Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 11


__ADS_3

[Test Arc - #8]


...----------------...


"Aku akan membuatmu memahami materi geografi dan meningkatkan IQ-mu secara sekaligus." ucap Dae-Vin sambil menatap tajam ke arah Araya.


"B.. bagaimana.. caranya?" tanya Araya sedikit terbata. Setelah itu, Dae-Vin mengalihkan pandangannya, menatap meja belajar Araya yang dilengkapi dengan layar. Dae-Vin pun menghidupkan layar tersebut, tak lama kemudian, pada layar tersebut terdapat gambar sebuah permainan, yang sering disebut 'Puzzle'.


"Bukankah ini puzzle?" tanya Araya setelah Dae-Vin selesai mengirim permainan itu dari tab-nya.


"Ya, ini puzzle benua Asia. Kau harus tau letak, karakteristik, dan potensi sumber daya alam dari setiap negara di Asia. Jika kau bisa menyelesaikannya dalam tiga puluh menit, berarti IQ-mu sudah di atas 130." Dae-Vin menjelaskan. Ternyata itu peta benua Asia yang dibuat menjadi puzzle. Pada puzzle digital itu, terdapat seratus dua puluh kepingan puzzle. Sepuluh keping yang horizontal dan dua belas yang vertikal.


"Ini masih yang tingkat mudah, kenapa kau tidak mulai mencobanya?" Ucap Dae-Vin sambil melipat lengannya di depan dadanya sambil memasang wajah datar.


Araya pun mulai berpikir, bagaimana cara menyelesaikan puzzle ini? Mungkin dia harus mulai dari negara yang dia tau terlebih dahulu.


"Hmm, aku akan mulai dari negara Indonesia terlebih dahulu. Ini kan gambar pulau Kalimantan, ini gambar pulau Sumatra dan Jawa bagian barat. Pulau Sulawesi ada disini, lalu disini Jawa bagian Tengah sampai Nusa Tenggara. Oh iya, disini negara Timor Leste. Maluku, dan disini pulau Papua. Selesai! Baru satu negara yang kuselesaikan." pikir Araya sambil memindahkan dan menyusun kepingan-kepingan puzzle ke tempatnya supaya membentuk peta Asia.


Setelah Araya menyelesaikan puzzle bagian negara Indonesia, jadi sudah lengkap, letaknya, karakteristiknya, dan potensi sumber daya alam nya. Karena sumber daya alam di Indonesia itu sangat banyak, jadi hanya yang paling banyak saja yang dijabarkan. Seperti daerah penghasil minyak bumi terbesar, penghasil batu bara, emas, perkebunan cengkeh, dan lain sebagainya.


Setelah itu, Araya mencoba untuk melanjutkan permainan itu. Dia mulai menyusun puzzle negara-negara di Asia tenggara.


"Di sini Singapura, di pulau Kalimantan ada negara Malaysia dan juga Brunei Darussalam. Ini negara Thailand, disini negara Laos. Myanmar, Filipina, Kamboja, dan Vietnam. Yey, Asia Tenggara sudah lengkap. Masih banyak.." kata Araya dalam hati. Dia sudah menyelesaikan puzzle benua Asia bagian tenggara. Meskipun begitu, dia bahkan masih belum menyelesaikan setengahnya.


Semakin lama, semakin sulit. Dia harus benar-benar hafal karakteristik dari setiap negara. Dia lumayan hafal tentang karakteristik negara di Asia Tenggara, karena saat kelas delapan sudah pernah dipelajari. Singapura sebagai negara terkecil dan termaju di Asia Tenggara, Brunei yang kaya akan hasil bumi selain Indonesia. Thailand dan Filipina sebagai penghasil beras. Laos yang tidak memiliki laut, dan lain sebagainya.


...----------------...


Singkat cerita, Araya menyelesaikan puzzle itu dalam waktu empat puluh menit. Terlambat sepuluh menit dari target waktunya.


