
[Elements Transformation Arc - #4]
...----------------...
Satu bulan telah berlalu. Tidak banyak hal spesial yang terjadi lagi. Hanya, kapasitas latihan mereka yang mulai ditambah. Terutama latihan menggunakan Second Armor yang berbentuk kendaraan.
Kenapa dibutuhkan Second Armor? Jawabannya adalah untuk mempermudah perpindahan. Jikalau mereka mendapatkan misi di tempat yang jauh nan sulit dijangkau, maka hal ini akan dapat menjadi solusi.
Hari-hari sebelumnya, mereka sudah sering berlatih menggunakan Second Armor versi virtual, hanya bermodal monitor dan mereka sudah dapat berlatih layaknya latihan di dunia nyata.
Kali ini, mereka berempat diminta berkumpul di ruangan utama. Berdiri tegak bersebelahan di depan meja hologram. Di sana, juga ada profesor dan anggota Elemental generasi kedelapan.
"Hari ini, adalah sesi latihan khusus kalian. Hanya untuk hari ini, dan jika kalian lulus, maka kalian sudah boleh menggunakan Second Armor tanpa harus diperintahkan." ujar Kapten Akira memulai pembicaraan. Semua juniornya diam memperhatikan.
Sebagian besar dari mereka merasakan perasaan yang sama. Gugup. Mereka cukup gugup untuk memulai tes ini. Virtual dengan di dunia nyata, sensasinya sangat berbeda. Tak terkecuali bagi Kim Dae-Vin, dia juga menyimpan rasa gugup versinya sendiri. Yah, meskipun dia hampir selalu mendapat nilai tes yang terbaik sekalipun.
"Anggap saja, ini adalah misi. Misi penerbangan pertama kalian, yang dapat menentukan jalan hidup kalian." ucap kapten Akira lagi sembari berjalan dengan wibawa ke depan para juniornya.
"Ehem! Kau terlalu berlebihan. Apa kau tidak tau perasaan mereka? Mereka gugup, tau? Seharusnya kau menyemangati, bukan malah berkata seperti itu." setelah berdeham, kak Aria berpendapat sembari menggerak-gerakkan kursi yang dia gunakan untuk duduk.
Ngomong-ngomong soal pendapat, pendapatnya memang benar. Ketika kapten Akira berkata 'jalan hidup' tadi, jadi terdapat perasaan aneh dalam diri Araya, Hanny, Zaaryan, dan Dae-Vin. Seakan mereka tidak akan dapat melanjutkan hidup jika mereka gagal.
"Hmm kurasa kau benar. Baiklah. Kembali ke topik. Anggap saja, ini adalah ujian kenaikan kelas. Ya, ujian. Kalian yang mendapat nilai bagus akan lulus, dan yang mendapat nilai buruk, harus berlatih lagi." kapten Akira membenarkan ucapannya tadi.
"Kalian sudah berlatih selama berhari-hari, dan aku tau kalian pasti bisa. Jangan takut, pesawat yang akan kalian gunakan bukalah pesawat sembarangan. Pesawat itu juga sebagai senjata, seperti pesawat tempur. Tapi, pesawat ini lebih baik dan ramah lingkungan. Aku tidak akan berbicara panjang lebar, intinya kalian jangan menahan diri. Ujiannya akan ada dua tim, tim A dan tim B. Kalian tidak akan satu gender, supaya kalau ada apa-apa, kalian bisa saling melindungi." lanjut kapten Akira menerangkan.
"Tidak akan satu gender? Maksudnya, laki-laki dan perempuan dalam satu tim?" batin seseorang dan orang itu adalah Kim Dae-Vin. Tiba-tiba terdapat rasa yang aneh setelah mendengarkan penjelasan kapten Akira yang terakhir tadi.
__ADS_1
"Semalam kalian sudah membaca peraturannya kan? Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, tes Second Armor dimulai!"
...----------------...
Kapten Akira memang tidak berbohong soal timnya. Disediakan dua pesawat sebagai properti dalam ujian. Pesawat pertama dinamakan SF219 dan yang kedua RV304. Nama tersebut sudah mengalami beberapa perubahan. Jika untuk digunakan dalam ujian seperti sekarang, maka digunakan dua huruf kapital dan tiga angka dalam namanya. Sedangkan jika untuk misi, digunakan tiga huruf kapital dan dua angka saja. Hal tersebut mempunyai makna tersendiri yang bahkan sulit untuk dijelaskan.
Mereka berempat sudah menggunakan First Armor mereka. Itu lho, armor pelindung dari perubahan tahan kedua.
