
Setelah dua minggu masa pemulihan yang Naya lakukan, akhirnya gadis itu bisa pulang meninggalkan rumah sakit.
Selama pengobatan yang ia lakukan tak ada satu Hari pun Sekar menjenguk dirinya, kadang Naya bertanya dalam hati apakah bundanya sudah tak peduli dengan keadaan Naya.
"kamu udah siap" Ezza menghampiri Naya yang sejak tadi melamun di brankar rumah sakit.
"udah kok"
"serius kamu udah mau pulang, aku khawatir sama kamu" ia mengambil tangan Naya dan mengecupnya dengan lembut.
"aku beneran mau pulang, cape banget disini mulu. Aku benci bau obat obatan"
Ezza mengapit hidung Naya dengan gemas "iya tuan putri, ayo...." menggandeng tangan Naya untuk keluar dari ruangan inap itu.
***
Sesampainya dihalaman rumah milik Naya, laki laki itu masih enggan melepaskan kekasih kecilnya.
"bisa gak sih kamu dirumah sakit aja, biar bisa berdua terus" ungkap Ezza.
"hahaha,,, kamu ada ada aja. Aku harus pulang, pasti bunda nyariin aku"
"tapi bunda kamu gak pernah jengukin kamu" sahut Ezza menatap Naya.
"mungkin bunda sibuk, makanya gak sempat jengukin" Naya tersenyum menjawab ucapan Ezza.
Ezza hanya menatap dalam pada diri Naya, banyak hal yang ingin ia ketahui tanpa memaksa gadis itu.
"mau mampir" tawar Naya.
"enggak deh, soalnya aku masih ada urusan penting. Kapan kapan aja ya" mengelus pucuk kepala Naya, gadis itu menganggukan kepalanya.
"aku keluar ya"
"iya,,, sampe rumah jangan lupa minum obatnya, istirahat yang banyak" seru Ezza penuh perhatian.
"iya, makasih udah anterin aku pulang"
"sama sama sayang" goda Ezza, membuat pipi Naya seketika merah padam.
Ia keluar dari mobil milik Ezza, melambaikan tangannya dan membuat laki laki itu tersenyum kecil.
Saat mobil itu telah hilang dari pandangan, barulah Naya melangkah memasuki rumahnya.
"assalamualaikum..."
Pranggg
Bukan balasan salam yang Naya terima tapi asbak kaca yang melayang mengenai keningnya hingga berdarah.
"masih punya muka kamu untuk pulang. Hah" sentak Sekar.
Naya menunduk melihat tetesan darah dilantai.
"lebih baik kamu tidak usah pulang, aku malu punya anak tidak tahu malu seperti kamu"
"tapi ini juga rumah Naya bun" jawab Naya amat lembut.
Brakk
__ADS_1
Dengan kasar Sekar mendorong Naya hingga terjatuh "ini bukan rumah kamu anak sialan" langsung menginjak tangan Naya menggunakan hels yang ia pakai.
"kalo Naya gak pulang kesini, kemana lagi Naya harus pergi bun" isaknya menahan sakit karena Sekar terus menginjak tangannya tanpa melepas begitu saja.
"kamu boleh tetap disini tapi bukan tinggal di rumah ini"
"terus Naya harus tinggal dimana?"
"digudang tua, belakang rumah"
Naya melotot mendengar penuturan Sekar, bukan apa. Gudang itu sudah lapuk, bahkan atapnya sudah bocor.
"tap-"
"iya atau tidak sama sekali" potong Sekar dengan cepat.
"baik bunda" Akhirnya Naya menuruti keinginan Sekar.
"sekarang pergi ketempat itu, ohhh jangan lupa dengan tugasmu di rumah ini"
"iya bunda, Naya gak lupa"
Sekar melepaskan ijakannya, menyisakan memar biru kehitaman pada tangan Naya.
Ia langsung mengusir Naya, hingga gadis itu pergi dengan keadaan tertatih.
Setelah digubuk tua, Naya menatap sekitarnya hanya ada tikar dan bantal yang sudah berdebu.
Ia membersihkan gudang tua itu tanpa mengobati lukanya lebih dahulu. Mulai dari menyapu, menata sampai memanjat atap memperbaikinya agar tak bocor saat hujan.
