
[Vacation Arc - #6]
...----------------...
Pertarungan telah berlangsung dua puluh menit, tapi kedua belah pihak sama-sama tidak ada yang mau menyerah. Meskipun regu Elemental selalu terpojok akibat tidak seimbang dengan lawannya, mereka bertekad tidak akan menyerah.
"Teman-teman, aku akan ke sana." ujar Dae-Vin melalui alat komunikasi setelah dirinya berhasil mencabut anak panah yang sebelumnya tertancap di armornya.
"Jangan!" balas ketiga rekannya dengan kompak.
"Kenapa? Apa aku hanya menonton saja? Apa aku tega membiarkan kalian kesusahan?"
"Pokoknya, kamu jangan ke sini! Kamu itu belum sehat." sahut Zaaryan sambil sekilas memandang Dae-Vin yang berada di kejauhan.
"Aku sudah bisa berdiri dan energi armorku juga masih banyak." kata Dae-Vin bersikeras. Namun, ucapannya itu tidak sempat di balas oleh satupun temannya dikarenakan terjadi suatu hal.
"HEY! FOKUSLAH PADA PERTARUNGAN! TIDAK SERU KALAU KALIAN MENGOBROL SENDIRI-SENDIRI!" teriak ketujuh ilusi Darkillusion secara bersamaan. Jika seperti itu, suaranya teramat keras dan membuat telinga menjadi sakit.
Tak berselang lama kemudian, langit yang tadinya cerah kini menjadi gelap karena tertutup awan kelabu yang tebal. Bukan hanya itu, suara gemuruh terdengar dari langit.
"Apa itu..?" ucap Araya lirih, ia terperangah melihat pemandangan itu. Ini penampakan awan paling gelap yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.
"Awannya gelap sekali. Firasatku tidak enak." balas Hanny dengan sama terperangahnya.
JGERR!
Suara petir yang menyambar itu terdengar begitu dahsyat dan memekakkan telinga. Petir tersebut menyambar tepat di pulau itu, bahkan tanah sampai bergetar dibuatnya dan muncul ledakan. Ledakan tak terduga itu berhasil membuat mereka bertiga terpental ke belakang.
"Aah!"
"Ugh.."
"Teman-teman, apa kalian baik-baik saja? Apa yang terjadi?" tanya Dae-Vin panik. Ia segera berdiri dan berteleportasi ke tempat rekan-rekannya.
"Dae-Vin, kenapa kamu ke sini? Di sini berbahaya.." ujar Zaaryan sambil memegangi pundak kirinya yang terasa sakit akibat hempasan tadi.
"Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi pada kalian." ucapnya sambil membantu rekan-rekan untuk kembali berdiri.
"Hahahaha! Dasar anak-anak tak tau diri! Kalian itu masih terlalu belia untuk bisa mengendalikan kekuatan element. Jadi, lebih baik kalian berikan saja kekuatan penuh resiko itu pada orang dewasa sepertiku." kalimat itu terdengar beberapa detik setelah sambaran petir tadi.
__ADS_1
Mereka baru menyadari kalau sambaran tadi berhasil memunculkan sebuah portal raksasa yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia lain.
Yang berucap tadi adalah seseorang berarmor hitam pekat. Tubuhnya tinggi, mungkin sekitar sepuluh meter. Sangat tidak wajar bagi seorang manusia, bahkan bagi para Darkness Swordman sekalipun.
"Mungkinkah dia.. Darkzero?" ujar Zaaryan tiba-tiba setelah pandangannya menangkap sosok raksasa tadi.
"Darkzero? Darkzero itu siapa?" mengalihkan pandangannya, Araya bertanya pada Zaaryan.
"Darkzero itu pemimpin para Darkness Swordman. Dia juga adalah Darkness Swordman level satu yang terkuat." Dae-Vin menyahut sambil mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.
"Dia juga yang sudah mengalahkan ayahmu." kata Hanny tanpa pikir panjang.
"Shhh!" Dae-Vin dan Zaaryan segera memberi kode karena Hanny telah keceplosan. Belum saatnya Araya mengetahui hal itu, jadi mereka masih harus menjaga rahasia itu.
"Ayahku? Ayahku juga seorang pengendali element?" tanya Araya setelah sekilas ia mendengar apa yang Hanny katakan. Dari raut wajahnya, ia benar-benar baru mengetahui hal itu.
"Bukan begitu, Araya. Yang Hanny bilang adalah-" ucapan Zaaryan terpotong setelah tiba-tiba Araya menatap ke depan dengan tatapan penuh kebencian. Yah, meskipun wajahnya tertutup armor. Tapi, teman-temannya bisa merasakan aura negatif yang keluar dari dalam diri Araya.
"Tenanglah Araya, lain kali kami akan menjelaskannya." Dae-Vin berusaha menenangkannya. Ia memegang kedua pundak Araya untuk berjaga-jaga dan mencegah Araya kabur menyerang Darkzero tanpa persetujuan.
