
[Primary Members Arc - #8]
...----------------...
"Lucas, bagaimana keadaan di tempatmu? Apa Park Hana sudah siuman?" tanya Henry ketika dirinya menghubungi Lucas melalui alat komunikasi armor.
"Iya, belum lama tadi. Keadaannya tidak bagus. Ada Darkness Swordman level dua di sini."
"Apa?! Apa kalian baik-baik saja?" tentu Henry terkejut mendengar penjelasan singkat dari Lucas. Pasalnya, Henry juga belum pernah berhadapan langsung dengan yang level dua.
"Kami baik-baik saja, tapi … pesawatnya tidak. Beberapa saat yang lalu, ia memanggil Gremlin untuk merusak mesin dan menyedot energinya." Lucas berucap. "Bagaimana dengan kalian? Apakah berhasil mendapatkannya?"
"Belum, tapi monster itu terlihat sudah kewalahan menghadapi kami. Kami akan menyelesaikannya secepat mungkin dan segera ke sana."
"Tidak perlu. Serahkan keadaan di sini padaku."
"Tapi-"
Lucas sengaja mematikan sambungan komunikasi secara sepihak, agar dia bisa fokus dan waspada pada Darkness Swordman yang masih berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Apa yang terjadi, Kak?" Araya bertanya sambil sekilas menatap Lucas. Sedangkan laki-laki itu masih bersikap tenang supaya tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
"Tidak apa-apa. Kamu tak perlu khawatir." jawabnya dengan suara yang dibuat menenangkan.
Araya menanggapi dalam diam. Begitu melihat sikap Lucas yang tenang, dia jadi tidak khawatir. Keadaan rekan-rekannya yang lain baik-baik saja, begitulah pikirnya.
"Ada upgrade terbaru." ucap Shiroi dan Kyle—sistemnya Lucas—secara bersamaan.
"Upgrade terbaru?" kali ini, Araya dan Lucas bertanya bersamaan dengan nada tertarik.
"Iya, upgrade terbaru ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Memungkinkan sistem kalian untuk berkomunikasi dengan anggota dan sistem yang lain." Shiroi berusaha menjelaskan sesingkat dan sejelas mungkin.
"Bukan hanya itu. Upgrade terbaru ini juga membuat kalian bisa melakukan fusion atau penggabungan." Kyle menimpali.
"Park Hana, ayo kita coba!" Lucas berucap tiba-tiba setelah berpikir dengan cepat.
Araya sedikit tersentak, "dan kita akan mencoba menghadapi Darkness Swordman?"
__ADS_1
"Iya."
Setelah itu, mereka pun mengubah armor mereka menjadi tahap ketiga terlebih dahulu. Kemudian, barulah menggunakan fitur terbaru fusion supaya dapat bergabung. Dua menjadi satu.
Hanya butuh waktu lima detik, kini tubuh mereka telah benar-benar menjadi satu. Dari luarnya, terlihat lebih tinggi serta terdapat corak biru dan putih pada armornya. Sedangkan di dalamnya, terasa sempit.
"Inilah upgrade-nya. Kalian bisa menggabungkan kekuatan dan tubuh ini menjadi lebih kuat." Shiroi kembali berucap.
"Lebih kuat, tapi lebih sempit …." Araya menanggapi sambil berusaha menggerakkan tangan kirinya yang terasa terjepit. Udara juga terasa sesak dan pengap. Meskipun tubuhnya itu kecil, tapi tetap saja rasanya terhimpit.
"Jangan khawatir, ini baru permulaan. Kalau sudah biasa, nanti tidak sempit lagi." tukas Kyle tanpa memedulikan tuannya yang juga kesempitan di situ.
"Cih! Kalian pikir dengan bergabung, kalian bisa mengalahkan aku?" Darkness Swordman berucap sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kalian pikir itu benar-benar upgrade terbaru? Itu hanyalah upgrade lama yang ditambahkan beberapa fitur. Bukan terbaru," ucapnya lagi dengan sinis. Aura kesombongan dan kebencian terasa pekat di sekitar Darkness Swordman.
"Shiroi, apa yang dia katakan itu benar?" Araya berbisik tanpa mengalihkan pandangannya dari Darkness Swordman yang mulai melangkahkan kaki ke arah mereka.
"Ehm, benar sih. Fitur fusion ini sudah ada sejak generasi ketujuh oleh Elemental Eropa. Tapi, ini versi Elemental dunia, dia belum pernah melihat kemampuan aslinya." balasnya dengan nada sedikit khawatir. Ekspresi itu jelas membuat perasaan Araya menjadi sedikit tidak nyaman.
"Baiklah. Aku sudah menyusun rencana. Rencananya adalah …"
...----------------...
"Ryusei, kau baik-baik saja?!" tanya Xela sesaat setelah membebaskan Dae-Vin dari tarikan kuat yang muncul tiba-tiba pada layar komputer.
