Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 12


__ADS_3

[Test Arc - #9]


...----------------...


"Di mana kamu, Araya?" ucap Dae-Vin dalam hati. Dia benar-benar cemas akan keadaan Araya saat ini. Apalagi sekarang sudah hampir setengah tujuh malam. Dan, cuacanya mulai mendung, padahal tadinya cerah.


Dae-Vin masuk ke ruangannya, kemudian melihat komputer untuk melacak alat pengendali elemen milik Araya. Alat itu selalu dia kenakan kan? Dae-Vin pun mulai mencari.


Setelah beberapa kali mencoba melacak keberadaan Araya, tapi tidak ada hasil. Sinyalnya sangat lemah. Kemudian, dia memutuskan untuk melacaknya menggunakan alat pengendali elemen miliknya saja.


...----------------...


Dae-Vin masih berusaha untuk mencari. Dia mencarinya di markas bagian timur. Di sana, dia bertemu dengan Hanny.


"Dae-Vin, kau melihat Araya?" Hanny lebih dulu bertanya.


"Aku sedang mencarinya," balas Dae-Vin sambil melihat-lihat sekitarnya.


"Bukankah dia tadi bersamamu?" tanya Hanny lagi. Menurut kalian, Dae-Vin harus menjawab apa?


"Ya," jawab Dae-Vin singkat, kemudian langsung berjalan pergi meninggalkan Hanny.


"Araya, pergi ke mana?" tanya Hanny dalam hati sambil memandangi punggung Dae-Vin yang semakin menjauh dan kemudian menghilang karena terhalang dinding.


...----------------...


"Mungkinkah dia berada di atap? Baiklah, aku akan ke sana." batin Dae-Vin setelah melihat tanda atau simbol yang bergambar orang naik tangga yang mengarah ke atas. Dia pun pergi ke sana, berharap supaya dia bisa bertemu dengan Araya.


Ketika sampai di atap, tidak ada siapa-siapa. Gelap, dingin, sunyi, hanya terdengar suara ombak. Langitnya sudah tertutup awan mendung yang berwarna kelabu.


Dae-Vin sedang berada di atap bagian timur, dan Araya berada di atap bagian barat. Tempatnya mirip, tapi berlawanan arah.


"Dia tidak ada di sini. Di mana dia? Jangan-jangan.." gumam Dae-Vin. Dia mempunyai firasat buruk tentang hal itu. Kemudian, Dae-Vin melihat air laut yang berada di bawah atap. Ombaknya agak besar.


"Bagaimana kalau dia menceburkan diri ke sana? Kalau benar, berarti aku sudah terlambat?! Tapi, aku tidak merasakan sinyalnya." pikiran buruk telah muncul dan menghantui Dae-Vin. Bagaimana kalau Araya telah melompat ke laut dan tenggelam? Tapi hal itu sedikit tidak masuk akal, Araya bukan orang yang seperti itu. Dia tidak akan melakukan hal-hal nekat jika tidak mendesak.


"Oh iya, aku belum mengecek perpustakaan. Biasanya dia ada di sana kan?" setelah mendapat ide itu, Dae-Vin segera masuk dan berlari ke perpustakaan. Lumayan jauh, jaraknya sekitar seratus tiga puluh meter, karena dia harus melewati tangga terlebih dahulu, kemudian pergi ke lantai dua, perpustakaan ada di ujung.


Sesampainya di depan perpustakaan, dia mengambil nafas sebentar. Dia tidak memutuskan untuk langsung masuk. Tapi, dia melihat alat pengendali element-nya terlebih dahulu, apa ada sinyal Araya?


"Araya tidak ada di sini. Mungkin.. diam-diam dia kembali ke ruangan belajar?" setelah itu, Dae-Vin mencoba untuk mencarinya ke ruangan belajar.


Hal yang sama terjadi lagi, setelah mengecek sinyalnya, tidak ada apa-apa. Dia hampir putus asa, tapi dia menemukan sebuah petunjuk.


Pada alat pengendali elemen miliknya, dia melihat angka 30 meter, yang berarti Araya berjarak tiga puluh meter darinya.


