GORESAN LUKA

GORESAN LUKA
29. Eksekusi


__ADS_3

Sasa dengan gemas menyemprotkan air keran dihalaman pada tubuh Evans demi meredakan obat perangsang yang mengendalikan tubuhnya.


"lo bikin repot tau gak, untung aja gue cepet dateng" gerutunya sambil terus menyiram Evans.


"gak usah banyak bacot, terus siram gue. Daripada lo yang gue garap"


"dih udah ditolongin gak ada terima kasih lo" "


"iya iya makasih dah nolongin gue, cerewet banget lo udah kayak bini orang aja"


"gue emang bini orang"


"mana orangnya hah! Berani banget jadiin lo bininya, gue aja belom sukses halalin lo" Evans mulai maju seolah olah ingin berkelahi.


"sok jago lo, giliran sama tante tante aja lo lembek" Sasa mengejek dan meremehkan Evans.


"gue bukan lembek Sa, cuma keadaan aja gak memungkinkan gue buat ngelawan" jelas Evans, bagaimana bisa melawan jika obat itu membuat ia terangsang.


Bagus bagus ia bisa mengendalikan dirinya demi gadis cerewet ini.


"iya iya si paling gak lembek"


Mereka terus berada mulut, tanpa jeda. Berbeda dengan Naya dan Ezza yang asik bersantai dikursi taman.


"kamu udah nemuin petunjuk untuk menuju akar itu"


"belum, aku pusing...aku gak bisa kerja tanpa bantuan Davina"


"kamu mau aku bantuin?" tawar Ezza, Naya menggeleng. Ia menyadarkan kepalanya didada bidang kekasihnya.


"aku mau kerjain sama temen temen aku, sesuai impian kami. Bukan aku gak menghargai kamu atau gimana aku cuma mau berdiri dengan kaki aku sendiri"


"iya sayang aku paham, tapi kamu jangan sungkan kalo perlu bantuan aku seperti waktu itu"


"makasih ya, udah selalu bantuin aku.. I love you"


" i love you doang nih, gak ada hadiahnya gitu"


Cuppp


Naya mengecup kening Ezza "tuh hadiahnya" ucap Naya sambil tersenyum.


Ezza terdiam kaki "AAAAAAAAAAA kurang ay kuranggg" rengeknya, ia mulai memeluk perut Naya seperti bocah.


"kan udah sayang!"


"lagi" ia mulai merengek dan mengerucut seperti bocah menginginkan mainan.


"enggak"


"lagi lagi lagi....kalo enggak. Aku gak bakal lepasin kamu"


"Altezza Cakra Adelardo... Lepasi" mulai jengah tentu saja, mode manja ini sangat lama akan reda sebelum permintaannya dituruti.

__ADS_1


"GAK GAK GAKKKKK..." teriaknya.


"Ezza malu maluin tau gak"


"biarin, aku gak peduli. Sebelum kamu cium kening aku lagi" titahnya tak ingin terbantah, ia masih bergelayut diperut Naya tak ingin lepas.


"lepas gak? Atau aku gak mau ngomong sama kamu"


"gak peduli ay gak peduli, pokoknya turutin dulu"


"oke aku turutin" final Naya, ia ingin segera lepas dari mode manja sepertiĀ  bocah ini.


Dengan girang Ezza melepaskan pelukannya, ia duduk tegak sambil menutup mata.


"aku udah siap ay" ucap sambil tersenyum.


Cupppp


Dengan lama Naya mengecup kening Ezza sambil menangkap kedua pipi kekasihnya.


Byurrrr


Sebuah air meluncur dengan bebas kearah mereka.


"****" pekik merasakan dirinya tersiram air, sediakan Naya hanya diam tanpa suara.


"E-eh sorry, gue sengaja" Evans cengengesan tanpa ada salah, ia sengaja melakukannya karena iri melihat keromantisan Ezza dan Naya.


"lo...." tunjuk Ezza sambil menggerakkan tangannya seolah memotong diare leher.


"elo kalo iri cari pacar sono bukan gangguin orang, kayak anak kecil aja" seru Sasa kemudian memasuki markas.


"ehh E-eh Saaaaa kok lo tinggalin gue, yang ada bisa mati muda gue Saaa belom jadiin lo istri gue" Evans menyusul Sasa.


