
Mami Puspa membawa Rey untuk duduk di kursi tunggu yang ada disitu, Zayn dengan setia berdiri di samping Rey, Sungguh ia tidak tega melihat keadaan Tuannya sekarang ini, Dengan lembut Mami Puspa mengusap tangan Rey memberikan kekuatan.
"Ceritakan apa yang Dokter Toni tadi katakan sayang" Menggenggam tangan Rey Mami Puspa mencoba bertanya Kepada Rey.
"Rahim Ayrin rusak, Dokter berkata kemungkinan besar Ayrin benar-benar tidak bisa mengandung" Air matanya luruh bersamaan dengan setiap kata yang ia ucap kan.
Mami Puspa tak kuasa menahan air matanya, tangannya dengan cepat membawa Rey dalam pelukannya, Mengusap kepala Rey pelan.
"Apa yang harus aku katakan pada Ayrin Mi, Ayrin akan sangat hancur jika ia mengetahui kondisinya. Aku telah gagal menjaganya Mi, Aku telah gagal untuk membuatnya selalu bahagia" Rey semakin menangis di pelukan Mami Puspa dan menyalahkan diri sendiri.
"Sssttt Tenang sayang tenang, Ini bukan salahmu, ini sudah takdir sayang, Jangan menyalahlan dirimu sendiri sayang"
"Aku gagal Mi, Aku gagal" Racau Rey.
Mami Puspa semakin erat memeluk Rey, Zayn yang melihat itu memalingkan wajahnya, ia tak sanggup melihat orang yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri terlihat hancur.
"Sayang dengarkan Mami, Semua akan baik-baik saja Percayalah kelak Tuhan akan memberikan kalian kebahagiaan, Stop menyalahkan diri sendiri sayang, Sekarang yang harus kamu lakukan adalah menjadi kuat untuk ada di sisi Ayrin, kamu harus menjadi kekuatan untuk Ayrin" Mami Puspa berkata bijak menguatkan anak nya.
"Jangan patah semangat sayang, Kemungkinan itu masih ada, Ayrin masih memiliki kesempatan untuk bisa hamil, Kemungkinan bukan berati tidak bisa Rey" Ucap Mami Puspa lagi.
"Tapi aku tidak akan bisa Mi"
"Rey hal itu berlaku untukmu juga, Masih ada kemungkinan, Lihat dirimu sekarang, Percayalah Rey peluang itu pasti ada, Jangan terlalu memikirkan hal ini Rey Serahkan semua pada Tuhan, Sekarang tugasmu adalah membuat Ayrin kembali tersenyum dalam keadaan apapun"
Ya begitulah sosok seorang ibu yang selalu menguatkan anak nya ketika lemah, Selalu menjadi penyemangat di kala anak nya merasa gagal, Selalu ada di samping anak nya dikala di butuhkan, Selalu berkata bijak untuk menasehati anak nya, Ibu adalah wanita sempurna yang di ciptakan Tuhan.
Rey sudah mulai tenang dan bisa mengontrol dirinya sendiri, ia berfikir ia tidak boleh lemah ia harus menjadi kekuatan untuk Ayrin, Pintu ruang UGD terbuka Suster mendorong brankar Ayrin keluar dan memindahkannya di Ruang VVIP khusus kekuarga Victori, Rey, Zan dan Mami puspa mengikuti dari belakang.
Duduk di samping ranjang tempat Ayrin berbaring Rey mandangi wajah Ayrin yang penuh dengan lebam dan membengkak, Hati Rey sakit seperti di sayat-sayat benda tajam melihat kondisi Ayrin saat ini, Air matanya pun kembali tumpah, ia sungguh tidak menyangka jika anak dari Damitri akan membalas dendam atas kematian Ayahnya, Karena kebengisan nya Ayrin lah yang menjadi korbannya.
__ADS_1
Krek...Mendengar suara pintu yang terbuka semua orang yang di dalam ruangan Ayrin melihat ke arah pintu, Papi Arian dan Ayah Abraham masuk kedalam kruangan Ayrin.
"Bagaimana kondisi Ayrin Rey, Apa dia baik-baik saja" Tanya Papi Arian.
"Ayrin baik-baik saja sayang" Bukan Rey yang menjawab tapi Mami Puspa, Mami Puspa memberi kode pada Suaminya untuk tidak bertanya lebih banyak.
