
Dengan tergesa - gesa Naya berlari kecil dengan cepat, tak lupa pula ia terus melirik jam yang melingkar ditangannya.
"duhh mati gue... Semua gara gara ayah kesiangan bangunin gue" celetuknya dengan nada kesal tanpa melihat kearah depan.
Brukkkk
"awssss......s-sakit, siapa sih yang bikin tembok disini" rintih Naya melihat tangannya yang sedikit lecet.
"tapi tunggu, kok tembok punya kaki. Ya kali temboknya bisa jalan" batin Naya.
"gue bukan tembok" sahut orang itu berdiri tepat didepannya Naya yang tersungkur.
Naya mendongakan kepalanya, ia bersitatap dengan mata tajam milik Ezza yang sejak tadi memandangnya.
"lo gak ada niatan bantuin gue berdiri"
Ezza menghela nafas "gue gak suka nyentuh cewe" jawabnya.
Naya mengerutkan keningnya membuat alisnya bertaut "lo homo" Naya berucap dengan wajah polos.
Tatapan Ezza berubah datar dan dingin seakan ingin menelan Naya hidup hidup "jangan asal bicara"
"dihhhh....pelit banget lo ngomong, sariawan lo" Naya berdiri sambil membersihkan roknya yang kotor.
Ezza tak menjawab, ia mendekat kearah Naya "jangan sok kenal, leader Garlz" bisik Ezza kemudian pergi.
Naya mematung "****, bisa bisanya dia tau identitas gue" umpat Naya kesal.
Naya mengambil ponselnya, ia langsung menghubungi teman temannya.
"kumpul digudang belakang sekarang" perintah Naya.
***
Digudang belakang yang tampak gelap dan tertutup, empat gadis duduk saling berhadapan.
"ada yang tau identitas gue" ucap Naya membuat semuanya terkejut.
"bukannya geng kita rahasia banget, kok sampai ada yang tau sih" sahut gadis berkepang dua yakni Sasa yang posisinya sebagai tameng .
"gue gak tau gimana tu orang bisa tau" Naya sudah pusing dengan misinya sekarang ditambah Ezza mengetahui ia leader dari sebuah geng rahasia.
"emang siapa yang tau lo leader kita? " tanya Friska dengan wajah serius ia berada diposisi modifikasi kendaraan .
" Altezza "
"gue yakin tu cowo bukan orang biasa, kenapa coba dia bisa tau lo leader dari Guardian Angel" kini Davina yang menanggapi sambil memegang leptopnya, ya tanpa orang ketahui Davina adalah Hacker andalan gengnya.
__ADS_1
"sial...gue udah nyangka sih, kalau tu cowok bukan orang biasa sejak dia pindah satu tahun yang lalu" Friska kesal bukan main.
"lain kali kita harus hati hati, biarin dia tau gue siapa....selama dia gak tau anggota gue" sahut Naya menatap kedepan dengan tajam, membuat ketiga gadis didepannya menganggukan patuh.
"gue minta terus awasi tu cowo tanpa dia sadari, paham" lanjutnya.
"dan misi kita akan terus berjalan, lawan jika ada penghadang"
Setelah perbincangan selesai mereka langsung pergi dari gudang menuju kelas masing masing.
Naya berjalan beriringan dengan Friska "gue dapat info" ucap Friska santai seolah mengobrol agar tak dicurigai.
"apa?"
"paketan itu menjadi kejutan terbesar buat mereka" ia terkekeh, benar kejadian yang terjadi adalah ulah dari geng mereka.
"gue udah tau, gue gak sabar lagi malahan bikin kejutan paling indah diakhir misi" Naya tersenyum miring membayangkan sesuatu yang akan membuat ia puas nantinya.
"terus data polisi itu gimana?"
"kata Sasa banyak kasus yang ditutupi polisi itu, ya lo tau penyebabnya karena apa. Bahkan dia pernah jadi narapidana kasus kekerasan sama pelecehan tapi semua itu ia rahasiakan dengan menyuap orang orang agar tak membocorkan tindakannya" jelas Friska sambil menatap kedepan dengan tatapan dingin.