Ruangan itu sekarang sudah nyaman dipandang dan layak huni.
Ia menyerahkan semua itu pada putrinya "gunakan ini, aku gak mau ada yang mati dirumah ini dan merepotkan ku"
Naya tersenyum bahagia walau perhatian kecil namun Naya amat senang.
"makasih bunda"
Sekar langsung meninggalkan gubuk itu dan kembali masuk Kedalam rumah miliknya.
Naya menata kembali tempat yang akan ia tiduri, dengan cermat ia menyusun meja dua yang lumayan panjang untuk dijadikan ranjangnya.
Satu selimut tebal untuk alasnya dan satunya lagi untu selimutnya.
Setelah beres Naya mengobati lukanya dan mandi, kamar mandipun bukan didalam rumah tapi disebelah gubuk tua itu.
Selesai membersihkan diri Naya langsung beristirahat.
***
Saat ini Naya sudah masuk sekolah, namun anehnya adalah tatapan orang menjadi berbeda padanya.
Seperti menghina dan merendahkan secara terang terangan saat Naya masuk sekolah.
"cantik doang tapi kelakaluan kayak dakjal"
"open BO kok gratisan... Hahahaha"
"kalo gue jadi dia, udah gak mau hidup lagi"
__ADS_1
"sok polos tapi kelakuan kayak cewe jalanan"
"cihhh,,, masih punya muka aja dia sekolah disini"
Begitulah gunjingan gunjingan orang disekitar Naya, gadis itu tak tau penyebab mereka menghina Naya.
Sampai panggilan dari guru BK menghancurkan pikiran Naya.
***
Tokk Tokk Tokk
Pintu itu dibuka dengan sopan oleh Naya "permisi pak" ucap Naya dengan sopan.
"masuk" titah guru laki laki itu, bernama Raivan Ardiguna guru BK yang umurnya masih sangat muda dan tampan.
Naya duduk dengan menghadap guru BK-nya.
"tau kesalahan kamu hingga dipanggil keruangan ini" ucap Raivan sambil memandang Naya.
"tidak pak, memang Naya melakukan kesalahan apa?" tanya Naya, perasaan ia tak melakukan kesalahan apapun.
"kesalahan kamu sangat fatal dan untung saja itu tak menyebar luas"
Kening Naya berkerut "boleh saya tau, apa kesalahan saya"
Raivan menyerahkan video vulgar yang dimana itu menampilkan wajah Naya dan seorang laki laki yang wajahnya sudah diblur.
Tangan Naya bergetar hebat saat melihat video vulgar itu "s-sumpah itu B-bukan n-Naya" Naya mulai gugup.
"saya bisa bantu kamu, asal......."
Raivan mendekati Naya, ia mengelus tangan Naya dengan sensual. Membuat gadis itu langsung menghindar.
"pak..." sargah Naya.
"asal saya juga merasakan tubuh kamu" bisiknya tepat ditelinga Naya.
Naya melotot kaget dan ingin menghindar jauh, namun lengannya langsung ditahan oleh Raivan.
"saya m-mohon jan-jangan sakitin s-saya" Naya memberontak.
"shutttt... Saya tidak akan menyakiti kamu, jika kamu diam dan menurut"
"ENGGAK, NAYA GAK MAUUU" teriak Naya.
Mendengar teriak Naya membuat Raivan naik pitam dan langsung menonjok wajah Naya hingga lebam.
Naya merintih kesakitan memegang wajahnya yang terasa retak karena pukulan amat keras dari Raivan.
Dengan kasar Raivan menarik lengan Naya dan menghempaskan tubuh gadis itu kearah sofa.
Ia memukul kembali wajah Naya sebanyak lima kali, membuat wajah cantik itu berubah penuh darah.
Tak sampai disitu Raivan mengikat tangan Naya, kemudian merobek pakaian Naya.
Dengan kejamnya ia melakukan hal bejat itu pada Naya dengan kasar hingga Naya mengalami pendarahan pun Raivan tetap melakukan aksinya.
Selesai melakukan aksinya, ide gila terlintas diotak Raivan. Dengan kasar ia memasukkan botol kealat intim Naya hingga gadis itu menjerit amat kesakitan.
__ADS_1
"AKHHHHHHHH..... TUHANNN" teriak Naya seperti kehilangan nyawa.