepuluh menit telah usai. Jadi, ayo kita mulai permainannya." sembari berjalan mendekat, Darkzero bertepuk tangan dua kali untuk mengalihkan perhatian mereka.
Ketujuh anggota Elemental itu menatapnya dengan tatapan penuh kewaspadaan. Yang datang bukan hanya Darkzero, namun … ada banyak. Lebih tepatnya, ada enam Darkness Swordman level satu dan dua yang berjalan di belakangnya.
"Ingat, yang jiwanya terambil akan langsung keluar. Kalau ada pertanyaan, silakan bertanya sebelum permainan ini dinyatakan mulai." kata Darkzero dengan nada biasa yang terkesan angkuh bagi beberapa orang.
Araya maju selangkah, ia ingin mengajukan pertanyaan. "Kalian semua menggunakan armor, jadi … boleh 'kan, kami memakainya juga?"
"Yah, bolehlah." Darkzero menghela nafas pelan—memangnya dia bernapas?
Setelah dinyatakan boleh memakai armor, mereka bertujuh pun segera berubah ke mode armor. Mode ini juga bisa mengurangi persentase terambilnya jiwa mereka dalam permainan. Tapi …
"Shiroi, tolong armornya." ucap Araya pada sistemnya setelah beberapa detik alat transformasi miliknya tak kunjung mengubahnya ke mode armor.
"Maaf, Araya. Ada yang agak eror karena gabungan dua elemen tadi."
Apa? Eror? Dalam hati, Araya mencoba berpikir secepat mungkin. Apakah saking kuatnya element rigel, kekuatannya sampai bisa merusak alat transformasi?
"Baiklah. Zack, kau bisa membantuku?" kali ini, Araya bertanya pada mantan sistemnya Steve.
"Tentu!"
DOR!
Entah itu suara dari mana, suara tembakan barusan menandakan dimulainya permainan 'ambil jiwa'. Darkzero berserta regunya berpencar dan berniat mengepung.
Dan satu lagi yang perlu dijelaskan. Tak jauh dari lokasi berlangsungnya permainan, terdapat seperti papan skor yang bisa menghitung anggota yang tersisa secara otomatis.
Angka di papan skor masih tujuh sama. Berarti, kedua belah pihak masih mempunyai anggota yang utuh.
__ADS_1
"Zack, apa kau bisa memindai apa saja peraturan tambahan dalam permainan ini?"
"Bisa. Peraturan tambahannya adalah … boleh membunuh dengan cara apapun. Darkzero tadi belum menjelaskan sampai sejelas itu. Dengan cara apapun, intinya bisa mengambil jiwa pihak lawan. Jika membunuh sekutu sendiri, maka semua anggota regunya akan tereleminasi." Zack menjelaskan, sementara Araya kembali berpikir.
Boleh membunuh dengan cara apapun ya? Itu memang menguntungkan pihak kita, sekaligus merugikan, Araya membatin. Tatapannya fokus pada tiga Darkness Swordman level dua yang menghadangnya sekaligus.
Pikirannya sedang berusaha menyusun rencana supaya permainan ini berjalan lancar tanpa adanya korban jiwa. Sedangkan kedua tangannya sudah menggenggam erat pedang pusaka yang masih ada padanya. Tentu itu juga merupakan pedang ilusi—karena yang sebenarnya ada di dimensi Darkness.
TCING! WUSSH!
Araya mulai mengayunkan pedang, mempraktikkan rencana yang telah dipikirkannya untuk menyerang mereka satu per satu terlebih dahulu.
"Sial, ini tipuan." menyadari serangannya sia-sia, Araya bergumam sembari mengedarkan pandangannya. Sejauh tiga meter di depannya, ada satu Darkness Swordman level dua yang berdiri tanpa menyerang.
Awalnya ada tiga, dan sekarang ada satu. Dua sisanya adalah ilusi untuk menipu.
"Zack, tolong kerjasamanya. Beritahu aku kalau ada Darkness Swordman lain yang mendekat."
"Baik!"
Beberapa menit berlalu. Awalnya Araya ingin mengakhiri permainan ini dengan cepat. Namun, permainan ambil jiwa benar-benar masih sulit dimengerti baginya. Terutama tentang serangan apa yang akan digunakan oleh Darkness Swordman. Waktunya terbuang begitu saja hanya untuk memahami game ini.
Regu Darkzero masih utuh, sedangkan regu Araya tinggal empat anggota. Padahal permainan baru berlangsung sepuluh menit.
