GORESAN LUKA

GORESAN LUKA
24. Virus


__ADS_3

Naya mulai bekerja diperusahaan Nor's yang dipegang oleh Abraham, sesuai rencana Naya tetap bekerja agar tak dicurigai.


Hingga sebuah kecelakaan komputer dari salah satu karyawan membuat geger satu perusahaan, membuat Abraham langsung turun tangan.


"Bagaimana kau bisa selalai ini hah" Abraham memukulkan Map hitam pada seorang gadis.


Membuat gadis itu meringis pada bagian belakang kepalanya, melihat kejadian itu Naya hanya menatap datar.


"jadi begini kinerja perusahaan ini" gumamnya.


Kekacauan itu terus berlanjut dan Naya menikmati momen yang menurutnya cukup menyenangkan.


Bagaimana Abraham marah, ketakutan, hingga terus memaki seluruh karyawan.


Pandangan yang cukup menarik bukan saat seseorang diambang ketakutan yang sebenarnya itu hanya masalah kecil yang tak mereka ketahui.


"ahhhh bodoh, bagaimana bisa seperti ini" Abraham menghempaskan komputer yang coba ia tangani sejak tadi.


"tuan tenang, saya yakin ini hanya virus kecil yang bisa hilang nantinya" ucap Raivan.


Bagaimana tak sulit jika yang membuat kejahilan itu adalah ulah dari Garlz.


Naya dengan anggunnya menuju arah Abraham dan Raivan yang sejak tadi rusuh.


"permisi tuan, bisakah aku coba memperbaiki masalahnya?" Naya dengan sopan menawarkan dirinya.


"apakah kau bisa" Abraham sedikit meremehkan Naya.


"jika aku menawarkan berati aku bisa membantu tuan" sahutnya.


"jika makin bermasalah, maka aku akan langsung memecatmu" Ancam Abraham.


Naya hanya mengangguk, ia langsung duduk didepan komputer dan mengutak ngatiknya seperti mencari permasalahan yang muncul.


Tak berselang lama keadaan itu kali normal karena Naya "ini sangat mudah tuan, hanya virus kecil" Naya memperlihatkan kinerjanya.


"wahhh kau sungguh hebat hahahaha" tawa Abraham, ia langsung menepuk tangannya mengkode untuk seseorang datang.


Orang itu datang dengan membawa amplop coklat yang tebal, ia menyerahkannya pada Naya.


"owhh tuan...apa ini" Naya berpura pura kaget.


"hadiah kecil karena kau berhasil membereskan masalah ini"


"tapi tuan aku tak membutuhkannya"


"maksudmu" tanya Abraham.


"aku orang yang sungguh serakah tuan, aku tak menginginkan uang mu tapi aku ingin posisi"


"posisi?" tanya Abraham kembali.


"aku ingin menjadi manager khusus" ucap Naya dengan senyum miring.


"jangan berlebihan, kau hanya orang baru. Bersyukurlah aku memberimu uang, jangan terlalu tamak" sarkas Abraham..


Bukan tersinggung malah Naya semakin gencar menginginkan posisi itu yang masih menjadi rahasia bisu perusahaan tersebut.


"bukan ketamakan hal yang lumrah tuan!"

__ADS_1


Ucapan Naya membuat Abraham menatap penuh selidik.


"apa kau sungguh menginginkan posisi itu?"


"tentu tuan?"


"baiklah! Aku akan memberikan posisi itu jika kau bisa membuat perusahaanku bekerja sama dengan perusahaan tuan El" syarat yang mudah bagi Naya, namun ia harus tetap berpura pura.


"aku akan berusaha tuan, tapi jangan sampai lupa pada janjimu" ucap Naya lalu meninggalkan Abraham dan Raivan.


"bukankah ia mencurigakan, sifat sungguh berbeda" tanya Abraham pada Raivan.


"ia berbeda karena gadis itu mengalami amnesia tuan, jika sudah waktunya tiba kita bisa kembali memperalatnya dan menghasilkan keuntungan yang banyak" saran Raivan membuat Abraham tertawa.


"kau benar, hanya dia yang bisa membuat kita menghasilkan pundi pundi emas"


"karena hanya ia yang bisa menarik minat para kantong tebal"


Percakapan antara Abraham dan Raivan tak luput dari Naya, gadis itu bukan pergi melainkan bersembunyi.


"apa yang sebenarnya terjadi antara mereka dulu" gumam Naya, masalahnya semakin bertambah rumit membuat ia pusing dan hampir gila.


