
Di kantor Rey tidak bisa berkonsentrasi sama sekali, Fikirannya masih pada istrinya yang sedang sakit di rumah, Satu jam yang lalu Bibi Sam susah memeberi kabar jika Ayrin belum bangun padahal sudah hampir jam 10 pagi dan juga Ayrin belum makan pagi, Rey takut jika kondisi Ayrin semakin parah.
Rapat Pemegang Saham berjalan dengan lancar dengan waktu yang di percepat walaupun fikiran Rey tak fokus sama sekali, Untungnya ada Zayn yang bisa menghandle semuanya, Zayn tau ada sesuatu yang tidak beres dengan Tuannya maka itu ia sengaja mempercepat rapat lagi pula tidak ada masalah yang penting dalam Rapat ini.
"Tuan apa ada sesuatu yang terjadi, Saya perhatikan Tuan tidak Fokus saat Rapat tadi" Tanya Zayn pada Tuannya setelah semua orang yang menghadiri rapat keluar.
"Ya aku sedang memikirkan istriku, istriku sedang tidak enak badan, Sudah siang tapi istriku belum juga bangun" Jawab Rey dengan ponsel yang menempel di kupingnya, ia sedang menghubungi Bibi Sam tapi tidak ada jawaban.
"Apa Nona sudah di bawa ke Dokter Tuan" Tanya Zayn lagi .
"Belum...dia tidak mau di bawa ke Dokter, Kau tau bukan alasan kenapa dia tidak mau ke Rumah Sakit" Jawab Rey yang sudah berdiri masih mencoba menghubungi Bibi Sam.
"Ya saya tau Tuan...Tapi jika Nona tidak mau ke Rumah Sakit kenapa tidak memanggil Dokter Melly saja Tuan"
"Ya kau benar Zayn,,, kenapa tidak terfikirkan olehku sejak tadi" Memasukan ponsel kedalam saku celananya "Zayn apa jadwalku setelah ini" Tanya Rey lagi.
"Setelah ini Tuan ada pertemuan dengan Perusahaan PPN membahas tentang kerjasama yang sempat tertunda sekalian makan siang, Jam 14:00 anda ada Undangan Peresmian Hotel Clarisa milik anak Tuan Hardian, Setelah itu jam 19::30 Tuan ada undangan makan malam bersama Nona Yasmita pemilik Grup Lotus" Panjang lebar Zayn menjelaskan agenda Tuannya hari ini.
Rey mengetukan jari nya di meja "Apa semua itu harus aku hadiri Zayn"
"Ya Tuan karena mereka mengundang Tuan secara Resmi"
"Zayn atur Ulang pertemuan dengan Perusahaan PPN, Dan untuk acara peresmian Hotel dan makan malam batalkan saja atau kau saja yang menggantikanku,, Aku harus segera pulang" Selesai berkata Rey langsung keluar Ruangan tanpa mendengar jawaban dari Zayn.
Setelah Tuannya pergi Zayn langsung menghubungi sekretaris Tuan Jeri Pemilik Perusahaan PPN, Dan untuk acara peresmian Hotel dan makan malam Zayn yang akan menghadiri mewakili Tuannya, Seperti keinginan Tuannya.
Rey mengendarai mobilnya secepat mungkin agar cepat sampai di rumah, ia juga sudah menghubungi Dokter Melly untuk segera datang kerumahnya, 30 menit kemudian Rey sampai di Rumah ia langsung masuk kedalam menuju kamar nya di lantai atas, Rey membuka pintu kamar dengan sangat kuat hingga membuat Ayrin yang tengah di kerik oleh Bibi Sam jadi kaget.
"Sayang bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit? Apa kau sudah makan? Apa masih mual? Apa kau merasa Pusing? Apa badanmu panas? Apa....."
"Sayang tenanglah, satu-satu tanyanya, Aku sudah baik-baik saja, Aku sudah tidak merasakan mual lagi" Jawab Ayrin memotong pertanyaan Rey yang bertubi-tubi.
