
Seminggu kejadian yang menimpa Davina, kini Naya memutuskan untuk kembali kesekolahnya bersama teman temannya kecuali Davina.
Gadis itu harus dirawat karena mengalami depresi berat dan selalu melakukan percobaan bunuh diri.
"gimana perkembangannya" tanya Naya disela perkumpulan mereka dikelas yang sudah sepi.
"mereka bener bener memiliki tempat rahasianya Queen, gue denger gak ada yang tau tempat itu karena itu pusatnya" jelas Friska.
"gue juga nemuin pegawai mereka yang udah berhenti, dia bilang pekerjaan disana memang kotor...dan sistem disana gak akan bisa di hapus kecuali kita nemuin akar itu" lanjut Sasa.
Naya meliat kedua tangannya, tatapannya sangat tajam "kita harus ngelakuin sesuatu agar mereka bisa membawa kita kesarangnya" seru Naya.
"mereka kejam banget Queen, banyak korban karena tindakan mereka yang ilegal dan juga termasuk peleceh dan pemerkosaan..." Sasa juga berbicara serius.
"dan gue juga rasa, kematian putri ayah Daffa terseret dalam kasus ini"
"gue tau" sahut Naya.
Kepalanya terasa pecah saat ini memikirkan caranya agar mengetahui keberadaan akar itu.
"terus kita harus apa Queen?" tanya Sasa.
"kita gak boleh gegabah dalam hal ini Queen, karena gue yakin dalang dibalik semua ini amat licik"
"hmmm~~"
Tiba tiba sebuah kotak dingin penempel dipipinya "kenapa, hm" Tanya Eza saat mengetahui kekasihnya masih berada dikelas.
Naya menyadarkan kepalanya keperut Eza, dan pria itu juga mengelus surai hitam Naya.
"pusing" sahut Naya.
"mau makan?" tawar Eza dengan sangat lembut, membuat Sasa dan Friska jengkel pada dua manusia yang suka bucin tanpa tahu tempat.
"bisa gak sih bucinnya dipending dulu, gak kasian lo ama kita yang jomblo" dengan wajah menggerutu sebal Sasa menunjuk kedua manusia itu.
"enggak" jawab mereka secara bersama.
Sampai sebuah tangan bertengger dibahu Sasa "kalo lo iri bilang aja, gue mau kok jadi boyfriend lo"
"kayaknya tangan lo pengen lepas dari tempatnya deh" Sasa sengaja mencengkram lengan Evans, tapi sayang laki laki itu diam saja tanpa merasakan sakit.
"kenapa muka lo kesel gitu? Jangan lo kira cengkraman kecil lo itu bikin gue kesakitan" senyum Evans sungguh menjengkelkan dimata Sasa.
"nyebelin banget sih lo"
"karena gue bakalan terbiasa sama cengkraman lo nanti saat Berada dibawah gue" bisiknya dengan sensual, membuat Sasa menjauhkan dirinya.
"Najis" Sasa mengacungkan jari tengahnya.
Evans terkekeh geli, sungguh lucu calon istrinya ini. Dan itu harus terjadi, walau Sasa menolaknya sekalipun.
"dih gila, malah ketawa" Sasa langsung pergi keluar dari kelasnya.
"kita makan aja yuk" Naya menarik tangan Eza dengan lembut, membawa kekasihnya menuju kantin.
__ADS_1
Meninggalkan Evans dan Friska "lo beneran suka sama Sasa?"
"dia bikin gue gila"
"apa yang bikin lo suka dari Sasa? "
"segalanya, senyum dia nikotin bagi gue...entah lah gue kek gila aja sama dia, dan dia harus jadi milik gue apapun yang terjadi"
"itu bukan cinta tapi obsesi" Friska membenarkan deskripsian yang diucapkan Evans.
"dan benar, gue terobsesi miliki Sasa"
"miliki dia dengan baik baik, karena lo gak tau segila apa dia" Friska meninggalkan Evans sendirian.
Evans tersenyum miring "kalo dia gila, gue lebih gila"
"karena gue udah gila karena dia, maka dia harus bertanggung Jawab dan itu gak ada negosiasi sama sekali"
"She Mine" senyum evilnya benar benar menakutkan.
