
Dokter tengah mengobati tangan Ayrin, Beberapa pecahan gelas yang melukai telapak tangan Ayrin sudah di ambil, Rey dengan setia berdiri di samping Ayrin, Sedangkan anak-anak menunggu di luar ruangan.
Ayrin tak merasakan sakit sedikit pun saat dokter mencabut pecahan gelas yang menancap di telapak tangan nya, Fikiran Ayrin masih melayang memikirkan perasaan Albiyan, Apakah Albiyan baik-baik saja Ayrin takut Albiyan akan semakin menjauh dari nya.
Selesai dengan rangkaian pengobatan Rey dan Ayrin keluar dari ruang UGD, Setelah mendapat obat mereka semua pulang ke rumah, Sampai di rumah Rey langsung membawa Ayrin ke kamar untuk beristirahat dan meminta anak-anak untuk istirahat juga.
Rey meninggalkan Ayrin sebentar untuk membuatkan anak-anak susu dan memberikan nya kepada anak-anak, Setelah itu ia kembali ke kamar membawakan Ayrin teh hijau untuk sedikit menangkan fikiran nya.
"Mereka tidak tau apa-apa tentang Albiyan lalu kenapa mereka bisa berkata seperti itu Rey" Ayrin bertanya dengan menyenderkan kepalanya di pundak Rey.
"Mereka akan mendapat balasan nya sayang" Jawab Rey menggenggam tangan Ayrin.
"Aku takut Albiyan akan semakin menjauh dari ku" Ya Selama ini Ayrin tau jika Albiyan tidak pernah menganggap dirinya bagian dari keluarga nya, Ayrin tau Albiyan segan terhadapnya walau sudah berbagai cara Ayrin lakukan agar Albiyan tau Ayrin begitu menyayanginya dan menganggap Albiyan seperti anak kandung nya sendiri.
"Tidak sayang, Albiyan tidak akan menjauh darimu" Rey membawa Ayrin dalam pelukan nya.
"Selama ini dia sudah membuat jarak untuk kita, Aku takut setelah ini jarak itu akan semakin menjauh" Hati Ayrin seketika sakit saat mengingat Albiyan yang membuat jarak untuk nya.
"Tidak sayang tidak itu hanya perasaan mu saja" Ucap Rey menenangkan Ayrin dan memeluknya semakin erat.
"Tidak Rey, Aku tau selama ini Albiyan membuat jarak untuk kita, Albiyan selalu merasa segan dengan kita, Selama ini dia menganggap dirinya bukan bagian dari keluarga kita, Demi Tuhan aku begitu menyayanginya Rey, Albiyan anak ku aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi anak kandungku" Air mata Ayrin menetes setelah mengatakan itu, Hatinya seperti teriris perih.
Tanpa mereka sadari Albiyan berdiri di depan pintu kamar mereka yang tidak tertutup rapat dan mendengar semua ucapan Rey dan Ayrin, Tak di pungkiri hati Albiyan pun merasakan perih karena selama ini ia telah melakukan hal yang salah, Ia menyakiti Ayrin yang begitu menyayanginya.
Tadinya Albiyan hanya ingin melihat keadaan Ayrin namun ia urungkan saat mendengar percakapan Rey dan Ayrin, Albiyan kira jarak yang ia buat sudah benar tapi ternyata salah ia malah menyakiti Ayrin yang sudah dengan tulus menyayanginya.
Setelah mendengar ucapan Ayrin yang begitu tulus kepadanya Albiyan memutuskan akan merobohkan jarak yang ia buat selama ini, Ia tidak akan segan lagi terhadap Ayrin dan Rey, Mulai saat ini Albiyan benar-benar akan menganggap dirinya adalah bagian dari keluarga ini, Setelah itu Albiyan kembali ke kamar nya dengan perasaan lega seolah semua beban dalam hatinya sudah hilang.
__ADS_1
"Semoga saja setelah ini Albiyan sadar jika kita benar-benar menyayangi nya dengan tulus" Ucap Rey penuh harapan mengakhiri pembicaraan malam itu.
•
•
•
•
Tak terasa hari-hari cepat berlalu liburan sekolah telah tiba, Albiyan dan Rey tengah bersiap untuk berangkat ke Rusia menemui Chaterine ibu kandung Albiyan, Ayrin sedari pagi tidak mau jauh-jauh dari Albiyan ia takut jika hari ini adalah hari terakhir ia bertemu Albiyan padahal Albiyan sudah meyakinkan nya jika ia akan kembali namun tetap saja Ayrin merasa takut.
