
Naya tak berani menemui siapapun, ketakutannya semakin besar, suara laki laki bejat itu terus mengiang di telinganya.
Hingga selalu membuat ia menjerit sambil menutup kedua telinganya "ENYAHHHHLAHHHHH....ENYAAHHHHH" teriaknya.
Tanpa sadar ia juga membentur kan kepalanya ketembok hingga darah mengalir diantara pelipisnya.
Seorang suster membuka pintu rawat Naya dan dibuat kaget dengan keadaan kamar rawat yang berantakan, ditambah Naya yang terus meringkuk memeluk lututnya.
"N-nona" panggil suster itu mendekati Naya dengan pelan agar gadis didepannya tak merasa takut.
Setelah dekat dengan cepat suster itu langsung memeluk tubuh Naya dengan hangat.
"mereka jahat, mereka keji....tubuh ini s-sudah ko-kotor" lirihnya dengan badan gemetar.
"nona tenang ya, disini aman"
"mereka juga bilang aman tapi selalu saja aman itu bagai neraka"
Tepukan dipunggung membuat gadis itu semakin tenang tanpa pemberontakan.
"shutttt.....nona tidur ya"
Tanpa sepengetahuan Naya, suster itu menyuntikan obat penenang. Sampai kesadaran Naya pun hilang, tak berselang lama para perawat datang untuk membantu membersihkan kamar rawat dan membaringkan tubuh Naya.
...***...
"gue denger sepupu lo itu dirawat" ucap Dama sambil menyebutkan asap nikotin keudara.
"hmm, biasa cewe kayak dia cuma ngerepotin doang" sahut Liam ditemani dua gadis seksi disamping kiri dan kanannya.
"emang tu cewe kenapa?"
"jual diri kali, katanya sih pendarahan"
"hebat banget ade lo jualannya, ampe mampus pun tetap mau aja disikat" Dama terkekeh, dengan mangapit nikotin disela jarinya.
"gue gak peduli, sekalipun dia mati. Terlalu jijik gue liat cewe munafik kayak dia"
"ahahhaha.....gak boleh gitu lo, gimana pun tu cewe tetap sepupu lo njir"
"cuihhh....ogah gue anggep dia sepupu, nyesel gue pernah baik ama tu cewe" wajah kesal Liam amat nampak, dengan rasa penuh benci ia selalu mengutuk Naya.
"kalo sepupu lo itu gue jadiin bisnis kita gimana" tanya Dama penuh dengan tipu musihat yang keji.
"maksud lo..." Liam mengangkat satu alisnya.
"kita jual aja tu cewe, udah rusak juga. Mending digunain, biar ngurangin dosa dia" saran Dama amat sangat licik, menjual seorang gadis polos tanpa perasaan.
"ide lo bagus juga" Liam tersenyum, menyetujui saran Dama.
"tapi kalo tu cewe hamil gimana"
"gampang, gue punya kenalan yang jual obat aborsi. Jadi kita bakalan ngasih tu obat, kalo dia sampe hamil" Sahut Liam dengan seringaian, sungguh gila ide kedua laki laki itu.
Padahal Liam dan Naya bersepupu, tapi dengan entengnya kehidupan seseorang ia jadikan mainan tanpa pemikiran.
"oke bro, kesepakan kita akan dimulai ketika tu cewe sembuh" Dama mengulurkan tangannya pada Liam.
"deal"
__ADS_1
"udahhh,,, gue mau check in, udah gak tahan" Liam berdiri dengan diikuti kedua wanita seksi.
"gila lo, dua cewe langsung angkut" Dama geleng geleng kepala melihat Liam yang tak pernah berhenti bermain dengan ******.
"ini yang dinamakan kenikmatan tiada duanya" sahut Liam dengan tawa yang keras.
"sinting lo"
"gak usah ngatain, lo sama aja bego"
"ahahahhaa, ya udah sono lo. Gue juga mau cari mangsa buat hangatin ranjang gue"
"cari yang seksi, biar puas lo" saran Liam.
"seksi mah biasa, cari yang pro biar semakin puas lo"
"ahahhaha anjir lo, sono pergi sebelum adik lo gak bisa berdiri"
Mereka berpisah begitu saja, setelah obrolan yang mereka lakukan.
...***...
