
Flashback on
Setelah kabar kematian Naya, semua orang pergi meninggalkan jenazahnya agar bisa diurus oleh pihak rumah sakit.
Namun saat Dokter Daffa mendorong brankar menuju kamar mayat tiba tiba tangan Naya bergerak, membuat Dokter Daffa terkejut bukan main.
"t-tolong...." lirih Naya.
Melihat keadaan Naya Dokter langsung memeriksa keadaannya, sungguh ajaib detak jantung gadis itu kembali normal.
"kamu kembali dari kematian nak" ucap Dokter Daffa.
Naya hanya mengangguk lemah "t-tolong bawa s-saya pergi" mendengar ucapan Naya, Dokter langsung membawanya secara diam diam tak lupa mengganti jenazah Naya dengan putrinya yang baru saja menghembuskan nafas terakhir karena bunuh diri.
Setelah berhasil dibawa ke kediaman Daffa, Naya dirawat dengan baik.
"terima kasih telah membantu saya" Naya menunduk merasa tak enak hati.
"jangan menunduk nak, angkat kepalamu...seorang gadis kuat tak pernah menundukkan pandangannya"
Naya mendongak menatap wajah Daffa yang terlihat sendu "kamu seumuran dengan putriku bahkan nama kalian sama, tapi nasib kalian sungguh berbeda"
"berbeda?" tanya Naya bingung.
"kamu kembali dan dia pergi" lanjut Daffa, ia menyerahkan foto Naya putri kecilnya.
"dia putri kecilku, aku membesarkannya dengan kasih sayang ibu serta ayah sendirian....tapi dia meninggalkan pria tua ini sendirian" Daffa meneteskan air matanya saat menceritakan kisah dimana ia merawat putrinya seorang diri dikarenakan istrinya telah meninggal dunia.
"kenapa dia pergi" Naya berhati hati dalam bertanya.
"banyak luka yang dia tutupi hingga tak bisa ia tanggung lagi...entah ia bisa tenang atau tidak saat para binatang itu hidup damai tanpa penderitaan" pernah tangis pria tua dihadapan Naya.
Naya merasa sedih mendengar semua cerita dari Daffa, ia melihat sosok ayahnya dalam diri Daffa.
"ayah Naya juga pergi om" lirih Naya.
"bahkan kepergiannya demi putrinya yang bodoh ini, N-Naya gak tau kalo ayah bakalan ninggalin Naya. Bahkan dihari kepergiannya Ayah tersenyum manis pada Naya" Daffa Menatap Naya, mereka sama sama kehilangan orang tersayangnya.
"Naya sudah tak percaya keadilan jika diembankan pada orang orang berkedudukan" Naya meremas selimutnya.
"mau balas dendam" tanya Daffa.
"bolehkah?"
"balaskan nak, kamu dan semua orang berhak mendapat keadilan dengan cara kalian" jawab Daffa mengelus kepala Naya.
"Naya minta satu permintaan boleh?"
__ADS_1
"apa nak? Selama saya bisa membantu"
"ubah wajah saya seperti putri anda, saya akan menjadi putri anda dan membalaskan luka yang telah kami simpan selama ini"
Daffa menangis kencang saat putrinya pergi, ia mendapat putri pengganti "saya akan membantumu, sekarang kamu bisa panggil saya ayah"
"A... Ayah" Daffa mendekap tubuh Naya, ia merasa Naya bisa menjadi sosok baru dengan wajah putrinya.
Setelah operasi selesai, putri Daffa sebenarnya memiliki gang rahasia...dimana anggotanya adalah Friska, Sasa, dan Delvina.
Mereka telah mengetahui jika ratu mereka telah pergi dan digantikan oleh sosok Naya baru.
Mereka berlatih sempurna dengan ditemani Daffa sebagai pengawasnya, tak lupa mereka telah mengumpulkan banyak bukti.
Latihan selama itu membuat mereka ditakuti banyak gang lainnya, karena mereka seorang gadis namun bisa melumpuhkan seekor singa. Oleh itu mereka amat disegani dan banyak yang tak tau identitas tersembunyi milik mereka berempat.
"lo Queen kita sekarang dan kita janji bakalan jagain lo dengan nyawa kita" Sasa memegang tangan Naya.