Begitupun dengan Araya. Dia sudah berada di kabin pesawat bersama seseorang yang menggunakan armor berwarna biru soft. Siapa lagi kalau bukan Kim Dae-Vin. Entah ini keberuntungan atau malah penderitaan. Pasalnya, sikapnya hari ini agak berbeda. Sikapnya kembali seperti dulu saat mereka pertama kali bertemu.
Saat ini, Dae-Vin sudah bersiap dengan cara memakai sabuk pengaman, kemudian mulai menyalakan mesin pesawat. Tapi, tidak dengan Araya. Dia bingung harus melakukan apa.
"Hey, kenapa kau diam saja? Pakai sabuk pengaman-mu." ucap Dae-Vin dengan nada agak datar, dari nadanya saja ekspresinya sudah dapat diketahui.
"I-iya.." jawab Araya dengan agak tergagap. Dirinya pun segera melakukan apa yang Dae-Vin maksud, yakni memakai sabuk pengaman.
"Araya," panggil Dae-Vin tanpa menoleh ke arahnya.
"Bersiap kalau suatu saat aku memintamu ambil kendali."
...----------------...
Kini, ujian kedua mereka telah dimulai, bahkan sejak beberapa menit yang lalu. Kedua pesawat telah mengudara, dan terbang ke arah yang berbeda. Pesawat tim A ke arah timur, dan tim B ke arah barat.
Pesawat tim B bergerak dengan kecepatan sedang, dan ketinggian sedang pula. Tugas mereka adalah mengendalikan peserta ini selama tiga puluh menit, menjaga agar pergerakannya tetap stabil. Simpel? Ya, karena ini baru ujian tingkat satu, belum ada rintangan, atau.. Mungkin nanti?
Sembari tetap menyentuh stang kemudi pesawat, Araya melirik ke arah Dae-Vin yang sepertinya merasa ada hal yang salah. Tunggu, dia melepaskan stangnya?
__ADS_1
"Ada apa, Dae-Vin?" tanya Araya sedikit ragu. Seharusnya tidak perlu bertanya kalau jawabannya sudah pasti.
"Kamu ambil alih sebentar, aku mau memeriksa bagian belakang. Aku merasa ada yang janggal. Tapi kau jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa." ungkapnya mencoba tetap tenang, sembari menepuk pelan bahu kiri Araya, dan kemudian berjalan ke belakang untuk mengecek keadaan.
"Semoga tidak terjadi apa-apa. Perasaanku terasa aneh.." Araya membatin sembari mulai mengendalikan pesawat. Dia juga mencoba untuk tetap tenang. Melakukannya dengan baik seperti saat latihan virtual.
...----------------...
Beberapa saat sebelumnya, di ruangan mesin pesawat, terdapat suatu kejanggalan. Banyak kabel yang terputus dan terlepas dari tempatnya. Ruangan yang sebelumnya rapi itu mendadak berantakan layaknya gudang yang habis dibongkar. Beberapa baut juga terlepas. Dan yang lebih buruknya, tangki penyedia oksigen untuk seluruh ruangan pesawat, mengalami kebocoran.
...----------------...
"Kenapa Dae-Vin belum kembali? Dia bilang sebentar saja.." batin Araya yang mulai merasa cemas. Pasalnya, sudah sepuluh menit dan dia masih belum kembali.
Kemudian, dia memutuskan untuk menghubunginya menggunakan alat komunikasi pada armor mereka.
"Kim Dae-" belum sempat Araya menyelesaikan kata-katanya, Dae-Vin sudah langsung menyahut.
"Araya, lakukan pendaratan.." ucap Dae-Vin dengan nada yang berbeda lagi. Kali ini, napasnya terdengar dengan jelas.
"Tapi, kenapa?" Araya bertanya lagi untuk mendapatkan alasan yang lebih jelas. Dan juga, dia belum terlalu lancar melakukan pendaratan, apalagi di atas air laut seperti sekarang ini. Baginya, pendaratan adalah hal yang tersulit.
"Lakukan saja, tak ada waktu untuk menjelaskan.."
Gluk! Araya meneguk salivanya, mencoba untuk tetap tenang. Kemudian, mengurangi kecepatan pesawat, dan menurunkan ketinggiannya. Butuh perhitungan supaya dapat mendarat dengan mulus.
To be continued..
__ADS_1
...----------------...
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ini. Jangan lupa like, komen dan favorit ya. Kalau mau kasih gift, author nggak melarang. Udah, itu aja.