
Saluran televisi menampilkan berita yang amat menggemparkan.
"pelaku (AK) yang dilaporkan melakukan pembunuhan berencana dengan jumblah korban 30 jiwa dinyatakan meninggal dunia ditempat, oleh karena itu (AK) di jatuh hukuman sesuai pasal yang berlaku yakni HUKUMAN MATI." reporter mengabarkan.
Naya melebarkan matanya saat foto sang ayah terpampang jelas didepan televisi.
Tangannya yang memegang gelas seketika tak bertenaga, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
" gak,,,, hahahaha gak mungkin" Naya tertawa histeris sambil menjambak rambutnya frustrasi.
Dengan cepat Naya berlari keluar rumah, menuju Lapas tempat yang memenjarakan ayahnya.
Setelah sampai ia melihat polisi langsung membungkus kepala ayahnya dengan kain hitam dan memasukkannya Kedalam mobil.
Naya mengikuti mobil yang membawa ayahnya entah menuju kemana.
Mobil hitam itu berhenti Disebuah hutan terpencil, polisi bersenjata lengkap itu membawa Anton menuju lapangan ditengah hutan yang tak diketahui orang orang.
Anton diposisikan ditengah lapangan, kemudian polisi menjauh dengan jarak lumayan jauh.
Semua polisi memegang senjata mengarah pada anton, namun hanya satu senjata yang mengarah tepat menuju jantungnya.
DORRR
suara tembakan itu melesat tepat mengenai titik sasaran, bertepat juga Naya datang mendengar tembakan itu.
Kehadiran Naya membuat kaget seluruh kepolisian yang ada disana, ditambah Naya langsung berlari menuju sang ayah yang tumbah tak bernyawa.
"a-ayahh... Ayahhh" Naya terus mengguncang tubuh Anton.
"ayahhhhhh jangan tinggalin Naya"
"kalo ayah gak ada, Naya gimana hisk" derai air mata itu tumpah begitu saat dengan memori yang kembali berputar.
"Naya gak mau apapun ayahh,, Naya cuma mau ayah...... Hisk"
"aaarrrggghhhhh tuhannnn,,, kenapa kau ambil dia, disaat tangan ini masih memerlukan pegangannya" Naya memeluk tubuh Anton, mencoba mendengarkan suara detak jantung ayahnya.
Namun nihil tak ada suara apapun yang bisa Naya dengar, Naya mengamuk dengan frustrasi.
"enggk yahh,,, plishh Naya mohon bangun yah. Mereka jahat ayah, mereka mukul Naya, mereka juga hina Naya.... Naya takut Ayahhh. Naya takut" teriak frustrasi itu menyayat pilu.
Kehilangan sosok cinta, pahlawan serta penjaganya adalah luka terhebat yang tak ingin dilupa.
"ayah Naya cape, kenapa ayah gak ajak Naya buat ketemu tuhan ayah..." lirih gadis itu mulai melemah.
Naya mendekati polisi yang membawa senjata, mengarahkan senjata polisi itu tepat dikepalanya.
"tembak Naya" pintanya, namun polisi itu menolak.
"tembak Naya, Naya mau nyusul ayah aja" Naya langsung terduduk sambil menutup wajahnya.
"N-Naya mau ayah" isak tangis ya begitu kencang membuat polisi yang disana hanya diam menatap Naya.
__ADS_1
"Ayo balik yahh, lingungin Naya dari mereka yang jahatin Naya"
Seorang ketua kepolisian menghampiri Naya, memegang bahu gadis itu.
"bangun Nak" serunya, Naya menggeleng lemah tubuhnya serasa mati tak mampu berdiri.
"bangun...." serunya kembali dengan nada tegas.
Naya menatap laki laki itu "balikin ayah Naya" seru Naya.
"ayahmu melakukan kesalahan nak, hukum ini setimpal dengan penderitaan para korban dan keluarga korban" jelasnya.
"ayah gak salah, mereka yang salah"
"nak bukti dan saksi sudah jelas, ayahmu yang bersalah. Kami hanya menjalankan tugas sesuai perintah"
"aaarrggghhhh.... Kalian bodoh, pernahkah liat ayah Naya mengelak dalam tuduhan itu atau melawan. Tidakkan.....karena dia menerima kesalahan orang lain dan dengan bodohnya orang orang itu percaya" Naya berteriak kemudian mengeluarkan semua isi didalam hatinya.
