
[ArVin Arc - #1]
...----------------...
Araya telah kembali ke dunia dengan waktu aslinya. Yaitu, saat usianya masih tiga belas tahun. Araya telah terbangun, setelah tidur selama lebih dari satu jam. Ketika dia bangun, dia mendapati ada teman-temannya yang menemaninya sejak tadi. Dan, mengapa dia berada di kamarnya?
"Di mana aku?" tanya Araya pelan setelah melihat tempat itu berbeda dari yang terakhir kalinya.
"Di kamarmu." balas Hanny yang sedang duduk di sebelahnya. Bukan hanya Hanny, di sana juga ada Zaaryan dan Kim Dae-Vin.
"Sebenarnya, ada apa Araya? Pergi ke mana kau tadi?" tanya Zaaryan. Dia sedang berdiri di dekat meja belajarnya, sejak tadi. Apa tidak pegal?
"Aku.. aku tadi pergi ke masa depan." jawab Araya sembari mendudukkan diri dan sambil mengingat-ingat petualangannya di masa depan tadi.
"Ke masa depannya siapa? Tahun berapa?" tanya Hanny dengan bersemangat dan mata berbinar.
"Masa depanku. Kalau tidak salah, tahun 2031." jawab Araya, dia tidak terlalu mengetahui tahunnya. Yang dia tau pasti, adalah waktu itu adalah sepuluh tahun dari sekarang.
"Wah, apa yang terjadi denganmu di tahun segitu? Kau bertemu dengan siapa?" tanya Hanny berturut-turut. Di saat itu pula, Dae-Vin juga menatapnya dengan tatapan datar tapi lebih terkesan penasaran.
"Aah, itu.. Rahasia." Araya hanya mengatakan itu setelah dirinya sempat melirik Kim Dae-Vin yang sedang duduk di kursi belajarnya.
"Yaah, kenapa kau tidak mau menceritakannya? Apa kau sudah tidak single lagi ya?" tanya Hanny lagi. Araya tersenyum sebelum menjawabnya.
"Sudah ya? Siapa?" Hanny bertanya sambil menyeringai.
"Kubilang itu rahasia. Yang tau hal itu hanya Tuhan dan aku tau sedikit." balas Araya, sebenarnya dia benar-benar malu untuk menceritakannya. Dan, dia masih sangat penasaran, bagaimana dirinya dan Kim Dae-Vin bisa akrab nantinya.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Ada seseorang yang berdiri di depan pintu.
"Ternyata kalian semua ada di sini." ucap orang itu. Dia adalah kak Aria. Kemudian, melangkah masuk.
"Ada apa ini?" tanyanya lagi.
"Aku.. aku tadi menggunakan alat ini." jawab Araya dengan ragu-ragu.
"Kau pergi ke mana?"
"Ke masa depan. Apakah, tidak apa-apa?" tanya Araya, sebelum dia juga belum bilang-bilang jika akan menggunakan kekuatan itu. Takutnya jika terjadi apa-apa.
"Ooh, tidak apa-apa kok. Asalkan dirimu kuat dan tidak digunakan untuk kejahatan, itu masih diperbolehkan." jawab kak Aria sambil tersenyum tipis.
"Ngomong-ngomong, ada apa kak Aria?" Hanny bertanya maksud kedatangan seniornya. Tidak mungkin tanpa alasan, kan?
"Ah, aku diminta untuk memanggil Araya dan Kim Dae-Vin. Kalian berdua diminta untuk datang ke ruang utama." balas kak Aria dengan ekspresi yang berbeda. Setelah itu, Araya dan Dae-Vin bertatapan sebentar. Apakah mereka berdua telah terlibat masalah?
__ADS_1
...----------------...
Di ruangan utama, suasananya sangat tidak mengenakkan. Ruangan itu tertutup rapat. Tidak memungkinkan untuk kabur. Tidak memungkinkan pula suaranya bisa terdengar sampai ke luar ruangan itu.
"Araya, Kim Dae-Vin. Maaf, tapi ini perintah dari wakil komandan. Kalian, sebaiknya mulai menjaga jarak mulai sekarang." ucap Kapten Akira. Araya dan Dae-Vin memasang tatapan bingung. "Aku tau ini di luar dugaan." lanjutnya.