"Tinggal aku, Hanny, Kak Jeasson, dan Kak Kenneth. Di mana yang lainnya? Semoga mereka masih baik-baik saja. Aku harus mempertahankan reguku." Araya berbalik ke belakang. Ia bergegas mendekat pada teman-temannya supaya lebih mudah melindungi mereka.
"Zack, apa ada cara yang lebih mudah untuk menggunakan pedang ini? Aku masih belum terbiasa."
"Sebenarnya ada cara lain. Sistem generasi sebelumnya juga pernah memodifikasinya supaya lebih mudah dipakai dan dikendalikan. Tapi, aku tidak tahu apakah aku bisa atau tidak."
"Kalau begitu, dicoba saja."
"Baiklah, akan aku coba!" balas Zack bersemangat. Araya memasang senyum tipis. Ia berterima kasih pada Steve karena telah 'meminjamkan' Zack padanya.
"Araya, gawat! Bagaimana ini, regu kita tinggal empat orang." cemas, itu yang Araya simpulkan tentang ekspresi Hanny. Tubuh gadis itu sedikit gemetar. Beberapa saat yang lalu, ia melihat sendiri ketiga rekannya diambil jiwanya oleh pihak lawan.
"Tenanglah. Kita pasti punya cara lain untuk bisa mengalahkan mereka. Kita harus bertahan dulu kalau belum bisa menyerang." Araya mencoba menenangkannya. Ditatapnya ketiga anggota regunya satu per satu. Ia sendiri sebenarnya juga cemas kalau ia gagal dan permainan dan berakhir nyawanya terambil. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Jantungnya berdebar cepat, lagi-lagi karena rasa cemas.
__ADS_1
"Hey, kenapa diam saja? Kalian pasti tidak bisa mengalahkan kami." kata salah satu Darkness Swordman sambil melompat-lompat layaknya anak kecil yang dibelikan mainan. Namun …
BUAKH!
Secepat kilat Jeasson menyerangnya, memanfaatkan kekuatan element yang dia miliki. Ia berhasil membuatnya tumbang dalam sekali pukul, tapi belum bisa membuat jiwanya terambil.
"Nah, begitu. Itu yang aku inginkan. Seriuslah kalau ingin memenangkan permainan ini." Darkness Swordman itu segera bangkit setelah tadi tersungkur akibat dihantam pukulan.
Samar-samar Araya melihat sesuatu tepat di atas kepala para Darkness Swordman beserta rekan-rekannya sendiri. Yang dia lihat adalah benda—yang sebenarnya transparan—berbentuk persegi panjang yang memberikan keterangan tentang kapan jiwanya akan terambil.
Di dalam persegi panjang itu, ada warna hijau yang menandakan kalau mereka masih punya kesempatan dan bisa bertahan. Warna hijau itu bisa semakin berkurang seiring tingkat lelah yang mereka rasakan. Atau jika langsung terbunuh, warna hijaunya akan langsung hilang. Benar-benar seperti dalam game.
Keterangan hijau pada Darkness Swordman yang barusan terkena pukulan dari Jeasson, masih ada sembilan per sepuluh. Bayangkan saja, ada sepuluh kotak kecil berwarna hijau. Kotak itu akan menghilang satu per satu jika terkena serangan. Anggap saja seperti baterai pada handphone kalian.
"Ini adalah—" bergumam, Araya menggantungkan kalimatnya.
Zack menyahut. "Itu adalah keterangan stamina dan jiwa mereka. Yang perlu kita lakukan adalah menjaganya supaya warnanya tetap hijau dan jangan sampai habis."
"Kamu benar. Selain itu, kita juga harus menguras milik mereka untuk bisa mengambil jiwanya." tukas Araya sambil menyeringai tipis. "Bagaimana soal pedangnya?"
"Sedikit lagi hampir berhasil. Sembilan puluh empat persen."
Menunggu sebentar dan …
BUAKH! BRUK!
Sebuah serangan yang dibalas dengan serangan. Dari arah belakangnya, ada satu Darkness Swordman yang hendak berusaha mengambil jiwanya. Bersiap untuk mengurangi simbol hijau dalam fitur keterangan yang Araya miliki. Namun, sebuah tendangan lebih dulu diterimanya sebelum berhasil menyentuh Araya.
Darkness Swordman itu seketika tumbang. Terlihat warna hijau di atasnya semakin berkurang.
"Eh? Apa ini?" Araya bingung. Awalnya ia mau sedikit senang, tapi sebuah kejanggalan terlihat di depannya. Staminanya meningkat setelah tadi sempat berkurang.
"Darkness Swordman level satu memang istimewa." ucapnya sambil mendongak, kemudian bangkit dan segera memasang kuda-kuda menyerang.
Curang!
To be continued …
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya!