
Setelah sampai diperusahan Nor's Naya langsung diajak masuk keruangan khusus.
"kamu tunggu disini, aku akan panggilan orangnya" Naya mengangguk patuh.
Raivan langsung meninggalkan Naya sendirian, Naya melihat kesemua ruangan.
Terdapat beberapa cctv terpasang diruangan besar itu "matikan sekarang dan pantau pergerakan mereka" ucap Naya, ada sebuah alat tak terlihat terpasang ditelingannya.
"tunggu selama 5 detik" sahut Delvina dari seberang sana.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik
"beres" senyum miring Delvina terbit.
"good girl"
Naya langsung menggeledah meja kerja pemilik perusahaan ini dan lemari pun tak luput juga ia geledah, namun anehnya tak ada yang mencurigakan ditempat itu.
"sial. Kenapa gak ada apapun disini" geram Naya mengacak rambutnya frustrasi.
"Queen lu buruan geledahnya, mereka udah menuju ruangan itu" instruksi Delvina.
"akh, shitt" umpat Naya, ia buru buru mencari segala sesuatu yang menurutnya mencurigakan.
"Queen udah gak ada waktu lagi"
Suara derapan langkah sepatu terdengar mendekati ruangan tersebut, Naya memberatkan kembali semua barang yang berantakan.
Ceklek
Pintu terbuka, dengan Naya yang terlihat duduk elegan dikursi tanpa menimbulkan kecurigaan.
Pria yang menggunakan jas biru dongker serta dasi merah mudah yang amat uduk mendekati Naya.
"Abraham Scenter CEO perusahaan Nor's" pria itu mengulurkan tangannya pada Naya.
"Nayaka" Naya membalas ukuran tangan pria itu.
"jadi anda yang ingin bekerja ditempat saja" tanya Abraham de ga sok duduk seperti raja di kursi kebesarannya.
"iya tuan"
"apa keahlianmu" tanyanya.
"saya bisa menjamin promosi diperusahaan anda akan melejit sesuai target dan mencapai puncak yang anda inginkan" jelas Naya begitu lantang, AbrahamĀ sedikit kurang yakin namun ia juga tertarik dengan tawaran yang Naya berikan.
"saya sangat tertarik, namun saya akan pertimbangkan terlebih dahulu" sahut Abraham.
"silahkan tuan, tapi boleh saya bertanya pada anda?" ucap Naya.
"silahkan"
__ADS_1
"benarkah anda CEO yang selalu dibicarakan Tuan El ?"
"dibicarakan?"
"ya .... Tuan El kerap sekali bercerita tentang perusahaan anda yang selalu menawarkan kontrak kerja sama namun Tuan El selalu menolak karena target anda belum mencapai sesuai tujuan dalam waktu yang signifikan"
Abraham menegang saat mengetahui Naya mengenal tuan muda yang selalu menutupi identitasnya itu.
"kau mengenal tuan El?"
"tidak terlalu mengenal namun aku sering bertemu"
"ini yang aku tunggu, seseorang yang bisa membuat perusahaanku berkembang dengan kerja sama bersama perusahaan terbesar didunia" batin Abraham.
"ohh nona kenapa kau tidak bilang jika mengenal tuan muda, jika kau bercerita dari awal tanpa interview kau akan langsung lolos"
Naya tersenyum miring mendengar ucapan Abraham padanya "terjebak" batin Naya.
"jika begitu, selamat nona anda diterima bekerja " Abraham menjabat tangannya.
"terima kasih tuan"
"Raivan....tunjukan ruang kerja nona Naya" perintah Abraham pada Raivan.
"baik bos"
Raivan langsung mengajak Naya menuju ruangan yang akan menjadi tempat Naya bekerja.
Saat ditengah perjalanan Naya curiga pada satu ruangan yang amat privasi, hingga tanpa sadar ia mendekati tempat itu.
Namun sebelum mencapai tujuannya, Raivan lebih dahulu menepuk bahunya.
"why?"
"karena hanya orang inti yang terpercaya saja bekerja diruangan privasi itu" jelasnya.
"privasi?"
"kamu tak perlu tau! Cukup bekerja dan penuhi ucapanmu" nada Dingin Raivan membuat Naya semakin curiga pada ruangannya.
***
Dimarkas Garlz (Guaranglz) mereka telah berkumpul namun perkumpulan ini lebih banyak dengan membawa Ezza, Devan, beserta Evans.
"gue udah berhasil masuk keperusahaan itu, sekarang rencana kita adalah mengetahui seluk beluk yang ditutupi perusahaan Nor's" ucap Naya.
"sesuai rencana Queen, seperti apapun caranya lo harus bikin mereka menaruh kepercayaan terbesar sama lo" Sasa berucap.
"tapi mereka terlalu cerdik jika kita mendekati secara tiba tiba Sa" kini Delvina menimpali ucapan Sasa.
"gue mikirin cara agar mereka bisa masukin gue ke posisi manager" Naya memijat keningnya.
"manager?" gumam Ezza.
"ya manager, jika aku bisa mengambil posisi itu maka sedikit demi sedikit aku bisa menyelidiki tempat itu" jelas Naya.
"dan sialnya Cctv mereka yang diruangan Naya serta ruangan privasi itu tidak bisa diretas" ketus Delvina.
"perusahaan mereka juga sangat mencurigakan sejak aku masuk disana, suasana perusahaan itu sangat berbeda" lanjut Naya mendeskripsikan tempat itu.
__ADS_1
"saat kita berkeliling tak jarang juga kita menemui pegawai yang tampilannya juga mencurigakan" adu Sasa.
"untuk apa kamu pusing pusing sayang, jika menginginkan posisi itu" ucap Ezza menatap Naya dengan senyum lembutnya.
"maksudnya?"
"ikuti permainanku yang ini" senyum miring Ezza terpantri jelas diwajah tampannya.
Ide yang akan membuat gadisnya aman disana dan dengan mudah bisa mengorek informasi perusahaan itu.
"kamu tidak memikirkan ide gila kan?" tuding Friska menatap wajah yang mencurigakan pada Ezza.
"apa perlu ku jawab pertanyaanmu?" sahut Ezza dingin.
Sungguh Ezza tak pernah bersikap lembut pada setiap wanita kecuali ibu dan Naya yang menjadi prioritas utamanya.
"tuan muda...jangan buat Queen kami lecet sedikitpun karena rencana anda" tegur Sasa dengan wajahnya yang amat tak bersahabat.
Evans yang melihat perubahan wajah Sasa pun merasa lucu dan menggemaskan Dimatanya.
"lo tau..." tanya Evans menatap wajah gadis manisnya.
"tau apa sih, lo aja belom ngomong ketoprak kering" Sasa menatap Evans dengan raut jengkel.
"lo kalo marah bukan serem, tapi kayak anak kucing busung lapar" awalnya menyenangkan tapi akhirnya ingin membantai Evans saja.
"gak ada gitu perumpamaan lebih jelek lagi yang lo bikin" jengah sudah Sasa dibuat oleh Evans yang tak ada henti menyulut emosinya.
"kayak kambing sawan bagus tuh buat lo" semua tertawa terpingkal pingkal mendengar celotehan Evans yang absurd.
Naya terkekeh melihat tingkah sahabatnya, ditengah kepusingannya mereka adalah obat dari segala penatnya.
"pusing gue sedikit reda karena lo semua" gumam Naya tak terdengar oleh mereka.
Ezza yang melihat itu diam diam merayapkan tangannya menuju tangan kearah Naya.
Pelan pelan tapi pasti, ia menggenggam tangan kecil itu dengan gemas.
"kecil banget sih kek bayi" batin Ezza dengan gemasnya.
"gak usah modus" ketus Naya.
"aku gak modus sayang, beneran kangen pegang tangan kamu lohh" Ezza mengeluarkan puppy eyes nya untuk meluluhkan Naya.
Mau tak mau Naya kembali menggenggam tangan Ezza, membiarkan laki laki itu asik mencium tangannya.
Jangan ditanya ekspresi teman teman yang tertekan melihat tingkah uwu mereka yang dengan tidak sopan diperlihatkan pada kaum jomblo karatan.
"jasa ke Mars satu menit lagi" ucap Evans langsung meninggalkan bascame Garlz.
"lo pada aja ke Mars, gue cape" Sasa pun ikut meninggalkan tempat itu.
"kerjaan kita banyak om, mending pergi dari pada jadi sukarelawan umat perbucinan" Delvina menarik Evans menuju ruangan yang ia gunakan untuk mencari data para targetnya.
Sedangkan Friska langsung pergi tanpa sepatah kata apapun.
"karena kamu mereka jadi pergi" ketus Naya.
"enggak sayang... Mereka itu iri sama kita" jawab Ezza tanpa dosa.
__ADS_1