
[Vacation Arc - #5]
...----------------...
Di pulau tersebut, telah terjadi serangan berkali-kali dari ketiga orang yang berada di sana. Meskipun salah satunya tidak menyerang secara maksimal dikarenakan fisik yang tidak fit.
Belum lagi, Araya sering tertukar dan tidak bisa membedakan Dae-Vin yang asli dan yang palsu. Beberapa kali ia hampir melemparkan serangan pada Dae-Vin yang asli.
"Dae-Vin, kamu baik-baik saja?" kata Araya sambil menghampiri Dae-Vin yang terduduk akibat terkena serangan barusan.
"Araya, aku yang asli!"
"Hah?!"
BUAKH!
"Ugh.. Bagaimana ini, sulit sekali membedakan keduanya." gumamnya ketika tangan kanannya memegangi perut bagian kirinya yang terasa nyeri akibat terkena serangan tiba-tiba.
"Araya, kalau kamu bimbang, kamu lenyapkan saja kami berdua." ucap Kim Dae-Vin melalui alat komunikasi. Dari nada bicaranya, dia terdengar putus asa. Araya langsung membelalakkan matanya mendengar apa yang laki-laki itu katakan.
"Tidak! Itu tidak mungkin terjadi!" balas Araya dengan tekad kalau ia tidak akan melukai Dae-Vin yang asli.
Sedangkan laki-laki itu hanya menghembuskan nafasnya pasrah dengan apa yang akan Araya lakukan untuk menghentikan Darkillusion.
"Hey, kenapa kalian malah mengobrol?" tanya Darkillusion tiba-tiba yang sudah berada di depan Araya.
Araya melangkahkan ke belakang guna menjaga jarak, baginya sangat sulit untuk melawannya dengan jarak dekat. Apalagi dia selalu menghilang jika dikejar.
SYUU! CEP!
"Ugh!"
"Maaf Dae-Vin, aku akan memberimu tanda terlebih dahulu untuk bisa membedakan kamu dengan yang palsu." kata Araya dalam hati setelah menembakkan anak panah tepat mengenai pundak kanan Dae-Vin. Namun, ia berani memastikan kalau anak panah tersebut tidak sampai mengenai kulitnya. Panah itu juga mengandung racun supaya armor Dae-Vin yang asli menjadi kaku dan tak bisa bergerak.
__ADS_1
"Bagus nak, kamu sudah kehilangan akal karena menyerang teman sendiri." ucap Darkillusion puas sambil bertepuk tangan.
"Memangnya, siapa yang kehilangan akal? Mungkin kamu," menyeringai, Araya berucap. Kemudian segera melakukan teknik dasar armor tahap ketiga. "Gravity Ballast!"
Serangan barusan terjadi amat cepat, Darkillusion sampai tak sempat bereaksi untuk menghindar. Alhasil, tubuhnya pun terkapar di tanah karena tertarik gravitasi yang lebih kuat.
"Cih! Mentang-mentang sudah tahap ketiga. Sebaiknya kamu jangan senang dulu!" ucap Darkillusion, kemudian tubuhnya mencair dan berubah genangan air.
"Hah?! Dia mencair?" tentu Araya terkejut melihatnya. Benar-benar menjadi air, tampilannya di tanah itu bagaikan genangan air yang muncul setelah hujan deras turun. Warnanya juga bening, tidak keruh.
"Araya, jangan sampai kamu terkena airnya, atau armormu akan meledak." ujar Shiroi memberi peringatan. Araya jadi bertambah bingung, toh ia belum terlalu berpengalaman dalam menghadapi makhluk kegelapan itu.
"Aku mengerti." balas Araya sambil berjalan cepat ke arah belakang guna menghindari genangan air itu yang bergerak ke arahnya.
CPRAT!
Tiba-tiba, genangan air itu menyiprat kemana-mana. Membuat genangan tersebut jadi bertambah banyak dan semakin menyebar.
"Araya, lompatlah supaya tidak terkena airnya!" ucap Dae-Vin yang langsung dibalas anggukan oleh Araya.
Wush! Tap! Wush! Tap!
Dia bisa bergerak bebas seperti di luar angkasa. Gravitasi hanya menjadi ringan ketika ia pijak saja, selain itu masih terpengaruh dengan teknik pemberat. Tapi di balik kelebihan itu, teknik yang dia gunakan ini cukup menguras tenaga. Jika tadi energinya masih 84 persen, maka sekarang tinggal 41 persen. Fitur penghemat energi dalam armornya belum dikembangkan lagi.
"Bagaimana ini, jika terus seperti ini, energiku akan habis tak lama lagi. Ayolah berpikir! Apa yang bisa melenyapkan genangan air? Benar, panas bisa membuat air jadi menguap." ekspresi Araya berubah setelah tercetus sebuah ide dalam benaknya. Namun, otaknya segera berpikir ulang.
