
Ezza dengan penuh keringat mencari Naya kesetiap tempat, namun tak menemukannya.
Jantungnya terasa lepas saat tak melihat Naya ditempat tadi, ia mengutukin kebodohannya yang tak membawa Naya ikut masuk lagi Kedalam.
Saat ingin kembali lagi kerumah sakit, ia melihat Naya berjalan tertatih menuju tempat yang sama.
Naya hanya menggunakan satu alas kaki saja, satu kakinya lagi sudah dipenuhi luka luka dan lecet.
Rambutnya sangat berantakan, baju robek, cardigan yang digunakan sudah melorot dipenuhi bekas air got.
Wajahnya terdapat luka di pipi, bibir, kepala dan lebam pada matanya...tak ayal darah yang mengalir dari hidungnya pun tak berhenti.
Ia menyeret sebelah kakinya yang tak beralas dengan ekspresi datar.
Ezza yang melihat itu langsung menghampiri Naya "sayang..." panggilnya.
Namun Naya tak menghiraukan, ia terus berjalan tanpa menatap kearah Ezza yang terus memanggilnya.
Saat memasuki kamar rawat, Naya langsung masuk ketoilet. Mengisi air dalam bathub, ia memasuki bak mandi itu tanpa melepas pakaiannya.
Tokk
Tokk
Tokk
Ezza terus mengetuk pintu toilet "Nay... NAYA..." teriaknya namun tak digubris oleh Naya sedikitpun.
Air itu sudah meleber keluar hingga kamarnya, namun aneh air itu bukan jernih namun berwarna merah darah.
Ezza yang panik langsung mendobrak pintu toilet itu dengan sekali tendang.
Ia sudah melihat Naya menenggelamkan dirinya dipenuhi dengan air bercampur darah.
Dengan cepat Ezza mengangkat tubuh itu dan langsung memanggil dokter.
"cepat tangani dia" titah Ezza.
"baik tuan"
Mereka melakukan tugasnya dengan maksimal hingga kondisi Naya kembali normal, walau belum sadar.
"tuan sebaiknya memindahkan perawatan Nona" ucap dokter memberikan sarannya.
"aku tau itu"
Ia menatap kearah Naya yang terbaring lemah, kemudian mengambil ponselnya.
"siapkan kamar dimansion untuk gadisku"
"baik tu El.." sahutnya.
...***...
Malam harinya seorang lelaki dengan tampilan yang sama menggunakan hodie hitam, topi serta masker hitam.
Ia memasuki kamar Naya melalui jendela "baby....you fall asleep" dengan seringaian yang menyeramkan.
__ADS_1
Merasa terusik dengan suara seseorang akhirnya Naya membuka matanya "ahh akhirnya bangun"
Tubuh Naya menegang mendengar suara yang amat ia kenali, ia langsung menoleh kesamping.
"hai" sapa laki laki itu mendekati Naya.
"pergi"
"no baby,,, jangan mengusirku"
"PERGIIII" teriak Naya dengan kencang.
"berteriaklah baby, tak akan ada yang mendengar suaramu" ia membeli sensual wajah Naya.
Dengan kecepatan penuh Naya memukulkan vas bunga kekepala laki laki misterius itu.
"anj*ng" umpatnya menahan nyeri yang tak terkira, tapi sungguh kuat ia masih sadar.
Bughh
Laki laki itu langsung memukul Naya sekuat tenaga hingga tulang hidung Naya patah dan berdarah.
"aku mo-mohon jangan sakitin aku"
"lo harus bayar perbuatan lo ini" ia mendekati Naya dan langsung merobek pakaian gadis itu.
Kesekian kalinya Naya diperkosa dengan sadis membuat ia menjerit sampai kehilangan suara.
Dada gadis itu naik turun mengambil nafas sebanyak mungkin, tak lupa pula kaki dan tangannya diikat.
Pendarahan yang ia alami semakin parah dari sebelumnya, sampai kesadaran pun sudah jarang ia raih.
Kamar inap itu berantakan kembali, keadaan Naya semakin parah dari sebelumnya hingga membuat ia koma selama tiga hari.
Mengetahui keadaan Naya yang dijaga tidak becus membuat Ezza atau yang mereka sebut Tuan El itu murka
...***...
