Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 31


__ADS_3

[After Mission Arc - #4]


...----------------...


"Jadi, ada apa, Kapten?" Zaaryan bertanya. Mungkin kalau Araya dan Hanny masih berada di markas, mereka juga akan dipanggil.


"Jadi begini, kami mendapat laporan bahwa Darkness Swordman kembali muncul dan berulah. Terakhir kali terlihat di kota X, dan menculik tiga orang remaja seusia kalian. Kali ini, Darkness Swordman level empat yang muncul. Dan kemungkinan muncul lagi di kota Nebtown."


"Apa? Nebtown?" Ucap Zaaryan dan Dae-Vin bersamaan, disertai dengan ekspresi terkejut.


"Ya, kalian tidak salah dengar. Araya dan Hanny berada di sana. Kalian juga akan ke sana nanti. Tapi sebelum itu.." Kapten Akira tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kalian berdua harus memasang upgrade card pada alat pengendali elemen kalian." Profesor R menyahut, sambil menunjukkan dua benda yang berbentuk persegi panjang, berukuran kecil sebesar kartu memori yang terdapat pada ponsel.


"Apa itu?" Zaaryan bertanya sambil menunjukkan ekspresi penasaran setelah melihat hal menarik tersebut.


"Ini adalah upgrade card kalian, dibuat dengan batu safir dan batu ruby yang kalian dapatkan kemarin. Setelah ini, kalian akan memasuki Elemental tahap kedua." Jelas profesor R. Zaaryan dan Dae-Vin mengangguk pelan tanda mengerti.


"Sini, biar ku pasangkan." Ucap profesor R sambil mengisyaratkan supaya mereka berdua mendekat. Tampak, Zaaryan dan Dae-Vin bertatapan sejenak, kemudian baru mendekat ke arah Profesor. Di saat itu pula, Profesor R memberikan salah satunya pada Profesor F, supaya mereka dapat memasangkannya sekaligus.


Langsung saja, Profesor langsung memasangkan upgrade card ke dalam alat pengendali elemen mereka. Setelah lima detik kemudian, warna dari alat pengendali elemennya langsung berubah. Milik Zaaryan jadi berwarna merah bergradasi oranye dan menimbulkan warna yang terang seperti lava, sehingga dapat menarik perhatian mata. Sedangkan milik Kim Dae-Vin, warnanya berubah menjadi biru laut bergradasi biru langit, sehingga warnanya soft dan nyaman dipandang.


...----------------...


Tap! Tap! Tap! Tap!


Araya dan Hanny berjalan beriringan, dalam diam. Sejak tadi, mereka hanya saling diam dan waspada dengan keadaan sekitar. Berjaga-jaga jika ada sesuatu yang berbahaya dan membahayakan.


"Hanny.." ucap Araya setelah menghela nafasnya dan sekilas menatap wajah samping Hanny.


"Iya?" Balasnya sambil sekilas menolehkan kepalanya ke arah Araya.


"Hmm, tidak jadi." Araya kembali menatap ke depan. Begitupun dengan Hanny.


Sekali lagi, kota ini benar-benar sepi. Bahkan saat malam hari pun sepinya tidak sampai seperti ini. Tidak lama kemudian, terdengar sirene mobil polisi yang semakin mendekat ke arah mereka berdua.


Araya dan Hanny pun melihat ke arah sumber suara, tepatnya mobil polisi yang sedang bergerak ke arah mereka. Tidak lama kemudian, mobil tersebut berhenti tepat di belakang mereka. Kemudian, beberapa orang polisi turun dari mobil dan menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Hey, nak. Apa yang kalian lakukan dalam keadaan seperti ini?" Tanya seorang polisi wanita berumur sekitar dua puluh empat tahun.


"Emm kami.. hanya akan pulang. Iya, kami akan pulang." Ucap Hanny memberi alasan. Mereka memang akan pulang, tepatnya pulang ke markas.


"Kalian dari mana saat keadaan sedang berbahaya seperti ini?" Tanya polisi yang lainnya. Kali ini, laki-laki.


"Kami.. hanya dari berkunjung ke rumah teman kami." Balas Araya. "Memangnya ada apa ya, Pak?"


"Saat ini, pemerintah melakukan lockdown, jadi penduduknya tidak boleh keluar rumah. Semua kegiatan diganti menjadi daring atau online. Tidak boleh keluar rumah jika tidak ada keperluan penting atau mendesak." Jelasnya sambil sedikit menundukkan badannya.


"Iya, nak. Saat ini Darkness Swordman sudah banyak yang berkeliaran. Jika bertemu dengannya, maka kalian bisa diculik." Kata polisi wanita tadi memperingatkan. Araya dan Hanny mulai mengerti, ternyata yang dibilang Allucia tadi memang benar. Apa yang akan terjadi jika keadaannya terus seperti ini, jika tidak ditangani?


"AHAHAHAHAHA! KEBETULAN SEKALI BANYAK ORANG DI SINI!" Suara yang mengerikan telah terdengar. Itu, suara Darkness Swordman. Dari arah timur, dia baru saja mendarat. Oh iya, beberapa Darkness Swordman memang bisa terbang.


"Apa?! Darkness Swordman ada di sini? Bagaimana mungkin?! Dan.. itu yang level empat. Bagaimana ini?" Kata Hanny dalam hati. Dia tak habis pikir, bagaimana Darkness Swordman bisa ada di sini? Dia juga sedang memikirkan cara, supaya mereka dapat lolos darinya.