"Tapi, bagaimana caraku melakukannya? Element-ku tidak bisa menghasilkan panas. Tapi, mungkin bisa kalau diserap. Tumbuhan apa yang bisa menyerap banyak air?" masih sambil bergerak ke atas dan ke bawah, Araya berusaha mencari informasi di situs resmi milik organisasi Elemental. Terutama tentang element alam, ia mencari tau nama tumbuhan yang bisa menyerap air dengan banyak. Tidak lama kemudian, ia pun berhasil menemukannya.
"Baiklah. Elemental change! Second mode!" Araya segera mengganti mode armornya menjadi tahap kedua, element alam. Dia memanfaatkan kemampuan itu untuk membuat taman bunga dahlia di pulau itu. Berdasarkan informasi yang dia dapatkan, bunga dahlia mampu menyerap air lebih banyak.
CTAK!
Setelah suara itu terdengar, pulau kecil itu jadi ditumbuhi banyak pohon bunga dahlia. Ada yang bunganya berwarna pink, ada yang putih, dan ada yang merah. Dengan cepat, akar dari pohon bunga-bunga itu berhasil menyerap genangan air tersebut.
__ADS_1
Menyadari kalau tekniknya gagak, Darkillusion segera berubah wujud kembali. Dia berubah menjadi tampilan Darkness Swordman.
"Dasar bocah bau kencur! Beraninya mengacaukan salah satu teknik terbaikku! Lihat saja, aku akan menggunakan teknologi terdahsyatku untuk menghabisimu!" ucap Darkillusion memaki sambil menunjuk Araya.
"Hati-hati Araya, dia akan melakukan teknik yang lebih berbahaya. Aku akan membantumu," dari alat komunikasi, Dae-Vin berucap sambil hendak mencabut anak panah yang masih tertancap di armornya.
"Jangan!" sanggah Araya dengan cepat. Dae-Vin mengurungkan niatnya sambil menghembuskan nafasnya lewat mulut.
"Tapi kenapa? Kamu tidak akan bisa menghentikannya kalau sendirian. Kamu bisa terluka lagi," kata Dae-Vin dengan nada cemas.
"Tidak apa. Dan apa kau tau, aku punya satu nyawa lagi lho." balas Araya untuk berusaha membuat Dae-Vin tidak cemas lagi. Memang benar yang Araya katakan kalau dia punya tiga nyawa, justru Dae-Vin bahkan lebih dulu mengetahui hal itu.
"Baiklah, jangan sampai kamu kehilangan nyawamu yang satunya." jawabnya sambil menatap Araya dari kejauhan. Ia sebenarnya cukup lega setelah waktu itu ia mengetahui hal itu. Ia tidak akan langsung meninggal, kecuali kepalanya terpenggal. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan jika hal itu benar terjadi.
"Baiklah, sampai nanti." ucap Araya sambil mengakhiri komunikasi tanpa dibalas oleh Dae-Vin. Dia hanya membalasnya dalam hati yang disertai dengan doa. Semoga dia baik-baik saja.
"Split Body Stance!"
Setelah mendengar perkataan Darkillusion barusan, sontak Araya menoleh ke arahnya. Terlihat, makhluk itu sudah mempunyai banyak tubuh dikarenakan berhasil melakukan jurus membelah raga. Di sana, terdapat delapan salinan tubuhnya.
"Dia jadi banyak? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Araya pada dirinya sendiri. Mengingat bahwa dirinya belum terlalu profesional, dia merasa kalau dia tidak sanggup mengalahkannya sendirian. Aslinya, ia ingin saja menerima bantuan dari Dae-Vin, namun pemuda itu sedang tidak fit sekarang. Jadi dia menolaknya.
"Araya!" dari ujung pulau itu, terdengar suara dua orang yang berhasil mengalihkan perhatian Araya.
"Teman-teman?" tentu Araya tidak menyangka kalau Hanny dan Zaaryan datang ke tempat ini. Pasalnya, lokasi pulau ini lebih terpencil dari lokasi markas mereka.
"Jangan khawatir, Araya. Kami akan membantumu!" ucap Zaaryan sambil berdiri di sampingnya. Kini, Araya tak lagi sendirian. Di kanan dan kirinya sudah ada orang yang menjadi rekannya menghadapi para Darkillusion itu.
"Baiklah teman-teman, ayo kita kalahkan mereka!"
"Ya!" sahut kedua temannya itu sambil memegang gagang pedang mereka dengan erat. Sedangkan Araya sedari tadi bertarung tanpa senjata, dikarenakan dia belum terlalu bisa. Di pertarungan kali ini, mereka cukup menemukan dan mengalahkan yang asli saja, dan nanti yang lainnya akan ikut lenyap.
**To be continued..
__ADS_1
Mereka berempat udah berkumpul di tempat yang sama, apakah memungkinkan buat menang? Pantau terus kisah ini ya** ^^