"Lama sekali.." ucap Dae-Vin pelan setelah melihat hasil kerja keras Araya. Lambat, tapi benar semua.


"Kau bilang mudah, tapi ini sulit." balas Araya, karena memang puzzle-nya itu lumayan sulit. Belum lagi kalau yang peta dunia. Ada ratusan negara.


"Kau belum hafal karakteristiknya, makanya jadi sulit." kata Dae-Vin sambil menatap Araya.


...----------------...


Saat ini, sudah jam dua belas siang. Waktunya istirahat dan makan siang. Sekarang, Araya baru saja berjalan ke luar dari ruangan belajar.

__ADS_1


"Fiuh.. akhirnya aku bisa terbebas dari Dae-Vin." ucap Araya senang karena untuk sementara dia bisa menjauh dari Dae-Vin yang mengajarinya dengan sistem kebut.


"Kau masih belum bebas." ucap Dae-Vin. Dari suaranya, sepertinya dia berada di belakang Araya. Araya pun berbalik.


"Kim Dae-Vin?"


"Kau kira aku tidak mendengar yang kau katakan? Jangan mencoba kabur." balas Dae-Vin sambil melangkahkan kakinya dan berjalan melewati samping kiri Araya, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Benar-benar menyebalkan," batin Araya sambil memasang ekspresi cemberut. Baginya, Dae-Vin itu seperti labirin es, dingin, sulit ditaklukkan, dan juga keras. Mungkin suatu saat Araya akan mencairkannya.


...----------------...


Setelah makan siang, Araya kembali belajar bersama dengan Dae-Vin tepat pukul setengah satu siang.


Mereka mempelajari mapel bahasa Inggris yang membahas tema 'Penggunaan kata Wish dan Hope'. Yang merupakan ungkapan yang digunakan seseorang untuk menyampaikan suatu harapan.


Saat ini, Dae-Vin meminta Araya untuk menuliskan satu kalimat yang berisi harapan dalam bahasa Inggris.


"Tulis satu kalimat harapanmu menggunakan kata 'hope'." ucap Dae-Vin. Araya segera mendapatkan ide tentang harapan tersebut. Harapannya adalah..


"I hope I finish studying with him soon. (Aku harap aku segera selesai belajar dengannya)." Araya menuliskannya pada tab miliknya. Dae-Vin menyadari maksud Araya.


"Oh, kau ingin belajar ini cepat selesai? Ya, itu bisa saja, tergantung pada kemampuan kamu. Sekarang kau masih belum mampu, dan aku masih mempunyai banyak kesabaran. Jadi, jangan berharap belajarnya akan selesai sekarang." kata Dae-Vin menegaskan. Araya menghela nafasnya. Dae-Vin mungkin benar-benar berambisi untuk mengajari Araya supaya dia bisa lulus tes ulang besok.


...----------------...


Araya merasakan kepalanya yang berdenyut, mata yang mulai berat dan terasa panas akibat terus menatap gadget. Dia rasa, jarinya juga semakin melemas akibat menulis terus-menerus. Tak lupa pula, tubuhnya yang kaku akibat seharian ini dia hanya duduk.


Araya baru saja menyelesaikan lima soal pelajaran fisika tentang kemagnetan. Dae-Vin sedang mengoreksinya. Dan hasilnya benar dua dan salah tiga.


"Banyak yang salah. Seharusnya kau-"


"CUKUP!" Araya memotong ucapan Dae-Vin sambil berdiri dan sedikit menggebrak meja yang bukan terbuat dari kayu itu. Sepertinya Araya benar-benar sudah lelah. Kalau lelah, sebaiknya istirahat kan? Melihat hal itu, Dae-Vin hanya menatapnya datar.