***
Malam hari markas Garlz tampak ramai oleh ketiga gadis cantik bersama Daffa.
"gimana keadaan kalian?" tanya Daffa pada mereka bertiga.
"baik yah" sahut Naya.
"kalian jangan maksain diri, Ayah gak papa kok. Ayah udah ikhlas sama kematian putri Ayah"
"ayah kami baik baik aja kok, ayah gak usah khawatir sama kita" Sasa menyahuti dengan senyuman ceria..
"Naya juga jangan memaksakan diri, ayah gak mau liat Naya sakit" Daffa mengelus kepala Naya dengan lembut, Naya menggapai tangan ayahnya.
"ayah... Naya udah gede, harusnya Naya yang khawatirin ayah yang suka kerja larut malam. Ayah jadi kurang istirahat, Naya gak mau ayah sakit dan ninggalin Naya"
"kamu satu satunya putri ayah sekarang, ayah gak mau kamu sendiri dan begitu pun ayah. Ayah bakalan jagain kamu" Daffa memeluk Naya, Friska dan Sasa juga ikut nimbrung dalam pelukan hangat sang ayah.
Karena mereka sadar Daffa adalah satu satunya ayah mereka, satu satunya orang yang menyelamatkan kehidupan mereka dahulu.
"keadaan Davina gimana yah?"
"lumayan membaik, dia sudah mulai sadar tak kehilangan kendali pada dirinya"
"syukurlah"
Dering ponsel Sasa membuat ia harus menghentikan pelukannya "bentar, gue angkat telepon dulu"
Sasa mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal.
"hallo"
"tolongin gue" lirih orang diseberang sana.
"lo siapa" tanya Sasa dengan heran.
__ADS_1
"akhhh tolongin gue buruan, gue udah gak kuat"
"Evans" tebak Sasa karena suara serak basah yang sering menggantinya saat bertemu.
"lo kenapa?"
"gue perlu bantuan lo, cepet ke Hotel Diamond sekarang" erang Evans tertahan, nafasnya juga tak beraturan dan itu dapat terdengar oleh Sasa.
"dih ngapain? Ogah gue" tolak Sasa.
"buruan Sa, gue gak kuat sumpah akhh" jerit Evans menahan sesuatu, hingga dobrakan keras terdengar.
Brakk
Brakk
"baby, kamu didalam" suara perempuan terdengar diseberang sana.
"lo gila suruh gue kesana cuma buat nontonin lo hs"
"enggak Sa, gue lagi sembunyi" jujur Evans, dalam kendala seperti ini ia berasa dihujung maut.
"ngapain dah lo sembunyi" Sasa heran, kenapa laki laki itu harus sembunyi. Bukankah seharusnya dia berenang senang tanpa mengganggu ketenangan Sasa saat ini.
"gue dikasih obat perangsang sama tu cewe, buruan tolongin gue sekarang" jelas Evans membuat mata Sasa melotot tak percaya.
"gila ada juga nih yang lebih gila, mana main obat perangsang" batin Sasa.
"buruan Sa,, ni cewe udah gila ngejar gue terus. Semua pintu dijaga full... Dan gue gak bisa keluar sama sekali"
Sasa panik bukan main saat mendengar laku laki kurang ajar ini diberi obat perangsang.
"lo dimana sekarang"
"toilet" suara Evans mulai melemah.
"gue sama yang lain bakalan ke sana sekarang, lo harus kuat nahan tu pintu biar gak diterkam kucing garong "
"gue lebih milih diterkam lo Sa"
"gila lo"
Sasa mematikan panggilannya, ia segera berlari menghampiri Naya.
"Queen kita harus ke Hotel Diamond sekarang" Sasa mengguncang kuat lengan Naya, membuat gadis itu heran.
"ngapain Sa?"
"ngapain kita kesana sih"
"Itu anu A-anu"
"anu apaan, yang jelas"
"Itu Queen..." gerakan Sasa sangat tak terbaca oleh siapa pun dikeadaanya yang sedang gugup seperti sekarang.
__ADS_1
"apa?"
"Evans diculik tante girang"