
Naya menuju ruang tahanan milik Liam dan Dama, ia duduk didepan kedua pria yang tangannya telah diborgol.
"hay boy" sapa Naya sambil melepas kaca mata hitamnya.
"ngapain lo kesini" sinis Dama.
"calm down, gue kesini cuma mau denger kebenaran dari mulu lo berdua, tentang masa lalu Naya." ia menyerahkan foto diri yang dulu.
"gue gak ada hubungan apapun sama kematian Naya, karena gue paling gak sudi berurusan sama ****** kayak dia" decih Liam.
"lo gak berhak menghakimi siapa pun termasuk gadis itu, karena lo lebih sampah" sarkas Naya.
"dia yang sampah bukan gue, dia rela jual diri dia saat gue jagain dia" teriak Liam begitu emosi.
"karena itu, gue jual dia. Biar dia gak bikin gue malu, lebih baik dia hasilin uang buat gantiin pengorbanan gue selama ini"
"lo tau kenapa adik berharga lo itu bisa hancur? Lo tau bajingan yang itu siapa?" ucap Naya dengan datar.
"gak ada yang hancurin dia, dia ngehancurin harga dirinya sendiri" sergah Liam mulai geram.
Naya menghela nafas dengan jengah, ia kembali melempar foto foto Dama yang melecehkan Naya.
"tanya temen bajingan disamping lo?"
Dengan gemetar Liam mengambil foto itu, matanya memerah menahan sesak.
Apakah dia terlalu gelap mata hingga tak menyadari jika adiknya mengalami kesakitan yang luar biasa.
Liam langsung menoleh kearah Dama, pria itu biasa biasa saja tanpa ada bersalah.
BRAKK
Liam langsung bangun dan mencengkram kearah baju Dama.
"lo apain adik gue bajingan" amarah Liam terlihat meluap luap.
"ya.... Gue nikmatin lah" jawabnya dengan santai sambil tersenyum.
"bangsat"
Bugh
Bugh
Bugh
__ADS_1
Tiga pukalan mendarat diwajah Dama, Liam dengan sekuat tenaga menghantam wajah pria itu hingga berdarah.
"kenapa lo marah anj-, bukan lo juga ikutan nikmatin hasil jual tubuh adik lo" Dama juga ikut marah karena ia juga disalahkan dalam hal ini.
"tapi lo yang hasut gue buat jual Naya?"
"gak cuma gue yang berdosa bangsat, juga berdosa besar. Lo udah jebak paman lo sendiri, padahal lo pelaku sebenarnyakan" Dama tersenyum remeh, ia mengungkap kenyataan yang tak terduga.
"m-maksud lo" Naya bingung, apa hubungan Liam dan kasus ayahnya.
"dia digebukin preman, karena dia udah rusak in salah satu anak dari preman itu. Dia nawarin Naya buat jadi ganti rugi kesalahan dia, tapi sayang bokap Naya duluan ngelindunginnya. Tapi dengan liciknya Liam ngebunuh cewe itu beserta anggota preman dan keluarga mereka, tapi semua tuduhan itu dilimpahin kebokap Naya. Sampai bokap Naya dihukum mati"
"Itu semua permintaan Liam dengan cara membayar hakim" Dama terkekeh puas, ia mengungkapkan fakta yang mengejutkan Naya.
Ia kira Liam hanya melakukan kejahatan itu padanya saja, ternyata ayahnya malah menjadi kambing hitam.
Naya tertawa sumbang, ia meneteskan air mata. Gila benar benar gila, bisakah seseorang membinasakan kerabatnya sendiri.
"menjijikan, benar benar menjijikan" Naya menutup matanya menangis sambil tertawa sumbang.
Dama dan Liam menatap Naya dengan heran "sangat menjijikan, melihat kalian saja membuat gue sangat jijik"
Mereka terheran heran " ahahhaha entah manusia yang benar benar rendahan atau semesta yang cemburu pada kebaikannya" ia mengingat kebaikan ayahnya hingga kematian menjemputnya dengan mengenaskan.
