GORESAN LUKA

GORESAN LUKA
5. Taruhan


__ADS_3

Dengan langkah gontai Naya memasuki rumahnya, dengan keadaan yang amat memprihatinkan.


Seragam yang robek serta noda kotoran tanah menyapu hoodie putih miliknya.


"assalamualaikum" salam Naya.


Sekar tak menjawab salam Naya, ia hanya sibuk membaca majalah ditangannya tanpa menoleh sedikit pun.


"jangan lupa bersihkan rumah dan memasak" titah Sekar, membuat Naya hanya diam menatap ibundanya.


"Naya sakit bun, boleh Naya istirahat beresin rumah hari ini" ucap Naya pelan, menatap memelaa pada Sekar.


Mendengar penolakan Naya membuat Sekar emosi seketika muncul "aku tidak peduli dengan sakitmu, kerjakan atau kamu bunda hukum" Ancam Sekar.


"tapi sungguh bunda, badan Naya sakit semua"


Pranggg


Asbak terbuat dari kaca melayang kekepala Naya hingga pecah, Sekar mendekat setelah melempar barang itu dengan kuat.


"jangan membangkang, anak tidak tau diri" hadrik Sekar kemudian menjambak Naya dan menyeretnya menuju wastafel.


Kepala Naya ditenggelamkan pada wastafel penuh air berulang kali hingga lemas.


Sampai air didalam tempat itu berubah menjadi merah darah, akibat luka baru Naya.


"bagaimana hah!" Sekar tersenyum iblis melihat keadaan anaknya yang hampir mati.


"sakitnya sudah hilangkan, berati tidak ada alasan untuk kamu membantah semua perintahku. Paham!"


Naya yang kelewatan lemas hanya bisa mengangguk patuh, dengan kasar Sekar melepaskan jambakannya.


"bersihkan semuanya, aku tidak sudi setetes darah kotor mu menetes di rumah ku" Sekar meninggalkan Naya yang sudah tergeletak dilantai.


"ayah...Naya bosen" lirihnya sambil menutup mata, menahan nyeri yang memecah kepalanya .


...***...


Dama menunggu Naya dengan kesal, ia berulang kali mengirim pesan pada gadis itu namun tak ada balasan sama sekali.


"bangsat, dimana tu cewe sialan" maki Dama.


Ditengah kekesalannya, seorang gadis yang tak lain adalah Naya menghampirinya dengan nafas tersegal segal.


"m-maaf Dam, tadi handphone aku lowbatt makanya gak bisa balas" ungkap Naya.


Dengan kasar Dama mendorong Naya hingga terjatuh "dasar murahan, lo bikin gue nunggu lama setan"


"maaf Dam, aku bukan sengaja buat gitu"


"gue gak nerima alasan dari mulut kotor lo itu"


"tapi Dam, kamu gak bisa giniin aku terus. Aku juga cape kamu kasarin"


"gue gak peduli, cewe setan kayak lo gak berhak dibaikin. Lo lebih pantas hidup menderita terus mati" hadrik Dama tanpa memikirkan kehancuran hati Naya saat mendengar semua ucapan yang ia lontarkan.


"Dam,,, jangan gitu ya. Aku gak suka liat kamu kasar gini" Naya mengusap lembut tangan Dama agar cowo itu bisa tenang.


Namun diluar perkiraan Dama malah menghempaskan tangan Naya dengan kasar "jangan sentuh gue, njing" bentak Dama.


Seketika Naya terlonjak kaget saat mendengar bentakan Dama yang begitu nyaring.

__ADS_1


Dengan kasar Dama menyeret Naya menuju mobilnya "ikut gue"


"kita mau kemana Dam, aku mau pulang takut bunda marah"


"gue gak peduli, yang harus lo lakuin adalah ikutin semua perintah gue"


"tapi kami mau bawa aku kemana Dam"


"sirkuit"


"Nagapain?" tanya Naya heran.


"lo jadi taruhannya"


...***...


Setelah sampai diarena balap, dengan kasar Dama mendorong Naya pada seorang laki laki dengan wajah bak dewa Yunani.