"Maaf Kapten, sebenarnya ada masalah apa?" Dae-Vin bertanya. Apa yang menyebabkan mereka terlibat urusan ini?
"Haah.. Kalian berdua, diduga telah terlibat romantisme, dan hal itu dilarang di organisasi ini." ucap Kapten Akira setelah menghela nafasnya.
"Apa?!" tanya Araya dan Dae-Vin kompak.
"Tapi kami tidak punya hubungan apa-apa." kata Araya menanggapi.
"Iya, itu hanya ketidaksengajaan." Dae-Vin ikut membantah.
"Iya, kami tau. Kami sudah tau niatmu itu baik, Kim Dae-Vin. Tapi, tetap saja. Kami tidak bisa membela kalian." balas Kapten Akira. Kapten Akira, Kak Lee dan juga kak Aria sudah berusaha untuk membela mereka berdua, tapi wakil komandan mereka benar-benar sulit untuk dibujuk.
"Siapa yang melaporkannya, Kapten?" tanya Araya lagi. Dirinya benar-benar tidak menyangka kalau mereka berdua dianggap telah melanggar aturan.
"Kamera pengawas sudah terpasang di seluruh penjuru markas ini, kecuali ruangan pribadi. Dan kamera pengawas itu selalu mengirimkan data yang langsung dikirim ke markas pusat. Tapi, yang ini, sedang tidak di aktifkan datanya." kata Kapten Akira setelah menunjuk singkat ke arah kamera pengawas di sudut atas ruangan.
Tiba-tiba, layar utama tak lagi berwarna hitam. Di layar itu, terdapat panggilan dari markas pusat.
"Kalian harus bersabar ya." ucap Kak Aria lirih. Merasa kasihan pada kedua juniornya yang sama seperti tak menduga kalau ada aturan seperti ini.
"Akhirnya, aku bisa melihat wajah-wajah kalian. Ini kasus pertama dalam generasi ke sembilan ini. Ternyata kalian ya. Haah.. aku benar-benar tidak menyangka. Kim Dae-Vin yang mereka bilang sebagai anggota terbaik, telah terlibat urusan seperti ini. Dan Araya. Kamu anggota yang paling junior, dan belum lama di sini. Sebaiknya jangan membuat masalah." ucap seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun. Dia menggunakan pakaian formal, dengan name tag nya 'Kim Dae-Hyun'. Marga-nya sama seperti Kim Dae-Vin.
"Maaf, wakil komandan." ucap Araya meminta maaf sambil menundukkan badannya.
"Tidak, Araya. Kamu tidak bersalah." batin Dae-Vin setelah menyaksikan Araya yang mengakui kesalahan, tetapi kesalahan itu benar-benar tidak terjadi, hanya dugaan kan belum tentu benar.
"Mulai sekarang, kalian tidak boleh terlalu dekat, batasi pertemuan kalian jika tidak penting. Kali ini, aku masih mentoleransi kalian. Tapi, jika kejadian seperti ini masih terulang, siap-siap saja, kalian akan menerima akibatnya di markas pusat ini." ucapnya, kemudian segera menutup sambungan video.
Araya menghela nafasnya. Matanya berkaca-kaca, tapi dia berusaha menahannya supaya air matanya tidak menetes.
"Kami benar-benar minta maaf. Kami tidak bisa membantu." ucap Kak Lee Hyun-Jae terdengar menyesal.
"Tidak apa-apa. Kapten, Kak Lee, dan Kak Aria tidak bersalah. Baiklah, aku permisi." ucap Araya dengan suara pelan. Kemudian berbalik menuju pintu ke luar.
"Aku juga." ucap Dae-Vin, kemudian berjalan ikut ke luar dari ruangan itu.
"Haah, mereka sama sekali tidak memberi kesempatan pada kita. Mereka sangat tidak mempercayai kita, apakah kita seburuk itu?" kata Aria, kemudian diberi tatapan datar yang terkesan 'pasrah' karena dirasa sudah tidak bisa apa-apa. Mereka yang dimaksud adalah orang-orang perwakilan dari markas pusat.
"Entahlah, tapi kurasa kau memang benar. Dae-Vin hanya mencoba membantu Araya, dan tidak ada pihak yang dirugikan. Kenapa menjadi kasus pertama?" kali ini, Lee Hyun-Jae yang membuka suara. Dia setuju dengan Aria. Memang tak ada pihak yang dirugikan dari kejadian malam itu. Alih-alih kerugian, tapi dampak positif yang didapat. Yang paling utama adalah, hasil tes ulangnya yang bisa dibilang 'mengesankan'.
