
Hari-hari cepat berlalu sekarang Albiyan sudah mulai bersekolah di TK yang sama dengan Bubu dan Buba, Kini kesibukan Rey dan Ayrin bertambah karena mengurus empat anak tidak lah mudah, Rey dan Ayrin harus rela mengorbankan waktu untuk berdua.
Mereka harus pintar mencuri-curi waktu untuk bermesraan namun sering kali gagal seperti saat ini saat Rey hampir menuju puncak surgawi "Mommy Daddy" Teriak Bubu Buba dan Albiyan beserta gedoran pintu yang semakin keras.
"Sayang anak-anak datang" Ucap Ayrin dengan deru nafas yang memburu.
"Sebentar lagi sayang" Jawab Rey mempercepat gerakan yang sedang mereka lakukan.
"Mommy" Panggil mereka lagi kali ini dengan suara tangisan mereka.
"Iya sayang" Teriak Ayrin menyahuti panggilan anak-anak namun sia-sia saja anak-anak tidak akan mendengar karena kamar mereka kedap suara.
"Sayang anak-anak menangis" Sambung Ayrin lagi dengan mendorong tubuh Rey hingga penyatuan mereka terlepas.
"****" Umpat Rey mau tak mau ia harus melepaskas juniornya dan berlari menuju kamar mandi.
Ayrin memungut baju yang berceceran di lantai dan memakainya asal setelah itu ia membuka pintu yang sedari tadi tak berhenti di gedor, Begitu membuka pintu Ayrin langsung memeluk ketiga anak nya yang sudah berderai air mata karena terlalu lama menunggu Daddy dan Mommy nya yang ntah sedang apa mereka tak tau.
"Mommy" Rengek mereka bersamaan.
"Maaf sayang maaf Mommy lama," Sesal Ayrin masih dengan memeluk ketiga anak nya.
Tak lama kemudian Rey keluar dari kamar mandi, Ia melihat ketiga anak nya menangis dalam pelukan Mommy nya, Rey berjalan mendekati mereka dengan tampang kusutnya karena gagal mencapai pelepasan dan membawa Albiyan dalam gendongan pertamanya setelah itu menggendong Buba.
Ayrin menggendong Bubu mereka membawa anak-anak ke atas kasur, "Hei boy sudah jangan menangis nanti adik kalian bangun" Rayu Rey kepada anak-anak nya namun tak di huraukan.
"Suttts sayang dengarkan Mommy, Yang di katakan Daddy benar jika kalian terus menangis seperti ini maka adik kalian akan bangun dan ikut menangis juga" kali ini gantian Ayrin yang mencoba menenangkan anak-anak dan berhasil mereka berhenti menangis hanya tinggal isakan saja yang keluar dari mulut mereka.
"Sekarang katakan kepada Mommy kenapa kalian ke kamar Mommy, Bukankah tadi kalain sudah tidur?" Tanya Ayrin pelan, Sebelum Ayrin meninggalkan anak-anak Ayrin sudah memastikan jika mereka sudah tidur semua ntah mengapa tiba-tiba mereka bangun.
"Bubu mim..pi buruk jadi Bu..bu membangun..kan Buba dan Al..biyan" Bubu menjawab masih dengan isak tangis nya.
__ADS_1
"Apa tadi sebelum tidur Bubu sudah baca doa?" Ayrin bertanya sembari menghapus air mata Bubu, Rey pun melakukan hal yang sama kepada Buba dan Albiyan.
Bubu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban "Bubu lupa Mom" Ayrin tersenyum mengelus kepala anak nya.
"Lain kali sebelum tidur jangan lupa baca doa ya sayang agar tidak bermimpi buruk lagi" Anak-anak menganggukan kepalanya sebagai jawaban setelah itu Ayrin menciumi anak nya satu persatu.
"Jadi apa yang kalian inginkan sekarang? Kalian ingin tidur di sini atau kembali ke kamar kalian?" Kali ini Rey yang bertanya.
"Bolehlah kami tidur disini" Tanya Albiyan menatap Rey yang di angguki Bubu dan Buba.
"Tentu sayang" Jawab Rey yang langsung menciumi anak-anak nya.
Anak-anak bersorak senang karena mereka akan tidur bersama Daddy Mommy dan Aylen, Mereka seolah lupa jika sebelum nya mereka menangis histeris, Ayrin mencium pipi Rey dengan senyum jahilnya sebagai ganti karena Rey tidak berhasil melakukan pelepasan.
Hal itu tidak terjadi sekali dua kali selama mereka sudah memiliki anak namun sering , Tapi di balik itu semua Rey tak pernah mempermasalahkan hal itu karena anak-anak lebih penting ya walaupun setiap kali gagal ia akan merasakan sedikit pusing karena hasratnya tak tersalurkan.