"dia taruhan gue malam ini, terserah mau lo apain"


Laki laki itu menatap Naya "cantik, lo serius jadiin dia taruhan"


"cantik tapi busuk, gue gak sudi sama cewe kotor kayak dia" menunjuk Naya yang menunduk meremas roknya.


"oke, deal" ucap laki laki itu.


Semua teman temannya menatap bingung pada laki laki itu, jarang sekali ia menerima tawaran dengan taruhan seorang gadis lugu.


"lo serius?"


"hm" jawab laki laki itu saat temannya bertanya.


Sampai sebuah teriakan menandakan pemenang dari balapan yang dilakukan.


"lo kalah lagi, semuanya bisa lo ambil kecuali cewe itu" menunjuk Naya.


"gue gak butuh tu cewe, ambil aja kalo lo mau" ucap Dama dengan mata berbinar saat melihat uang puluhan juta dihadapannya.


"serakah" gumam laki laki itu pelan kemudian menuju tempat Naya.


Ia berjongkok melepaskan ikatan pada gadis itu "lo milik gue sekarang"


"aku bukan milik kamu"


"gak ada penolakan, karena lo udah dijadiin taruhan sama pacar brengsek lo itu"


"gak... Gak mungkin Dama tega gitu" elak Naya.


"buktinya dia lebih milik uang dari pada lo yang berstatus cewenya" menatap Remeh pada Naya.


"tapi sama aja, aku bukan milik kamu"


"Mine dan itu buat selamanya" bisik laki laki itu tepat didepan wajah Naya, membuat gadis itu menahan nafasnya.


"aku gak kenal kamu dan aku gak mau jadi milik siapa pun"


"gue Allteza Cakra Adelardo, panggil gue Eza. Dan soal penolakan lo gak di terima" ucap Eza kemudian menggenggam tangan Naya dan membawanya menuju mobil miliknya.


"kamu mau bawa aku kemana"


"makan... Gue laper. Lagian lo juga laperkan?" terka Eza tepat sasaran, membuat Naya menunduk malu.

__ADS_1


Jujur saja seharian ini ia memang belum merasakan sebutir nasi pun, yang ia makan hanya siksaan dan pukulan.


"jangan nunduk, gue gak suka cewe gue nunduk"


Naya mengakat pandangannya bertepatan juga Eza menatap wajahnya dengan jarak dekat.


"lo cewe, angkat pandangan lo bukan nunduk saat orang menghina lo"


"kamu tau" tanya Naya.


"tau apa?" Eza berbalik bertanya.


"bukan apa apa" kilahnya kemudian mengalihkan pandangannya.


Eza membuka pintu mobil miliknya, membuat tubuh kecil Naya masuk dalam mobil sport itu.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang membelah kota malam yang dipancari lampu lampu indah.


"lo gak papakan gue ajak sate dipinggir jalan" tanya Eza menatap lurus jalan Raya.


"t-tapi aku gak punya uang buat beli makanan" ungkap Naya sambil memainkan jari jemarinya.


Eza tersenyum, mengambil tangan Naya untuk diletakkan diatas pahanya.


"lo cewe gue, gue yang bakalan jajanin lo"


Naya hanya diam menatap kearah Eza dengan tatapan heran.


"aku gak mau kamu baik tapi ujung ujungnya jahat, sama kayak Dama"


"itu dia, bukan gue. Gue gak bakalan jahat sama lo"


Tak lama mereka sampai dipedagang sate pinggir jalan, tempat itu sungguh rame.


"serius kita makan disini" tanya Naya dengan wajah berbinar.


"hmm, ayo..." menarik tangan Naya menuju meja kosong.


"mau pedes atau enggak" tanya Eza.


"biasa aja, aku gak tahan pedas"


Eza langsung meninggalkan Naya menuju pedagang satu, saat sudah mendengarkan pesanan yang diberikan Naya.


"mang... Satenya tiga porsi. Dua gak pedas, satu pedas ya mang"


"ehhh den Eza, bareng siapa den"


"doi mang, ingat ya mang pesenan Eza. Sama teh anget"


"siap den"


Eza kembali kekursinya dengan membawa pesanan mereka.


...***...


"bagaimana hasilnya"


"beres, tuan"


"sapu bersih, tanpa jejak"

__ADS_1


__ADS_2