"Tiga puluh meter? Tidak jauh. Hmm, kalau dari sini, kira-kira dia akan pergi ke mana? Kalau ke kiri, akan sampai di markas bagian timur, aku sudah mengecek bagian sana. Kalau ke kanan, markas bagian barat. Aku belum mengeceknya! Ya ampun, ini sangat sederhana, tapi kenapa tidak terpikirkan olehku?"


Setelah berpikir, Dae-Vin memutuskan untuk mencarinya di sekitar markas bagian barat. Dia juga menemukan tanda yang sama seperti tadi, simbol yang menunjukkan lantai atap bagian barat.


...----------------...


Sesampainya di lantai atap bagian barat, di sana dia melihat Araya yang sedang membenamkan wajahnya di lutut yang dia peluk. Di sebelahnya, ada tab yang telah mati akibat baterainya habis. Dae-Vin merasa sedikit lega dan senang setelah menemukan Araya.


"Araya," panggilnya dengan suara datar. Araya tidak menyahut, bergerak pun tidak.


"Araya, aku mencarimu dari tadi," ucap Dae-Vin lagi. Araya tak menghiraukannya.

__ADS_1


Pada akhirnya, Dae-Vin pun mendekat ke arah Araya dan duduk di sebelahnya.


"Araya," panggilannya lagi dengan suara yang lirih.


"Iyaa," balas Araya dengan suara yang pelan, tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun.


"Tolong tatap orang yang bicara denganmu." kata Dae-Vin sambil memegang bahu kiri Araya. Mau tidak mau, Araya pun menatap nya. Matanya masih berkaca-kaca.


"Araya, mianhae (maaf). Aku.. aku benar-benar minta maaf. Aku sudah berlebihan dan tidak memikirkan perasaanmu." Dae-Vin meminta maaf. Baru pertama kalinya dia mendengar kata 'maaf' dari Dae-Vin.


"Tidak, Dae-Vin. Ini bukan salahmu. Aku juga minta maaf karena tidak sengaja membentakmu tadi. Aku tau, kau itu orang yang bertanggung jawab jika di beri amanah. Jadi, ini bukan salahmu." balas Araya dengan tatapan sendu.


"Lalu, kenapa kau menangis?" tanya Dae-Vin.


"Tidak apa." jawab Araya. Ada alasan lain yang menjadi penyebab dia menangis.


"Mungkin sebaiknya aku belajar tentang mental health dengan kak Yuu-Ran." kata Dae-Vin dalam hati. Dia memang sedikit tidak peka pada perasaan orang lain. Lain kali, dia akan belajar tentang psikologi dengan Kim Yuu-Ran, kakaknya. Mengingat, bahwa kakaknya ada mahasiswi jurusan psikologi.


Tiba-tiba, cahaya kilat terlihat sangat terang dan juga jelas saat itu juga.


JGEEERRR!


Suara petir terdengar dengan keras. Refleks, Araya langsung memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.


"Kenapa, tanganku bergerak sendiri?" Kata Dae-Vin dalam hati setelah menyadari bahwa dirinya telah memeluk Araya. Meskipun tidak mendekap dengan sangat erat. Tapi, bisa dipastikan bahwa Araya sedikit merasa nyaman dan tenang. Kemudian, setelah keadaan mulai membaik..


"Maaf," ucap Dae-Vin lagi, karena secara tidak sengaja, dia tadi telah memeluknya.


"Tidak apa," balas Araya.


"Ayo masuk, sekarang sudah mulai turun hujan." ajak Dae-Vin sambil bangkit dari duduknya setelah merasakan ada beberapa tetes air yang turun dari langit.


"Nanti kau bisa sakit kalau kau terus di sini." Dae-Vin tetap mengajak Araya untuk masuk ke dalam. Bahkan, dia juga mengulurkan tangan kanannya.


"Hmm," Araya bergumam sambil sedikit memalingkan wajahnya.


"Kenapa?" Dae-Vin bertanya lagi.