"dan kalian...semoga karma tak salah jalannya" ucap Naya kemudian melenggang pergi.
...***...
Pemakaman Anto terlaksana dengan hikmat, banyak yang datang menghadiri pemakaman Anton.
Naya memandang gundukan tanah dengan tatapan kosong dan kebungkaman.
Ia duduk ditanah tanpa alas apapun, sampai baju putih itu kotor bernodakan tanah.
"semua karena kamu" pekik Sekar langsung menyerang Naya, gadis itu tak melawan seolah raga dan jiwanya telah lenyap begitu saja.
"stopp bu, ini bukan kesalahan Naya. Ini takdir bu, tolong ikhlas" ucap Anggi yang menemani Naya sepanjang acara pemakaman itu.
"cihh....karena dia suamiku tiada, seharusnya kamu yang tiada. Aku menyesal karena kamu lahir dari rahim ku anak sialan" maki Sekar tak digubris sedikitpun oleh Naya.
Sekar meludah tepat mengenai wajah Naya "aku lebih kotor dari seonggok sampah" kemudian melenggang pergi.
Saat Sekar pergi, Mata Naya mulai memanas "Hisk.... Ayah liat, bunda benci Naya. Karena Naya, ayah pergi ninggalin kita semua"
"jangan salahin diri kamu Nay" Anggi mengusap punggung Naya dengan lembut.
"tapi benerkan kak, semua ini penyebabnya Naya"
"nggak Nay, ini takdir" sahut Anggi.
"takdir apa yang tidak ada keadilan untuk orang sebaik ayah"
"hanya tuhan yang tau bagaimana cara takdir membalas semuanya" setelah Anggi berucap seperti itu, Naya menatapnya dengan sendu.
"tuhan udah gak adil sama takdir dan kehidupan ayah kak"
"ikhlas Nay, ayah kamu udah bahagia disana. Tuhan memberikan cara terindah untuk ayahmu bahagia"
Naya langsung memeluk Anggi dengan erat, ia menjerit dalam tangisnya.
__ADS_1
Dadanya terasa terhimpit batu besar hingga membuat ia sesak menahan segala hal yang tak bisa ia ungkapkan.
Sampai sebuah langkah mengalihkan pandangan Naya.
Ya dia adalah Ezza yang baru saja menghadiri pemakaman ayah dari kekasihnya.
"turut berduka" ucap Ezza berjongkok sambil merapikan rambut Naya yang berantakan.
"k-kamu"
"sorry baru bisa dateng disaat lo perlu sandaran"
Anggi tersenyum menatap laki laki yang sedang berbicara dengan Naya.
"kaka tinggal dulu, kamu bisa ngobrol" Anggi meninggalkan tempat itu.
"gimana keadaan lo" tanya Ezza menatap Naya dengan dalam.
"hancur" jawaban Naya membuat hati Ezza serasa diremas.
"sini" Ezza menarik tangan Naya dan meletakkan kepala gadis itu di bahunya yang kokoh.
"bangun kembali kehancuran lo bareng gue" ucap Ezza tulus membuat Naya bungkam.
"kenapa lo gak jawab?"
"aku takut"
"jangan takut selama gue yang jaga lo"
Naya menggeleng lemah "dunia Naya hanya ayah, sekarang dunia Naya pergi bersama kebahagian Naya"
"kebahagian itu ada dan gue bakal ciptain itu buat lo"
Saat mengucapkan itu terdengar bunyi ledakan petasan, membuat Naya menutup telinganya.
DUARRRRR
Telinganya terasa berdengung hebat ditambah kepalanya yang kembali terbayang dengan adegan penembakan ayahnya.
"GAKKKKKKK.... TOLONGGGGG TOLONGGGGG" teriak Naya histeris membuat Ezza terkejut.
"Nay... Heyy lo kenapa"
"JANGANNNN.... PLISHH JANGAN SAKITIN AYAH NAYA" Naya memohon seraya bersujud pada Ezza.
"heyyy....jangan kayak gini" Ezza membantu Naya berdiri namun nihil Naya terus memohon.
"JANGAN TEMBAK AYAHH... NAYA MOHON"
Ezza langsung memeluk Naya, meski gadis itu meronta ronta ronta "hustt.... Sayang tenang ya" bisik Ezza sangat lembut.
"gak bakalan ada yang nyikitin sayang"
__ADS_1
"dan aku janji tubuh ini rela mati untuk kamu" setelah itu tubuh Naya ambruk.