"kita jaga bersama, jangan ada yang korbanin nyawa demi gue" sahut Naya, mereka tersenyum kemudian memeluk Naya.
"kita satu dan selamanya satu, gugur bukan runtuh tapi pertumbuhan yang akan menjadi seribu prajurit perang" sentak mereka berempat
Flashback off
***
" kenapa kamu tidak langsung menemuiku, hm?" Ezza memeluk Naya dari belakang, bahkan laki laki itu selalu mengecup kepala Naya.
"apa kamu lihat pemakaman itu?"
"aku selalu datang setiap minggu bersama ayah, karena itu kuburan putrinya"
"apa kamu tau, aku hampir gila kehilanganmu..."
"aku tau" Naya mengusap tangan Ezza dengan lembut.
"apa kamu bunuh diri waktu itu?"
"aku tak pernah melakukan hal bodoh, mereka penyebabnya..." tatapan Naya berubah datar dan kosong.
"maafkan aku tak bisa menolongmu...." lirih Ezza.
"bukan salahmu, ini adalah takdir. Aku sudah berjanji akan membalas setiap luka ku"
"lalu Kenapa anak dokter Daffa bisa bunuh diri?"
"kasusnya hampir sama denganku, namun ia lebih parah" sahut Naya saat tau tentang bukti kematian putrinya Daffa.
__ADS_1
"lalu apa rencanamu, aku akan membantu baby"
Naya langsung menghadap Ezza, ia menangkap wajah Ezza dengan tangan kecilnya.
"biarkan aku jalankan semua misi ini bersama mereka, jika memerlukan bantuan aku akan menghubungimu"
Ezza menatapnya dengan sayu "aku gak mau kamu terluka"
"percaya sama aku ya!"
Ezza menghempaskan nafasnya dengan kasar, ia tak bisa menentang kehendak gadisnya.
"baiklah, aku baru tau kau selalu memakai kalung pemberian ku"
"karena dengan memakainya, aku bisa merasa dekat denganmu" ungkap Naya membuat Ezza merasa gemas dan mencium seluruh wajah Naya tanpa terkecuali.
***
"gimana lo dapat informasi gak?" tanya Naya pada Davina yang saat ini mengutak atik komputernya.
"dapat Queen, tapi bakalan susah banget nyusul kesana. Keamanan mereka ketat banget" sahut Davina.
"terus gimana?" kini Sasa bersuara.
"gak ada pilihan lain" Friska menatap Naya, membuat kedua temannya juga ikut menatap kearahnya.
"ngapain lo pada liatin gue" tanya Naya mulai curiga.
"lo harus nyamar Nay, demi membongkar isi tempat itu. Cuma lo yang ahli nyamar" Friska memberi ide.
"kalo gue nyamar, terus sekolah gimana?"
"gampang Nay, semua itu bakalan jadi urusan kita... Lo tingga persiapan diri aja buat penyamaran agar bisa masuk tempat itu" Caca bersuara.
"iya gue tau, tapi langkah awalnya gue harus apa?"
"daketin pak Raivan, gue denger tu guru juga anggota tempat dan juga orang terpercaya mereka. Gak salahnya lo deketin dia dan manfaatin keadaan" Davina memperlihatkan informasi data Raivan pada gengnya.
"gue baru tau dia anggota mereka dan wah nya lagi banyak kasus asusilah yang telah dia perbuat... Sungguh bajingan sejati" Naya tersenyum miring.
Mereka meletakkan foto Raivan, dan empat orang lainnya serta foto tempat yang mereka incar.
"gue gak tau kalo putri ayah Daffa ada sangkut pautnya sama perusahaan ini"
"gue juga gak nyangka, apa yang mereka sembunyin ditempat itu sampai keamanannya ketat banget" Friska menatap foto bangunan yang menjadi sejarah tempat kematian ratu pertama mereka.
"kita harus cepat cepat bertindak sebelum ada korban lainnya" ucap Naya.
__ADS_1
"gue bakalan terus pantau lo dari jauh, kita juga udah siapin segalanya agar lo menangin kepercayaan Raivan" Davina menyerahkan Flasdisk dan alat pelacak serta set ar agar bisa menyalin semua berkas yang Naya dapat nanti.
"gue menanti permainan ini"