Setelah terdengar suara itu pula, para polisi segera berbalik ke arah Darkness Swordman, dan menodongkan pistol mereka.


"Jangan mendekat!" Kata seorang ketua regu mereka.


"Apa maksudmu? Tugas kami adalah melindungi warga!" Balas ketua regu polisi tadi.


"Iya, benar. Sebaiknya kalian saja yang segera pergi!" Lanjut polisi yang lainnya. Hanny bingung harus berkata apa lagi. Tak mungkin mereka harus membuka identitas mereka supaya para polisi tadi percaya pada mereka. Akan gawat urusannya jika hal itu sampai terjadi.


"Ah sial sekali! Mana aku sedang tidak membawa alat pengendali element ku!" Gerutu Araya dalam hati. Saat ini, dia hanyalah anak biasa, dia tak membawa alat pengendali elemen miliknya, karena sedang diperbaiki dan akan dimasukkan upgrade card.


Tapi tidak dengan Hanny, dia memang masih membawa alat pengendali elemen miliknya. Namun, apakah dia akan menggunakannya secara terang-terangan dihadapan para polisi tersebut? Lagipula, kekuatan dan kemampuannya sudah jelas tidak bisa untuk mengalahkan Darkness Swordman level empat.


Setelah beberapa detik Araya berpikir, akhirnya dia mendapatkan ide. Darkness Swordman pasti sudah tau, kalau mereka berdua adalah anggota Element Asia generasi kesembilan.


"Ayo kita pergi saja." Araya berujar dengan suara yang pelan, tapi masih dapat didengar oleh Hanny. Dia juga menggenggam telapak tangan kanan Hanny.


"Tapi, bagaimana-"


"Aku punya rencana." Belum sempat Hanny bertanya, Araya sudah menyahut. Dan tanpa pikir panjang, Hanny langsung mengangguk.


"Kalian tunggu apa lagi? Cepat pergi saja!" Kata polisi tadi, dia bersikeras meminta Araya dan Hanny untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Sementara, para polisi tadi masih tetap di sana.

__ADS_1


"B.. Baiklah." Jawab Araya. Pada akhirnya, mereka berdua segera berlari pergi meninggalkan tempat itu, dan masuk ke dalam gang kecil yang entah akan mengarah ke mana.


"Hanny, kau bisa melacak Darkness Swordman?" Sambil terus berlari, Araya bertanya.


"Iya, aku sempat melacaknya sebentar, dan.. Dia mengejar kita!" Disela-sela perkataannya, Hanny mengambil napas. Kemudian sedikit meninggikan nada bicaranya diakhir kalimat.


"APA?!" Araya terkejut mendengarnya. Saat ini mereka sedang dikejar oleh Darkness Swordman. Ternyata dia melarikan diri dari para polisi tadi, semoga mereka baik-baik saja.


"HAHAHAHA! MAU LARI KE MANA KALIAN?!" Ujar Darkness Swordman yang sekarang semakin mendekat ke arah mereka berdua. Sudah sekitar tiga ratus meter mereka berlari tanpa henti. Napas mereka sudah tersengal-sengal. Tapi, mereka tidak boleh berhenti jika tidak ingin menjadi target Darkness Swordman yang selanjutnya.


"Araya, kita akan berpencar. Setelah sampai di gang selanjutnya kau harus ke kanan dan aku akan ke kiri. Bawa ponselku dan telpon yang lain!" Ucap Hanny sambil menyerahkan ponsel androidnya pada Araya. Dengan segera, Araya menerimanya, dan mereka langsung berpencar setelah berlari sekitar sepuluh meter lagi dan kini mereka sudah melewati perempatan gang. Araya memang belum sempat bertukar nomor dengan yang lainnya, nomor rekan-rekannya, dia hanya punya nomornya Hanny.


Sekilas, Araya menolehkan kepalanya ke belakang. Darkness Swordman sudah tidak mengejarnya, dan sepertinya dia mengejar Hanny. Tunggu, apakah dia bisa tau, kalau sekarang Araya tidak membawa alat pengendali elemennya?


Araya memperlambat larinya, dan kemudian berhenti. Mencoba menormalkan pernapasannya, dan setelah itu, dia melihat ponsel Hanny tadi. Lockscreen yang bergambar Anime dan juga terdapat jam yang menunjukkan jam sembilan pagi.


Untung saja, Hanny tidak memasang kunci pola, pin, atau kata sandi untuk mengunci ponselnya supaya orang lain tak bisa membukanya. Langsung saja, Araya memencet ikon kontak, dan mencari salah satu kontak rekannya yang dapat dihubungi.


"Ini.. Kontak Dae-Vin. Ah terserah!" Tanpa pikir panjang, Araya menelpon orang dengan username Kim Dae-Vin. Panggilan terhubung, berdering.


"Ya?" Suara Kim Dae-Vin telah terdengar.


"Halo Dae-Vin, tolong segera datang! Hanny dalam bahaya!" Ucap Araya dengan nada panik.


"Eh, kau Araya? Kalian berada di mana? Ada apa sebenarnya?" Dae-Vin bertanya.


"Hanny dikejar Darkness Swordman! Kami berada di sekitar Nebtown bagian selatan!" Balas Araya dengan sedikit mempercepat nada bicaranya.


"Baiklah, aku akan segera datang. Sedang dalam perjalanan!" Ucap Dae-Vin, kemudian langsung mematikan panggilan telepon tadi.


To be continued..


...----------------...


Aku udah mulai update lagi nih~


Jangan lupa like, komen dan favorit ya. Share juga kalau mau. Sekian dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2