Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 37


__ADS_3

[Elements Transformation Arc - #5]


...----------------...


"Kim Dae-Vin?!" setelah selesai mendaratkan pesawat, Araya berjalan ke ruangan belakang. Dia membelalakkan matanya ketika melihat Dae-Vin yang tercekik oleh Darkness Swordman, bahkan tubuhnya sampai terangkat.


"Apa.. apa yang harus aku lakukan?" Araya bingung, tapi dia juga takut kalau sampai terjadi sesuatu pada Dae-Vin.


Araya berjalan kembali ke ruangan kabin, mencari tombol SOS untuk mengirimkan sinyal darurat ini ke markas mereka. Araya juga mengirimkan pesan suara.


"Kapten, profesor, kami sedang dalam masalah! Di pesawat kami, ada Darkness Swordman! Dia sekarang sedang menyerang Dae-Vin.. Apa yang harus kami lakukan?!" Araya mengirimkan pesan suara itu. Setelah selesai, dia kembali ke ruangan tadi.


Dia mengambil jalan yang nekat. Karena sudah menggunakan armor pertama, hal ini jadi memudahkannya untuk mulai menyerang.


SWUUUUSSH!


Tanpa berucap dan hanya dengan mengangkat tangan kanannya, ada sulur berwarna hijau yang seketika melilit tangan kanan Darkness Swordman. Sulur tersebut juga berduri seperti tangkai bunga mawar.


"Kau ternyata?!" ucapnya sembari melepaskan tubuh Dae-Vin dari cengkramannya. Tubuh Dae-Vin yang sudah lemas langsung ambruk begitu saja.


"Kenapa kau mengacaukan ujian kami hah?!" tanya Araya sembari menahan pergerakan Darkness Swordman dengan sulurnya.


"Ternyata kalian sedang ujian. Hahahaha! Kalian tidak akan lulus.."


Setelah selesai berkata-kata, Darkness Swordman langsung menarik sulur dari tangan kanan Araya dengan sangat kuat, sehingga menyebabkan tubuh Araya yang berbalik dia angkat dan..


BUAKH!


"Ugh.." kejadian itu terjadi begitu cepat, hampir secepat kedipan mata. Hal itu menyebabkan Araya tidak sempat refleks untuk menghindari serangan tiba-tiba Darkness Swordman.


Dia bersyukur ujiannya sejak awal mereka sudah diharuskan untuk menggunakan armor. Jika tidak mungkin akan beda ceritanya. Terutama kejadian barusan. Dengan kerasnya, Darkness Swordman membenturkan tubuh Araya ke dinding pesawat mereka. Bahkan saking kuatnya, sampai menyebabkan retakan yang dapat pecah kapan saja.


"Hahahahahahaha! Kalian masih terlalu lemah untuk mengalahkan kami para Darkness Swordman. Kalian terlalu lambat. Hal seperti itu saja kalian sudah tumbang. Kami tak akan menunggu sampai kalian sampai ke tahap akhir." ucapnya penuh keangkuhan, kemudian berbalik dan menghilang begitu saja.

__ADS_1


Dengan sisa tenaganya, Araya mencoba untuk berdiri, memegangi bahu kirinya yang terasa nyeri akibat benturan keras tadi. Jika tanpa armor, mungkin beberapa tulangnya akan langsung patah begitu kejadian tadi berlangsung.


"Dae-Vin.."


Araya berjalan perlahan menuju Dae-Vin yang sudah tak bergerak terkapar di lantai pesawat. Araya mencoba menyadarkannya dengan memanggil-manggil namanya. Tapi, tak ada respon. Bayangan-bayangan buruk tentang Dae-Vin seketika muncul di pikirannya.


"Dae-Vin, bangun! Jangan tinggalkan aku sendiri!" teriak Araya sembari mengguncang pelan tubuh Dae-Vin yang masih tak bergerak. Matanya sudah berkaca-kaca, dia takut kalau sampai terjadi hal-hal buruk pada laki-laki itu.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu, Araya."


Tubuh Araya berhenti bergerak setelah mendengar suara itu.


"Suara Dae-Vin?!"


"Kamu tidak apa-apa, Araya?" tanya Dae-Vin sembari berusaha mendudukkan dirinya, sedangkan Araya masih belum dapat mencerna situasi itu.


"Kamu kenapa?" tanya Dae-Vin pada Araya yang masih diam tak percaya. Dia sudah berpikir terlalu jauh. Kim Dae-Vin tidak selemah yang dia kira.