"Tuan Darkzero, salam hormat." membungkukkan badannya, Darkillusion memberi hormat pada Darkzero yang baru saja datang ke sana. Sedangkan mereka berempat masih berdiri seperti tadi.
Darkillusion segera mengangkat kepalanya untuk menatap pemimpinnya. "Maaf Tuan, melawan mereka benar-benar menguras tenaga. Saya perlu naik satu lagi untuk bisa mengalahkan mereka dengan mudah."
"Ooh, begitu. Dasar. Tidak. Berguna. Mereka hanyalah anak-anak dengan pemikiran pendek. Seharusnya kamu bisa mengalahkannya dalam lima menit." melipat lengannya di depan dada, Darkzero berucap dengan nada tak suka.
Darkillusion segera menundukkan badannya kembali, "m-maaf Tuan. Saya.. Saya akan mengalahkan mereka sekarang juga." ucapnya dengan suara bergetar. Darkillusion memang tingkatnya masih berada di bawahnya Darkzero. Darkness Swordman yang tingkatnya berada di bawah harus lebih menghormati Darkness Swordman yang tingkatnya lebih tinggi.
"Terserah kamu saja lah. Aku tidak ingin membuang-buang waktu karena pergi ke sini." ujar Darkzero seraya berbalik. Setelah itu, ia menghilang dalam sekejap mata.
Setelah pemimpinnya pergi dari sana, Darkillusion menatap keempat anggota Elemental itu dengan tatapan angkuh. Kedua tangannya terkepal guna menyalurkan emosi yang sebentar lagi akan meledak-ledak.
"Lihat saja, aku benar-benar akan mengalahkan kalian." ucapnya lirih ketika tubuhnya mengeluarkan aura negatif.
Keempat anggota elemental itu segera memasang kuda-kuda. Bersiap untuk menghadapi serangan yang tak terduga.
"Aku rasa kekuatannya meningkat drastis setelah diprovokasi oleh Darkzero." bisik Hanny sembari menatap Darkillusion yang banyak mengeluarkan aura kegelapan.
"Kita harus lebih berhati-hati." balas Zaaryan, perlahan namun pasti armornya berubah menjadi tahap ketiga.
__ADS_1
"Eh, rupanya kalian juga sudah mendapat tahap ketiga ya?" tanya Araya setelah menyadari perubahan armor pada Zaaryan dan Hanny.
"Iya, kami baru mendapatkannya tadi." Hanny membalas. Setelah itu mereka berempat kembali memfokuskan pandangan ke depan.
Di depan sana, Darkillusion berdiri mematung tanpa melakukan ancang-ancang untuk menyerang.
Wush! Wush! Wush!
Suara ombak terdengar kencang, daerah itu memang tidak berada jauh dari lautan. Langit masih gelap, angin berhembus kencang disertai cahaya kilat yang terlihat di balik awan.
DUAAARRR!
Darkillusion tiba-tiba meledakkan dirinya. Ledakan itu berhasil membuat pasir di sana berhamburan dan membatasi jarak pandang. Mereka tak bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.
"Teman-teman, jangan berpencar ya." ucap Zaaryan ketika pasir-pasir itu berhamburan ke udara.
Namun tak ada balasan, setelah pasir tersebut tak lagi menghalangi jarak pandang, dia baru menyadari kalau di pulau itu hanya ada dia seorang. Teman-temannya menghilang entah kemana.
"Teman-teman, di mana kalian? Teman-teman!" teriaknya sambil memandang sekeliling yang sudah sunyi seakan di sana tidak pernah terjadi apa-apa.
"Taro, bisa kamu lacak di mana keberadaan mereka?" tanya Zaaryan pada sistem armornya.
"Baik." balasnya dengan singkat, kemudian segera melakukan apa yang Zaaryan minta.
"Setelah aku lacak, tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka di sini." ujar Taro setelah beberapa detik melacak keberadaan rekan-rekan mereka.
"Apa? Yang benar saja? Maksudmu mereka menghilang?"
"Ya kurang lebih seperti itu. Di pulau ini sama sekali tidak terdapat sinyal mereka."
"Lalu apakah mereka sekarang masih selamat? Mereka masih hidup kan?" tanya Zaaryan lagi. Perasaannya bercampur aduk saat ini. Tapi yang dominan adalah firasat buruk.
"Aku tidak tahu pasti. Bahkan sinyalnya saja tidak diketahui. Jadi aku tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak."
To be continued..
Keadaan diperparah dengan 'menghilang'. Apakah mereka akan selamat? Jangan lupa like dan komen biar author tau kamu ^^
By the way besok author ada ujian tengah semester, doakan semoga nilaiku bagus ya. Jangan khawatir, meskipun ujian, cerita ini bakalan tetap update, soalnya aku udah nabung bab sampai bab 84. Sekian dan terima kasih.
__ADS_1