Mata Naya mengerjap dengan pelan, menyesuaikan cahaya lampu. Selang oksigenpun masih setia berada dihidung Mungilnya.
Tangannya terasa hangat digenggam oleh tangan yang besar, tak ayal kepalanya pun dielus dengan lembut.
"enghhh..." lenguh Naya.
Ezza yang melihat kekasihnya sadarpun langsung mengambilkan air.
"minum" memyodorkan gelas berisi air minum.
"lama banget tidurnya, cape ya" ucap Ezza mengelus pucuk kepala Naya.
"kamu dari kapan disini"
"tadi kami tidur sampe sekarang" jawabnya mengambil tangan Naya untuk digenggam.
"kenapa gak pulang?"
"mau jagain pacar aku emang gak boleh"
"tapi aku takut kamu cape" raut wajah Naya berubah tak nyaman saat melihat pengorbanan yang dilakukan Ezza padahal mereka baru pacar.
"gak ada cape buat jagain kamu sayang" menyelipkan helaian rambut kebelakang telinga Naya.
"Za..." panggil Naya pelan.
"kenapa hm"
"boleh jalan jalan keluar, aku bosan didalam sini"
Ezza tersenyum kecil "mau kemini market gak? Beli ice cream" tawar Ezza membuat Naya menganggukan antusias.
Dengan gemas Ezza mencubit pipi chabby Naya " Gemes banget sih cewe gue"
Ezza mengambil sendal rumah sakit, tak lupa pula cardigan tebal yang ia belikan khusus untuk Naya.
"pake dulu sayang, biar kamu gak kedinginan" dengan penuh perhatian Ezza langsung memasangkan cardigan itu.
__ADS_1
Setelah beres, Ezza langsung mengambil tangan Naya untuk digenggam.
Mereka berjalan keluar rumah sakit menuju minimarket, dengan setelah Naya masih menggunakan pakaian rumah sakit yang ditutupi cardigan.
"duhhh..."
"kenapa" tanya Naya.
"dompet aku ketinggalan didalam, aku ambil bentar ya...."
"ya udah sana ambil"
"kamu tunggu disini jangan kemana mana"
"iya Za"
"beneran disini, jangan gerak... Kalo ada bahaya teriak ya"
"iya"
"ya udah aku Kedalam dulu"
Cuppp
Ezza mengecup singkat kening Naya dan langsung melenggang pergi, tentu saja Naya diam mematung merasakan kecupan hangat yang diberikan oleh Ezza.
Tak lama kepergian Ezza datanglah tiga gadis mendekati Naya yang tak lain adalah Chika, Jelita dan Indira.
"woww ada si cupu" ejek Chika sambil mencengkram dagu Naya.
Naya langsung menepis kasar tangan Chika "jangan sentuh aku"
"wahhhh si cupu dah berani ni ama lo" Jelita langsung menendangg tulang kering Naya hingga tersungkur ketanah.
Tak sampai disitu Indira langsung menjambak Naya dan membekap mulut gadis itu, membawanya pergi jauh dari kerumunan.
Brakkk
Tubuh Naya mereka dorong sampai membentur tembok, mereka membawa Naya digang sempit dan sunyi.
Chika mengambil kayu dan langsung memukulnya kepunggung Naya "AKHHHH...." jerit Naya, terasa tulangnya akan patah.
"ini balas buat lo yang berani nepis tangan gue dengan kasar"
Indira dan Jelita langsung memegang tangan Naya, membuat Chika leluasa mendongak an wajah gadis itu.
Ia memaksa Naya membuka mulutnya, mengguyur mulut Naya menggunakan air got hitam dan berbau.
Dengan cepat Chika menutup mulut Naya, gadis itu memberontak, menangis...mulutnya ingin memuntahkan semua isi perutnya.
"telan"
Naya mengeleng dengan keras "TELAN BEGO... GUE BILANG TELAN"
Dengan terpaksa Naya menelan ya dengan susah payah "AHAHHAHA HAHAHA......pinter lo" Chika tertawa puas melihat penderitaan Naya.
Indira dan Jelita melepas pegangannya, mereka langsung memukul, menendang, menampar bahkan mencakar Naya.
Mereka mengeroyok Naya bak samsak yang siap digunakan untuk latihan, jeritan histeris Naya seolah menjalin alunan paling merdu yang mereka dengar.
__ADS_1