"Terima kasih sudah mengajariku. Tapi, mulai sekarang, aku akan belajar sendiri! Aku akan belajar sampai aku benar-benar memahaminya! Aku akan berusaha mendapatkan nilai yang lebih baik. Jadi, cukup sampai disini. Aku akan pergi, maaf telah merepotkanmu!" ucap Araya dengan intonasi yang dia tegaskan. Dia mengambil tabnya, kemudian berlari meninggalkan ruangan itu.


...----------------...


Araya bingung harus pergi ke mana. Niatnya dia ingin mencari udara segar, tapi di sini tidak boleh keluar dari daerah markas tanpa izin. Saat dia melewati lorong, dia melihat simbol yang bergambar orang naik tangga. Seperti simbol tangga darurat, tapi tangganya mengarah ke atas. Araya pun mencoba melewati tempat itu.

__ADS_1


Setelah menaiki beberapa puluh anak tangga, akhirnya dia sampai di suatu ruangan terbuka, seperti atap yang letaknya berada di luar. Tempat itu menghadap ke barat. Matahari sudah hampir terbenam rupanya.


"Mungkin, aku akan menenangkan diri di sini saja." batin Araya setelah melihat pemandangan laut dan matahari terbenam yang berwarna oranye terang.


Akhirnya, Araya pun terduduk di sana. Dia menenggelamkan wajahnya pada kedua tangan yang memeluk lutut.


"Hari ini benar-benar berat bagiku. Ugh.. perutku sakit.." Araya membatin sambil memejamkan matanya yang mulai berair. Hari ini, dia sedikit sulit mengontrol emosi yang kebetulan sedang labil, agak sensitif jadinya.


Dia terus di situ, sambil sesekali mendengarkan audio tentang penjelasan dari suatu materi pelajaran dari aplikasi belajar online. Aslinya ada visual nya juga, tapi dia hanya mendengarkan audionya karena matanya sudah lelah. Araya bukan tipe orang yang suka buru-buru. Dia lebih suka yang santai, suka menyendiri dan ketenangan. Dan terkadang, dia suka suasana hujan, di saat-saat seperti itu, otaknya lebih lancar berpikir.


Dia berada di situ untuk melupakan segala masalah yang belum selesai, seperti.. belajar bersama dengan Dae-Vin. Dia ingin mengosongkan pikirannya sejenak. Mencari ketenangan.


...----------------...


Di ruangan lain, seorang laki-laki berusia sekitar enam belas tahun sedang berjalan menuju ruangannya. Saat itu, dia berpapasan dengan Zaaryan.


"Annyeong (hai), Dae-Vin." ucap Zaaryan menyapa menggunakan bahasa Korea. Dia suka belajar bahasa asing secara otodidak. Dia menyapa karena melihat Dae-Vin yang sedikit terlihat murung.


"A.. Annyeong.." balas Dae-Vin dengan lesu.


"Kau kenapa? Kulihat tadi kau mondar-mandir terus." tanya Zaaryan setelah menyadari ada suatu keanehan pada Kim Dae-Vin.


"Hmm, kau.. Melihat Araya?"


"Tidak, hari ini aku tidak melihat Araya. Bukankah dia dari tadi bersamamu?" balas Zaaryan setelah Dae-Vin bertanya. Dae-Vin menghela nafasnya.


"Apa.. ada masalah?" Zaaryan memberanikan diri untuk bertanya.


"Hanya sedikit. Ini semua gara-gara aku yang berlebihan. Baiklah, aku pergi." ucap Dae-Vin sebelum akhirnya dia berjalan pergi meninggalkan Zaaryan.


"Di mana kamu, Araya?"


To be continued..


...----------------...


Author note :


Terima kasih sudah membaca cerita ku ini.

__ADS_1


Kira-kira, setelah Araya ketemu, Dae-Vin bakalan berbuat apa padanya? Menurut kalian, siapa yang salah, Araya atau Dae-Vin?


Jangan lupa like kalau kalian suka, komentar dan jadikan favorit kalau mau tau kelanjutannya. See you!


__ADS_2