"lo kenapa?"
"dan lo yang gue anggap sebagai abang gue ternyata adalah orang yang merenggut ayah gue.... Di-dia selalu Banggain lo tapi ta-tapi lo dengan kejinya ngatur nasib dia, lo siapa hah.. LO SIAPA HAHH!" Naya mencengkram kearah baju Liam.
"lo siapa berani bentak gue sialan" balas Liam tak kalah keras.
"gue Naya Aneska... Adik yang suka lo jual pada hidung belang"
"gue Naya yang hancur.... Gue Naya yang kehilangan orang berharga"
"gue Naya yang udah lo jadiin debu yang terinjak"
Cengkeaman itu melonggar, ia menunduk menatap lantai.
"ngg-nggak mungkin" sahut Dama.
Liam tertegun, menata Naya yang duduk dilantai.
"lo bohongkan" tanya Liam dengan nada lemah.
Naya bangun menatap sinis kedua pria itu " tundukin pandangan lo sama gur"
__ADS_1
"gue harap lo masih kuat buat jalanin hukuman disini, gak ada gunanya juga gue nangis nangis depan setan. Gue akan liat sampai mana lo bakalan mampu hadapin semua ini"
Ekspresinya seketika berubah 190° derajat, ekspresi tanpa kasian, tatapan kosong yang memandang rendah kedua pria itu.
"gue juga berharap gak dengar kabar kematian lo berdua, atau lo berdua mau bersujud dihadapkan gue sekarang" Naya meninggalkan tempat itu.
...***...
Diluar Ezza menunggu Naya, mereka berencana akan mendaftarkan pernikahannya.
Sudah jauh hari Ezza terus memaksa kekasihnya untuk mendaftarkan pernikahan mereka, namun Naya menolak dengan alasan masih takut jika suatu hari Ezza akan meninggalkannya.
"udah selesai" Ezza tersenyum menyambut kedatangan Naya, ia memegang tangan gadisnya sambil mengecup kening Naya.
"udah sayang, makasih ya udah nemenin aku kesini"
"you wellcome baby, sekarang mau peluk gak? "
"mau banget" Naya memeluk Ezza, ia selalu mendapat kenyaman dibalik pelukan hangat kekasihnya.
"hebat banget cewe aku, wanita terhebat kedua yang aku tau setelah ibuku" Ezza membalas pelukannya.
"aku pengen peluk kamu, aku perlu kekuatan agar mahkota aku gak jatuh lagi"
"jangan pernah tundukin pandangan kamu ketika seseorang akan menginjakmu, kamu wajib mempertahankan mahkota dan aku berjanji gak akan ada satu manusia pun yang berani menyentuhmu" ucapan Ezza benar benar mampu merubah kegundagan hatinya.
"kamu hebat"
"bukan aku hebat, tapi karena kamu. aku berusaha menjadi terhebat "
"aku ingin terus genggam tangan kamu, buat jadi obat terhebat dalam luka ku" Naya terus menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Ezza.
"aku adalah obat serta kebahagian yang akan menyambut kamu dan aku ada kesempurnaan yang tuhan titipkan untuk aku bahagiakan"
Naya menyatukan keningnya dengan Ezza, ia tersenyum tulus. Hatinya menghangat mendengar ucapan Ezza.
"makasih... Menjadi isi dari satu satunya kisah ini hingga akhir" Naya mengecup singkat bibir Ezza.
"terima kasih telah membuka awal terbaik dan akhir yang begitu membahagiakan"
Mata Ezza berbinar mendengar pengakuan Naya, ia sangat bahagia sangat. Ia terharu serta bangga saat ini gadisnya sudah bisa lepas dari segala belenggunya.
Terlebih Naya kali ini sangat tulus dan hangat saat mengucapkannya, penuh cinta dan kasih sayang.
"i love you my girl"
__ADS_1
"i love you more my boy"