Bukannya menjawab, Dae-Vin malah menatapnya tajam. Laki-laki itu juga terlihat berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya bola matanya berwarna biru gelap, maka sekarang sudah berganti warna hitam pekat. Urat di sekitar leher bagian kirinya juga menghitam.
"Ada apa, Xela?" tanya Kenneth ketika ia baru saja memasuki ruangan komputer.
"Aku, aku tidak tahu! Ada yang aneh dengan …" Xela tidak melanjutkan kata-katanya. Pandangannya terarah pada layar komputer yang masih menampilkan sebuah kejanggalan. Hanya saja, kali ini berbeda.
Kenneth yang menyadari keanehan itu mencoba untuk mematikan komputer tersebut. Namun sayangnya, komputer itu sebenarnya sudah dalam keadaan off. Lalu, apa yang bisa ia matikan lagi?
"Hahahahahaha! Kalian anggota sekunder ya? Perkenalkan, ini aku, Darkzero." suara yang mengerikan terdengar dari speaker komputer tadi. Sedangkan, layarnya hanya menunjukkan 'Error 404'.
"Darkzero?!" Xela dan Kenneth tak percaya mendengarnya. Mendengar nama itu, seketika firasat buruk menghantui. Bayang-bayang kehancuran terlintas di pikiran mereka.
__ADS_1
"Ya, kalian tidak salah dengar. Bukankah suatu kehormatan kalian bisa berkomunikasi denganku?" ucap Darkzero lagi. Kali ini, mereka mencoba bersikap tenang dalam menjawab semua pertanyaan yang akan dilontarkan Darkzero. Xela dan Kenneth terdiam, mendengarkan dengan seksama.
"Seperti yang kalian tahu, aku telah memerintahkan para Darkness Swordman lain untuk menginvasi dimensi kalian. Aku ingin bertanya, apakah menggabungkan seluruh anggota Elemental dunia itu adalah ide yang bagus?"
"Kalau itu, kenapa tidak kau tanyakan saja pada Komandan?" Kenneth menanggapi.
"Ooh, lancang sekali kamu bicara,"
detik berikutnya, Kenneth langsung terbatuk-batuk. Ini ulah Darkzero tentunya.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Kenneth masih terbatuk, bahkan sampai dadanya sesak dan perutnya terasa kaku.
"Itulah, akibat jika kamu tidak menghormati aku." Darkzero kembali berucap. "Hey, gadis cantik. Sekarang jawab pertanyaanku. Apakah menggabungkan seluruh anggota Elemental dunia itu ide yang bagus?" Darkzero mengulangi pertanyaan yang sama. Tapi bedanya, kali ini ia hanya bertanya pada Xela.
"A-a … aku … aku tidak tahu." jawab Xela dengan tergagap. Tubuhnya gemetaran. Bahkan mendengar suaranya saja bisa seperti itu. Bagaimana jika bertemu langsung?
"Ooh, baiklah kalau begitu." setelah Darkzero mengatakan kalimat itu, seketika Kenneth berhenti terbatuk dan langsung kembali seperti sediakala. Sejenak Xela bisa merasa sedikit lega setelah rekan satu regunya itu telah pulih kembali.
"Tapi, kalian harus memberi tahu satu hal atau aku akan langsung menyerang markas kalian." Darkzero kembali berucap, membuat pemuda-pemudi itu terdiam.
"Beritahu aku, di mana para anggota primer menjalankan misi?" Darkzero melontarkan satu pertanyaan lagi. Tentu pertanyaan tersebut membuat mereka berdua menjadi dilema harus menjawab apa. Jika berkata jujur, maka tim anggota primer dipastikan akan dalam bahaya. Namun, jika tidak memberi tahu, markas mereka adalah taruhannya.
Xela dan Kenneth masih bungkam. Hingga, tak lama kemudian, baru saja Xela membuka mulut, Dae-Vin langsung mendorong mereka berdua dengan keras. Bahkan saking kerasnya, dorongan tiba-tiba itu sampai membuat kedua remaja itu terpental ke luar ruangan komputer.
"Per-gi … ARRGGH!" Dae-Vin berucap dengan suara serak, kemudian disusul suara teriakan yang menyiratkan rasa penderitaan. Laki-laki itu terduduk sambil memegangi kepalanya sembari sesekali meremas rambutnya. Terlihat dia sangat kesakitan.
"Teman-teman, Ryusei dalam masalah!" Xela berbicara melalui alat komunikasi. Sedangkan tangan kanannya mencoba untuk mencegah Kenneth yang hendak mendekat dan membantu Dae-Vin.
"Ryusei, dia kenapa?" tanya Chris khawatir. Kebetulan dia berada di sekitaran sana. Dia menghampiri kedua rekannya yang terlihat panik dan bingung harus berbuat apa.
To be continued ….
...****************...
**Dae-Vin kena efek Darkness Swordman, apa dia aka baik-baik saja?
Jangan lupa like dan komen setelah membaca** ^^
__ADS_1