"Hmm, sebenarnya.. perutku sakit." jawab Araya ragu. Entah apa yang akan di lakukan Dae-Vin setelah ini.


"Kau pasti belum makan, kan? Kalau begitu, ayo kita makan,"


"B.. bukan itu. Aku tidak lapar. Itu.. itu lho, kau kan aku masih pubertas." kata Araya.


"Oh itu. Tentu saja. Sebentar lagi kau akan kedatangan sesuatu kan? Wajar saja kalau kau tadi bersikap sensitif." kata Dae-Vin sambil mencondongkan tubuhnya, kemudian berjongkok membelakangi Araya.


"Ayo naik!" kata Dae-Vin sambil menepuk singkat pundaknya.


"Hah?"


"Sekarang sudah turun hujan. Ayo kita masuk. Kau naik lah, kalau tidak.."


"Kalau tidak, apa?"


"Atau mau ku gendong depan?"


"Tidak-tidak."

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo cepat naik."


"B.. baiklah."


Pada akhirnya, mau tidak mau, Araya melingkarkan tangannya di leher Dae-Vin. Dae-Vin pun segera berdiri, mulai berjalan perlahan masuk ke dalam markas.


"Aku berat ya?" Araya bertanya.


"Tidak, kau tidak terlalu berat. Makan yang banyak," kata Dae-Vin.


"Dae-Vin, bagaimana kalau ada yang melihat kita?"


"Tidak apa, nanti aku yang akan bertanggung jawab."


Saat itu, Dae-Vin merasakan detak jantung Araya yang berdegup kencang. Kenapa?


"Kenapa jantungnya berdetak kencang? Mungkinkah, Hmm tidak-tidak. Kau telah berpikir terlalu jauh. Mungkin Araya masih agak kaget dengan suara petir tadi." Dae-Vin ingin menepis pikiran negatifnya itu. Tanpa dia sadari, Dae-Vin telah tersenyum.


"Dae-Vin, kau tersenyum?" tanya Araya tanpa harus melihat wajahnya.


"Tidak," balas Dae-Vin singkat. Wajahnya masih tersenyum tipis.


...----------------...


"Apa kau benar-benar tidak lapar? Kau belum makan malam," tanya Dae-Vin setelah mengantarkan Araya sampai ke kamarnya.


"Aku tidak lapar." jawab Araya yang telah duduk di atas tempat tidurnya.


"Apa perutmu masih sakit?"


"Tidak terlalu."


"Kau mau minum obat?"


"Tidak," balas Araya singkat. Sebenarnya, dia itu masih belum bisa menelan obat. Jadi, harus di haluskan dan di beri air dulu jika dia akan minum obat. Sedikit repot, dan dengan cara itu, rasa pahitnya akan lebih terasa.


"Ooh, yasudah. Kau harus banyak minum air. Baiklah, aku pergi ya? Kau istirahat lah."


"Iya,"


"Eh iya, ini." ucap Dae-Vin sambil mengeluarkan tiga lembar kertas dari dalam sakunya.


"Itu catatan yangku tulis untukmu. Kau pakai saja." kata Dae-Vin sambil memberikan kertas itu pada Araya. Setelah itu, Dae-Vin berjalan ke luar dari kamar Araya.


"Terima ka-" Araya belum sempat berterima kasih padanya, setelah yang dilakukan Dae-Vin tadi. Dae-Vin sudah tidak ada di ruangan itu.


Kertas itu berisi catatan semua materi kelas sembilan yang ditulis secara ringkas dan mudah dipahami. Dae-Vin yang mencatatnya. Baru pertama kalinya Araya melihat tulisan tangan Dae-Vin, tulisannya rapi dan bagus.


...----------------...


Author note :


Terima kasih sudah membaca cerita ini.


Semoga suka ya.


Gimana menurut kalian? Kira-kira di tes besok Araya bakalan lulus atau tidak? Apa pendapat kalian tentang perubahan sikap Dae-Vin, dia lebih cocok kalo sifatnya dingin atau hangat?

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan favorit ya!


__ADS_2