"Kenapa punggungmu merah seperti ini sayang? apa ada yang menyakitimu" Tanya Rey yang syok melihat punggung Ayrin merah-merah.
__ADS_1
"Bibi Sam sedang mengerikku tentu saja Punggung ku merah sayang" Ayrin menjelaskan kepada Suaminya.
"Iya benar Tuan, Jika masuk angin di kerik pasti akan merah, Tapi setelah di kerik masuk anginnya akan hilang Tuan" Bibi Sam juga menjelaskan kepada Rey. Ketukan di pintu membuat Rey yang ingin membuka mulutnya kembali ia urungkan.
"Permisi Tuan" Suara salah satu pelayan yang berada di depan pintu kamar utama.
Mereka semua serempak menengok ke arah pintu "Ya ada apa" Tanya Rey datar.
"Maaf Tuan di bawah ada Dokter Melly" Ucap pelayan itu sambil menundukan kepalanya.
"Antar Dokter Melly kesini" Perintah Rey yang langsung di angguki pelayan tadi.
"Sayang kenapa memanggil Dokter Melly kesini, Aku sudah baik-baik saja sayang"
"Kau tetap harus di periksa, aku takut sesuatu terjadi kepadamu" Ucap Rey dengan mata menatap Istrinya "Menurutlah sayang ini untuk kebaikanmu" Ucap Rey lagi saat Ayrin ingin membuka suara nya lagi.
Ayrin diam menuruti prmintaan Suaminya, Bibi Sam keluar setelah mendapat perintah dari Tuannya untuk membawakan Ayrin makan siang.
"Kali ini aku akn memaafkan mu tapi lain kali jangan harap" Jawab Rey dengan raut muka yang bengis.
"Kenapa kau masih diam di situ..Cepat periksa istriku" Suara tinggi Rey membuat Dokter Melly berjengkit kaget.
"Ba...baik Tuan" Dokter Melly segera berjalan menghampiri Ayrin.
"Sayang pelankan suaramu..Dokter Melly ada di depanmu tidak perlu berteriak-teriak" Ucap Ayrin tangannya menarik-narik jas yang di pakai Rey.
"Ya sayang,, Sekarang berbaringlah biarkan Dokter memeriksamu" Titah Rey yang dituruti Ayrin.
Dokter Melly memeriksa Ayrin dengan hati-hati, Dokter Melly juga menanyakan keluhan apa saja yang di rasakan Ayrin, Ayrin mengatakan jika hari ini ia merasakan perutnya tidak enak dan mual yang sangat hebat dan setelah itu badannya jadi lemas karena terlalu lama muntah dan berdiri, Dokter Melly juga menanyakan bagaimana siklus datang bulan Ayrin, Mendengar semua penjelasan Ayrin Dokter Melly seperti mengerti apa yang terjadi dengan Ayrin namun ia masih ragu, Akhirnya Dokter Melly menyarankan agar Ayrin di bawa ke Rumah Sakit agar di periksa lebih lanjut, Namun Ayrin menolak dengan cepat, Dokter Melly beralih menatap Rey mencoba memberi tau Rey lewat tatapannya, Rey mengerti maksud Dokter Melly setelah itu ia mempersilahkan Dokter Melly untuk pergi karena sudah selesai memeriksa istrinya.
"Sayang menurutlah,,,Kita ke Rumah Sakit ya" Ajak Rey saat Dokter sudah pergi.
"Tidak sayang aku tidak mau" Kekeh Ayrin.
__ADS_1
"Sayang kejadian itu sudah lama,, Bukankah kita sudah sepakat untuk tak mengingatnya lagi" Ucap Rey mencoba membujuk istrinya.
Semenjak kejadian terakhir kali Ayrin di Rawat di Rumah Sakit dan dinyatakan jika Rahimnya rusak dan tidak bisa memiliki anak membuat hati Ayrin hancur berkeping-keping dan hal itu masih teringat jelas di otaknya, Setelah mendengar kata Rumah Sakit seperti sudah terprogam fikirannya langsung kembali pada saat itu. Karena di Rumah Sakit itulah sedikit harapannya hilang, Sejak saat itu pula Ayrin enggan pergi kerumah sakit sebisa mungkin ia berusaha agar tidak sakit jika pun sakit ia tetap tidak mau ke Rumah Sakit seperti saat ini.