***


Sedangkan ditempat lain Friska mendapat panggilan bahwa Dama, Arlan dan Liam berhasil melarikan diri dari penjara bawah tanah.


Friska langsung memeriksa keadaan, ia bertanya pada setiap penjaga namun mereka tidak mengetahui kenapa para tawanan bisa kabur.


"kalian sudah cek cctv?" tanya Friska.


"susah nona, tapi seperti cctv diretas. Hanya ditemukan para penjaga pingsan karena bom asap"


"arggg sial, gimana para keparat itu bisa melarikan diri" erang Friska sambil menentang kursi kayu hingga terguling.


"nona... Sepertinya ada yang membantu mereka untuk melarikan diri, hanya orang orang dalam yang tau seluk beluk penjara ini. Ada kemungkinan besar keamanan kita memiliki penyusup" terka anak buahnya.


"gue juga mikir gitu, tapi siapa yang berani berani memasuki keamanan markas Garlz. Disaat keamanan Garlz memang lagi laginya lemah karena Davina sedang tidak ada.." pikir Friska.


"kumpulkan semuanya tanpa terkecuali, biar gue sendiri yang cari siapa yang berani memasuki kandang kematian" perintahnya, sang anak buah hanya menunduk sebagai tanda patuh.


"baik nona"

__ADS_1


Pria itu benar benar mengumpulkan seluruh penjaga keamanan tanpa terkecuali, sedangkan Friska duduk bersila dikursi seperti seorang ratu yang siap membinasakan musuhnya.


"kalian...gue kasih waktu lima menit untuk mengaku siapa pengkhianat disini" Ancamnya.


Namun semua membisu membiarkan waktu yang diberikan habis begitu saja.


DORRRR


Tepat tembakan itu meluncur pada kepala salah satu diantara mereka hingga kepala itu hanya tersisa setengah.


"ting tong....waktu habis tanpa jawaban, maka harus ada satu nyawa yang dikorbankan" senyum smirknya mulai muncul, entah dimana Friska menyembunyikan pistolnya hingga mereka mengira ini hanya ancaman biasa, ternyata ini neraka yang menginginkan kematian mereka tanpa asa.


"kesempatan kedua, gue kasih lagi waktu dua menit buat kalian mengaku"


Namun lagi dan lagi tak ada jawaban, semua bungkam sambil ketakutan. Friska benar benar mengerikan dalam melindungi anggotanya.


DORRRR


DORRRR


Dua peluru kembali melesat dengan korban dua orang dan keadaan yang lebih mengenaskan.


"gila sungguh gila....dia membunuh dengan tatapan mata yang benar benar tak bersalah" batin pengawal kepercayaan Friska.


"kesempatan terakhir.....waktunya satu menit dan sebagai ganti kebisuan kalian adalah kolam darah" ucapnya.


Satu menit terakhir akhirnya ada yang mengaku membantu lolosnya tawanan yang kabur.


Friska menginjak kepalanya dengan kuat tak membiarkan pria itu bangun, tatapan mematikan itu pun disaksikan seluruh penjaga.


"berani lo memberontak dianggota Garlz" tanyanya dengan suara yang menyeramkan.


"ampun nona, s-saya han...ya ge-gelap ma...ta karena ta-tawaran mereka" ucap sang pelaku dengan suara gagapnya.


"siapa yang suruh lo"


"saya tidak mengenalinya nona mereka menutup wajah saya saat berkomunikasi dengan mereka"


"lo kenal suaranya"


"ti-tidak no...na, mereka menggunakan alat perubah suara agar tak dikenali"


"lo gelap matakan saat menerima tawaran mereka dengan jumlah uang yang gila"


Tak ada jawaban dari pengawal itu, ia diam karena itulah jawabannya.


"maka rasakan gelap yang sesungguhnya"


Dengan santai Friska menyayat leher pengkhianat itu, tatapan matanya benar benar mengerikan.


Darah langsung bersimbah ketubuhnya.


"selamat tidur dengan damai" diakhiri kegiatannya, ia mengusap darah yang mengenai wajahnya.

__ADS_1


Senyumnya begitu merekah saat melakukan aksi gila "gue berhasil lindungin mereka" lirih Friska, ia berhasil melindungi anggotanya.


Karena ia yakin setelah pelepasan para keparat itu akan terjadi hal yang buruk pada seluruh anggotanya.


__ADS_2