"Kau harus sering bersabar sampai mereka dewasa nanti" ucap Rey pelan pada juniornya dan hal itu membuat Ayrin tertawa lepas, Mereka mengakhiri malam dengan mendengar cerita sebelum akhirnya mereka tidur nyenyak.
Pagi telah menyapa Rey dan Ayrin berbagi tugas untuk mengurus anak-anak, Ayrin mengurus Bubu Buba dan Albiyan mempersipkan kebutuhan mereka untuk sekolah sedangkan Rey mengurus Aylen.
Selesai dengan tugas mereka masing-masing mereka sarapan bersama dan setelah itu Rey dan anak-anak berangkat bekerja dan sekolah, Rey mengantar anak-anak sebelum berangkat bekerja dengan Zayn .
Sampai di kantor Rey menuju ruangannya, Di meja sudah bertumpuk berkas-berkas yang harus Rey periksa dan tandatangani, Belum selesai menandatangani berkas-berkas Rey mengambil ponselnya dan menghubungi istri tercintanya.
"Sedang apa, Aylen mana" Tanya Rey saat Ayrin baru menjawab sambungan telfonnya.
"Sedang memberi ASI, Aylen juga sedang meminum ASI" Jawab Ayrin di sebrang telfon.
"Apa pekerjaan mu sudah selesai sayang?"
"Belum...nanti saja aku kerjakan karena aku masih merindukanmu" Ucap Rey yang mana membuat Ayrin tersenyum walau Rey tidak bisa melihat senyum Ayrin.
__ADS_1
Saat Tuan nya sibuk berbicara lewat sambungan telfon dengan istrinya sedangkan Zayn sibuk dengan perasaan aneh yang ia rasakan setiap kali bertemu dengan Sella teman dari istri Tuannya.
Zayn selalu merasakan perasaan yang tak pernah ia rasakan kepada semua wanita namun saat dengan Sella Zayn merasakan perasaan aneh yang menghangatkan jiwanya, Seperti saat ia tak sengaja bertemu dan berbicara dengan Sella di ruang Divisi Produksi.
Dari kejauhan Zayn memperhatikan Sella yang tengah bersenda gurau dengan teman satu Tim nya, Zayn memperhatikan senyum Sella dan tanpa di duga ia ikut tersenyum, Zayn memegangi dadanya saat merasakan detak jantung nya yang tiba-tiba saja berdetak melihat senyum Sella.
Zayn segera menetralkan wajah untuk mengurangi degup jantungnya saat Sella menyadari keberadaan nya dan berjalan mendekat ke arah nya, "Maaf Tuan sedang apa Tuan disini" Tanya Sella baik-baik.
"Apa aku tidak boleh datang kesini" Jawab Zayn ketus yang mana membuat Sella ingin sekali memukul wajah laki-laki di depannya.
"Bukan begi....."
"Perusahaan membayarmu untuk bekerja bukan hanya untuk haha hihi saja" Ucap Zayn lebih ketus memotong ucapan Sella dan hal itu membuat Zayn merutuki mulutnya sendiri yang berbicara seketus itu hanya untuk menyembunyikan kegugupan nya di depan Sella.
Sella yang mendengar ucapan Zayn setengah mati menahan tangannya agar tidak melayang di wajah orang terpenting ke dua di Perusahaan tempat ia bekerja.
"Ini berkas yang sudah di tandatangani, Segera selesaikan produksinya" Zayn menyerahkan berkas yang ada di tangannya kepada Sella setelah itu ia pergi tanpa pamit.
"Apa dia bilang hanya haha hihi saja, Lalu selama ini kerja keras kita di anggap apa" Ucap Sella bertelak pinggang setelah Zayn pergi.
"Sudah Sel jangan marah-marah terus sama si lidah tajam itu nanti jadi cinta loh" Jawab salah satu teman satu Tim Sella yang memang sudah tak heran dengan sikap Zayn yang selalu pedas jika berbicara.
"Hah apa Cinta, Lebih baik jomblo seumur hidup dari pada harus cinta sama dia, dih amit-amit" Tolak Sella dengan mengetuk kan tangan dari kepalanya ke meja kerjanya.
"Awas ke makan omongan sendiri loh" Ucap teman Sella lagi.
"Dih amit-amit gak deh" Jawab Sella yang mana membuat mereka semua tertawa bersama.
Di ruangan nya Zayn duduk dengan memegangi dada nya, Degup jantung nya masih saja berdetak cepat padahal ia sudah berada di ruangan nya, "Kenapa jantungku berdetak cepat sekali? Apa aku sakit? Sepertinya aku harus memeriksakan jantungku kerumah sakit"
Zayn yang masih memegangi dadanya di buat terkejut dengan orang yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan nya.
__ADS_1