Mungkin bagi sebagian orang berfikir jika apa yang dilakukan Ayrin adalah hal yang tidak wajar atau mengada-ngada, Tapi bagi Ayrin yang tidak bisa memiliki anak itu adalah pukulan terberat untuknya. Tidak salah bukan jika ia merasa trauma saat mengingat Rumah Sakit tempat ia di nyatakan tidak bisa memiliki anak. jangankan memiliki tumbuh benih saja tidak.
"Sayang aku mohon,,Demi kebaikanmu" Bujuk Rey lagi.
"Aku bilang tidak ya tidak, Aku tidak mau, apa kau tidak bisa mengerti diriku" Ucap Ayrin yang sudah mulai menangis.
Rey membawa Ayrin dalam pelukannya mengusap-usap punggung istrinya lembut "Sttt jangan menangis sayang,, Maafkan aku, Bukan aku tidak mengerti dirimu hanya saja aku terlalu menghawatirkanmu"
"Tapi aku tetap tidak mau datang ke Rumah Sakit, Aku....!"
"Ssstt sssst ya ya baiklah baiklah kita tidak akan ke Rumah Sakit tapi dengan syarat kau harus menuruti semua kata-kataku" Rey akhirnya mengalah dan menuruti keinginan istrinya ia tidak mau istrinya terus menerus menangis mengingat kejadian dahulu.
Ayrin menganggukan kepalanya dalam pelukan Rey masih dengan Air Mata yang mengalir keluar,Bibi Sam mengetuk pintu kamar mereka setelah di persilahkan masuk Bibi Sam langsung masuk, Bibi Sam membawakan makan siang yang Tuannya minta untuk istrinya, Bibi Sam melihat Ayrin yang masih menangis dalam pelukan Tuannya, Rey meletakan telunjuknya di depan bibirnya agar Bibi Sam tidak bertanya sesuatu, Bibi Sam mengangguk mengerti maksut Tuannya setelah meletakan makan siang di atas meja Bibi Sam pamit keluar.
"Sayang makan lah dulu setelah itu kau istirahat" Suara Rey pelan.
"Aku tidak mau makan aku tidak lapar" Jawab Ayrin masih dalam pelukan Rey.
"Bukankah tadi kau sudah berjanji akan menuruti kata-kataku, Sekarang makanlah agar kau cepat pulih" Mendengar ucapan Suaminya Ayrin lansung melepaskan pekukannya.
"Baiklah tapi jika aku sudah tidak mau jangan paksa aku untuk menghabiskan makanan itu"
"Ya baiklah" Rey bangkit dari ranjang mengambil makanan yang ada di meja, Rey menyuapi Ayrin dengan penuh kasih sayang, Ayrin hanya menghabiskan seperempat makanan yang ada di piringnya, Rey sudah mencoba memaksa namun Ayrin tetap tidak mau, Akhirnya dengan pasrah Rey menuruti keinginan istrinya ia tidak ingin memaksa keinginannya di saat istrinya sedang sakit.
Selesai memakan makan siangnya Rey menyuruh Ayrin untuk beristirahat, Rey membaringkan tubuh istrinya mengelus pelan kepala istrinya dan sesekali menciumnya, menikmati elusan lembut di kepalanya membuat Ayrin perlahan memejamkan matanya hingga ia tidak bisa lagi membuka matanya karena rasa kantuk sudah menyerang dirinya hingga dirinya benar-benar terlelap. Melihat Istrinya yang sudah tertidur Rey juga ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya dan ikut menyusul istrinya ke alam mimpi.
...Otor udah double up nih, Buat gantiin yang semalem😀...
...Terus ikutin cerita ini sampe selesai ya....
__ADS_1