
[Primary Members Arc - #6]
...----------------...
Kembali ke posisi anggota primer …
"Kak Henry, apakah orang yang sudah berubah menjadi Darkness Swordman bisa menjadi manusia lagi?" Araya bertanya sambil menatap riak air laut yang terlewati oleh jetski mereka.
"Bisa. Kenapa memangnya?" sekilas menatap ke belakang, Henry merespons.
"Tidak apa-apa. Hanya saja, perasaanku sedikit tidak enak."
"Jangan khawatir. Keadaan di markas pusat masih terkendali kok."
Mendengar jawaban dari Henry barusan, Araya mengangguk pelan. Meskipun begitu, kalimat tersebut belum sepenuhnya bisa menghapus rasa was-was yang Araya rasakan.
Tak berselang lama kemudian, jetski mereka telah berhenti. Tepat di depan mereka, terdapat sebuah pusaran air yang berdiameter sekitar dua belas meter.
"Park Hana, bisa kamu tunggu di sini?" tanya Henry sembari menolehkan kepalanya ke belakang. Di saat itu pula, keadaan perlahan mulai berubah, berbeda dengan beberapa saat yang lalu. Angin berhembus lebih kuat, gelombang ombaknya juga semakin besar.
"Apa yang akan Kak Henry lakukan?" Araya kembali bertanya, tentu saja dirinya dilanda kecemasan. Di saat keadaan sekitar mereka dengan tidak baik, bagaimana bisa dia ditinggalkan sendirian?
"Aku rasa di bawah sana ada batu element …." Henry berkata dengan pelan, dan semakin lama semakin pelan. Tetapi, Araya masih bisa mendengarnya karena sistem komunikasi pada armornya juga telah terhubung.
Henry bergeming, tubuhnya tak bergerak sama sekali. Pandangannya menatap lurus ke arah kanan mereka berdua. Araya mencoba melihat apa yang rekannya itu lihat.
Terlambat. Sesuatu yang buruk terjadi sepersekian detik sebelum Araya menyadari keberadaan makhluk raksasa yang ratusan kali lipat lebih besar daripada mereka.
BYUUUR!
Hanya dalam sekali hentakan, jetski yang mereka tumpangi terbalik seketika, otomatis membuat mereka menjadi tercebur ke lautan yang dingin nan gelap.
"Park Hana! Pegang tanganku!" teriak Henry sembari berusaha menarik tubuh Araya yang mulai tenggelam. Araya tidak bisa berenang, ini pertama kali bagi Araya masuk ke air laut.
Araya membuka matanya setelah beberapa saat yang lalu ia memejamkan matanya. Tangan kanannya berhasil digenggam oleh Henry. Dengan segera laki-laki itu membawanya kembali ke permukaan.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan cemas. Araya menanggapi dengan beberapa kali anggukan. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku merasa ada yang tidak beres. Aku akan menghubungi yang lain."
Araya masih diam saat Henry mencoba menghubungi ketiga rekan mereka yang lainnya. Samar-samar Araya melihat sebuah tentakel raksasa yang bergerak-gerak di dalam air, tepat di bawah mereka.
__ADS_1
"Mereka akan segera datang, aku sudah mengirimkan koordinat lokasi ini."
Lagi-lagi, Araya menanggapi perkataan Henry dengan anggukan. Setelah itu, pandangannya kembali terarah ke bawah. "Apakah itu monster laut yang Kak Adli bilang tadi?" Araya bertanya dengan suara pelan.
"Mana? Mana? Aku tidak melihatnya …."
Aneh. Apakah ini hanya ilusi atau benar-benar nyata, Henry sama sekali tidak melihat keberadaan makhluk tersebut. Tetapi, Araya bisa melihatnya. Dia melihat kalau salah satu tentakelnya semakin mendekati mereka.
"Kak, ayo teleportasi!" ajak Araya sambil beberapa kali tangan kirinya memukul permukaan air. Dia panik dan takut, apalagi kan sekarang masih malam.
"Ada apa? Mereka sebentar lagi hampir sampai. Kita menunggu sebentar lagi."
"Itu Kak! Itu!" sambil menunjuk-nunjuk ke bawah, Araya berharap kalau Henry bisa cepat menyadari apa yang ada di bawah mereka.
Belum juga dia bisa melihat apa yang Araya lihat, tangan kanan Araya telah terlepas dari genggamannya. Araya telah tidak ada di sampingnya lagi. Dia tenggelam karena ditarik oleh sesuatu dari dalam laut.
"Park Hana! Kamu bisa mendengarku? Kamu baik-baik saja?"
"Bisa …" Araya merespons, "aku terjebak …."
"Apa?! Tunggulah aku! Aku akan segera ke sana." setelah itu, Henry segera mematikan sambungan komunikasi mereka. Baru saja dia hendak kembali masuk ke dalam air, teriakan dari teman-temannya yang lain berhasil mencegahnya untuk beberapa saat.
