GORESAN LUKA

GORESAN LUKA
22. Operator


__ADS_3

Tubuh Naya seketika meremang merasakan lidah Ezza menyapu lehernya dengan sensual, membuat ia menahan nafas tanpa sadar.


Melihat ekspresi Naya membuat laki laki itu menyinggungkan senyumannya "bernafaslah sayang" bisiknya.


Membuat Naya kembali kealam sadar dan segera memukul lengan Ezza karena kesal.


Bughh


Melihat wajah kekasihnya kesal membuat tawa Ezza langsung menggelegar, senang sekali jika mengerjai kekasihnya ini.


"dasar menyebalkan" tatapan sinis Naya langsung mengintimidasi Ezza.


"i'm sorry baby, I know your cunning" senyum miring tercetak diwajah tampannya "dan aku juga sudah memberi pelajaran pada wanita gila itukan"


Naya tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya dileher sang kekasih " i know and thank you darling" dengan gerakan anggun Naya mengecup pipi Ezza.


"kamu mulai nakal baby" mengusap pipi Naya yang lembut seperti kulit bayi.


"hanya padamu sayang"


"tentu baby, kamu harus seperti ini hanya didepanku"


Karena gemas dengan penuh tenaga Ezza menggigit pipi bakpao itu hingga memerah, membuat Naya menjerit.


"akhhh....kamu gila" desisnya sambil mengusap pipinya yang terasa amat sakit.


"pipi bakpao mu terlalu menggemaskan seperti dulu"


"seperti dulu?"


"hmmm... Kamu tau perbedaan antara dirimu dan anak dokter Daffa" tanya Ezza.


"tidak ada Za, kami sangat persis sejak aku operasi seperti wajahnya"


"no baby...ada banyak perbedaan antara wajah mu dengannya!" tolak Ezza, karena ia bisa tau hanya dengan melihatnya.


"sungguh, apa saja yang berbeda"


"matamu yang indah indah ini, pipi yang lembut ini, kulit putih susu, dan wangi tak bisa membohongi diriku sejak awal pertemuan kita" jelas Ezza sambil meraba setiap sudut wajah Naya dengan tatapan memuja.


"kamu hebat bisa tau hal sebanyak itu tentang diriku" Naya langsung memeluk Ezza, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ezza yang selalu membuatnya nyaman.


"aku selalu tau tentangmu baby, karena kamu keseluruhan dari hidupku" ia membalas dekapan hangat gadisnya.


"aku sangat nyaman seperti ini, kamu memiliki aroma seperti ayahku"


"kamu sangat merindukannya bukan?"


"sangat dan sangat sangat rindu" Jawab Naya.


"Bagaimana dengan ibu mu?" tanya Ezza hati hati, ia tahu betul perubahan raut wajah Naya membuat ia merasa sedikit tak nyaman.


"entahlah, sulit bagiku menerima bunda kembali" lirihnya dengan wajah sendu.


"it's okey baby...jangan sendu begitu, kamu sangat jelek" mengapit hidung Naya agar gadis itu.


Delikan sinin dilemparkan Naya pada Ezza "dasar perusak suasana".


Pelukan semakin erat Ezza berikan, membuat rasa nyaman dan aman bagi Naya setiap saat.


***

__ADS_1


Derttt Derttt Derttt


Dering ponsel milik Sasa terdengar oleh teman temannya saat berada dimarkas mereka.


"Sa hp lo bunyi tuh" ucap Friska.


"siapa?" tanya Sasa.


"gak tau gue, kayaknya nomor baru deh" sahur Friska.


Sasa mengambil hapenya dan langsung mengangkat telepon itu.


"halllo dengan Sasa cantik disini"


"telkomsel mbak, anda memenangkan hadiah" sahutnya dari seberang sana.


Sasa mengejutkan kening nya "yaitu berupa uang tunai mbak sebesar 5000.000, nah untuk mbak Sasa diterima mbak ini 5000.000 rupiahnya. Tidak ada biaya ataupun pajak, mbak Sasa terima selaku pemenang, ini diberikan secara gratis"


"anjir... Ngomongnya kayak kereta hantu Manggarai" batin Sasa.


"saya ucapkan selamat mbak, semoga bisa bermanfaat dan berguna bagi mbak Sasa dan sekeluarga disana" lanjutnya.


"iya mas, nafas mas...kayak orang kena kejar setan lo" sahut Sasa.


"nah jadi untuk mbak Sasa ini dana 5000.000-nya apakah mbak Sasa disana bersedia menerima mbak atau tidak" telepon itu terus berlanjut.


"enggak" sahut Sasa santai.


