
Tertatih-tatih Ayrin berjalan menuju ruang operasi dengan di bantu Nyonya Puspa dan Aylen, Jarak kurang dari 5 meter Ayrin melihat Rey sedang berbicara dengan polisi, "Rey." Dari jarak itu Ayrin memanggil nama Rey pelan hingga Nyonya Puspa dan Aylen saja yang mampu mendengar.
Namun ajaibnya walau sekecil itu suara Ayrin Rey mampu mendengar, Rey melihat Ayrin yang tertatih-tatih berjalan ke arah nya langsung berlari ke arahnya dan langsung memeluk nya, Mereka menangis bersama dalam pelukan.
"A-Aaresh anak ku,dimana a-anak ku Rey" Dengan terbata-bata Ayrin bertanya dimana anak nya.
"Aaresh di dalam, Dokter sedang berusaha menyelamatkan nya" Jawab Rey yang mana membuat Ayrin semakin deras menangis dan lemas.
Rey membawa Ayrin duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang operasi memeluk nya erat, Mereka merasa sama-sama hancur anak yang mereka dapat hadiah dari Tuhan setelah melewati badai kini tengah berjuang hidup dan mati di dalam sana.
Beberapa saat kemudian Aarash keluar dari ruang operasi, Wajah nya pucat tubuhnya lemas ia telah mendonorkan darahnya cukup banyak untuk saudaranya, Dengan kaki lemas Ayrin memaksakan berdiri untuk memeluk Aarash, Sebelummya Rey sudah menceritakan tentang Aarash yang menawarkan diri untuk mendonorkan darah untuk Aaresh.
"Terimakasih sayang" Ucap Ayrin pelan di sela-sela memeluk Aarash.
Aarash di bawa ke ruangan yang memang di sediakan khusus untuk pemilik Rumah Sakit untuk istirahat setelah mendonorkan darahnya di temani Nenek nya, Nyonya Puspa juga membawa Aylen bersama nya untuk menjaganya.
Sedangkan Albiyan masih setia menunggu di depan ruang operasi bersama yang lain, Albiyan merasakan sedih karena tidak biaa membantu menyelamatkan saudaranya, Andai saja mereka terlahir dari ibu yang sama dan memiliki darah yang sama sudah pasti lah Albiyan juga akan mendonorkan darahnya untuk saudaranya.
Rey yang melihat Albiyan tampak murung membawa nya dalam pelukan, Ia tau apa yang sedang di rasakan anak nya, Rey menepuk pundak Albiyan pelan dan membisikan kata-kata yang menangkan Albiyan, Zayn yang ada di sebelahnya juga ikut menepuk pundak Albiyan.
"Tak apa jika kau tidak bisa memberikan darahmu untuk saudaramu mu, Kau tak perlu merasa sedih nak, Kau memang bukan terlahir dari rahim Mommy tapi kau adalah anak kami, Kau bisa mendoakan nya meminta pada Tuhan agar berbaik hati menyelamatkan saudaramu" Semua yang Rey ucapkan sungguh menghangatkan hati Albiyan, Albiyan memeluk Rey sungguh ia merasa beruntung menjadi anak mereka.
__ADS_1
Sejak awal Albiyan sudah mengetahui jika ia bukan lah anak kandung Rey dan Ayrin padahal pada saat Rey dan Ayrin mengadopsinya Albiyan masih berusia 5 tahun namun ingatan itu tersimpan dalam memori otaknya, Namun Ayrin tak pernah suka jika ada yang mengatakan Albiyan bukan anak kandungnya padahal memang itulah kenyataan nya.
Ayrin hanya takut Albiyan merasa terasingkan di keluarganya saat ada yang mengatakan jika Albiyan anak adopsi mereka, Ayrin akan menjadi orang pertama yang tak terima jika ada yang mengatakan Albiyan bukan anak kandungnya bahkan Ayrin tak segan-segan memberikan pelajaran untuk orang-orang yang mengatakan itu.
"Terimakasih Dad" Ucap Albiyan setelah melepas pelukan, Rey tersenyum sembari mengangguk.
Dua jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi, Mereka semua mendekat ke arah dokter, "Bagaimana keadaan anak ku dokter?" Ayrin bertanya mendahului mereka yang juga ingin menanyakan hal yang sama.
"Kami sudah berhasil menghentikan pendarahan di bagian kepalanya namun anak Tuan dan Nyonya masih dalam keadaan kritis, Kesempatan nya untuk sadar sangatlah kecil" Dengan wajah lelah dokter mengatakan keadaan Aaresh, Sontak saja ucapan dokter membuat mereka semua menangis takut, Ayrin tak mampu lagi menahan tubuh nya ia kembali pingsan dalam pelukan Rey.
Rey membawa Ayrin ke ruangan yang sama dengan Aarash, Rey menidurkan Ayrin di ranjang yang cukup besar itu, "Mommy kenapa Dad?" Tanya Aarash yang sebelumnya sudah bangun.
"Mommy pingsan lagi setelah tau kondisi Aaresh" Jawab Rey yang kini sudah berdiri di samping ranjang.