...***...


Diam diam Naya mengobrak abrik tempat kerja Raivan saat pria itu sibuk keluar bersama Abraham.


Ia membuka lemari dan menggeledah mencari sesuatu, sampai laci kecil pun tak luput dari pandangannya.


Bosan mencari, ia menegakkan tubuhnya sambil memijit pelipis yang terasa amat pening.


Baru saja ingin pergi, langkah gadis itu terhenti lantaran rak dokumen yang tak sengaja ia tabrak hingga buku buku besar berjatuhan.


Ia membuka Map itu dan terdapat banyak data diri gadis gadis yang menurutnya berusia 15 hingga 17 tahun.


Baru saja ingin melanjutkan kegiatan, sebuah derap sepatu menghentikan Naya.


Ia segera membereskan semua kekacauan yang telah ia lakukan, sampai pintu itu terbuka......


Ceklek


Dan alhasil Naya berhasil membereskan semua barang, ia bersembunyi dilemari dekat pintu.


Terdengar suara Raivan sedang bencengkraman dengan seseorang dibalik telepon.


"dia memang kembali"


"..."


"tentu, dia bisa menjadi ladang bisnis kita lagi"


"..."


"ahahah aku juga tidak menyangka dia masih hidup, namun kita harus segera mencari Cips yang di sembunyikan gadis itu sebelum tragedinya"


Ucapan Raivan berhasil Naya rekam melalui alat yang selama ini tersembunyi dibalik telinganya, oleh sebab itu Naya selalu menggerai rambutnya.


"Cips apa yang mereka maksud?" monolog Naya dengan sendirinya.


"lalu tragedi, apa ada hubungannya kematian itu dengan mereka"

__ADS_1


Ia segera memencet tombol penghubung.


"ya Queen"


"gue mau lo sadap ponsel milik Raivan" suaranya amat kecil agar tak terdengar, ia masih terus memenatau pergerakan Raivan.


"gue bisa Queen, lo tinggal hubungin USB yang pernah gue kasih sama lo. Hubungin USB itu sama ponsel tu setan" Jelas Delvina.


"oke, gue paham"


Setelah selesai menelpon tanpa sengaja Raivan meletakkan ponselnya diatas meja, ia memasuki kamar mandi.


Melihat kesempatan emas Naya langsung menghubungkan USB, perlu waktu sepuluh menit agar semua data diponsel itu dapat terhubung.


"anjir lama banget" gumam Naya, saat data hampir selesai tersalin pintu kamar mandi terbuka.


"Naya?" panggil Raivan.


Naya menoleh, ia berusaha tenang dan mengontrol agar tak mencurigakan.


"pak Raivan"


"apa yang kamu lakukan diruanganku dan kenapa ponselku ada ditanganmu" tanya Raivan penuh selidik menatap Naya


"saya ingin menanyakan tentang kerja sama dengan perusahaan tuan El, apa saja yang harus dipersiapkan dan tentang ponsel anda tak sengaja tadi terjatuh dilantai. Saya hanya membantu untuk menyimpannya ke meja" jelas Naya tanpa ada ekspresi mencurigakan sedikitpun.


"benarkah?"


"tentu pak" sahut Naya dengan senyuman.


"kalo begitu ya sudah, mari kita bahas bahan yang akan kita ajukan pada perusahaan tuan El"


Mereka duduk dan membahas segala rencana yang akan diajukan, namun tatapan Raivan membuat Naya jengah.


Saat dengan terang terangan Raivan menatapnya dengan mesum.


...***...


Sebuah mobil sport terparkir didepan perusahaan Nor's, membuat senyum Naya langsung mengembang.


Ia menghampiri mobil itu dan langsung masuk kedalam mobil.


"hay baby" panggil suara bariton yang Naya kenali sekali.


Laki laki itu langsung memeluk Naya dan mengecup keningnya, ya ia adalah Ezza yang sengaja menunggu Naya.


"udah lama nungguin aku" tanya Naya.


"enggak sayang" mengambil tangan Naya kemudian ia kecup.


"emang gak takut ketahuan kamu nungguin aku terang terangan gini"


"mereka tidak tau kalau aku adalah tuan yang selama ini mereka kagum kagumi"


"dan hanya aku yang tau kamu siapa" sahut Naya dengan senyum kecil.


"of course baby...dan hanya kamu yang boleh tau tentang aku lebih dari apapun"


Kemudian mereka melajukan kendaraan membelah jalanan yang nampak mendukung kebersamaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2