"Sayang aku dan Albiyan akan pergi sekarang, Kau berhati-hati lah di rumah, Ingat jangan memikirkan tentang Albiyan yakinlah padanya oke" Pesan Rey pada Ayrin dan memeluk nya.
"Hemm berjanjilah kau akan membawa Albiyan kembali kepadaku"
"Mom Albiyan pergi dulu" Pamit Albiyan memeluk Ayrin dan mencium kening Ayrin.
"Hati-hati ya sayang, Pulang ya Mommy tunggu di rumah" Pesan Ayrin pada Albiyan.
Albiyan mengganggukan kepalanya setelah itu ia pamit kepada Aarash Aaresh dan Aylen, SebelumnyA Albiyan juga sudah pamit kepada Tuan Arian dan Nyonya Puspa lewat sambungan telfon karena saat ini mereka sedang berada di Korea untuk liburan, Rey dan Albiyan berangkat dengan di antar Zayn ke bandara Rey sengaja tidak mengizinkan Ayrin dan anak-anak untuk mengantarkan nya ke bandara karena takut terjadi sesuatu dengan Ayrin.
Mereka sudah sampai di bandara, Zayn menurunkan koper di bantu Albiyan, "Zayn selama aku pergi tambahkan beberapa orang untuk menjaga rumah dan pastikan anak buahmu selalu berada di sekeliling anak dan istriku" Pesan Rey pada Zayn saat ini mereka sudah masuk di ruang tunggu.
"Baik Tuan" Jawab Zayn sembari menundukan kepalanya hormat.
"Uncle Albiyan pergi dulu ya" Pamit Albiyan mencium punggung tangan Zayn.
__ADS_1
"Iya,, Hati-hati dan kembalilah Uncle menunggumu" Ucap Zayn memeluk Albiyan, Setelah itu Rey dan Albiyan terbang menggunakan pesawat pribadi milik keluarga mereka.
Di rumah Ayrin tampak gelisah, Aylen mendekati Ayrin "Mom" Panggil Aylen menepuk pundak Ayrin pelan.
"Ya sayang" Jawab Ayrin dengan senyuman.
"Mommy memikirkan kak Albiyan" Tanya Aylen dan di angguki Ayrin.
"Jangan khawatir Mom kakak pasti kembali" Ucap Aylen membuat Ayrin tersenyum., Ayrin bersyukur memiliki anak-anak yang mengerti dirinya.
"Ya sayang semoga saja kakak mu kembali" Setelah itu mereka berpelukan.
Aarash dan Aaresh berada di dalam kamar Albiyan mereka berdua tidur di atas ranjang Albiyan, Sesekali berbalas pesan di grup yang membahas kepergian Albiyan, Baru beberapa jam Albiyan pergi mereka sudah merindukan Albiyan bagaimanapun selama ini mereka tidak pernah berpisah seperti ini.
"Kak bagaimana jika Albiyan tidak kembali lagi?" Tanya Aaresh menatap langit-langit kamar Albiyan.
"Kita jemput dia dan bawa dia pulang" Jawab Aarash santai.
"Benar juga, Kita culik saja terus kita bawa pulang" Mereka tertawa bersama dengan ide-ide konyol mereka.
Setelah menempuh perjalanan berjam-ham yang cukup melelahkan Rey dan Albiyan sampai di Rusia, Rey dan Albiyan memutuskan menginap di salah satu hotel tekenal di negara itu sebelum melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah Chaterine karena mereka tiba pada saat larut malam.
Pagi hari Rey dan Albiyan berangkat menuju rumah Chaterine, Selama perjalanan jantung Albiyan berdetak dengan cepat membayangkan ia akan bertemu Ibu kandung nya untuk yang pertama kalinya setelah ia dewasa.
Jantung Albiyan semakin berdetak kencang dan keringat dingin mulai membasahi tangan nya saat Rey mengatakan jika mereka sudah sampai, Mereka turun dari mobil kaki Albiyan seperti mati rasa tidak bisa di gerakan saat melihat wanita yang telah membuangnya dulu tengah duduk bersantai dengan suami dan anak nya, Mereka terlihat bahagia tampak nya mereka sudah benar-benar melupakan Daniel anak yang sudah ia buang dahulu.
"Ma.." Panggil Albiyan yang sudah berada di dekat Chaterine.
__ADS_1
Mendengar suara seseorang memanggilnya Chaterine berbalik dan terkejut melihat Rey dan satu anak laki-laki berdiri di samping Rey dan anak itu adalah Daniel anak nya.