__ADS_1
...----------------...
Di depan pintu ruangan utama, Araya sudah berjalan cepat sebelum dirinya dan Kim Dae-Vin kembali bertemu. Dia harus benar-benar menjaga diri.
"Araya, tunggu." ucap Dae-Vin supaya Araya berhenti sebentar. Araya pun menghentikan langkahnya. Mendengarkan, namun tanpa berbalik menatap Dae-Vin.
"Aku, benar-benar minta maaf-" ucapan Dae-Vin terpotong.
"Tidak Kim Dae-Vin, ini bukan salahmu. Aku yang seharusnya minta maaf, gara-gara aku, kamu jadi ikut terlibat. Sampai jumpa," ucap Araya, setelah itu dia berlari meninggalkan Dae-Vin sebelum air matanya mulai menetes.
"Araya.." kata Dae-Vin sambil menatap sendu ke arah punggung Araya yang menjauh, lama kelamaan tidak terlihat karena dia berbelok di perempatan lorong.
Sesampainya di kamar, Araya langsung mengunci dirinya di dalam kamar. Tidak mau kalau ada yang tau tentang masalah ini. Dia benar-benar tidak menyangka. Kejadian seperti kemarin malam saja bisa menjadi masalah. Mungkin dari pihak markas pusat yang mengambil kesimpulan terlalu cepat.
...----------------...
Di dalam kamar, Kim Dae-Vin tidak bisa berkata-kata setelah kejadian tadi. Dia sedang frustasi untuk saat ini. Dae-Vin mengambil tab-nya untuk menghubungi ayahnya yang bernama Kim Dae-Hyun, wakil komandan mereka.
"Appa (ayah) ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ada kasus?" tanya Kim Dae-Vin setelah berhasil menghubungi ayahnya.
"Kau masih bertanya? Bukankah sudah jelas, kau dan Araya terlibat masalah romantisme yang dilarang di organisasi ini. Bukankah kau sudah memahami peraturan organisasi ini hah?" balas ayahnya. Dae-Vin kembali bersikap dingin. Hal ini dia lakukan supaya dirinya bisa tegas.
"Tapi ayah, kami berdua sama-sama tidak berniat melakukannya. Dan bukankah tidak ada pihak yang dirugikan dalam urusan ini? Aku hanya menolong Araya. Waktu itu aku hanya-"
"Tidak ada alasan! Masalah ya tetap masalah! Kalau sampai terulang, lihat saja. Aku kecewa denganmu, Kim Dae-Vin." ucapnya kemudian mematikan panggilan suara.
"Menyesal aku telah menghubunginya. Tidak ada gunanya." batin Dae-Vin, dia sangat kesal. Rasanya, dia ingin membanting tabnya saat itu juga. Tapi, hal ini tak dia lakukan.
Kim Dae-Vin memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, menutup pintu rapat-rapat. Duduk termenung di atas toilet meskipun sedang tidak ada panggilan alam. Hal itu biasa dia lakukan saat sedang kesal dan juga frustasi.
Dae-Vin menatap bak mandi yang penuh terisi air dingin. Kemudian, berjalan mendekatinya, berjongkok di sebelahnya. Kedua tangannya memegang pinggiran bak mandi, dia menutup matanya. Setelah itu, langsung memasukkan kepalanya ke dalam air dingin yang bersuhu sekitar dua derajat Celcius, hampir sampai titik beku. Dia sengaja mengatur suhunya supaya dingin.
"Aku benar-benar minta maaf.."
Ingin rasanya, dia mati saat itu juga. Seseorang baru dirasa berharga setelah orang itu meninggal. Tapi, dia mengurungkan niatnya, mengingat saat ini dia masih mempunyai seseorang yang harus dia bahagiakan.
"Kenapa ayah sangat berbeda?"
To be continued..
...----------------...
Author note :
Terima kasih sudah membaca cerita ini.
__ADS_1
Kali ini sudah mulai ada konflik.
Bagaimana penyelesaian masalah ini? Jawabnya ada di chapter selanjutnya. Jangan lupa like, komen dan favorit ya!