
[Final Arc - #13]
...----------------...
"Apa? Tidak mungkin! Kau pasti bohong, 'kan? Dia tidak akan dikalahkan semudah itu!" Darkzero berusaha menyangkal. Namun, tetap tak bisa mengubah kenyataan.
Tangan kosong Araya kini sudah memegang pedang pusaka yang tadi. Berjalan mendekati Darkzero yang sekarang sepertinya sudah syok.
TRING!
Araya menjatuhkan kedua itu untuk mengalihkan perhatian Darkzero. Yah, fokus makhluk itu tertuju pada pedang. Saat itu pula, dia lengah. Araya—dan Shiroi—memanfaatkan kelengahan Darkzero untuk memberinya serangan balasan.
BUAKH! BRAK! BRAK!
Dalam sekali pukulan, Darkzero akhirnya jatuh tersungkur. Tak sampai situ, Shiroi yang mengendalikan tubuh Araya menginjak-injaknya hingga terdapat bekas di tanah. Hentakannya sangat kuat, bahkan bisa membuat armor Darkzero retak.
"BOCAH SIALAN! AKU TAK AKAN MENAHAN DIRIKU LAGI!" Darkzero mulai emosi. Dia mencekal kaki kanan Araya dan hendak menariknya supaya ia jatuh.
"Silakan saja."
Araya menggerakkan kakinya hingga terangkat agak tinggi. Otomatis membuat Darkzero langsung terpelanting beberapa meter jauhnya.
Semudah itu menjatuhkannya?
Kedua orang yang menontonnya dibuat ternganga. Mereka memang sama sekali belum pernah membuat Darkzero kewalahan. Jangankan membuatnya kewalahan, melihat yang seperti ini adalah pertama kali bagi mereka.
Tubuhku berasa remuk, pikir Araya sambil merasakan perih dan nyeri di tangan dan kakinya.
Shiroi belum tahu hal itu. Yang dia tahu hanyalah 'Araya tidak apa-apa saat dia menyuruhnya mengambil alih tubuh ini'. Dia juga tidak ingin memberi tahu Shiroi, karena menurutnya hal itu hanya akan mengacaukan rencananya.
"Kapten, apa kita diam saja? Araya tidak baik-baik saja sekarang." Zaaryan masih memperhatikan dari kejauhan. Dia cemas karena tiba-tiba Araya bisa sekuat itu, padahal sebelumnya tidak.
"Kupikir dia baik-baik saja. Dia juga pasti sudah punya rencana. Yang perlu kita lakukan adalah menunggu dan berjaga-jaga sampai rencananya terealisasikan."
Zaaryan hanya menghela napas. Dia sebenarnya tidak tega membiarkannya melawan Darkzero seorang diri. Namun, ia ingat perbedaan kekuatan di antara mereka. Jika dia ikut-ikutan, maka dia hanya akan menjadi beban, begitu pikirnya.
"Tunggu, gerbang dimensi mulai menutup?" celetuk Kapten Akira sambil mengarahkan pandangannya ke arah utara. Gerbang dimensi yang tadi terbuka, perlahan tertutup.
"Kapten benar! Gerbangnya mulai tertutup. Kalau benar-benar menutup, apakah nanti kita akan terjebak di sini?"
"Tergantung. Kupikir butuh waktu lima belas menit lagi untuk bisa menutup gerbang sebesar itu. Jadi—"
"Kapten, maaf aku baru menghubungimu. Aku ingin memberi tahu sesuatu yang sangat penting!"
__ADS_1
"Ada apa, Dae-Vin?"
"Aku berhasil membuat alat untuk menutup gerbang dimensi, hampir secara permanen. Dan sekarang gerbangnya mulai tertutup. Apa di sana masih ada orang lagi?" tanya Dae-Vin dari seberang sana. Pandangannya tertuju pada dalam dimensi Darkness yang sebentar lagi akan lenyap dari pandangannya.
"Hanya tinggal aku, Zaaryan dan Araya."
"Tolong kalian segera kembali. Gerbangnya akan tertutup sepuluh menit lagi."
"Iya, tunggu saja. Kami akan segera kembali."
Panggilan itu diakhiri. Ternyata perkiraan Kapten Akira itu salah. Gerbangnya akan tertutup lebih cepat dari yang dia perkirakan.
"Ada apa, Kapten?" Zaaryan bertanya.
"Gerbang dimensinya akan segera tertutup. Kita harus segera pergi dari sini." pandangannya tertuju pada Araya, "tapi, kita juga tak bisa meninggalkannya."
"Kupikir kita bisa memberinya waktu lima menit lagi?"
"Ide bagus."
Lima menit berlalu. Darkzero sama sekali belum kalah. Serangannya malah semakin menjadi-jadi. Begitupun dengan Araya, meskipun energinya terus berkurang, serangannya tidak melemah. Dan Araya juga, tidak menyadari kalau gerbang dimensi sudah tertutup setengahnya.
...----------------...
"Ryusei!" Henry memanggilnya, "kenapa mereka belum kembali? Kau sudah menghubunginya, 'kan?" laki-laki itu berdiri tepat di depannya.