"Aku tidak apa-apa, Araya. Kamu tak perlu khawatir." ujar Dae-Vin sembari mengusap lembut punggung Araya. Araya menundukkan kepalanya.


"Syukurlah kau baik-baik saja, Dae-Vin.." batin Araya bersyukur, membiarkan air matanya meleleh membasahi pipinya. Mau menangis pun tidak apa, toh wajahnya tertutup armor.


"Kau baik-baik saja, Araya? Apa ada yang terluka?" tanyanya sambil menatap Araya yang masih terduduk lemas. Mereka berdua dalam keadaan yang sama, nasib yang sama. Sama-sama habis merasakan sakit yang perlahan menghilang.


Araya mengangguk menanggapi. Setelah itu, Dae-Vin berdiri dan mengulurkan tangan kanannya, "ayo pergi dari sini."


"Pergi dari sini? Bagaimana caranya? Bukankah pesawat ini ada di tengah laut?" tanya Araya tanpa menerima uluran tangan Dae-Vin. Dirinya masih belum mengubah posisinya.


"Kau lupa kita semua bisa bertransformasi?" Dae-Vin menjawab dengan pertanyaan untuk mengingatkan Araya.


"Ah iya, benar juga.."


Setelah itu, Araya pun berdiri dengan bantuan Dae-Vin. Tidak lama setelahnya..

__ADS_1


Kretak! Kretak! Swoosh!


Dinding yang retak tadi telah pecah. Membuat air laut banyak yang masuk ke dalam ruangan. Dengan intensitas sedang, air laut menerjang masuk melalui celah tersebut. Dan tidak butuh waktu lama, air sudah setinggi lutut mereka. Dengan begitu, pesawat akan semakin cepat untuk tenggelam.


"Pesawat ini akan tenggelam, ayo cepat."


"I-iya."


...----------------...


"Maaf kapten, profesor, kami merusak pesawat RV304 saat ujian. Dan sekarang pesawatnya tenggelam di perairan bagian barat." ucap Araya memberi laporan disertai dengan rasa bersalahnya. Dia berpikir kalau tim mereka akan diberi hukuman yang pantas. Tentu untuk membuat satu pesawat saja, diperlukan biaya milyaran dan juga tenaga kerja yang ahli.


"Bukan salah kalian. Kalian itu hanya diganggu. Dan apakah kalian tau, kalau pesawat itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan markas ini?" ucap profesor R sembari berjalan mendekat ke arah tim B. Sedangkan tim A masih belum sedang dalam perjalanan kembali ke markas ini.


"Iya, yang dikatakan oleh profesor R memang sangat benar. Pesawat memang menjadi bagian dari markas ini, biaya pembuatannya bahkan hanya empat persen dari biaya total pembangunan markas." sambung profesor F membenarkan. Kedua junior mereka itu membelalakkan mata setelah mendengar tiga kata, yakni 'hanya empat persen' atau setara dengan satu per dua puluh lima.


"Jadi, kami tidak diberi hukuman?" kali ini Dae-Vin yang bertanya, tentu dengan sedikit keraguan. Tapi tak apa bila dirinya memang harus dihukum, minimal dia bisa menemani Araya jika memang akan diberi hukuman.


"Tidak, kalian tidak akan diberi hukuman." jawab profesi R, kemudian melanjutkan, "tapi.."


Ekspresi keduanya langsung berubah setelah profesor R hendak melanjutkan kalimatnya.


"Tapi sebagai gantinya, intensitas latihan kalian akan ditambah sepuluh persen dari hari-hari biasa." lanjut profesor R.


"Baik, profesor!" jawab Araya dan Dae-Vin kompak. Kalau masalah latihan, tidak masalah bagi mereka, toh tidak merugikan mereka, malah akan berdampak baik untuk mereka. Tapi, apapun pasti ada batasnya. Segala sesuatu yang berlebihan pasti berdampak tidak baik.


Entah latihan tambahan apa yang akan diberikan kepada mereka berdua, namun yang pasti latihan tersebut akan membantu mereka menjadi anggota yang lebih kuat lagi, sehingga dan semoga kejadian seperti tadi tidak akan terulang lagi. Mereka mungkin akan mempercepat proses perubahan mereka dari tahap kedua, hingga tahap akhir untuk dapat mengantisipasi jika ada serangan besar-besaran dari Darkness Swordman.


To be continued..


...----------------...


Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca novel ini. Jangan lupa like, komen dan favorit kalau kalian mau. Sekian dari author.

__ADS_1


__ADS_2