
[Return Arc - #1]
...----------------...
"Begitulah ceritanya." ujar Profesor F mengakhiri cerita. Melalui flashback tadi, sudah tau kan siapa sebenarnya mereka berdua?
"Hiks.. Kasihan sekali Araya.." Hanny mengusap pipinya yang basah. Dia sampai menangis akibat terbawa suasana.
Sedangkan Zaaryan dan Dae-Vin, mereka berdua menahannya. Dalam hati, sebenarnya mereka berdua juga ikut sedih sekaligus takjub pada perjuangan dan kerja keras Arga.
"Tunggu, aku belum mengerti kenapa waktu itu ayahnya Araya bilang kalau dia punya dua nyawa lagi?" tanya Dae-Vin sesaat setelah kembali teringat akan pertanyaannya. Sebelumnya, dia sempat lupa, tapi sekarang sudah ingat lagi.
"Itulah maksudku. Arga mempunyai tiga nyawa. Jadi, karena Araya adalah putrinya, dia juga mendapatkan sifat istimewa itu melalui gen. Kalian paham kan tentang pewarisan sifat?" jawab Profesor F sambil sedikit menyinggung tentang materi pelajaran biologi yang pernah dipelajari sewaktu masih SMP.
Mereka bertiga mengangguk kompak. Toh mereka sudah SMA, setidaknya masih ingat meskipun sekarang sudah ganti materi.
"Yah, Arga dulu pernah kehilangan satu nyawanya saat dia baru lahir. Sewaktu menjadi anggota Elemental Asia, dia belum mengurangi nyawanya lagi. Tapi, karena dia disegel selama dua belas tahun, kami memperkirakan kalau nyawanya sekarang tinggal satu. Perumpamaannya, nyawanya perlahan-lahan seperti terkikis akibat dampak segel." Profesor R menyahut.
"Kalau waktu itu dua belas tahun yang lalu dan Anda semua seumuran, berarti sekarang Profesor sudah empat puluh dua tahun?" kini, Zaaryan yang bertanya sambil sekilas mengusap wajah sampingnya.
"Ayolah, jangan membahas tentang itu kalau kalian sudah bisa menyimpulkan." balas Profesor F sambil sedikit menaikkan kacamatanya.
Ruangan menjadi sunyi senyap selama beberapa saat. Hingga suatu kabar kembali terdengar setelah Profesor R mengecek tab yang dipegangnya kemudian bertanya, "golongan darah kalian apa?"
"Golongan darahku B." jawab Hanny.
"Aku AB." kata Zaaryan.
"O." balas Dae-Vin dengan datar dan singkat.
"Dae-Vin, kau mau mendonorkan darahmu? Untuk Araya, dia kehilangan banyak darah tadi." mematikan tab-nya, Profesor R kembali berucap sambil menatap Dae-Vin.
"Tentu."
"Baiklah, sekarang kamu boleh pergi ke ruangan gawat darurat."
Dae-Vin langsung mengangguk, kemudian berbalik dan ke luar dari ruangan utama.
"Unik sekali, golongan darah kita berbeda-beda." ucap Hanny memecah keheningan semenjak Dae-Vin ke luar dari ruangan.
__ADS_1
"Iya, kamu benar." balas Zaaryan singkat dan pandangannya masih tertuju pada pintu ruangan yang sudah tertutup kembali.
...----------------...
"Araya, kumohon sadarlah. Aku ingin melihat senyumanmu lagi. Tolong.. Jangan biarkan hari-hariku di markas ini menjadi suram." kata Dae-Vin dalam hati sambil menatap Araya dari balik pintu kaca.
Melihatnya yang masih menutup mata, membuat perasaan Dae-Vin menjadi bertambah sakit. Belum juga satu hari penuh Araya tak bicara dengannya, dia merasa kalau Araya sudah meninggalkannya selama berbulan-bulan.
"Aku merelakan darahku diambil untuk kamu, Araya. Segeralah pulih. Selama kau seperti ini, aku akan selalu mendoakan kamu. Aku akan selalu mengunjungimu." berkata dalam hati, mata Dae-Vin kembali berkaca-kaca.
Tangannya bergetar setelah memperhatikan dengan seksama tangan kanan Araya yang dipasangi gips. Kepalanya juga diperban karena sempat berdarah setelah tubuhnya dibenturkan beberapa kali oleh Grey.
Apalagi setelah Dae-Vin melihat noda merah yang berhasil menembus kain perban, dia bertekad akan membalaskan dendamnya ketika bertemu dengan Grey suatu saat nanti.
...----------------...
Sudah delapan hari sejak kepulangan mereka dari misi planet Mars. Sudah delapan hari pula Araya belum juga sadarkan diri.
Pada delapan hari itu, sifat Dae-Vin juga berubah menjadi Kim Dae-Vin yang dulu, bersikap dingin dan irit bicara. Tentu kalian sudah tau alasannya kan?
Saat ini, Dae-Vin, Zaaryan dan Hanny sama-sama menjenguk Araya. Keadaannya masih sama seperti sebelumnya. Dia masih belum sadar.
