GORESAN LUKA

GORESAN LUKA
26. Penjilat


__ADS_3

Naya sudah kembali bekerja dikantor  walau berpura pura saja, ia sungguh bosan ditempat ini.


Ia merindukan sekolahnya, merindukan kantin dan merindukan mainannya.


Sampai sesuatu menarik perhatian gadis itu, ia memperhatikan seseorang yang amat dikenalinya.


"kak anggi" seru Naya, terlihat Anggi sedang duduk Dimeja tamu dengan wajah bosan dan lesu.


"Naya?" kaget Anggi.


"kaka ngapain disini?" tanya Naya, Anggi melihat kekiri ke kencan dan langsung menarik pergelangannya.


Setelah sampai dibelakang gedung yang tampak sepi, Anggi menatap Naya "kaka ke sini nyelidikin tempat ini, kamu juga ngapain?"


"aku kerja kak! Jadi tempat yang kaka maksud ini...." Anggi menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


"kenapa kaka gak bilang! Aku bisa bantuin kaka"


"kamu gak nanya tempat ya Nay"


Naya menggaruk tengkuknya "heheheh lupa kak"


Anggi mengeluhkan beberapa lembar foto, memberikannya pada Naya.


"kamu kenal dia?" menunjuk foto seorang pria paru baya.


"pak abraham, dia CEO dari perusahaan ini kak"


Anggi menganggukan kepalanya "beberapa hari lalu, aku sempet ikutin dia kesebuah tempat yang tak bisa orang sembarangan masuk" jelas Anggi.


"aku disana nyakar jadi pelayan, dan melihat pria ini sedang melakukan transaksi uang dan barang"


"uang? Barang?" gumam Naya.


"ya....pria tua ini menyerahkan uang pada perempuan itu yang sayangnya tak bisa aku lihat wajahnya, dan pria itu menerima barang entah apa isinya" jelas Anggi kembali.


"aku juga sempet curiga kak, ada suatu ruang yang tersembunyi yang gak bisa dimasukin kecuali inti perusahaan"


"apa disana mereka sembunyikan semuanya?"


"entahlah kak, aku belum bisa menembus tempat itu"


Anggi memberikan flashdisk "simpan semua data yang kamu ketahui, karena yang aku tau mereka mudah menghapus bukti yang baru kamu ketahui"


"kaka tau?"


"ya... Aku sempat mendengar percakapan mereka"


Naya menganggukan dan menyimpan flashdisk itu Kedalam saku celananya.


"kalau begitu aku kembali dulu, jika terlalu lama bersama kaka. Mereka akan curiga"


Anggi menggukan kepalanya "pergilah..."

__ADS_1


Naya kembali masuk Kedalam kantornya, ia duduk ke meja kerjanya sambil menatap flashdisk ditangannya.


***


Naya mengadakan rapat dan presentasi demi mencapai kepercayaan Abraham, disana telah hadir Sekretarisnya Devan.


Presentasi berjalan lancar tanpa hambatan, sebenarnya Ezza juga menonton presentasi kekasihnya tapi melalui kamera pengawas yang dipaksa oleh Devan.


"gadis ku memang sangat cantik" gumam Ezza.


Selesai melakukan rapat, Devan memberikan berkas persetujuan kerja sama sesuai rencana yang akan dijalankan oleh Naya.


"baiklah Tuan Abraham, semoga kerja sama ini berjalan dengan lancar tanpa ada pengkhiatan didalamnya" tekan Devan dengan wajah tegas.


"tentu Tuan Devan, saya tidak akan mengecewakan... Sampaikan salam saya pada Tuan Muda El" sahut Abraham dengan lembut.


"Sungguh penjilat" batin Naya.


Devan langsung pergi setelah semuanya selesai.


"ahhahahha....akhirnya akhirnya, tambang emas sudah dekat" tawa Abraham menggelegar, membuat Naya bingung.


Abraham langsung menatap Naya, ia mendekati gadis itu sambil tersenyum "sesuai janjiku, kau resmi menjadi inti dari tombak perusahaan Nor's"


Naya langsung mengubah ekspresinya menjadi gembira sambil bertepuk tangan "Sungguh tuan"


"tentu saja aku bersungguh sungguh" ia memberikan Gold Card yang terpasang USB, dengan genitnya ia juga membelai tangan Naya.


"besok kau bisa langsung pindah, Raivan akan menunjukan cara kerjanya besok" jelas Abraham.


