GORESAN LUKA

GORESAN LUKA
18. Ketahuan


__ADS_3

Dikantin terdapat empat gadis yang sedang asik memakan makanan mereka sejak tadi.


"Kenyang..." Ucap Sasa sambil bersendawa.


"jorok banget sih lo Sa" pekik Naya menatap heran pada Sasa yang tak pernah ada malunya.


"gue heran tampangan Sasa bisa jadi tameng geng kita, kadang gue suka ragu tapi susah.." celetuk Friska menatap Sasa.


"kelakuan doang gak berakhlak tapi dia paling sering maju ngadepin serangan" Davina bersuara sambil menyeruput pop ice taro kesukaannya.


"kenapa sih lo pada nistain gue mulu" Sasa cemberut menatap teman temannya.


Ketiga sahabatnya langsung tertawa melihat tingkah lucu Sasa saat sedang marah pada mereka.


Sampai dua orang laki laki duduk dibangku mereka secara tiba tiba.


"kening lo udah sembuh" suara berat itu menatap Naya dengan dalam.


"lumayan" sahut Naya sangat acuh.


"geseran....gue mau duduk disamping ni cewe" dengan santai Evans langsung duduk disamping Sasa dengan senyuman khas buaya yang ia tebarkan.


"gila lo? Senyam senyum sendiri" Sasa dengan Nada ketus melotot balik pada Evans.


"iya gue gila karena kecantikan lo"


"idihhhh copas buaya mana tu omongan yang udah kesekian puluh kali lo ucapin kesemua cewe" bukan tersipu bahkan tersanjung, Sasa malahan mentapan geli pada laki laki itu.


Tanpa peduli pertengkaran kedua manusia itu, Ezza menatap kening Naya yang masih tertempel plester dikeningnya.


"lain kali hati hati, jangan ceroboh" bisik Ezza tepat ditelinga Naya, gadis itu menautkan alisnya sebagai pertanda bingung.


"tanpa lo kasih tau, gue gak akan ceroboh lagi"


"dan lo gak akan bisa bersembunyi dari gue..... - -" bisikan terakhir Ezza membuat Naya kaget sekaligus meremas roknya.


"gak usah remas rok lo kalo ketakutan tapi-" Ezza mengambil tangan Naya dan membentuknya dengan kepalan "lawan" lanjutnya.


"ini barang lo yang jatuh" menyerahkan sebuah barang, pandangan Naya langsung berubah saat menatapnya.


***


Kembali kesebuah gudang, keempat gadis itu sudah mengurung Ketiga pria brengsek selama satu minggu tanpa makan dan minum.


Tubuh mereka tampak pucat pasi, tenaga mereka seolah dikuras selama satu minggu ini, namun keempat gadis itu masih berbaik hati memberikan beberapa roti agar bisa mereka makan.


Setelah keadaan kembali normal, ketiga pria itu kembali diikat pada sebuah tiang dan kembali Naya bermain kasti tapi dengan menggunakan tongkat baseball yang sudah dihiasi paku.

__ADS_1


"lempar" teriak Naya.


Sasa memasukkan bola pada mesin agar bisa menembak bola kearah Naya, empat pukalan berhasil dengan mulus


"Nice Queen" Friska mengacungkan jempolnya.


"lemparan terakhir Queen... Kalo kalah lo traktir kita" ucap Davina.


Naya tersenyum miring "oke,, gue setuju"


Sasa menekan tombol agar tembakan bola lebih kencang dan cepat "Ready... Three... Two.... One.... GOOOOO" teriak Sasa.


Syungggg


BUGH


Apakah kalian pikir pukulan Naya berhasil, oh tentu tidak. Dengan sengaja Naya meloloskan tembakan bola kasti hingga mengenai alat vital Arlan.


"AGRHHHHH" jerit Arlan saat benda pusaka itu seperti terasa hancur, hingga air kencing dan dara keluar begitu saja melalui sela kaki Arlan.


Liam dan Dama sudah mematung tanpa suara, mereka sudah was was dan merasa ketakutan.


"uppsss....gue sengaja" Naya terkekeh kemudian menghadap Dama sambil menodongkan baseball tepat didepan wajah Dama.