Dae-Vin menghela napas, "Aku sudah menghubungi mereka. Mereka bilang akan segera kembali, tapi sampai sekarang masih belum datang. Dan empat puluh detik lagi, gerbangnya akan benar-benar tertutup. Kalau sudah tertutup, mereka tidak akan bisa keluar meski menggunakan teleportasi." Dae-Vin menjelaskan keluh kesahnya.
"Yang perlu kita lakukan ada menyusul ke sana dan—"
"Waktunya tidak akan cukup! Tiga puluh detik memangnya cukup?!" Dae-Vin berucap agak 'ngegas'. Kemudian, dia sedikit menunduk, "Maaf."
"Aku mengerti apa yang kau rasakan. Mereka pasti—" lagi-lagi Henry tak melanjutkan kalimatnya. Atensinya tertuju pada beberapa orang yang baru datang. Bahkan, di sana sudah ada Arga dan Axel yang hendak menolong mereka.
"Hey, lihat!" Henry menepuk bahu Dae-Vin, mengedikkan dagunya singkat. Tanpa aba-aba, dia langsung berlari ke sana.
Sejenak Dae-Vin terdiam. Ia tercengang, masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Kini, gerbang dimensi telah benar-benar tertutup. Ia harus segera mengurus 'gembok' buatannya supaya gerbang dimensi tidak terbuka lagi. Ia segera mengatur kata sandi dan memberinya sedikit efek element miliknya supaya benda tersebut tidak terdeteksi oleh alat dan mesin buatan manusia.
"Akhirnya beres." ucapnya singkat. Dia masih belum beranjak dari tempat itu. Dae-Vin menguburkan alat itu di dalam tanah, dan menimbunnya supaya keberadaannya tidak diketahui.
"Dae-Vin, kau hampir melupakan sesuatu." ucap Kyoya tiba-tiba. Dae-Vin segera kembali berdiri.
__ADS_1
"Kau benar! Aku harus ke sana." Laki-laki yang sekarang sudah berusia tujuh belas tahun itu segera berlari menuju rekan-rekannya.
...----------------...
Araya perlahan membuka matanya, membiarkan cahaya lampu memasuki indera penglihatannya. Ia mengerjap. Barulah ia tahu di mana dia berada sekarang. Ruang kesehatan.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Rasanya begitu kaku. Belum lagi ada banyak perban yang menutup tangan dan kakinya.
Pandangannya tertuju pada seorang laki-laki yang tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya tertunduk dan berada di atas brankar. Araya mengenal orang itu.
Laki-laki itu segera membuka matanya setelah merasakan kalau Araya bergerak. Dia lekas bangun dan menatap seseorang yang dia harapkan segera siuman.
"Araya?" Dae-Vin menatapnya tak percaya. "Ini benar-benar kamu? Aku tidak mimpi, 'kan?"
Araya hanya tersenyum tipis. Kepalanya masih terasa sakit saat digerakkan. Dae-Vin menepuk pipinya—sampai ada bekas tangannya—dia masih tak percaya kalau Araya telah siuman.
"Akhirnya si Putri Tidur telah bangun."
"Apa yang terjadi?" Araya mencoba bersuara. Setelah beberapa lama ia tertidur, rahangnya sedikit kaku saat dibuat bicara.
"Kamu … mengalahkan Darkzero di saat-saat terakhir."
Araya terdiam mendengar perkataan Dae-Vin. Mengalahkan? Yang benar saja?
"Benarkah? Lalu, kenapa aku ada di sini?" Araya mencoba untuk mendudukkan dirinya. Badannya pegal karena ia sudah lama tiduran.
"Setelah kejadian itu, badanmu panas sekali. Bahkan armor-mu tak bisa dilepas." Dae-Vin menjeda kalimatnya. "Tapi, aku bisa mengembalikanmu ke wujud manusia, dan mendinginkanmu." jelasnya.
Waktu itu, suhu armor Araya melampaui suhu titik didih. 156 derajat celcius lebih tepatnya. Si suhu tinggi seperti itu, dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Maka, armornya harus dilepas. Namun, keadaan alat transformasi miliknya yang eror membuat hal itu sulit dilakukan. Pada akhirnya, Dae-Vin menggunakan element airnya untuk mendinginkannya sebelum diubah ke wujud manusia. Begitulah kejadiannya.
"Berapa lama aku di sini?"
"Tujuh puluh enam hari, delapan belas jam, dua puluh sembilan menit, lima belas detik." Dae-Vin menjawab pertanyaannya dengan sedetail itu. Dia berada di situ, ia sudah mempersiapkan segalanya untuk diberi banyak pertanyaan oleh Araya.
"Aku sangat bersyukur kamu selamat." laki-laki itu tersenyum manis. Ini kali pertamanya Araya melihatnya tersenyum seperti ini. Dia merasakan kalau suhu tubuhnya naik lagi.
...—Tamat—...
...----------------...
Yeey! Akhirnya tamat!
Kok nggak memuaskan? Masih ada lanjutannya kok, aku bikin arc spin off juga. Ditunggu ya!
__ADS_1
Aku lagi usaha buat namatin novel ini di sebelum bulan Juli. Sekian dan terima kasih!