
Dikamar yang megah dengan korden yang belum terbuka, seorang perempuan masih meringkuk dibalik selimutnya yang tebal.
"baby....wake up" Ezza membangunkan perempuan kecil kesayangannya.
"eughh..." lenguh Naya, ia hanya bergerak sedikit tanpa membuka mata.
"bangun baby, You don't want to meet your mom" tanya Ezza dengan suara lembutnya, berhasil membuat Naya membuka kedua kelopak matanya.
"I really want to, but scared" lirihnya dengan tatapan sendu.
"apa yang membuatmu takut hm? Bukankah lebih menakutkan jika kamu tak ingin menemuinya?"
Naya duduk menghadap Ezza "apa bunda masih mau menerimaku?"
"gak ada yang namanya orang tua menolak anak mereka, jika adalah mereka adalah paling hina. Tuhan menitipkan harta tapi mereka buang gitu aja, sama aja mereka gak bersyukur sama kehadiran yang begitu mulia"
"tapi.....dengan hadirnya kamu bikin ayah kamu menyayangimu lebih dari hidupnya, sekarang kamu juga mendapat ayah yang menyayangimu sampai perjalanan dari misi kamu berakhir"
Naya mengangguk mendekatkan dirinya, ia memeluk Ezza dengan erat.
"a- aku rindu bunda" cicitnya dengan suara yang kecil.
Ezza tertawa gemas "baiklah, sepertinya bundamu juga merindukan putrinya"
"benarkah?"
"hmm, sekarang bergegaslah mandi dan berpakaian yang cantik. Paham baby girl"
"siap paham kapten" jawab Naya sambil tersenyum.
Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Ezza mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Devan.
"siapkan mobil, aku akan pergi" titahnya pada Devan.
"baik tuan"
Setelah selesai mandi Naya bersiap dengan pakaian santai, dres putih dengan lengan panjang.
Dress cantik nampak pas pada tubuh Naya yang Mungil.
"sudah siap baby"
"heem" Naya menghampiri Ezza, mereka berdua sama sama keluar dari mansion dan masuk Kedalam mobil mewah milik kekasihnya.
***
Seorang wanita paru baya duduk Disebuah ayunan belakang rumah sambil memegang bingkai foto dan boneka.
Wanita itu melamun dengan pandangan kosong, wajah yang pucat dan badan yang sangat kurus.
"bunda kangen sama kamu nak" lirihnya, ya Sekar mengalami depresi berat saat melihat kematian Naya.
Rasa bersalah menggerogotinya setiap saat, membuat ia selalu berteriak histeris dan menjerit.
"anak bunda yang manis, pasti takut ya. Tapikan disana Naya bareng ayah, kapan ajak bunda" ia menangis memeluk foto putrinya.
__ADS_1
Naya yang melihat keadaan Sekar menutup mulutnya tak percaya, apa ini? Bukankah anggi bilang ibunya hidup bahagia?
Lantas apa ini?
"Anggi membodohimu baby, dengan membuat fokusmu pecah menyebarkan bahwa ibu hidup bahagia. Padahal dalam satu tahun belakangan ibumu mengalami depresi, aku juga mengutus perawat untuk selalu memantau keadaannya" jelas Ezza.
"ke-kenapa kamu sembunyikan semua ini dariku?" tanya Naya menatap Ezza.
"karena belum waktunya, fokusmu saat itu adalah balas dendam. Aku mengamankan ibumu, jika mereka tau kamu dekat dengan ibumu. Bisa besar kemungkinan ibumu akan menjadi kelemahanmu"
Naya paham sekarang! Demi kebaikan ibunya, mereka harus menyembunyikannya.
Banyak musuh diluar sana yang masih mengincar nyawa Naya dan para orang terdekatnya, bisa saja mereka menargetkan ibunya sebagai kelemahan dirinya.
"majulah, sapa dia. Aku menunggu diluar" ujar Ezza menepuk kepala Naya dan pergi.
Naya menghampiri Sekar dengan perlahan "bu-bunda" panggil Naya.
Sekar menoleh, ia mendapati seorang gadis yang tak ia kenali sama sekali.
"cari siapa nak" ujar Sekar lembut menghampiri Naya.
Naya menangis, ibunya tak mengenali dirinya karena wajah Naya telah berubah.
"bundaaaa, hisk"
Naya semakin menunduk menangis dalam pilu, bolehkah ia memeluk wanita yang telah melahirkannya ini.