Sejak kejadian itu Naya langsung dibawa Kedalam mansion pribadi milik Ezza, sudah satu minggu ia berada dalam mansion itu.
Tak ada kekurangan yang didapat Naya, semua fasilitas dan pengobatan benar benar tercukupi.
Namun akhir akhir ini Naya sering merasakan lemas dan mudah sekali mengantuk dipagi hari.
"sungguh kamu tak ingin ku panggilkan dokter" tanya Ezza duudk disamping Naya yang terbaring diranjang King size.
"hmm, aku hanya masuk angin Za"
"serius? "
"iya"
"kalau begitu kamu istirahat yang banyak, okey. Kalau perlu apa apa panggil maid atau aku"
"iya Za iya" Naya terkekeh lucu saat melihat kekhawatiran diwajah Ezza yang begitu ketara.
"kamu mengejekku sweety"
__ADS_1
"Mana berani aku ngejek kamu Za"
"Itu harus, karena kamu calon istriku"
Perkataan Ezza membuat Naya bungkam seketika, apa pantas ia bersanding dengan Ezza.
Ia dan Ezza bagai bumi dan langit, satu pencipta namun tak mungkin bersatu.
"hey... Kenapa melamun sayang"
"gak papa"
"gak papa seorang perempuan tandanya ada apa apa" ia menyelipkan anak rambut yang sangat nakal menutupi wajah cantik gadisnya.
"aku adalah piring yang sudah retak sedangkan kamu utuh tanpa cela, sebesar apapun aku memperbaikinya tetap saja gak bisa ilang"
Sekarang Ezza mengerti arah pembicaraan yang dilakukan kekasihnya.
Ia menangkap kedua pipi Naya, menatap lambat bola mata indah dan memabukan itu.
"aku suka matamu, jernih, bersih dan jujur....jika kamu sebuah retakan, lalu bagaimana bisa tuhan menciptakan kesempurnaan yang begitu nyata didepan ku" mengusap lembut pipi gadis itu.
"tap-"
Tangan Ezza langsung membekap mulut Naya "gak ada tapi tapian, aku maunya itu kamu bukan orang lain"
"seberapa jauh kamu pergi aku pastikan akan menemukanmu, seberapa besar kamu ingin lepas maka semakin erat pelukan yang akan aku hantarkan....rasa sakit kamu itu adalah penderitaan terbesarku"
Ketulusan dan tatapan Ezza membuat Naya hanyut, sungguh ini bukan kebohongan belaka.
Ini nyata benar benar nyata, berapa lama ia bisa merasakan ini. Bisakah selamanya ia merasakan cinta yang begitu tulus.
"kenapa kamu bisa begitu besar mencintaiku"
"tak ada alasan mencintai, jika ada maka itu tak akan berhujung"
Naya langsung memeluk Ezza dengan begitu erat, ia menyembunyikan wajahnya di dada Bidang laki laki itu.
"aku selalu tenang mendengar detak jantung mu" gumamnya sambil menghirup rakus aroma milik Ezza yang terus melekat ditubuh kekarnya.
"jantung ini akan berhenti saat kamu meninggalkan ku" ia membalas pelukan gadisnya, mengelus surau lembut itu dengan sayang.
"aku ingin seperti ini selamanya"
"selamanya" ia mencium kedua mata Naya penuh perasaan bahagia saat mendengar ungkapan gadis kesayangannya.
"jadi, pakai ini sebagai tanda kamu telah memiliki seseorang dihatimu" Ezza menyerahkan sebuah kalung berbentuk bunga daisy.
Yang telah ia desain khusus untuk Naya, agar tak ada yang bisa menirunya apalagi membuat kalung itu.
"ini terlalu cantik Za"
"Kalung ini kalah cantik sama kamu" ia memasangkan Kalung cantik pada Naya, dengan mengecup leher jenjang.
Membuat gadis itu meremas kemeja Ezza, menahan debaran yang begitu hebat.
"Zhaa..." lenguh Naya, berhasil menyudahi kecupan itu.
__ADS_1
"sorry"
Naya mengganggu dengan wajah tersipu malu "lain kali gerai rambut kamu, karena aku gak rela cantik kamu di bagi sama orang lain"