"baik Tuan, kalau begitu saya permisi" Abraham mengangguk, Naya pun langsung undur diri dari ruangan itu.


Ekspresi yang tadi ceria seketika berubah menjadi dingin dengan tatapan tajam penuh dendam.


Segera menuju ruangannya, ia mengambil P3K didalam laci.


Mengeluarkan alkohol, antiseptik, kapas basah, serta air biasa. Ia menggosok tangannya dengan kuat menggunakan tisu basah, sampai tangan yang putih mulus mulai menampakkan luka karena gosokan Naya yang tak main main.


Ia juga langsung menyiram tangannya menggunakan alkohol satu botol, lalu antiseptik hingga tandas tak lupa ia juga kembali menggosok tangannya.


Tak ada rasa perih dari ekspresi Naya, ia hanya menatap datar tangannya yang sudah mengeluarkan darah.


Gadis itu kembali membuka kotak P3K dan menyiram satu botol betadine pada lukanya.


Jika orang yang membayangkan sudah menjerit kesakitan apalagi kulit yang terkelupas dan lecet karena gosokan kasarnya tapi tidak dengan Naya, ia seperti gila karena sentuhan menjijikan itu.


"Queen stop" suara Davina menyadarkan Naya, ia berhenti dari kegilaannya.


"hufttt...." Naya menghela nafas, ia duduk bersandar pada kursinya.


"sorry, gue kalap" ucap Naya.


"it's oke Queen, jangan siksa diri lo lagi"

__ADS_1


"sorry.....gue udah berhasil dapetin Gold Cardnya, besok lo bisa bobol semua data mereka"


"kerja bagus Queen, kita bangga sama lo"


"dan lo juga istirahat Dav, jangan paksain tangan lo dan otak lo buat kerja. Gue gak mau lo drop"


"ugghhh Queen gue manis banget sih" goda Davina, ia sangat menyukai sisi Naya yang perhatian dan sayang padanya.


"gue sayang sama lo kayak ade gue sendiri, lo udah cek up kedokterkan"


"udah Queen, lo tenang aja"


Jangan ditanya kenapa Naya sangat perhatian pada Davina, karena ia tahu bahwa Davina memiliki trauma yang berat hingga sekarang.


Ia selalu bolak balik di psikiater untuk mengecek kondisi emosionalnya, hanya Naya yang tahu kejadian yang membuat Davina trauma.


"bagus kalo gitu"


Davina sosok yang harus benar benar Naya lindungi, ia tak bisa mendengar sesuatu yang sensitif.


Gadis itu juga sempat dirawat di rumah sakit jiwa, Naya anak Daffalah membuat ia kembali berdiri.


Dan selanjutnya Naya yang sekarang juga tau masalah Davina, karena Davina yakin bahwa Naya bisa menjaga rahasianya selama ini.


"akhhhh.....badan gue cape banget" keluh Naya.


"mobil udah kita siapin buat lo" kini Friska berbicara.


Ya mereka terhubung melalui alat yang dipasang ditelinga mereka, tak terlihat agar tak ada yang mencurigainya.


"thanks.... Gue mau pulang sekarang. Lo semua istirahat, karena besok pertempuran kita sesungguhnya akan dimulai" titah Naya.


Semuanya patuh, mereka mematikan alatnya. Naya juga mengeluarkan Flashdisk yang diberikan anggi padanya.


Ia mengetik semua informasi penting yang ia ketahui, data data rahasia yang berhasil ia dapat juga tersalin disana.


Setelah selesai menyalin, Naya langsung pulang menuju rumah ayahnya.


***


"assalamualaikum ayah" salam Naya, ia memeluk Daffa dengan rasa rindu.


"waalaikumsalam Queen, bagaimana hari kamu nak" tanya Daffa sambil mengusap surai hitam naya dengan lemah lembut.


"cape yah, Naya pengen istirahat"


"kalau begitu kamu mandi, terus makan dan ayah nanti akan kasih kamu vitamin agar bugar"


Naya menuruti perintah Daffa, ia melaksakan semuanya dengan baik. Mulai dari mandi, makan dan sekarang ia di infus vitamin oleh Daffa.


Pria paru baya itu selalu mengecek kondisi Naya, memberikan penangan yang tepat agar membuat Naya selalu sehat.


"istirahat nak, sweet nice dream queen" Daffa meninggalkan kamar Naya, saat gadis itu sudah terlelap.

__ADS_1


__ADS_2