"Woy! Apa yang kau lakukan di sana?!" tanya Lucas saat dirinya masih berada di atas jetski.
"Kalau begitu, kita tunggu apa lagi? Ayo kita susul dia!"
"Tunggu!" lagi-lagi Henry agak terlambat dalam merespons. Baru saja dia hendak mencegah, namun Steve sudah lebih dulu melompat dan masuk ke dalam air.
...----------------...
"Shiroi, sebenarnya ini di mana? Kenapa di dalam laut bisa terang begini?" tanya Araya pada sistemnya, setelah beberapa kali dia mencoba mencerna keadaan di sekitarnya. Terang, dia seperti berada di dalam suatu ruangan yang dipenuhi air dan terumbu karang.
Namun, jangan kira Araya dalam keadaan yang mengenakkan. Dirinya tersangkut, cairan lengket seperti getah berhasil membuat Araya tidak bisa bergerak. Belum lagi, cadangan oksigen dalam armornya juga terbatas.
"Kita berada tepat di bawah pusaran air tadi, Araya. Kamu ditarik ke sini oleh makhluk itu." Shiroi menjawab sambil berusaha membuat Araya melihat ke arah yang dia lihat. Di belakangnya, makhluk raksasa tadi sudah siap untuk memakannya kapan saja.
"Itu … sotong raksasa yang menjadi legenda di sini. Kalau kita bisa mendapatkan gambarnya, kita mungkin akan terkenal. Banyak orang yang takut, tapi ternyata bentuknya tidak se-menyeramkan yang aku kira." ujar Araya pada Shiroi setelah dia berhasil memutar tubuhnya dengan usaha kerasnya. Kini, dia bisa menatap makhluk itu dengan mata kepalanya sendiri, meskipun terhalang armor pelindung.
"Jangan lengah Araya! Meskipun tidak terlalu menyeramkan, tapi dia berbahaya! Dia bisa saja mematahkan puluhan tulangmu hanya dengan satu tentakelnya!" ucapan Shiroi barusan berhasil membuat Araya terdiam.
__ADS_1
Makhluk itu memang benar-benar besar. Matanya yang bercahaya saja lebarnya bahkan lebih besar dari lebar telapak tangan Araya.
"Jadi … bagaimana caranya kita pergi dari sini? tanya Araya tanpa mengalihkan pandangannya dari makhluk di depannya itu.
"Jangan pergi dulu Araya. Batu element!" jawab Shiroi sedikit out of topik.
"Hah? Di mana?"
"Di atas kepalanya!"
Araya pun memandang ke atas. Di atas itu, terdapat sebuah batu kecil yang berwarna merah mengkilap. Batu itu yang menghasilkan sinar-sinar di tengah gelapnya laut malam.
Saat itu pula, monster tersebut bergerak. Dia merasa terancam saat Araya menatap batu element di atas kepalanya sambil berusaha membebaskan diri.
Tak lama setelah, dia berbalik dan bergerak meninggalkan tempat itu.
"Yaah, dia pergi ...." ucap Shiroi agak kecewa.
"Kita masih belum selesai! Kita harus mendapatkannya!" balas Araya dengan bersemangat. Setelah itu, dia segera melakukan teleportasi supaya bisa terbebas dari jeratan getah-getah lengket itu.
Kenapa ini baru terpikirkan sekarang, begitu pikir Araya. Yah, meskipun akibat dari itu, beberapa getah masih menempel di armornya.
"Ternyata kalau menggunakan armor di dalam air jadi lebih mudah ya ...." kata Araya sambil beberapa kali melakukan teleportasi untuk berpindah meskipun jarak dekat.
Di tempatnya berada saat ini adalah kawasan laut dalam. Jadi, tekanan di sana sangat besar. Keadaannya juga gelap dan menyeramkan.
"Araya, kalau seperti itu terus kamu bisa kehabisan tenaga!" Shiroi memperingatkan. Penggunaan teleportasi secara terus-menerus memang bisa membuat energi jadi boros.
"Tanggung! Sedikit lagi sampai!" Araya tak menghiraukan. Dirinya hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari hewan raksasa itu.
"Sedikit ... lagi ..."
Baru saja Araya akan berhasil mengambil batu element itu, tapi tiba-tiba, air laut terasa bergetar. Yang tadinya terlihat agak remang-remang, kini menjadi gelap gulita. Bahkan garis-garis cahaya yang berasal dari celah armornya saja tidak terlihat. Bukan hanya itu, cadangan oksigen dalam armornya tiba-tiba berkurang drastis.
"Ada apa ini sebenarnya?"
"Aku tidak tahu Araya, pasti ada yang tidak beres ...."
...----------------...
__ADS_1
To be continued …
Ada kejadian apa sebenarnya? Jangan lupa like, komen, dan favorit supaya author tambah semangat update ya ^^