"enggak bersedia, udah kaya ya" suara penelpon mulai sarkas.


"iyalah" jawab Sasa masih santai.


"kamu udah kayak jadi ***** anjing kamu ya" kesabaran Sasa hilang sudah mendengar akhir kalimat penelpon.


"NJINGGG...JANGAN SAMPE TEMPAT LO GUE HANGUSIN BANGSAT, MAU GUE BELI HARGA DIRI LO YANG KAYAK TAI KUCING ITU HAH!" balas Sasa, membuat semua tepekuk kaget.


Karena baru kali ini mereka mendengar Sasa mengumpat dengan banyak kata kasar.


"MAKANYA KALO LO MAU DUIT KERJA, JANGAN NIPU KAYAK OTAK BUAYA... ASU LO, UDAH NGOMONG KAYAK KERETA SETAN SEKARANG NGOMONGNYA UDAH KAYAK ANJING LO" penelpon itu meneguk salivanya mendengar sahutan Sasa yang amat sarkatis darinya.


Tut...


Sasa mematikan panggilannya, ia menghampiri Delvina.


"Del" panggil Sasa.


"A-apa?"


"lacak ni orang" Sasa menyerahkan nomor telepon yang tadi.


"buat apaan?" tanya Delvina.


"mau gue bakar tu tempat"


Delvina menuruti keinginan sahabatnya, memberikan alamat yang menjadi tujuan Sasa.


"semoga beruntung lo, jangan lupa video ini."


"beres" sahut Sasa meninggalkan markas mereka dengan membawa mobil sport miliknya.


***

__ADS_1


"pak Raivan" panggil Naya.


Raivan yang di panggil pun menoleh "ada apa Nay?"


"gapap pak, saya cuma mau minta bantuan bapak" sahut Naya.


"bantuan?"


"iya pak, rencananya saya mau lamar kerja diperusahaan ini tapi saya takut tidak diterima" sahut Naya memperlihatkan perusahaan yang juga tempat Raivan bekerja.


"k-kamu sungguh ingin kerja disana"


"tentu pak, bukan kah perusahaan itu sangat terkenal dan tuan El lah yang menyarankan saya untuk kesana"


"jika tuan El menyarankan perusahaan, berati akan mudah kami meminta kerja sama dengan perusahaannya" batin Raivan.


"Bagaimana pak" tanya Naya.


"saya akan bantu kamu, kebetulan saya juga punya kenalan ditempat itu" sahut Raivan.


"sungguh pak" Naya berbinar binar padahal itu wajah kepalsuannya.


"akhirnya masuk perangkap" batin Naya.


Flashback on


"Nors Corporations?" tanya Ezza.


"iya itu perusahaan yang harus aku masuki tanpa dicurigai" sahutnya.


"aku cukup tidak suka dengan perusahaan aneh itu, aku juga tak tau apa yang dihasilkan dari perusahaan itu hingga menghasilkan banyak uang tanpa kejelasan yang masuk akal" jelas Ezza masih memperhatikan berkas perusahaan itu.


"Delvina juga bicara begitu, perusahaan kecil itu memiliki keamanan luar biasa hingga susah untuk dimasuki"


"tapi kerap sekali mereka menawarkan kerja sama, namun aku selalu menolaknya. Aku tak ingin perusahaan yang aku bangun berdampak buruk" sahut Ezza.


"aku bingung bagaimana caranya harus kesana Za" Naya memijit pelipisnya yang terasa pening.


"bilang saja aku yang rekomndasikan tempat itu kepadamu" saran Ezza.


"apakah berhasil?"


"sangat, karena pasti pikiran mereka akan mudah menawarkan kerja sama dengan ku jika aku saja menyarankan tempat itu untukmu... Tapi kamu tetap hati hati"


"baiklah akan aku coba, terima kasih" ia mengusap tangan Ezza, laki laki itu tersenyum mengusap pipi kekasihnya.


Flashback off


"Bagaimana kalo sekarang kita keperusahaan itu" ajak Raivan.


"apakah tidak apa apa jika kesana sekarang" tanya Naya.


"tak apa, aku yakin bos sangat suka jika kamu datang apalagi kamu utusan langsung dari tuan El" sahut Raivan.


"tentu, kenapa tidak"


"apakah kamu pernah melihat tuan El"


"tentu... dia sangat tampan dan berwibawa, ia juga memiliki perusahaan terbesar dikira dan luar negeri" jelas Naya.


"waww... Kamu hebat bisa melihat orang penting sepertinya, padahal media saja tak tau tuan El seperti apa" sahut Raivan, membuat Naya hanya tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2