
Jam sudah menunjukan pukul 14:00, Rey memutuskan akan pulang lebih cepat ia merasa tak tenang karena belum memberitahu Ayrin perihal Albiyan yang ingin bertemu dengan Ibu kandung nya.
Rey menghubungi Zayn untuk memintanya untuk menyiapkan mobil karena ia akan pulang, Di perjalanan pulang Rey mampir ke supermarket terdekat untuk membeli yoghurt kesukaan Ayrin, "Sayang aku pulang" Suara Rey lantang terdengar di seluruh penjuru rumah.
Ayrin yang sedang berada di dapur membuat kue kesukaan anak-anak berjalan cepat menghampiri Rey, "Sayang sudah pulang? kenapa? kamu sakit?" Tanya Ayrin sembari memeriksa suhu tubuh Rey menggunakan tangan nya karena setiap kali Rey pulang cepat pasti karena dia sakit.
"Tidak sayang, Aku hanya ingin pulang cepat saja" Jawab Rey sembari menurunkan tangan Ayrin dari keningnya.
"Sedang apa di dapur?" Tanya Rey tangan nya terangkat membersihkan sisa-sia tepung yang menempel pada pipi Ayrin.
"Aku sedang membuat kue untuk anak-anak"
Rey hanya ber oh ria mendengar jawaban Ayrin, "Ada yang ingin aku bicarakan" Rey menarik tangan Ayrin pelan membawanya ke kamar mereka.
Perasaan Ayrin mulai tak tenang tiba-tiba jantungnya berdetak kuat keringat dingin mulai keluar dari tubuh nya, Rey yang menyadari hal itu langsung membawa Ayrin dalam pelukan nya ketika mereka sudah sampai di dalam kamar.
"A-da apa ?" Ntah mengapa tiba-tiba Ayrin merasa gugup.
"Dengarkan aku sayang, Setelah mendengar apa yang akan aku katakan nanti tolong jangan memikirkan nya sendiri sehingga akan membuat mu sakit nantinya hmm" Ucap Rey menatap Ayrin dalam, Ayrin menggangguk perlahan sebagai jawaban.
"Albiyan ingin menemui Ibu kandung nya" Sebuah kalimat yang mampu membuat air mata Ayrin menetes tanpa di minta.
Ketakutan demi ketakutan yang selama ini menghantuinya pada akhirnya menjadi kenyataan, Ya selama ini Ayrin takut jika Albiyan akan menemui Ibu kandungnya dan memilih bersama Ibu kandungnya dan meninggalkan nya, Demi Tuhan Ayrin takut akan hal itu.
__ADS_1
"Tidak Rey tidak" Ayrin menggeleng-gelengkan kepalanya kuat.
Rey membawa Ayrin dalam pelukan nya,"Tenang sayang" Ucap Rey tangan nya mengelus rambut Ayrin lembut.
"Albiyan anak ku Rey jangan pisahkan aku dengan nya" Mohon Ayrin dalam pelukan Rey.
"Dia wanita jahat Rey bagaimana jika Albiyan di sakiti lagi,Tidak Rey aku tidak rela" Racau Ayrin mengatakan ketakutan nya jika Albiyan di sakiti Catherine lagi.
"Dengar sayang," Rey melapas Ayrin dalam pelukan nya meminta Ayrin untuk menatap nya.
"Kita tidak boleh egois kepada Albiyan, Albiyan berhak memilih akan hidup dengan siapa, Walaupun selama ini Albiyan hidup dengan kita tetap saja dia memiliki hak untuk memilih, Kita juga tidak bisa memaksa Albiyan untuk tetap hidup dengan kita sayang, Kita juga harus memikirkan perasaan Albiyan, Albiyan sudah besar jadi biarkan dia memilih akan hidup dengan siapa nantinya" Jelas Rey bijak, Jika di fikir memang benar apa yang di katakan Rey namun akankah Ayrin sanggup melepas Albiyan kepada Ibu kandung nya yang membuangnya dulu.
"A-aku tidak bisa, Albiyan milik ku Rey" Ucap Ayrin terbata tenggorokan nya terasa seperti tercekat.
