GORESAN LUKA

GORESAN LUKA
Happiness 26


__ADS_3

Rey dan Ayrin sampai di Rumah Sakit, Sebelum turun Rey sedikit menenangkan Ayrin yang terlihat masih syok, Rey membawa Ayrin dalam pelukan nya.


"Tutup matamu sebentar dan lupakan semuanya, Semua sudah berakhir sayang mari fokus pada anak-anak dan pengobatan Aaresh hemm" Ucap Rey menepuk-nepuk punggung Ayrin pelan.


Ayrin menggangguk dalam pelukan Rey, Setelah tenang mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam Rumah Sakit, Aylen yang melihat lebih dulu kedatangan Daddy dan Mommy nya berlari memeluk mereka.


"Mommy dan Daddy dari mana?" Tanya Ayrin setelah melepas pelukan Ayrin.


"Mommy dan Daddy tadi ada sedikit urusan sayang" Jawab Ayrin tidak memberitahukan kemana dia sebenarnya.


Aylen mengangguk mendengar jawaban Ayrin, Rey mendekati Tuan Arian dan membicarakan sesuatu tak lama dari itu dokter menghampiri mereka dan mengatakan jika Aaresh sudah siap untuk di bawa ke atap dimana disana sebuah helikopter sudah di siapakan untuk membawa Aaresh ke bandara.


Aaresh keluar dari ruang ICU Ayrin merasa lemas menatap pilu anak nya yang tubuh nya di penuhi alat-alat penunjang hidupnya, Rey dan Tuan Arian membantu suster mendorong brankar Aaresh menuju atap, Ayrin berjalan dengan di bantu Aarash dan Aylen sedangkan Nyonya Puspa di bantu Albiyan.


Mereka menaiki lift khusus untuk sampai ke atap, Setelah sampai Aaresh langsung di masukkan ke dalam Helikopter bersama dokter Yudha yang akan mendampinginya di perjalanan, Ada sekitar lima Helikopter yang akan membawa mereka ke bandara.


Beberapa saat kemudian mereka semua telah sampai di bandara, Rey menggunakan pesawat pribadi untuk terbang ke Amerika, Setelah semua persiapan selesai pesawat mulai lepas landas meninggalkan negara tercinta dengan harapan dan doa anak mereka dapat kembali bersama mereka lagi.

__ADS_1


Selama penerbangan Ayrin tak mau pergi dari samping Aaresh, Ia terus menciumi tangan Aaresh yang terbebas dari infus dan sesekali menghapus air matanya yang menetes, Tuan Arian dan Nyonya Puspa menemani anak-anak yang sudah tidur kelelahan karena mereka terbang pada saat pagi hampir menjelang.


Sedangkan Rey menyelesaikan semua pekerjaan nya sebelum ia menyerahkan nya kepada Zayn untuk menggantikan nya sementara waktu, Zayn tidak ikut ke Amerika karena ia sendiri memiliki keluarga dan ia juga harus menggantikan Rey mengurus Kantor.


Ber jam-jam mengudara akhirnya pesawat mereka sudah mendarat dengan sempurna, Aaresh di bawa turun dan langsung di bawa ke Rumah Sakit terbesar di Negara itu yang memiliki fasilitas lengkap, Rey dan Ayrin ikut ke Rumah Sakit bersama Aaresh sedangkan Tuan Arian dan Nyonya Puspa membawa anak-anak dan juga Bibi Sam ke Apartemen untuk beristirahat.


Tiba di Rumah Sakit Aaresh langsung di tangani dokter, Rey dan Ayrin menunggu di ruang tunggu, Aurin menggigit-gigit kuku nya hal yang ia lakukan ketika di landa khawatir yang berlebihan melihat itu Rey menarik tangan Ayrin.


Rey membawa Ayrin dalam pelukan nya," Tetaplah kuat sayang aku dan anak-anak membutuhkan mu" Bisik Rey tepat di kuping Ayrin.


"Selamatkan a-anak ku Rey" Isak Ayrin dalam pelukan Rey..