"Aaresh kritis Mi, Dokter bilang kesempatan ia sadar sangat kecil" Jawab Rey, Terlihat dari wajah nya ia sangat lelah.
"Ya tuhan" Nyonya Puspa menangis saat mendengar cucunya kritis, Aylen memeluk Nyonya Puspa sedangkan Aarash langsung berlari keluar tujuan nya adalah ke ruang operasi.
Aarash berlari sekencang mungkin hati nya terasa sakit mendengar kabar tentang saudara kembarnya, Tanpa ia sadari air matanya keluar selama ia berlari, Aarash takut jika saudaranya selamanya tidak akan sadar kembali.
Zayn yang melihat Aarash berlari kencang menuju ruang operasi menghadang nya dan memeluknya, Aaresh berontak dalam pelukan Zayn Aarash berusaha melepaskan pelukan Zayn yang cukup kuat agar bisa masuk ke ruang operasi.
__ADS_1
"Aarash tenang" Ucap Zayn sebisa mungkin menahan tubuh Aarash yang terus berontak.
"Lepaskan aku Uncle aku ingin menemui Aaresh" Dengan air mata yang mengalir deras Aaresh berusaha melepaskan diri dari Zayn.
"Tidak Aarash kau tidak bisa menemui nya sekarang"
"Uncle aku mohon lepaskan aku, Aku akan memintanya untuk cepat sadar, Aku tidak akan membiarkan nya pergi kami sudah berjanji akan membahagiakan Mommy bersama-sama" Aarash menangis pilu di depan ruang operasi mengatakan apa yang sudah mereka janjikan dahulu.
Siapapun yang melihat tangisan pilu Aarash akan tau betapa sakitnya hati anak itu, Begitupun dengan Rey dan Tuan Arian yang melihat dari kejauhan betapa terlukanya hati Aarash, Tuan Arian baru kembali dari kantor polisi ia meminta polisi melacak seluruh cctv yang ada di jalanan untuk mencari tau kemana mobil yang menabrak cucunya itu pergi dan Tuan Arian juga meminta Denis orang kepercayaan nya untuk mencari orang yang bertanggung jawab atas semua ini.
Dokter dan suster keluar dari ruang operasi dengan mendorong brankar Aaresh, Mereka akan memindahkan Aaresh keruang ICU , Rey dan yang lainya mengikuti dari belakang, Belum ada yang di izinkan untuk melihat keadaan Aaresh baik itu Rey maupun Tuan Aarian pemilik Rumah Sakit.
Berita kecelakaan Aaresh sudah tersebar luas di seluruh penjuru kota, Para wartawan berkerumun di luar rumah sakit untuk mencari informasi terkini tentang keadaan anak pemilik Perusahaan terkenal Victory Global di kota itu, Beberapa pengawal di tugaskan Tuan Arian untuk menjaga keamanan Rumah Sakit agar tidak ada wartawan yang berhasil masuk ke dalam Rumah sakit dan mengganggu yang lain.
Samar-samar Ayrin mengerjapkan matanya, Dengan perlahan ia membuka matanya setelah matanya terbuka sempurna Ayrin lengsung menangis histeris menyebut nama Aaresh, Mami Puspa dan Aylen yang berada di ruangan itu berusaha menenangkan Ayrin namun tetap saja mereka tidak bisa.
Nyonya Puspa meminta Aylen untuk memanggil Daddy nya, Aylen berlari keluar untu mencari Daddy nya sambil menangis, beruntung di tengah perjalanan ia bertemu Rey, "Daddy....Mommy" Ucap Aylen setelah bertemu Rey, Rey mengangguk dan berlari ke ruangan Ayrin ia memeluk Ayrin yang menangis histeris, Rey meminta Aylen dan Nyonya Puspa keluar sebentar.
Setelah Aylen dan Nyonya Puspa keluar Rey melakukan hal yang bisa menengkan Ayrin, Rey mencengkram wajah Ayrin dengan tangan nya agar menghadap padanya "Ayrin sadarlah" Ucap Rey cukup keras begitupun dengan cengkraman di wajah Ayrin.
Ayrin menatap Rey pilu dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir, "Anak ku" Ucap Ayrin pilu.
__ADS_1
"Aku tau kau sakit melihat keadaan anak mu, Aku tau kau juga hancur, Aku pun sama sakit dan hancurnya denganmu, Tapi kau harus ingat jika kau memiliki anak yang lainnya juga" Rey menjeda ucapannya sejenak ia menarik nafasnya berat, "Aku mohon kuatlah Ayrin anak-anak membutuhkan mu" Lanjut Rey lagi kali ini dengan suara lirih.
Ayrin mengangguk mengerti maksud Rey, Ia sadar tidak seharusnya ia seperti ini melupakan anak nya yang lainnya, Rey melepas cengkraman tangan nya di wajah Ayrin setelah itu memeluknya, Mereka menangis bersama dengan untaian doa yang terselip dalam setiap tangissan mereka, Meminta pada Sang Kuasa ilahi berbaik hati menyelamatkan anak nya.