"berapa banyak uang yang udah lo hasilin dari ngerusak semua cewek?" tanya Naya, tatapan gadis itu sangat datar seperti tak melakukan apapun.


"apa maksud lo?" Dama mulai gugup keningnya sudah berkeringat dingin.


"lo juga pendosa sialan" umpat Dama, Naya tersenyum sambil menggangguk anggukan kepalanya.


"karena gue pendosa, gue gak percaya sama manusia seperti lo yang sifat lo aja udah melebihi setan" sahut Naya santai.


"malu dong lo... Di ketawain tuh sama setan" lanjut Naya.


"Anj- liat aja lo, kalo gue berhasil keluar. Bakalan gue laporin lo ke polisi" emosi laki laki itu sudah mencapai batasnya.


"aduin aja...gue gak pernah takut"


Naya mendekat kemudian menepuk bahu Dama seolah ada kotoran disana "tapi... Sebelum lo keluar dari sini, gue pastiin kaki lo bakalan ilang saat itu juga" Naya berbicara pelan tepat didepan wajah Dama.


"berani banget ancem Queen, gak tau apa kalo Queen marah serem" Davina menggelngkan kepalanya melihat tindakan ketuanya yang sangat sadis, tapi mereka bertempat juga sama.


***


Setelah pulang sekolah Ezza langsung mengganti pakaiannya menggunakan jas kantoran.


"sayang" paling seorang wanita parubaya yang tak lain adalah ibunda tercinta.

__ADS_1


"mom" Ezza tersenyum, ia langsung memeluk Belvina dengan erat tak lupa juga mengecup keningnya.


"udah mau berangkat lagi"


"yes mom, kerjaan dikantor sangat banyak"


"apa kamu sudah tak sedih, son"


Ezza tersenyum kecut "aku masih sama mom tak ada yang berubah"


"kapan kamu bisa keluar dari masa itu son, mommy tak tahan melihat mu yang selalu menangis ditengah malam" lirih Belvina, ia mulai minitikan air matanya.


Ibu mana yang tega saat anak laki laki ya menangis ditengah malam sambil memegang bingkai foto kekasihnya, ia hanya bisa tidur menggunakan obat.


Ezza menghapus air mata Belvina dengan lembut "ayolah mom, jangan menangis... El gak suka liat mommy menangis"


"Bagaimana kalo kamu mommy jodohkan, mau" tanya Belvina, karena tak ada jalan lain selain ini.


"terserah mom, tapi jika aku tak suka jangan larang aku untuk membatalkannya" Belvina menggangguk setuju.


***


Seorang gadis bangun, kepalanya sangat terasa berat. Ia mengedarkan pandangannya, teman ini seperti tak asing baginya.


" you wake up, baby." suara bariton itu membuat Naya langsung menoleh kearahnya.


"lo gila" pekik Naya emosi, ia segera turun dari ranjang dan ingin pergi.


Namun laki laki itu menahannya "hey.... Kenapa kau marah" ia mengelus lembut pipi Naya dengan tatapan damba.


Naya langsung menepis tangan itu "untuk apa lo bawa gue"


"ahhhh ayolah baby, aku sudah bosan melihat kau bermain petak umpet tanpa sepengetahuan ku" langsung saja laki laki itu melingkarkan tangannya dipinggang Naya, memeluk erat perempuan yang ada didepannya.


"lepasin gue..."


"no baby, kau harus bersama ku selama satu harian ini"


"ogahh...lepasin gue"


"aku tak akan melepaskanmu, apa kau tak takut jika semua orang tau siapa kamu" ia mengecup pipi Naya dengan lembut dan penuh hati hati.


Naya mematung "jangan pergi lagi sayang, aku serasa gila merindukanmu" wajah laki laki itu disembunyikan diceruk leher Naya.


Naya baru sadar jika kamar ini dipenuhi figura seorang gadis, sangat penuh seperti galeri foto.


"gue bukan Naya yang dulu, yang dulu udah mati"

__ADS_1


"jangan tinggalkan aku, aku mohon... Hisk" laki laki itu menangis memeluk erat Naya seakan takut ditinggalkan oleh gadisnya.


"aku mencintaimu Ezza" ucap Naya sudah runtuh saat melihat laki laki ini memeluknya begitu rapuh.


__ADS_2