"Jika nanti Aaresh membutuh sesuatu yang ada pada diriku aku mohon biarkan aku memberikannya dan selamatkan anak ku Rey"


"Apa yang kau katakan sayang, Aku tidak akan membiarkan kau melakukan itu, Karena aku yang akan melakukan nya terlebih dulu, Anak-anak membutuhkan mu jadi biarkan aku yang berkorban" Sungguh Rey tidak akan sanggup jika harus kehilangan Ayrin memikirkan nya saja Rey tidak berani, Jadi jika memang ada yang harus berkorban biarkan ia saja yang berkorban, Sekalipun Aaresh membutuhkan nyawanya Rey akan memberikan nya.


Ayrin menatap mata Rey dalam setelah Rey menyelasaikan ucapanya ia begitu bersyukur memiliki Rey yang begitu mencintainya, Rey mencium kening Ayrin lma seolah memberikan mereka kekuatan untuk sama-sama kuat dalam menghadapi ujian yang Tuhan Berikan.

__ADS_1


Aaresh sudah di pindahkan keruang ICU untuk memantau ke adaan nya, Rey membujuk Ayrin untuk makan karena sedari kemarin mereka berdua belum makan apapun namun Ayrin enggan beranjak dari ruang tunggu, Akhirnya Rey memilih membelikan makanan dan menyuapi Ayrin makan walau hanya sedikit yang dapat Ayrin telan.


Di Apartemen anak-anak meminta kepada Nenek dan Kakek nya untuk ke Rumah Sakit karena mereka merasa sudah cukup beristirahat dan mereka ingin segera mengetahui kondisi saudara mereka, Nenek dan Kakek mereka membawa mereka ke Rumah Sakit yang memang tidak terlalu jauh dari apartemen dimana mereka tinggal selama di Amerika.


Sampai di Rumah Sakit mereka langsung menuju Ruang ICU karena tadi Rey sudah memberitahu Tuan Arian jika Aaresh sudah di pindahkan ke ruang ICU, Tuan Arian membawa Rey sedikit menjauh dari anak-anak.


"Bagaimana dengan dalang semua ini Rey kau sudah mengurusnya" Tanya Tuan Arian dengan suara pelan.


"Sudah Pi Rey sudah membereskan nya, Rey sudah memberikan hukuman yang setimpal untu mereka semua" Jawab Rey jika mengingat kembali dalang dibalik semua ini rasanya ia ingin kembali menghajar mereka semua.


"Apa kau merasa bersalah telah menyakitinya karena salah satu dari mereka adalah orang yang dulu pernah kau cintai" Sengaja Tuan Arian menanyakan itu kepada Rey, Tuan Arian ingin melihat apa anak nya benar-benar tidak terpengaruh dengan kehadiran Vania.


"Apa yang Papi katakan, Aku tidak menyesal sama sekali Pi dia memang pantas mendapatkan nya, Rey sangat mencintai Ayrin Pi jadi Rey tidak akan terpengaruh sama sekali dengan kehadiran nya" Dengan tegas Rey menjawab pertanyan Tuan Arian.


Tuan Arian merasa bangga dengan jawaban anak nya, "Fokuslah pada keluargamu dan kesembuhan Aaresh, Serahkan semua pekerjaan kepada Zayn untuk sementara, Papi juga akan meminta Tolong Uncle Abraham untuk membantu Zayn" Perintah Tuan Arian yang di angguki Rey setelah itu mereka kembali bergabung dengan yang lain.


Hari berhari telah berlalu namun belum ada perkembangan dengan kondisi Aaresh, Ayrin dan Rey tak permah lelah untuk terus berharap dan berdoa untuk kesembuhan Aaresh, Anak-anak tetap melakukan sekolah melalui daring, Setiap hari setelah mereka selesai sekolah mereka akan menyusul ke rumah sakit untuk ikut menjaga Aaresh yang kini sudah di pindah ke ruangan Rawat Inap.

__ADS_1


Selama di Rumah Sakit Rey dan Ayrin tak pernah tidur dengan baik, Mereka terus mengawasi kondisi Aaresh hingga sampai akhirnya penantian mereka berakhir setelah 1 bulan menunggu, Dokter dan suster berlari menuju ruangan Aaresh dengan beberapa alat yang mereka bawa, Sedangakn Rey dan Ayrin menunggu di luar dengan perasaaan khawatir dan takut beserta untaian doa yang mereka lantungkan dalam hati untuk keselamatan anak mereka.


__ADS_2