
"Mommy Aaresh pulang" Suara Aaresh menggema di seluruh ruangan hal itu selalu ia lakukan ketika sudah pulang dari sekolah.
"Iya sayang, Jangan teriak-teriak nanti tenggorokanmu sakit" Ucap Ayrin yang muncul dari arah dapur.
Aaresh menyalami tangan Ayrin dan mencium pipi Ayrin sudah menjadi kebiasaan di rumah Ayrin setiap mereka baru pulang dari manapun akan mencium punggung tangan dan pipi Ayrin.
"Kakak mu dan Albiyan kenamana?" Tanya Ayrin yang tidak melihat kedua putranya yang lain.
"Kak Aaresh lagi nganterin Mbak Ayang, Albiyan balik kesekolahan katanya mau nyerahin tugas osis yang ketinggalan" Jawab Aaresh lancar dengan mennyenderkan punggungnya di sofa, Mbak ayang adalah kekasih Aarash.
"Ohhh....Kalian tadi udah makan siang belum?" Ayrin ikut dududk di samping Anak nya.
"Susah Mom tadi di panti bareng anak-anak" Ayrin hanya ber oh ria mendengar jawaban Aaresh.
"Mom" Panggil Aaresh yang sudah duduk tegap dengan senyum yang sara akan sebuah maksud.
"Hemm" Ayrin hanya berdehem menjawab panggilan anak nya, Ayrin hafal betul dengan senyuman Aaresh.
"Mom boleh Aaresh menginap di rumah Nenek" Aaresh melendot Ayrin dengan manja.
Jika sudah ada maunya maka seperti itulah kelakuan Aaresh, Ia akan berubah seperti anak kecil yang akan bergelendot di tangan Mommy nya, Dan jika tidak di turuti ia akan merengek terus menerus persis seperti anak kecil yang meminta permen.
"Besok masih sekolah bukan, Jadi tidak boleh weekend nanti baru boleh" Jawab Ayrin dan benar saja Aaresh langsung merengek.
"Mom ayolah Aaresh akan berangkat sekolah dari rumah Nenek" Rayu Aaresh dengan memberikan ciuman di pipi Ayrin.
Bukan Ayrin tidak mengizinkan Aaresh untuk menginap di rumah Nenek nya, Hanya saja mengingat Aaresh yang susah sekali di bangunkan setiap pagi pasti akan merepotkan Nenek nya, Pernah sekali Aaresh menginap di rumah Nenek dan kakek nya saat pagi Aaresh susah sekali di bangunkan padahal segala macam cara sudah Kakek dan Nenek nya lakukan namun Aaresh tak bangun juga pada Akhirnya Aaresh tidak masuk sekolah waktu itu.
Semenjak itu jika Aaresh meminta menginap di rumah Nenek Kakek nya kecuali weekend Ayrin tidak mengizinkannya, "Tidak sayang, Kau susah sekali di bangunkan setiap pagi, kasian Nenek dan kakek"
"Aaresh janji Mom tidak akan susah di bangunkan, Aaresh akan bangun saat Nenek membangunkan ku" Tak pantang menyerah Aaresh masih berusaha merayu Mommy nya.
__ADS_1
""Tidak Aaresh" Kekeh Ayrin.
"Mom...." Rengek Aaresh dengan wajah memelas nya.
"Sayang aku pulang" Suara Rey saat memasuki rumah, Rey mendekati anak dan istrinya yang duduk di ruang keluarga.
Rey mencium kening Ayrin setelah Ayrin mencium tangannya dan setelah itu ikut duduk di samping Ayrin, "Kenapa wajah mu seperti itu Son" Tanya Rey yang melihat wajah kusut anak nya.
"Dad...bantu aku merayu Mommy agar aku boleh menginap d rumah Nenek Kakek" Kini Aaresh beralih meminta banguan kepada Daddy berharap Daddy nya mau membantunya.
"Sudah sayang biarkan saja Aaresh menginap di rumah Mami, Lagi pula sudah lama juga Aaresh tidak menginap disana, Mami Papi pasti senang Aaresh menginap disanan" Seperti mendapat angin segar raut wajah Aaresh langsung berubah senang.
"Tapi sayang....Kau tau kan jika Aaresh susah sekali di bangunkan setiap pagi, Kasian Mami jika harus mengeluarkan banyak tenaga untuk membangunkan Aaresh" Ayrin tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Mom...." Aaresh kembali merengek, Tuhan susah sekali merayu Mommy batin Aaresh.
"Sudah sayang biarkan saja nanti jika Aaresh di sana susah di bangunkan aku akan memotong 50 persen uang jajan nya" Ucap Rey yang mana membuat Aaresh melotot mendengar ucapan Daddy nya siap untuk protes, Namun sebelum putra nya protes Rey mengedipkan matanya yang langsung di pahami Aaresh.