Rey membawa Ayrin duduk di ranjang dan kembali memeluknya, Ayrin masih terus menangis sehingga membuat matanya sembab, Rey membiarkan Ayrin menumpahkan air matanya dan mencerna perkataan nya tadi.
Setelah beberapa saat Ayrin mulai tenang, "Kapan kau akan membawa Albiyan bertemu Chaterine" Tanya Ayrin yang kini sudah tidak memeluk Rey.
"Saat liburan nanti aku akan membawa nya, Aku akan membiarkan Albiyan beberapa hari untuk tinggal dengan Ibu nya setelah itu biarkan Albiyan memilih"
"Tapi bagaimana jika Chaterine tidak mau menerima Albiyan dan malah membuat Albiyan kembali terluka" Lagi air mata Ayrin mengalir saat mengucapakan pertanyaan itu, Membayangkan jika nantinya Albiyan akan kembali terluka oleh Ibu kandung nya.
"Maka aku akan membawa Albiyan kembali kepadamu" Jawab Rey yakin, Ia berjanji akan langsung membawa Albiyan kembali saat itu juga jika Chaterine menolak kehadiran Albiyan.
__ADS_1
"Janji" Ayrin mengangkat jari kelingking nya.
"Aku janji sayang" Rey menautkan jari kelingkanya.
Rey menghapus sisa-sisa air mata yang masih ada di pipi Ayrin, "Jangan menangis lagi sayang, Sebentar lagi anak-anak pulang aku bisa dalam masalah jika anak-anak melihatmu masih menangis" Canda Rey yang sebenar nya adalah sebuah kebenaran, Rey bisa ada dalam masalah jika anak-anak sampai tau Ayrin menangis karena Rey.
Ayrin memukul lengan Rey pelan di sertai senyuman kecil merasa terhibur dengan candaan Rey, Tepat setelah Ayrin keluar dari walk in closet Mereka mendengar teriakan anak-anak yang sudah pulang sekolah, Sebenarnya lebih mendominasi suara Aaresh dari pada yang lainnya.
Rey dan Ayrin turun kebawah bersama-sama, Di lihat ketiga anak laki-laki nya sudah berbaring di sofa ruang keluarga, Dari ketiganya terlihat Aaresh yang paling lemas dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan.
"Son kenapa wajah mu kusut sekali" Tanya Rey kepada Aaresh yang masih berbaring di sofa, Sedang kan Ayrin mengambil tas Aaresh yang terjatuh dari sofa, Namun Aaresh tak menjawab ia terlalu lelah untuk sekedar membuka suara saat ini.
"Kenapa dengan adik mu kak" Rey beralih bertanya kepada Aarash.
"Aaresh dari mengerjakan pelajaran yang tertinggal selama dia sakit" Jawab Aarash, Rey dan Ayrin menggelengkan kepala nya melihat anak nomer dua nya itu.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh Albiyan terus menatap Ayrin, Ia melihat mata Ayrin yang sembab seperti habis menangis, Albiyan ingin menanyakan hal itu namun ia urungkan karena ia merasa terlalu segan kepada Ayrin.
Ya selama ini memang Albiyan tidak terlalu terbuka dengan Rey maupun Ayrin, Ia merasa dia bukanlah bagian dari keluarga itu karena statusnya yang hanyalah anak adopsi, Walaupun Ayrin berulangkali mengatakan nya jika ia adalah bagian dari keluarga itu namun tetap saja Albiyan merasa segan, Albiyan membuat tembok tak kasat mata untuk nya yang mana selalu mengingatkan nya tentang posisinya di rumah itu.
Ayrin mendekati Albiyan dan duduk di samping nya, Ayrin tersenyum menatap Albiyan, "Gimana sekolahnya hari ini sayang" Tanya Ayrin sembari mengelus sayang kepala Albiyan, Tiba-tiba saja air mata mengembang di matanya nya namun Ayrin berusaha menahannya agar tidak jatuh.
"Semua berjalan dengan baik Mom, Kami juga senang bisa bertemu dengan teman-teman kami lagi" Jawab Albiyan menghindari tatapan mata Ayrin, Menatap mata Ayrin seperti itu membuat Albiyan merasa sedih juga, Ia merasa bimbang dengan hatinya salahkah ia jika membuat tembok penghalang untuknya selama ini.
__ADS_1