" hehhh,,, dia terlalu cukup untuk nikmatin hidup, sekarang waktunya menjelajahi neraka" Naya tersenyum, ia muak dengan tindakan aparat itu yang tak pernah mementingkan korban korban dan malah menyalahkan korban.
"tapi yang paling seru adalah....posisinya dicabut, dia dikeluarkan karena cacat pada bagian kaki dan jangan lupa dia malah dibilang gila karena pengaduannya yang gak ada bukti sama sekali" lanjut Friska
"dan sesuai perintah lo, dia sudah berada dipenjara bawah tanah"
"good job gaess" Naya merangkul pundak Friska dan memasuki kelasnya.
***
"ahhhh seger juga akhirnya" Naya membasuh wajahnya saat selesai mengikuti mata pelajaran penjas.
Clekk
Pintu toilet dikunci, menampakkan tiga gadis dengan tampilan menor dan seragam yang ketat.
Mereka adalah Chika, Jelita dan Indira, ketiganya sengaja mengunci tempat itu agar Naya tak bisa lari kemana mana.
"ngapain lo bertiga?" tanya Naya meliat kedua tangannya didada.
"gue mau balas dendam sama lo... Berani beraninya lo permaluin gue dikantin kemarin" sentak Chika emosi.
"gue gak ada permaluin lo, kalau lo gak berulah"
"cihh... Dasar cewe sialan lo" Chika langsung menerjang tubuh Naya hingga kepalanya membentur wastafel.
__ADS_1
Merasa ada yang menggali dikeningnya, Naya meraba ternyata darah...seketika senyum miring muncul diwajah cantik itu.
Dengan cepat juga Chika menjambak Naya dan menenggelamkan kepala gadis itu kewastafel berisi air.
Tanpa mereka sadari tangan Naya mengapai Vas bunga kaca disamping wastafel, dengan cepat menghantamkannya pada Chika hingga pecah.
Chika menjerit merasakan luka dibagian kepalanya, darah lebih banyak di bandingkan Naya.
Melihat keadaan semakin runyam Jelita dan Indira berniat membantu Chika, namun dengan gesit Naya membenturkan Jelita ketembok dan indira ia tendang hingga tersungkur.
"gue cuma pecahin Vas bunga dikepala lo, belum aja gue tenggelemin kepala lo ini Kedalam kloset terus gue ancurin" Naya berbicara tepat didepan Chika yang terus menjerit.
"ini cuma luka kecil, gak sebanding sama luka yang lo kasih sama orang yang gak bersalah" ia mendorong Chika hingga terbaring dilantai toilet sampai tak sadarkan diri.
Naya melangkah keluar toilet dengan santai, sampai tangannya dicekal oleh seseorang.
"apaan sih lo" bentak Naya.
"ikut gue atau identitas lo gue bongkar" anc Ezza membuat Naya menahan emosinya.
"jangan lama, gue sibuk" Naya mengikuti langkah Ezza yang membawanya menuju UKS.
Ezza langsung menyuruh Naya duduk, sementara ia mengambil kotak P3K.
"kenapa lo bisa luka" tanya Ezza mulai mengobati luka Naya.
"kejedot jidat kecoa gue" dengus Naya sebal berhadapan dengan Ezza.
"lo cewe, jangan banyak berantem" ujaran Ezza.
"dihhh kenapa? Lo gak punya hak ngatur gue"
"demi kebaikan lo sebagai cewe"
"astaga gue baru tau ternyata beruang kutub kayak lo perhatian dan gue yakin girl friend you cantik banget"
"iya dia cantik, tapi sayang. sekarang jadi bintang membawa cinta juga ikut terkubur bersamanya" suara sendunya membuat Naya reflek tak enak hati.
"jangan stak disitu aja, lo punya hak berjalan didepan" nasehat Naya.
"gue bakalan berjalan didepan setelah berhasil lenyapin mereka semua" batin Ezza.
"gue tau berat, tapi gak salahnya lo cari warna pada orang lain"
"kalo gue mau lo gimana?" Ezza menatapnya dengan dalam.
"gak usah mimpi ngep" Naya menimpuk wajah Ezza menggunakan bantal.
__ADS_1