Walau dimasa lalu Sekar suka menyiksanya tapi tak meninggalkan kebencian pada hati Naya.
"kenapa nangis nak, kemari sayang" Sekar memeluk Naya dengan lembut hatinya berdesir hebat saat memeluk Naya.
"ini Naya bunda" ujar Naya dalam pelukannya Sekar.
Sekar melonggarkan pelukannya menatap lekat mata Naya, seolah mencari kebohongan disana namun tak ditemukan...
"ini anak putri bunda...naya kangen bunda" ucapnya.
"gak gak gak... Gak mungkin kamu putri saya, bagaimana mungkin?"
"Naya jelasin ya bun" Naya menceritakan seluruh rentetan kejadian pasca ia dinyatakan meninggal dunia sampai ia membalaskan dendam pada orang orang jahat itu.
Sekar menangis, ia memeluk Naya dengan erat "maaf sayang.. Maafin bunda. Hisk"
"Naya yang harusnya minta maaf udah ninggalin bunda sendirian"
"enggak sayang kamu gak salah nak, bunda yang salah maafin bunda" Sekar mencium seluruh wajah Naya dengan bahagia.
"jangan tinggalin bunda lagi ya sayang. Hisk" tangis Sekar semakin menjadi, ia mencium tangan Naya saking rindu pada putrinya.
"gak akan bunda, Naya bakalan jagain bunda" Naya menghapus air mata Sekar dan mencium kening wanita paru baya didepannya.
Ezza yang melihat dari kejauhan tersenyum bahagia "kehangatan yang kami rindukan kembali baby"
"bahagialah sayang karena ini yang pantas kamu terima" senyumnya terus mengembang.
"tuan" panggil Devan.
__ADS_1
"Hm"
"semuanya telah siap"
"bagus, kita berangkat sekarang"
Sebelum meninggalkan Naya, Ezza lebih dahulu berpamitan pada Naya karena ada urusan mendesak.
...***...
Ruangan yang begitu sempit serta gelap gulita, terdapat tiga gadis yang terikat.
Tangan mereka diikat diatas kepala membuat mereka terpaksa berdiri selama berjam jam.
Mereka takut pada ruangan ini, tampak menyeramkan.
"sialan, siapa yang berani culik gue" Maki Chika.
"gak cuma lo bego, kita juga" jelita menyahur ucapan Chika.
"ck, berani bnget tu orang culik kita"
Pintu mulai terbuka menampakkan Ezza dan sekelompok pria pria berbadan besar.
"E-Ezza" ucap Chika.
"jangan memanggil nama saya, wanita sepertimu tak pantas memanggil saya dengan nama" sarkas Ezza, tatapan matanya begitu tajam tersirat kebencian dan permusuhan.
"lo yang culik kita bertiga" tanya Chika.
"no... Saya tidak menculik, saya hanya membawa anda melihat tempat yang lebih indah dari neraka" seringaian muncul disudut bibir Ezza.
"m-maksud lo apa sialan"
Plak
Ezza dengan keras menampar wajah Chika hingga sudut bibir gadis itu robek dan berdarah.
"tutup mulut sampah anda, jika tidak ingin terbunuh ditempat ini dan menjadi santapan tikus"
Tubuh Chika bergetar, ia tak menyangka jika Ezza memiliki sisi yang mengerikan seperti sekarang.
"ohhhhh saya lupa, ini hadiah untuk kalian bertiga" menunjuk dua puluh orang laki laki dibelakangnya.
"lakukan tugas kalian, tapi ingat jangan buat mereka mati walau mereka yang memintanya" perintah Ezza.
Dua puluh orang pria itu mulai mendekati Jelyta , Indira dan Chika.
"apa apaan lo, kenapa mereka deketin kita hah!" bentak Jelyta.
Ezza terkekeh "kalian akan merasakan yang namanya pesta didalam neraka, namun tak ada kematian. Karena kematian terlalu sempurna untuk kalian yang kotor, ahhh penderita seumur hidup sepertinya menyenangkan" Ezza langsung keluar dari tempat itu.
Ketiga gadis itu menjerit, malam ini detik ini mereka merasakan kehancuran Naya dahulu...penderitaanya dan sesuai ucapan sebelum kematiannya.
..." nikmatilah sebelum aku yang menikmati kematian kalian dengan cara yang sama"...
Sungguh menyakitkan, jeritan mereka tak terdengar sama sekali saat dijadikan budak nafsu.
__ADS_1
Inilah yang dinamakan hukum karma yang tak akan salah jatuh tempatnya.