Rey pun mengetahui jika anak nya yang satu ini memiliki teman selain dari teman-teman sekolahnya, Rey tidak pernah main-main dalam menjaga anak dan istrinya Rey menempatkan anak buah bayangan pada setiap anak nya dan juga istrinya, Yang akan mengikuti dan menjaga mereka setiap saat, Rey tidak memberitahukan tentang pertemananan Aaresh kepada Ayrin karena jika Ayrin tau ia akan melarang anak nya untuk keluar bermain.
"Sayang..." Ayrin sudah ingin protes namun Rey meyakinkan nya jika itu tidak apa-apa.
"Baiklah kau menang" Pasrah Ayrin yang mana membuat Aaresh bersorak kegirangan.
"Tapi ingat Aaresh disana jangan menyulitkan Nenek dan Kakek oke" Pesan Ayrin kepada Aaresh.
"Siap Mom.." Aaresh mengangkat tangannya hormat, "Terimakasih Dad Mom kalian terbaik" Aaresh memeluk kedua orang tuanya dan memberikan mereka ciuman, Setelah itu ia naik ke kamar nya.
Pintu Lift terbuka yang ternyata di dalam nya ada Aylen, Dengan perasaan bahagia Aaresh mencium pipi Aylen dan meninggalkan sedikit air liurnya di pipi Aylen tentu saja ia sengaja melakukan itu karena ia tahu adik perempuan satu-satu nya itu sangat membenci hal itu.
"Kak Aaresh ih jorok" Aylen berteriak keras sembari membersihkan bekas air liur Aaresh.
__ADS_1
Sebelum mendapat amukan dari Aylen Aaresh segera memasuki lift dan langsung menutup pintunya, " KA AARESHH" Mendengar teriakan Aylen Aaresh tertawa puas di dalam lift.
Rey dan Ayrin yang mendengar teriakan putrinya langsung menghampirinya, "Sayang ada apa kenapa berteriak?"
"Kak Aaresh mom menciumku dan meninggalakn air liurnya di pipiku" Ucap Aylen yang masih membersihkan pipinya yang tadi di cium Aaresh padahal sudah tidak ada bekas air liur Aaresh disitu.
"Bener-bener ya anak kamu tu yang" Ucap Ayrin pada Rey yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah sayang jangan di usap terus nanti pipi mu merah" Ayrin munurunkan tangan Aylen yang masih mengusap pipinya hingga kemerahan.
"Sudah-sudah nanti Daddy belikan Album EXO boyband favoritmu" Rayu Rey seketika saja membuat Aylen melupakan kemarahannya dan menampilkan senyum cantik nya.
Kesukaan Aylen pada boyband asal korea yang bernama EXO itu sudah seperti mendarah daging untuk Aylen, Tiada hari tanpa mendengarkan lagu dan mencari tau tentang EXO, Bebagai macam merchandise EXO memenuhi kamar nya, Rey dan Ayrin tidak melarang itu selagi Aylen bisa membagi waktunya untu belajar.
"Benarkah Daddy" Kini mereka sudah kembali duduk diruang keluarga dengan Aylen yang memeluk Rey.
"Benar sayang, Nanti Daddy akan memesankan 2, Satu untukmu dan yang satu nya untuk Zivia" Zivia adalah putri Zayn yang juga menyukai EXO, Awalnya Zivia tidak mengerti apapun tentang EXO namun karena sering di racuni Aylen akhirya Zivia menyukainya juga.
"Terimakasih Daddy" Aylen mencium pipi Rey sebagai ucapan terimakasihnya dan tentu saja Aylen juga mencium Ayrin.
"Mommy mau ambil yoghurt, Aylen mau"
"Mau Mom" Setelah mendapat jawaban Aylen Ayrin pergi mengambil yoghurt.
Sedangkan di dalam kamar Aaresh tengah menyiapkan buku-buku pelajaran yang akan ia bawa ke rumah Nenek nya untuk sekolah besok, Gerakan tangannya membereskan buku-buku terhenti saat ia mendapat telfon dari nomor yang tidak di kenal.
"Hallo siapa ini" Tanya Aaresh meletak kan ponsel di telinganya.
"Aku tidak sabar melihat Daddy mu menangis karena kehilang salah satu anak nya, kau tunggu saja" Setelah si penelfon mengatakan itu langsung mematikan telfonnya.
Aaresh menatap telfon yang sudah mati itu fikirannya menerka-nerka siapa si penelfon itu, Aaresh meletakkan ponselnya acuh menganggap itu adalah orang yang iseng dan tidak berniat memberitahukan Daddy nya, dan dari situlah ia membuatt kesalah karena tidak memberitahukan Daddy nya tentang si penelfon itu.
__ADS_1