"Jangan khawatir semua akan baik-baik saja" Papi Arian menepuk pundak Putranya pelan. "Kau tidak perlu memikirkan tentang anak Damitri lagi, Papi sudah menyelesaikan semua nya, Fokuslah pada kesembuhan Ayrin"
Setelah itu Semua pamit pulang kecuali Zayn karena ada hal penting yang harus ia bahas dengan Tuannya.
"Tuan...keluarga Damitri masih memiliki satu anak perempuan, Apa saya ha....."
"Tidak...Beri dia semua fasilitas yang ia dapatkan dulu, Perlakukan dia dengan baik dan pastikan ia bisa kembali melanjutkan pendidikannya" Ucap Rey yang mengerti apa yang akan Zayn katakan tadi.
"Baik Tuan akan saya lakukan " Setelah itu Zayn pergi.
Setelah menunggu berjam-jam akhirnya Ayrin sadar, Ayrin mengerjapkan matanya, ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya terutama di bagian perut dan pipinya, Sosok yang pertama kali matanya lihat adalah Rey kekasihnya.
Tak berapa lama Dokter datang dengan para suster yang sigap memeriksa keadaan Ayrin.
"Nona anda bisa mendengarkan suara saya" Tanya Dokter Toni, Ayrin menggangukkan kepalanya.
"Apa anda merasakan sakit di bagian tertentu"
"Perut dan pipiku sangat sakit" Ayrin menjawab pelan, ia masih sangat lemah.
Dokter Toni memeriksa bagian yang Ayrin sebutkan tadi setelah itu ia menyuntikan obat untuk meredakan rasa sakitnya. Rey sudah tidak berteriak-teriak seperti dulu lagi saat Dokter Toni memeriksa Ayrin, Sekarang yang terpenting baginya adalah kesembuhan Ayrin.
"Tuan saya sudah memberikan obat untuk meredakan rasa sakitnya, Pastikan Nona banyak istirahat agar cepat pulih" Dokter Toni berkata kepada Rey sebelum ia pamit pergi dari ruangan Ayrin.
__ADS_1
"Sayang.." Memegang tangan Ayrin.
"Rey ini sangat sakit dan pedih" Keluh Ayrin merasakan sakit di pipinya.
Mendengar Ayrin mngeluh sakit dan pedih Rey meniup pelan pipi Ayrin. Harum mint merambak idra penciuman Ayrin saat Rey meniup pipinya.
"Rey apa benar kau pernah menghilangkan seseorang" Tanya Ayrin yang membuat Rey berhenti meniup pipi Ayrin.
"Ya aku pernah melakukannya, Saat kau terluka karena menolong diriku" Jawab Rey santai.
Ayrin sangat syok saat mendengar jawaban Rey, ia tak pernah menyangka jika Rey pernah menghilangkan seseorang, ia fikir ucapan Fabian tidaklah benar.
"Ka...a..kau.."
"Tenanglah sayang dengarkan aku dulu" Potong Rey yang mengerti jika Ayrin takut dengannya.
"Aku melakukan itu bukan tanpa alasan, Damitri sudah banyak melakukan kesalahan, ia bermain kotor untuk mendapatkan apa pun yang ia mau, dia juga telah banyak melukai orang-orang yang mengganggu rencananya, dia juga sudah di tetapkan sebagai tersangka dalam kasus Korupsi, dan pada saat kau terluka karena menolongku aku sudah tidak bisa menahan tanganku untuk tidak memberinya pelajaran" Rey menjelaskan panjang lebar hal yang terjadi sesungguhnya
"Ta..tapi bukan berati kau bisa menghilangkan seseorang dengan mudah"
"Ya aku mengakui aku salah, Maafkan Aku" Menggenggam tangan Ayrin menempelkannya di pipinya.
"Aku mohon jangan takut kepadaku, Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi" Mohon Rey.
"Kau berjanji?"
"Ya aku berjanji"
"kau tau aku hampir gila saat melihatmu pingsan dalam keadaan seperti ini, nyawaku seakan hilang dari tubuhku" Air mata Rey sudah menggenang di matanya.
__ADS_1
Ayrin mengusap Air mata yang menetes di pipi Rey "Jangan bersedih,,Aku sudah baik-baik saja"