"Araya, berapa lama lagi kamu akan seperti ini?" Dae-Vin membatin sambil menatap lamat-lamat wajah Araya. Mereka bertiga memang tak diperbolehkan masuk, hanya boleh melihat dari lorong ruangan gawat darurat. Dan di depan pintu kaca itu, mereka bertiga masih berdiri di sana sejak lima belas menit yang lalu.
...----------------...
"Aku.. Di mana?" membuka mata, seorang gadis berusia tiga belas tahun sedang memandang sekelilingnya yang terdapat banyak bunga berwarna-warni.
Gadis itu adalah Araya, namun berbeda dari yang sebelumnya. Di situ, Araya baik-baik saja. Tak terluka sedikitpun. Dia juga masih mengenakan seragamnya, alat transformasi masih melekat di pergelangan tangan kirinya.
Dia memandang ke langit. Langit biru dengan awan agak tebal yang menggantung di atas cakrawala. Sesekali angin sepoi-sepoi berhembus. Udaranya sejuk meskipun tempat itu sedikit terik.
"Araya," panggil seseorang dari arah belakang Araya. Sontak, Araya membalikkan badannya dan menatap seseorang yang memanggil namanya.
"S-siapa Anda?" tanya Araya sambil mengernyitkan dahinya. Orang itu mengenakan armor hitam putih. Dari suaranya, dapat diketahui kalau dia itu laki-laki.
"Suatu saat kamu akan tau. Yang terpenting sekarang, aku akan memberi tau sesuatu padamu. Hal istimewa yang ada dalam dirimu." ucapnya sambil menepuk pelan bahu Araya. Orang itu memang cukup tinggi, jadi dia perlu menunduk sedikit untuk dapat menatap Araya.
Araya masih memperhatikannya. Raut penasaran tertampang jelas pada wajah Araya.
__ADS_1
"Nyawamu telah berkurang satu."
Pernyataan barusan membuat Araya semakin bertanya-tanya. "Ee.. Bukankah nyawaku memang hanya ada satu? Kalau begitu, berarti aku sudah mati?"
"Tidak, bukan begitu Araya. Sebenarnya kamu punya tiga nyawa. Itulah keistimewaan kamu yang tidak dimiliki orang lain." ujarnya memberi penjelasan.
"Jadi, sekarang aku menggunakan nyawaku yang kedua?" tanya Araya berusaha menyimpulkan.
"Benar sekali. Meskipun kau punya dua nyawa, kamu harus tetap berhati-hati. Jika nyawamu habis, maka kamu akan benar-benar mati. Kamu juga bisa mati kalau kepalamu terpenggal. Karena itulah, perlakukan dirimu dengan normal dan bayangkan kalau kamu hanya mempunyai satu nyawa." orang itu memberi penjelasan sekaligus peringatan. Araya mengangguk tanda mengerti.
"Aku mengerti."
"Bagus."
"Ehm, kalau boleh tau, siapa Anda sebenarnya?" Araya kembali bertanya sambil sekilas memiringkan kepalanya.
"Belum saatnya kamu tau siapa aku. Baiklah, sudah saatnya kamu untuk kembali ke dunia nyata." balasnya sambil membalikkan badannya membelakangi Araya.
"Dunia nyata? Apakah ini.." Araya menggantungkan kalimatnya, kemudian kembali melemparkan pandangannya ke sekeliling. Melihat hamparan bunga dan juga rumput hijau di lembah bukit.
"Alam bawah sadar."
...----------------...
Di ruangan utama, Dae-Vin, Zaaryan, dan Hanny berada di sana karena ada panggilan untuk misi pencarian ketiga. Berdiri bersebelahan seperti biasanya, Profesor masih sibuk dengan tab-nya untuk menyiapkan berbagai informasi yang harus diketahui oleh junior mereka.
"Misi pencarian ketiga, lokasinya di gurun yang sangat tandus dan kering." melalui hologram yang tersambung dengan tab, Profesor F memunculkan beberapa gambar gurun yang akan menjadi lokasi pencarian.
"Gurun ini luasnya seratus delapan puluh kali luas pulau markas ini. Penjelajahan kali ini akan menghasilkan banyak keringat. Jangan lupa bawa persediaan air supaya tidak dehidrasi." sambung Profesor R menanggapi yang dibalas anggukan oleh Profesor F.
"Tunggu, apa hanya kami bertiga yang akan menjalankan misi?" tanya Zaaryan yang membuat ruangan itu sunyi seketika. Profesor F dan Profesor R tersenyum tipis. Tentu mereka bertanya-tanya apa penyebabnya. Hingga tak lama kemudian, pintu ruangan utama terbuka.
Anggota keempat Elemental Asia generasi kesembilan. Dia adalah..
"Araya?!"
To be continued..
...----------------...
__ADS_1
Araya ternyata punya tiga nyawa! Sebelumnya, ada yang pernah kepikiran kayak gitu??
Btw, terima kasih buat teman-teman yang sudah membaca sampai chapter ini. Sekian..